TIDAK PERLU KELILING DUNIA

WELCOME TO THE NURSE ASRAMA

keperawatan

Kamis, 06 Agustus 2009

pendahuluan kti fraktur

http://www.scribd.com/doc/18174185/BAB-I-takim-KTI-Fraktur-communitif-Metakarpal-IV-dan-V-manus-dextra-skin-graft?secret_password=1znf941j8cumu1iyi5e4

Sabtu, 01 Agustus 2009

KTI Fraktur Communitif Metakarpal IV dan V Manus Dextra

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn. N DENGAN FRAKTUR
COMMUNITIF METAKARPAL IV DAN V MANUS DEXTRA DI RUANG
CEMPAKA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH
ABDUL WAHAB SJAHRANIE
SAMARINDA
















Karya Tulis Ilmiah
Diajukan Untuk memenuhi persyaratan
Ujian Akhir Program Diploma III Keperawatan
Pada Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Depkes Kal-Tim


Oleh :

MUSTAKIM
NIM. PO 7220106045


POLITEKNIK KESEHATAN DEPKES KALIMANTAN TIMUR
JURUSAN KEPERAWATAN
2009

HALAMAN PERSETUJUAN



JUDUL KTI : ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN TN. N DENGAN FRAKTUR COMMUNITIF METAKARPAL IV DAN V MANUS DEXTRA DI RUANG CEMPAKA RSUD. ABDUL WAHAB SYAHRANIE SAMARINDA.
NAMA : Mustakim
NIM : P07220106045
JURUSAN : KEPERAWATAN
PROGRAM STUDI : D-III KEPERAWATAN


Karya Tulis Ilmiah ini telah di periksa dan setujui untuk diujikan
Samarinda, ........................................


Pembimbing,



H. Darmansyah AF., S. Kp., MPHM.
Nip 195908221981031002


HALAMAN PENGESAHAN

JUDUL KTI : ASUHAN KEPERAWATAN Tn. N DENGAN
FRAKTUR COMMUNITIF METAKARPAL
IV DAN V MANUS DEXTRA DI RUANG
CEMPAKA RUMAH SAKIT UMUM
DAERAH ABDUL WAHAB SJAHRANIE
SAMARINDA
NAMA : Mustakim
NIM : PO7220106045
JURUSAN : KEPERAWATAN
PROGRAM STUDI : D-III KEPERAWATAN

Karya Tulis Ilmiah ini telah dipertahankan dihadapan
Dewan Penguji pada tanggal 8 Agustus 2009

Penguji I : H. Siswojo SKM ............................
Penguji II : Wiyadi, S.Kep., Ns ............................
Penguji III : Hj. Umi Kalsum, S.Pd., Mkes ............................

Mengetahui,
Ketua Jurusan Keperawatan
Poltekkes Depkes Kalimantan Timur



H.Rasmun, SKP.,M.Kep
NIP. 196006261982031005

Ketua Prodi DIII Keperawatan
Poltekkes Depkes Kalimantan Timur



Joko Sapto Pramono,S.Kp,MPHM
NIP. 196611261988031002
Direktur
Politeknik Kesehatan Depkes Kalimantan Timur

H. Darmansyah AF.S.Kp.,MPHM
NIP. 195908221981031002

ABSTRAK



Nama : Mustakim
N.I.M : PO 7220106045
Judul : Asuhan Keperawatan pada klien dengan Fraktur Communitif Metakarpal IV dan V Manus Dextra di Ruang Cempaka Rumah Sakit Abdul Wahab Syahranie Samarinda
Pembimbing : H. Darmansyah AF, S.Kp., MPHM
Daftar pustaka : 9 buku
Jumlah Halaman : ….halaman

