TIDAK PERLU KELILING DUNIA

WELCOME TO THE NURSE ASRAMA

keperawatan

Sabtu, 25 April 2009

Askep Gagal Jantung

Gagal Jantung

Gagal Jantung, sering disebut gagal jantung kongestif, adalah ketidakmampuan jsntung untuk memompa darah yang adekuat untuk memenuhi kebutuhan jaringan akan oksigen dan nutrisi
Gagal Jantung Kiri. Kongesti paru menonjol pada gagal ventrikel kiri, karena ventrikel kiri tidak mampu memompa darah yang datang dari paru. Peningkatan dalam sirkulasi paru menyebabkan cairan terdorong ke jaringan paru. Manifestasi klinis yang terjadi meliputi dispnu, batuk, mudah lelah, denyut jantung cepat(takikardia) dengan bunyi jantung S3, kecemasan dan kegelisahan.
Gagal Jantung Kanan. Bila ventrikel kanan gagal, yang menonjol adalah kongesti visera dean jaringan perifer. Hal ini terjadi karena sisi kanan jantung tidak mampu mengososngkan volume darah dengan adekuat sehingga tidak dapat mengakomodasi semua darah yang secara normal kembali dari sirkulasi vena.
Manifestasi klinis yang tampak meliputi edema ekstrimitas bawah(edema dependen), yang biasanya merupakan pitting edema, pertambahan berat badan, hepatomegali (pembesaran hepar), distensi vena leher, asites (penimbunan cairan didalam rongga peritoneum), anoreksia dan mual, nokturia dan lemah.

Etilogi
Kelainan Otot Jantung
Gagal Jantung paling sering terjadi pada penderita kelainan otot jantung, menyebabkan menurunnya kontraktilitas jantung.
Aterosklerosis koroner
Mengakibatkan disfungsi miokardium karena terganggunya aliran darah ke otot jantung
Hipertensi Sistemik atau Pulmonal
(Peningkatan afterloud) meningkatkan beban kerja jantung dan pada gilirannya mengakibatkan hipertrofi serabut jantung.
Peradangan dan Penyakit Miokardium Degenaratif
Berhubungan dengan gagal jantung karena kondisi ini secara langsung merusak serabut jantung, menyebabkan kontraktilitas menurun.
Penyakit jantung lain
Gagal jantung dapat terjadi sebagai akibat penyakit jantung yang sebenarnya tidak secara langsung mempengaruhi jantung.
Factor Sistemik
Terdapat sejumlah factor yangberperan dalam perkembangan dan beratnya gagal jantung . meningkatnya laju metabolisme(missal demam, tirotoksikosis), hipoksia, dan anemia memerlukan peningkatan curah jantung untuk memenuhi kebutuhan oksigen sistemik.

Tanda dan Gejala
Tanpa dominan gagal jantung adalah meningkatnya volume intravascular. Peningkatan tekanan vena pulmonalis dapat menyebabkan cairan mengalir dari kapiler paru ke alveoli, akibatnya terjadi edema paru, yang dimanifestasikan dengan batuk dan nafas pendek.
Turunna curah jantung pada gagal jantung dimanifestasikan secara luas karena darah tidak dapat menyampaikan oksigen yang dibutuhkan . beberapa efek yang biasanya timbul akibat perfusi rendah adalah pusing, konfusi, kelelahan, tidak toleran terhadap latihan dan panas, ekstremitas dingin,dan haluaran urin berkurang.

Pemeriksaan Penunjang
Pemantauan Hemodinamika
Diagnosa gagal jantung dibuat dengan mengevaluasi manifestasi klinis kongesti paru dan kongesti sistemik.
Pengukuran tekanan preloud, afterloud dan curah jantung dapat diperoleh melalui lubang-lubang yang terletak pada berbagai interval sepanjang kateter.
Curah jantung diukur dengan suatu lumen termodilusi yanh dihubungkan dengan computer.

Penatalaksanaan
Tujuan dasar penatalaksanaan pasien dengan gagal jantung adalah sebagai berikut:
1. Dukung istirahat untuk mengurangi beban kerja jantung
2. Meningkatkan kekuatan dan efisiensi kontraksi jantung dengan bahan-bahan farmakologis.
3. Menghilangkan penimbunan cairan tubuh berlebihan dengan terapi deuretik diet dan istirahat.

A. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
Pengkajian merupakan dasar utama atau langkah awal dari proses keperawatan secara keseluruhan. Pada tahap ini semua data dan informasi tentang klien yang dibutuhkan dikumpulkan dan di analisa untuk menentukan diagnosa keperawatan. Tujuan dari pengkajian keperawatan mengumpulkan data, mengelompokkan data, dan menganalisa data, sehingga ditemukan diagnosa keperawatan.
Pengkajian pada klien myocard infark menurun Marlyn E, Doenges meliputi ;
a. Aktivitas/istirahat
1. Kelemahan, kelelahan dan kurang tidur.
2. Takhikardi, sesak saat beraktifitas atau saat istirahat
b. Sirkulasi
1. Tekanan darah bermasalah serta gangguan toleransi glukosa.
2. Tekanan darah mungkin normal, meningkat atau turun, serta perubahan postural dari posisi berbaring ke posisi duduk / berdiri, nadi normal, meningkat atau turun kualitasnya dengan pengisian kapiler yang lambat dan disritmia, bunyi jantung tambahan (S3 dan S4). Mencerminkan adanya kegagalan kontraktilitas ventrikel jantung, adanya murmur insufisiensi katub atau disfungsi otot papiler, denyut jantung mungkin teratur atau irreguler, distensi vena jugularis, edema perifer, edema menyeluruh, dan adanya crace (rales) menunjukkanO adanya kegagalan jantung, kulit, kuku, membran mukosa dan bibir mungkin pucat / sianosis.
c. Integrasi diri
1. Takut mati, perasaan mendekati ajal, marah tak sesuai terhadap penyakit / kebutuhan hospitalisasi, kecemasan terhadap keluarga, pekerjaan dan biaya.
2. Denial, Withdrawal (menarik diri), cemas, kontak mata berkurang, mudah tersinggung dan marah, tingkah laku melawan dan persepsi menyempit (berpusat pada diri / nyeri).

d. Eleminasi
Normal atau berkurangnya bising usus yang mungkin di sertai kontipasi.
e. Makanan/Nutrisi
1. Mual, dan nafsu makan berkurang.
2. Turgor kulit berkurang, kulit kering atau berkeringat dan perubahan berat badan.
f. Hygiene
1. Sesak napas / nyeri dada atau Takhikardi selama beraktifitas.
g. Neorosensori
1. Pusing dan rasa hendak pingsan
2. Perubahan status mental
h. Nyeri/rasa aman
1. Nyeri dada tiba-tiba (dengan atau tanpa aktivitas) yang tidak hilang dengan pemberian nitrogliserin atau istirahat. Lokasi khas pada dada depan, substernal, precodial, dapat di sertai dengan penjalaran kelengan atau muka, dan lokasi yang tidak khas seperti epigastrium, siku, dagu dan punggung, kualitas kasar, tumpul atau terus-menerus kuat. Intensitas selalu sepuluh pada skala nyeri 1 sampai 10. Bahkan merupakan nyeri yang paling nyeri pernah di alami klien.
2. Muka menyeringai, perubahan postur tubuh, menangis, merintih, withdrawal, kehilangan kontak mata, perubahan irama jantung / denyut jantung, tekanan darah, pernapasan, warna kulit atau tingkat kesadaran.
i. Pernafasan
1. Sesak nafas dengan atau tanpa aktifitas, sesak pada malam hari, garuk dengan atau tanpa sputum. Riwayat merokok atau penyakit pernafasan kronis.
3. Meningkatnya pernafasan, pernafasan dangkal atau sukar, pucat / sianosis, suara nafas bersih atau adanya suara tambahan sputum bersih atau kemerahan.
j. Interaksi sosial
1. Baru mengalami stress, misalnya pekerjaan atau keluarga, koping yang sukar terhadap stressor yang baru dialaminya, misalnya karena penyakit atau hospitalisasi.
2. Sukar istirahat dengan tenang, emosi yang berlebihan (selalu marah dan takut)
k. Tingkat pengetahuan
Riwayat penyakit jantung, diabetes mellitus, stroke, hipotensi, atau penyakit pembuluh darah perifer, penggunaan tembakau atau rokok.
2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah pernyataan yang menjelaskan status atau masalah kesehatan aktual atau potensial. Tujuannya adalah mengidentifikasi: pertama, adanya masalah aktual berdasarkan respon klien terhadap masalah atau penyakit; kedua, faktor-faktor yang berkonstribusi atau penyebab adanya masalah; ketiga, kemampuan klien mencegah atau menghilangkan masalah.
Setelah mengumpulkan data tahap selanjutnya yaitu pengolahan data dan merumuskan diagnosa keperawatan. Adapun diagnosa keperawatan pada klien dengan Infark Myocard Acut menurut Marylin E. Doenges et. Al Antara lain meliputi :
a. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan iskemik jaringan myocard.
b. Ansietas berhubungan dengan ancaman atau perubahan kesehatan dan status sosioekonomi.
c. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan ketidakseimbangan supplay O2 ke jaringan myocard.
d. Resiko tinggi terhadap kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan perfusi organ (ginjal).
e. Resiko tinggi penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan frekuensi, irama dan konduksi elektrika myocard.
f. Resiko tinggi perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penghentian / penurunan aliran darah (vasokontriksi, Hypovolemia dan Tramboembolik).
g. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang informasi tentang fungsi jantung / implikasi penyakit jantung dan status kesehatan akan datang.