Asuhan keperawatan pada klien Tn.N dengan Fraktur Communitif Metakarpal IV dan V Manus Dextra dilaksanakan di Ruang Cempaka Rumah Sakit Abdul Wahab Syahranie Samarinda dari tanggal 21 Juli 2009 sampai dengan 23 Juli 2009. Asuhan keperawatan ini ditulis dalam bentuk karya tulis ilmiah dengan menggunakan metode penulisan deskriptif studi kasus. Asuhan keperawatan pada klien Tn.N merupakan salah satu dari sekian jenis kasus fraktur yang terjadi diruang Cempaka Rumah Sakit Abdul Wahab Syahranie Samarinda. Pelaksanaan asuhan keperawatan ini terdiri dari lima tahap yaitu pengkajian, perumusan diagnosa keperawatan, pelaksanaan dan evaluasi tindakan keperawatan. Pada tahap pengkajian penulis mengumpulkan data-data melalui wawancara, observasi dan pemeriksaan fisik serta studi pendokumentasian. Masalah keperawatan yang ditemukan pada klien Tn.N dengan Fraktur Communitif Metakarpal IV dan V Manus dextrai adalah nyeri, cemas kerusakan kerusakan integritas kulit, risiko tinggi terjadinya infeksi, intoleran aktifitas, defisit perawatan diri, dan kurang pengetahuan. Setelah dilakukan tindakan keperawatan sesuai dengan rencana keperawatan yang telah penulis susun, diagnosa yang ditegakkan ada yang teratasi dan ada yang teratasi sebagian serta ada masalah yang tidak terjadi. Masalah yang teratasi pada klien Tn. N yaitu cemas berhubungan dengan akan dilakukannya tindakan operasi, intoleran aktifitas berhubungan dengan keterbatasan gerak, kelemahan fisik, defisit perawatan diri berhubungan dengan ketidakmampuan melakukan aktifitas sehari-hari, kelemahan fisik, kurang pengetahuan tentang konsisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya sumber informasi yang didapat, sedangkan masalah yang teratasi sebagian yaitu nyeri berhubungan dengan diskontinuitas jaringan/tulang akibat tindakan operasi (Skin Graft) dan kerusakan integritas kulit berhubungan dengan fraktur terbuka, tindakan pembedahan (Skin Graft), sedangkan masalah yang tidak terjadi yaitu risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan adanya luka operasi dan prosedur invasif (pemasangan infus). Oleh karena itu pada evaluasi SOAP tetap mendelagasikan intervensi pada klien dan perawat ruangan. Kesimpulan dibuat berdasarkan hasil dari pembahasan, dan saran merupakan masukan-masukan yang ditujukan pada institusi atau orang tertentu yang berfungsi untuk perbaikan sehingga dapat meningkatkan mutu asuhan keperawatan.


RIWAYAT HIDUP









I. Identitas
Nama : Mustakim
Tempat, tgl lahir : Tanjung Aru, 21 Juli 1987
Jenis kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Suku / Bangsa : Bugis / Indonesia
Alamat : Jl. Pasir Putih RT.I No. 63 Tanjung Aru, Kec. Tanjung Harapan Kab. Paser

Pendidikan
A. Sekolah Dasar Negeri 001 Tanjung Aru tahun 2000
B. Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Negeri 1 Tanjung Aru tahun 2003
C. Sekolah Menengah Umum Negeri 1 Tanah Grogot tahun 2006
D. Diterima di Politeknik Kesehatan Kalimantan Timur Prodi Keperawatan Jalur Umun tahun 2006

KATA PENGANTAR


Puji syukur kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan hidayah-Nya jualah, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas dalam menyusun Karya Tulis Ilmiah sebagai rangkaian ujian akhir program dengan judul “Asuhan Keperawatan pada klien Tn.N dengan Fraktur Communitif Metakarpal IV dan V Manus Dextrai di ruang Cempaka Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Wahab Syahranie Samarinda” dari tanggal 21 Juli 2009 sampai dengan 23 Juli 2009.
Penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini merupakan salah satu syarat dalam menyelesaikan program pendidikan Diploma III Keperawatan pada Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Depkes Kalimantan Timur.
Berbagai motivasi, bantuan, bimbingan, dan pengarahan dari berbagai pihak telah berpartisipasi demi terselesainya Karya Tulis Ilmiah ini. Untuk itu pada kesempatan yang ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Yth :
1. Bapak H. Darmansyah AF, S. Kp., MPHM, selaku Direktur Politeknik Kesehatan Depkes Kalimantan Timur sekaligus pembimbing dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini.
2. dr. Adji Syirafuddin, MMR selaku Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Wahab Sjahranie Samarinda.
3. Bapak Rasmun, SKP., M.Kes. selaku Ketua Jurusan Keperawatn Politeknik Kesehatan Depkes Kalimantan Timur
4. Bapak Joko Sapto Pramono, SKP.,MPHM. selaku ketua Program Studi D III Keperawatan Politeknik Kesehatan Depkes Kalimantan Timur.
5. Ibu Hj.Rohana, A.Md. Kep. Selaku kepala Ruang Perawatan Bedah Cempaka Rumah Sakit Umum Abdul Wahab Sjahranie Samarinda.
6. Para Dosen dan Staf Pendidikan Politeknik Kesehatan Depkes Kalimantan Timur Jurusan Keperawatan.
7. Seluruh Staf Perpustakaan Politeknik Kesehatan Depkes Kalimantan Timur Jurusan Keperawatan.
8. Rekan-rekan mahasiswa Politeknik Kesehatan Depkes Kalimantan Timur Jurusan Keperawatan khususnya Jalur Umum, terima kasih atas dukungan dan kerja samanya.
9. Kedua orang tuaku tercinta yang telah memberikan dukungan, semangat, motivasi, doa restu, dan pengorbanan baik materiil maupun spiritual yang tak ternilai harganya dalam menyelasaikan Karya Tulis Ilmiah ini.
Penulis menyadari bahwa Karya Tulis Ilmiah ini masih banyak kekurangannya, oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun, demi perbaikan karya tulis di masa mendatang. Akhirnya semoga Karya Tulis Ilmiah ini dapat bermanfaat bagi pengembangan keperawatan pada khususnya dan para pembaca pada umumnya.