4. Perencanaan
Setelah merumuskan diagnosa keperawatan maka perlu dibuat perencanaan. Perencanaan adalah langkah awal dalam menentukan apa yang dilakukan untuk membantu klien dalam memenuhi serta mengatasi masalah keperawatan yang telah ditentukan. Tahap perencanaan keperawatan adlan menentukan prioritas diagnosa keperawatan, penetapan sasaran dan tujuan, penetapan kriteria evaluasi dan merumuskan intervebsi keperawatan.
Rencana tindakan keperawatan yang disusun pada klien dengan Infark Myocard Acut menurut Doenges M.E. adalah sebagai berikut:
a. Diagnosa keperawatan pertama
Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan iskemik jaringan otot myocard.
1). Hasil yang di harapkan :
a) Menyatakan nyeri dada hilang.
b) Mendemonstrasikan penggunaan tekhnik relaksasi, menunjukkan menurunnya tegangan, rileks, mudah bergerak.
2). Rencana tindakan :
a) Pantau / catat karakteristik nyeri, cacat laporkan verbal, non verbal.
b) Ambil gambaran lengkap terhadap nyeri dan klien termasuk lokasi, intensitas (1 – 10) : lamanya, kualitas dan penyebaran.
c) Kaji ulang riwayat angina sebelumnya.
d) Anjurkan klien untuk melaporkan nyeri dada dengan segera.
e) Berikan lingkungan yang tenang, aktivitas perlahandan tindakan nyaman.
f) Berikan oksigen tambahan dengan kanula nasal atau masker sesuai indikasi.
g) Berikan obat-obatan sesuai indikasi contoh Angina, analgesik.
b. Diagnosa keperawatan kedua
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara supplay 02 myocard dengan kebutuhan.
1). Hasil yang di harapkan :
Mendemonstrasikan peningkatan toleransi aktivitas yang dapat di ukur, maju dengan frekuensi jantung / irama dan TD dalam batas normal klien dan kulit hangat, merah muda dan kering.
2). Rencana Tindakan:
a) Catat / dokumentasikan frekuensi jantung, irama dan perubahan TD sebelum, selama, sesudah aktivitas sesuai indikasi.
b) Tingkatkan istirahat (tempat tidur/kursi). Batasi aktivitas pada dasan nyeri, berikan aktivitas senggang yang tidak berat.
c) Batasi pengunjung.
d) Anjurkan klien untuk menghindari peningkatan tekanan abdomen contoh : mengejan pada saat defekasi.
e) Jelaskan pola peningkatan bertahap dari tingkat aktivitas.
f) Kaji ulang/gejala/tanda yang menunjukkan tidak toleran terhadap aktivitas atau memerlukan pelaporan pada perawat.
c. Diagnosa keperawatan ketiga
Ansietas berhubungan dengan ancaman atau perubahan kesehatan dan status sosioekonomi
1). Hasil yang diharapkan :
Mengenal perasaannya, mengidentifikasi penyebab, menyatakan penurunan ansietas / takut.
2). Rencana tindakan:
a) Identifikasi dan ketahui persepsi klien terhadap ancaman kesehatan/ situasi.
b) Catat adanya kegelisahan, menolak dan, atau menyangkal.
c) Mempertahankann gaya percaya (tanpa keyakinan yang salah)
d) Kaji tanda verbal/non verbal kecemasan dengan klien bila perilaku menujukkan mencederai.
e) Orientasikan klien/orang terdekat terhadap prosedur rutin dan aktivitas yang diharapkan
f) Berikan anti cemas/hipnotik sesuai indikasi. Contoh diazepam (valium).
d. Diagnosa Keperawatan keempat
Resiko terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan frekuensi, irama, konduksi elektrikal myocard.
1). Hasil yang diharapkan :
Mempertahankan stabilitas hemodinamik, TD serta curah jantung dalam rentang normal.
2). Rencana tindakan:
a) Auskultasi TD, bandingkan tangan dan ukur dengan tidur, duduk dan berdiri bila bisa.
b) Evaluasi kualitas dan kesamaan nadi, sesuai indikasi.
c) Catat terjadinya S3, S4, dan adanya murmur.
d) Auskultasi bunyi napas.
e) Pantau frekuensi jantung dan irama, catat distritmia melalui telemetri.
f) Pertahankan masukan IV sesuai indikasi.
e. Diagnosa keperawatan kelima
Resiko tinggi terhadap perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan/ penghentian aliran darah.
1) Hasil yang diharapkan :
Mendemonstrasikan perfusi adekuat secara individual, contoh; acral hangat, nadi kuat, tanda vital dalam batas normal.
2) Rencana Tindakan :
a) Selidiki perubahan tiba-tiba atau gangguan mental kontinue contoh; cemas, bingung, lethargi dan pingsan.
b) Lihat pucat, sianosis, belang, kulit dingin / lembab, catat kekuatan nadi perifer.
c) Anjurkan klien dalam melakukan / melepas kaus kaki antiembolik bila di gunakan.
d) Pantau pernapasan, catat kerja pernapasan.
e) Pantau data laboratorium, contoh; GDA, kreatinin, dan elektrolit.
f) Beri obat sesuai indikasi misalnya, Heparin / natrium warfarin dan cimetidine.
f. Diagnosa keperawatan keenam
Resiko tinggi kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan perfusi organ (ginjal) /peningkatan natrium/retensi air.
1). Hasil yang di harapkan:
Mempertahankan keseimbangan cairan seperti TD dalam batas normal/tidak ada distensi vena dan edema.
2). Rencana Tindakan :
a) Auskultasi bunyi napas untuk adanya krekels.
b) Catat denyut vena jugularis, adanya edema dependen.
c) Ukur masukan/haluaran, catat penurunan/pengeluaran, sifat konsentrasi.
d) Timbang berat badan tiap hari.
e) Pertahankan pemasukan total cairan 2000 ml/24 jam dalam toleransi kardiovaskuler.B
f) Berikan diet rendah natrium.
g) Berikan diuretik misalnya : furosemid (lasix).
g. Diagnosa keperawatan ketujuh
Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi, kebutuhan pengobatan.