Samarinda, Juli 2009

Penulis

DAFTAR ISI


HALAMAN JUDUL i
HALAMAN PERSETUJUAN ii
HALAMAN PENGESAHAN iii
ABSTRAK iv
RIWAYAT HIDUP v
KATA PENGANTAR vi
DAFTAR ISI viii

BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang 1
B. Tujuan Penulisan 3
C. Ruang Lingkup Pembahasan 4
D. Metode Penulisan 4
E. Sistematika Penulisan 5

BAB II. DASAR TEORITIS
A. KONSEP DASAR TEORI FRAKTUR 6
1. Pengertian Fraktur 6
2. Anatomi Fisiologi 6
3. Etiologi Fraktur 9
4. Patofisiologi Fraktur 10
5. Klasifikasi Fraktur 11
6. Gambaran Klinis Fraktur 15
7. Komplikasi 15
8. Pemeriksaan Diagnostik 17
9. Penatalaksanaan 17
B. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian 25
2. Diagnosa Keperawatan 29
3. Perencanaan 30
4. Pelaksanaan 39
5. Evaluasi 40

BAB III. TINJAUAN KASUS
A. Pengkajian 42
B. Diagnosa Keperawatan 53
C. Perencanaan 57
D. Pelaksanaan 65
E. Evaluasi 70

BAB IV. PEMBAHASAN.................................................................... 75
BAB V. PENUTUP
A. Kesimpulan 94
B. Saran 95
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN








BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
Pada dasarnya kesehatan merupakan masalah berharga dan sangat penting dalam tatanan kehidupan manusia. Oleh karena itu, perhatian masyarakat pun terhadap kesehatan dari tahun ke tahun makin besar, sehingga meningkatkan tuntutan masyarakat terhadap perawatan yang berkualitas. Seiring dengan hal itulah, maka tuntutan profesi untuk memberikan asuhan keperawatan yang bermutu terhadap masyarakat menjadi sangat penting.
Profesionalisme keperawatan melalui kegiatan praktik keperawatan profesional dapat dilihat melalui pelaksanaan kegiatan pelayanan keperawatan yang berdasarkan visi dan misi yang jelas dan tertuang dalam pelaksanaan rencana strategis pelayanan keperawatan di setiap bidang pelayanan keperawatan.
Asuhan keperawatan yang merupakan bentuk dari pelayanan kesehatan profesional yang didasarkan pada ilmu, seni dan kiat keperawatan yang ditujukan kepada individu, keluarga, dan masyarakat baik yang sehat maupun yang sakit dengan mempertimbangkan aspek bio, psiko, sosial, dan spiritual yang komprehensive. Bila salah satu aspek terlewatkan maka hal tersebut akan menjadi stressor bagi klien. Dan tidak jarang stressor pun dapat menyebabkan kesakitan bahkan dapat menyebabkan kematian.
Seiring dengan perkembangan jaman, salah satu dampak kemajuan teknologi adalah semakin padatnya arus lalu lintas dewasa ini yang mengakibatkan meningkatnya angka kecelakaan lalu lintas di jalan raya, yang dapat menyebabkan cedera pada anggota gerak atau yang di sebut dengan fraktur. Fraktur atau patah tulang ini merupakan salah satu kedaruratan medik yang harus segera di tangani secara cepat, tepat dan sesuai dengan prosedur penatalaksanaan patah tulang, sebab sering kali penanganan patah tulang ini dilaksanakan secara keliru oleh masyarakat atau orang awam di tempat kejadian kecelakaan.
Menyinggung angka kematian di Indonesia, kecelakaan lalu lintas adalah merupakan salah satu penyebabnya, selain menyebabkan kematian masalah yang timbul dari kecelakaan lalu lintas adalah trauma berupa fraktur yang dapat menyebabkan disfungsi organ tubuh atau bahkan dapat menyebabkan kecacatan.
Fraktur adalah “ Diskontinuitas jaringan tulang yang biasanya disebabkan oleh kekerasan yang timbul secara mendadak”.
Berdasarkan data yang diperoleh dari catatan Medical Record di Rumah Sakit Umum Daerah AWS Samarinda selama 6 bulan terakhir klien yang di rawat dengan fraktur secara umum dari bulan Januari 2009 s/d juni 2009 adalah sebanyak 246 jiwa.
Berdasarkan hasil seleksi kasus pada Ujian Akhir Program Tahap I dan penulis mendapat kesempatan untuk mengelola asuhan keperawatan pada Tn. N dengan diagnosa Fraktur Communitif Metakarpal IV dan V Manus dextra maka dengan itu penulis mengambil judul “Asuhan Keperawatan pada Tn. N dengan Fraktur Communitif Metakarpal IV dan V Manus di Ruang Cempaka Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Wahab Sjahranie Samarinda“ untuk Karya Tulis Ilmiah ini.

B. Tujuan Penulisan.
1. Tujuan umum
Untuk memperoleh gambaran dan pengalaman langsung dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan Fraktur Communitif Metakarpal IV dan V Manus Dextra dengan pendekatan proses keperawatan.
2. Tujuan Khusus
a. Melakukan pengkajian pada klien dengan fraktur communitif metakarpal IV dan V manus dextra secara benar dan sesuai dengan teori yang didapat.
b. Merumuskan diagnosis yang mungkin timbul dan menentukan rencana tindakan keperawatan pada klien dengan fraktur communitif metakarpal IV dan V manus dextra.
c. Membuat perencanaan tindakan keperawatan yang sesuai pada Tn.N dengan fraktur communitif metakarpal IV dan V manus dextra.
d. Melakukan tindakan keperawatan pada Tn. N dengan fraktur communitif metakarpal IV dan V manus dextra.
e. Mengevaluasi tindakan keperawatan yang dilakukan pada Tn. N dengan fraktur communitif metakarpal IV dan V manus dextra.
f. Mendokumentasikan asuhan keperawatan yang telah dilakukan pada klien Tn.N dengan fraktur communitif metakarpal IV dan V manus dextra.

C. Ruang Lingkup Pembahasan
Mengingat luasnya pembahasan mengenai masalah fraktur maka dalam karya tulis ilmiah ini, penulis hanya akan membahas bagaimana pelaksanaan asuhan keperawatan pada klien dengan fraktur communitif metakarpal IV dan V manus dextra di Ruang Cempaka Rumah Sakit Umum Daerah AWS Samarinda.

D. Metode Penulisan
Dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini penulis menggunakan metode deskriptif dengan studi kasus.
Adapun data-data yang terhimpun dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini penulis peroleh dengan cara :
a. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan yang meliputi inspeksi, auskultasi, perkusi, palpasi.
b. Penulis melakukan pengamatan secara langsung terhadap prilaku, kebiasaan, keadaan dan kondisi klien
c. Wawancara
Pengumpulan data dengan melakukan wawancara langsung pada klien maupun pada keluarga, dokter, perawat dan tim kesehatan lain.
d. Studi Dokumentasi
Menggunakan dokumen yang berhubungan dengan judul karya tulis ini, seperti catatan medis, catatan keperawatan, dan lain sebagainya.
e. Studi Kepustakaan
Menggunakan bahan yang ada kaitannya dengan judul karya ini, berupa buku-buku, diklat dan lain – lain yang dapat didukung dengan teori yang ada.

E. Sistematika Penulisan
Dalam menyusun karya tulis ilmiah ini penulis membagi dalam lima bab, yaitu : Bab satu terdiri dari pendahuluan yang berisi latar belakang, ruang lingkup bahasan, tujuan penulisan, bab dua terdiri dari dasar teori. Bab tiga terdiri dari tinjauan kasus meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, tindakan dan evaluasi. Bab empat menguraikan tentang asuhan keperawatan pada Tn.N dengan fraktur communitif metakarpal IV dan V manus dextra dalam praktek nyata dihubungkan dengan konsep-konsep asuhan keperawatan pada klien dengan fraktur communitif metakarpal IV dan V manus dextra. Bab lima penutup menguraikan kesimpulan terhadap tujuan penulisan dan juga saran.
Dilanjutkan dengan daftar pustaka yang disertai dengan lampiran – lampiran.



BAB II
DASAR TEORITIS


A. Fraktur
1. Pengertian
Fraktur adalah : terputusnya hubungan / kontinuitas jarin¬gan tulang (Syamsuhidayat, 1997).
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa. (Mansjoer, Arif. 1999)
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang, tulang rawan sendi, tulang rawan epifisis, baik yang bersifat total maupun yang parsial. (Rasjad, Chairuddin. 2007)

2. Anatomi dan fisiologi
a. Tulang dalam garis besarnya di bagi atas :
1) Tulang panjang
Yang termasuk tulang panjang misalnya femur, tibia, fibula, ulna, dan humerus, dimana daerah batas disebut diafisis dan daerah yang berdekatan dengan garis epifisis di sebut metafisis. Daerah ini merupakan suatu daerah yang sangat sering ditemukan adanya kelainan atau penyakit, oleh karena itu daerah ini merupakan daerah metabolik yang aktif dan banyak mengandung pembuluh darah. Kerusakan atau kelainan perkembangan pada daerah lempeng episis akan menyebabkan kelainan pertumbuhan tulang.
2) Tulang pendek
Contoh dari tulang pendek antara lain tulang vertebra dan tulang-tulang karpal.
3) Tulang pipih
Yang termasuk tulang pipih antara lain tilang iga, tulang skapula, dan tulang pelvis. Tulang yang terdiri dari bagian yang kompak pada bagian luar yang disebut korteks dan bagian dalam yang bersifat spongiosa berbentuk trabekula dan di luarnya dilapisi oleh periosteum. Periosteum pada anak lebih tebal dari pada orang dewasa yang memungkinkan penyembuhan tulang pada anak lebih cepat dibandingkan dengan orang dewasa.
b. Fungsi tulang sebagai struktur dan organ
Tulang adalah jaringan yang terstruktur dengan baik dan mempunyai lima fungsi utama, yaitu :
1) Membentuk rangka badan
2) Sebagai tempat melekatnya otot
3) Sebagai bagian dari tubuh untuk melindungi dan mempertahankan alat-alat dalam, seperti otak, sumsum tulang belakang , jantung dan paru-paru
4) Sebagai tempat deposit kalsium, fosfor, magnesium dan garam
5) Sebagai organ yang berfungsi sebagai jaringan hemopoetik untuk memproduksi sel-sel darah merah, sel-sel darah putih dan trombosit.
c. Sel-sel tulang dan fungsinya
Osteoblas merupakan salah satu jenis sel hasil diferensiasi sel mesenkim yang sangat penting dalam proses osteogenesis atau osifikasi. Sebagai sel, osteblas dapat memproduksi substansi organik intraseluler atau matriks dimana kasifikasi terjadi dikemudian hari. Jaringan yang tidak mengandung kalsium disebut osteoid dan apabila kalsifikasi terjadi pada matriks maka jaringan di sebut tulang. Sesaat setelah osteoblas dikelelengi oleh substsansi organik intraseluler disebut osteosit dimana keadaan ini terjadi di dalam lakuna.
Sel yang bersifat multi nukleus tidak di tutupi oleh permukaan tulang dengan sifat dan fungsi resorpsi serta mengeluarkan tulang yang di sebut osteoklas. Kalsium hanya dapat dikeluarkan melalui tulang dari proses aktivitas osteoklasis yang menghilangkan matriks organik dan kalsium secara bersamaan dan di sebut deosifikasi.
d. Anatomi Tangan
Ada tiga macam tulang yang menyusun tangan, yaitu:
1) Tulang Pergelangan Tangan (Karpus)
Pergelangan tangan terbentuk dari delapan tulang karpal irteguler yang tersusun dalam dua baris, dan setiap barisnya terdiri dari empat tulang. Barisan tulang karpal proksimal yang terdiri dari navicular(skafoid),lunatum, trikuetral(triangular),dan pisiform. Barisan tulang karpal distal yang terdiri dari: Trapezium, Trapezoid, Kapitatum, Hamatum.
2) Tangan (metacarpus)
Tangan tersusun dari lima tulang metakarpal’dimana semua tulang metacarpal berukuran serupa kecuali tulang metacarpal pertama pada ibujari. Setiap tulang metacarpal memiliki sebuah dasar proksimal yang berartikulasi dengan barisan distal tulang karpal pergelangan tangan.kepala tulang metacarpal membentuk buku jari yang menonjol pada tangan.
3) Tulang – tulang jari (phalanges)
Setiap jari memiliki tiga tulang yaitu tulang proksimal,tulang medial, dan tulang distal, kecuali ibu jari yang hanya memiliki tulang proksimal dan medial saja. ( Sloane, 2003 )

3. Etiologi
a. Trauma langsung : benturan pada tulang yang menyebabkan fraktur pada tempat benturan contoh : kecelakaan lalu lintas.
b. Trauma tidak langsung : jika titik tumpul benturan dengan terjadinya fraktur berjauhan, jatuh dari ketinggian dengan berdiri atau duduk sehingga terjadi fraktur tulang belakang.
c. Proses suatu penyakit
Penyakit yang melemahkan tulang, misalnya metastase kanker atau osteomielitis.
4. Patofisiologi
Daya

Tulang

Fraktur





Perdarahan
















5. Klasifikasi Fraktur
a. Menurut jumlah garis fraktur
1) Simple fraktur
2) Multiple fraktur
3) Comminute fractur : hanya terdapat satu garis fraktur
: terdapat lebih dari satu garis
: terjadi banyak garis fraktur atau banyak fragmen kecil yang terlepas.

b. Menurut garis fraktur
1) Fraktur inkomplit
2) Fraktur komplit
3) Hair line fraktur : tulang tidak terpotong secara total
: tulang terpotong secara total.
: garis fraktur hampir tak tampak sehingga bentuk tulang tak ada perubahan.
c. Menurut bentuk fragmen
1) Fraktur transversal
2) Fraktur oblique
3) Fraktur spiral : bentuk fragmen melintang
: bentuk fragmen miring
: bentuk fragmen melingkar







2.1 Tipe fraktur


















Sumber : (medicastrore. Com)



d. Menurut hubungan antara fragmen dengan dunia luar.
Fraktur terbuka : fragmen tulang sampai menembus kulit
Fraktur terbuka dibagi menjadi 3 (tiga) tingkat :
1) Pecahan tulang menusuk kulit, kerusakan jaringan sedikit, kontaminasi ringan, luka < 1 cm.
2) Kerusakan jaringan sedang, Resiko terjadi infeksi lebih besar, luka > 1 cm ( misal fraktur comminutive)
3) Luka besar sampai lebih kurang 8 cm, kehancuran otot kerusakan neurovaskuler, kontaminasi besar misal : luka tembak
Fraktur tertutup : fragmen tulang tak berhubungan dengan dunia luar.
e. Tahap dan Proses Penyembuhan Tulang.
1) Haematoma
Dalam 24 jam mulai pembekuan darah dan terjadi hematom di sekitar fraktur. Setelah 24 jam suplai darah ke ujung fraktur meningkat, hematoma ini mengelilingi fraktur dan tidak di absorbsi selama penyembuhan tapi berubah dan berkembang menjadi granulasi.
2) Proliferasi sel.
Sel-sel dari lapisan dalam periosteum berproliferasi pada sekitar fraktur, dimana sel-sel ini menjadi precusor dari osteoblast, osteogenesis ini berlangsung terus, lapisan fibrosa periosteum melebihi tulang.
Setelah beberapa hari kombinasi dari periosteum yang meningkat dengan fase granulasi membentuk collar di lujung fraktur.
3) Pembentukan callus
6-10 hari setelah fraktur jaringan granulasi berubah dan memben¬tuk callus. Sementara pembentukan cartilago dan matrik tulang diawali dari jaringan callus yang lunak. Callus ini bertambah banyak, callus sementara meluas, menganyam massa tulang dan cartilago sehingga diameter tulang melebihi normal. Hal ini melindungi fragmen tulang tapi tidak memberikan kekuatan callus sementara ini meluas melebihi garis fraktur.
4) Ossification
Callus yang menetap / permanen menjadikan tulang kaku karena adanya penumpukan garam-garam calcium dan bersatu bersama ujung-ujung tulang. Proses ossifikasi ini mulai dari callus bagian luar kemuadian bagian dalam dan terakhir bagian tenagh. Proses ini terjadi selama 3-10 minggu.
5) Konsolidasi dan Remodelling.
Pada waktu yang sama pembentukan tuoang yang sebenarnya callus dibentuk dari aktvitas osteoblast dan osteoklast. Kelebihan-kelebihan tulang seperti dipahat dan diabsorbsi dari callus. Proses pembentukan lagi ditentukan oleh beban tekanan dari otot.

6. Gambaran Klinis Fraktur
a. Deformitas, dapat berupa :
1) Angulasi
Karena adanya kekerasan mengakibatkan otot-otot ekstremitas menarik patahan tulang.
2) Pemendekan tonus otot-otot ekstremitas menarik patahan tulang, sehingga ujung patahan saling bertumpuk.
b. Nyeri
Nyeri tekan dan pembengkakan di sekitar bagian fraktur. Jika frakturnya terbuka ujung patahan tulang dapat terlihat di dalam luka.
c. Krepitasi ; Rasa gemeretak ketika ujung tulang bergeser.
d. Oedema
e. Echymosis
f. Fungsileosa ( gangguan fungsi)
g. spasme otot
h. Kemungkinan lain :
 kehilangan sensasi
 mobilisasi yang abnormal
 Hypovolemik shock
7. Komplikasi
a. Segera ( immediate)
Komplikasi yang dapat terjadi segera setelah fraktur antara lain, shock neurogenik, kerusakan organ, kerusakan syaraf, dan injury / perlukaan kulit,
b. Early complication
Early komplikasi yang dapat terjadi : osteomyelitis, emboli, tetanus, nekrosis, dan sindroma compartement.
c. Late complication
Sedangkan komplikasi lanjut yang dapat terjadi antara lain stiffnes ( kaku sendi), degenerasi sendi, penyembuhan tulang terganggu ( mal union, non union, delayed union, dan cross union).
Pemeriksaan fisik
1) Mengidentifikasi tipe fraktur ( komplit, inkomplit, dan lain-lain).
2) Inspeksi daerah mana yang terkena:.
a. deformitas yang nampak jelas
b. edema , ekimosis sekitar lokasi cedera
c. laserasi
d. perubahan warna kulit
e. kehilangan fungsi daerah yang cedera
3) Palpasi :
a. bengkak, adanya nyeri dan penyebaran
b. krepitasi
c. nadi, dingin
d. observasi spasme otot sekitar daerah fraktur
e. terpasang alat immobilisasi pada lokasi cedera.
8. Pemeriksaan diagnostik
1) Laboratorium
Hb, Ht, leuco, LED, Ca dan P
2) Radiologi :
a. Untuk melihat beratnya cedera/ lokasi
b. Untuk melihat perkembangan tulang.
9. Penatalaksanaan
Kesembuhan fraktur dapat dibantu oleh aliran darah yang baik dan stabilitas ujung patahan tulang.
a. Reposisi
Setiap pergeseran atau angulasi pada ujung patahan harus direposisi dengan hati-hati melalui tindakan manipulasi yang biasanya dilakukan dengan anesthesi umum.
b. Imobilisasi
Imobilisasi untuk memungkinkan kesembuhan fragmen yang dipersatukan dengan cara :
c. Fiksasi eksterna.
Fraktur di imobilisasi dengan bidai atau gips dan traksi.
Penggunaan gips dan traksi
1) Penggunaan gips
Secara umum, gips digunakan untuk mempertahankan reduksi, namun harus melewati sendi di atas dan di bawah fraktur. gips sebaiknya tidak berlaminasi dan sesuai dengan geometri tulang yang diberi gips tersebut. Dengan membalut plester yang lunak di atas tonjolan tulang biasanya dapat mencegah timbulnya ulserasi tekanan dan dapat memaksimalkan kemampuan gips tersebut untuk mempertahankan posisi fragmen fraktur.
Reduksi dan pemasangan gips seringkali dapat di selesaikan dalam jam sesudah terjadi cedera.. Yaitu saat pembengkakan jaringan lunak belum maksimal. selain itu proses reduksi juga dapat memberberat edema jaringan yang sudah ada. Namun karena gips dipasang berbentuk melingkar, mengelilingi seluruh ekstremitas, maka suplai darah dan syaraf ke ekstremitas yang cedera harus benar benar diperhatikan. ekstremitas harus diletakkan lebih tinggi bagian distal ekstremitas yang mengalami cedera harus diperiksa berulang ulang guna mengawasi perkembangan nyeri, kepucatan parestesi dan lenyapnya denyut nadi , semua ini adalah tanda-tanda dari disfungsi neurovaskuler.
Semua keluhan penderita yang tetap dirasakan setelah reduksi harus benar-benar mendapat perhatian. Tekanan suplai darah dapat menimbulkan perubahan patologik yang tidak reversible bila dibiarkan selama satu setengah jam. Pada beberapa jam pertama setelah terjadi cedera, pemberian obat-obat narkotik secara berulang-ulang adalah suatu kontraindikasi. Hal ini dapat menghilangkan nyeri lyang timbul dari nekrosis jarin¬gan.
Tujuan pengunaan gips adalah :
1. Mengimobilisasi , mensupport, melindungi selama proses penyem¬buhan tulang patah.
2. Mencegah dan memperbaiki deformitas.
Indikasi pemasangan gips:
Macam-macam gips : short leg, long leg, silinder, short arm, hip spica.
Yang perlu diperhatikan pada pemasangan gips:
1. Gips yang tidak pas dapat menimbulkan perlukaan.
2. Bila sudah parah, gips tidak dapat digunakan lagi.
3. Gips tidak boleh longgar atau terlalu kecil.
4. Perhatikan integritas kulit selama pemasangan gips.
2) Penggunaan Traksi
Metode lain yang baik untuk mempertahankan reduksi ekstremitas yang mengalami fraktur adalah dengan traksi. Traksi dilakukan dengan menempelkan beban dengan tali pada ekstremitas biasanya lebih disukai traksi rangka dengan pin baja steril yang dimasuk¬kan melalui fragmen distal atau tulang yang lebih distal melalui pembedahan, bukan dengan traksi kulit. Bentuk bentuk traksi biasanya akan membuat ekstremitas yang patah terangkat lebih tinggi sehingga dapat mengurangi pembengkakan dan meningkatkan penyembuhan jaringan lunak.
Sewaktu memasang atau mempertahankan traksi ada beberapa faktor penting yang harus dipertimbangkan:
a) Tali utama. dipasang paha kiri rangka sebaiknya menimbulkan gaya tarik yang segaris dengan sumbu panjang normal tulang pan¬jang yang patah.
b) Berat ekstremitas maupun alat-alat penyokong sebaiknya seimban¬gan dengan pemberat untuk menjamin agar reduksi dapat dipertahan¬kan secara stabil dan mendukung ekstremitas yang patah.
c) Ada tulang yang menonjol sebaiknya diberi lapisan khusus dan terlindung dengan baik.
d) Traksi dapat bergerak bebas melalui katrol
e) Pemberat harus cukup tinggi diatas permukaan lantai dengan klien dalam posisi normal diatas tempat tidur sehingga perubahan posisi rutin tidak menyebabkan pemberat terletak dilantai sehing¬ga kehilangan regangan tali.
f) Traksi yang dipasang harus baik dan terasa nyaman
Kerugian penggunaan traksi :
a) perawatan rumah sakit lebih lama
b) mobilisasi terbatas.
c) perlu penggunaan alat-alat yang banyak
d) Indikasi penggunaan traksi :
Tujuan Traksi:
a) Mempertahankan/ memperbaiki alignment tulang paska fraktur.
b) Mengistirahatkan sendi yang implamasi
c) Koreksi deformitas.
d) Menghilangkan nyeri karena spasmeotot.
e) Mengurangi dislokasi sendi.
Prinsip-prinsip:
a) adekuat counter traksi
b) adanya kekuatan melakukan beban traksi
c) sesuai dengan poros
d) semua sistem harus bebas dari fiksi / tersangkut
e) klien teriformasi
f) penilaian terus menerus terhadap kepatenan traksi
g) Observasi neurovaskuler
h) observai adanya nyeri
i) firm matters untuk good aligment.
j) Perineal care yang benar.
k) Hindari komplikasi tirah baring.
Rumus untuk pemberian traksi :
1) dewasa 1/3 x BB
2) anak-anak 1/13 x BB
d. Fiksasi interna / pembedahan.
Fiksasi dilakukan dengan menyatukan patahan tulang dengan memasang plate, wire atau sekrup dengan tindakan operasi.
a. Open Reduksi intra fiksasi (ORIF)
Pembedahan reduksi terbuka pada patah tulang keuntungannya tulang yang patah dapat terlihat. Demikian juga jaringan sekitar. Fiksasi internal dilaksanakan dalam tehnik asepsis yang sangat ketat dan klien untuk beberapa saat mendapat antibiotik untuk pence¬gahan setelah pembedahan.
Alat-alat fiksasi internal adalah :
1. Pelat dan skup seperti neufeld dan kuntscher.
2. Transfixian screw / skreu tembus.
3. Intermedullary rod / batang menembus sumsum.
4. Prostetic implans / pencangkokan alat prostetik, seperti austin moore protesis.
b. Debridement
Pembersihan luka fraktur terbuka dari jaringan nekrotik. adanya jaringan nekrotik di sekitar luka akan memperlambat proses pen-yembuhan.
c. Transplantasi tulang
Jarang dilakukan, tapi adakalanya dilakukan pada faktur dimana tulang tidak dapat lagi disatukan ( hancur ). Untuk mempertahan¬kan keutuhan organ tubuh digunakantransplantasi tulang. Ini akan juga mempengaruhi kerja otot terhadap tulang.
e. Fisiotherapi dan mobilisasi
Fisiotherapi dilakukan