1). Hasil yang di harapkan :
Menyatakan pemahaman penyakit jantung sendiri, rencana pengobatan tujuan pengobatan dan efek samping/reaksi merugikan.
1). Rencana Tindakan :
a) Kaji tingkat pengetahuan klien /orang terdekat dan kemampuan / keinginan untuk belajar.
b) Waspada terhadap tanda penghindaran, contoh mengubah subjek dari informasi yang ada atau perilaku ekstern (menolak).
c) Berikan informasi dalam bentuk belajar yang bervariasi.
d) Peringatkan untuk menghindari aktivitas/sometrik.
e) Kaji ulang tanda/gejala yang memerlukan penurunan aktivitas dan pelaporan pada pemberi perawatan kesehatan.
f) Beri tekanan pentingnya menghubungi dokter bila nyeri dada, perubahan pola angina dan terjadi gejala lain.
5. Pelaksanaan
Pelaksanaan merupakan tahap pemberian tindakan-tindakan keperawatan untuk mengetahui/mengatasi permasalahan penderita secara terarah dan komprehensif, berdasarkan rencana yang telah di tetapkan sebelumnya.
Perencanaan keperawatan di kembangkan untuk memenuhi pengurangan nyeri, pengurangan sesak, mencegah distrimia, mengurangi kebutuhan oksigen ke myocard mengurangi kerusakan sel, mencegah komplikasi dan membantu individu beradaptasi dengan pengalaman myocard infarknya.
6. Evaluasi
Evaluasi merupakan tahap akhir yang berkelanjutan dari proses keperawatan yang merupakan tolak ukur mengetahui keberhasilan tindakan keperawatan yang di berikan.
Pada tahap evaluasi terdapat beberapa kemungkinan, masalah teratasi seluruhnya, sebagian, belum teratasi bahkan timbul masalah baru.
Evaluasi bertujuan untuk mengetahui kemajuan klien dalam mencapai kriteria hasil yang ditetapkan dalam tujuan asuhan keperawatan. Evaluasi yang di lakukan terdiri dari evaluasi hasil dan evaluasi proses.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar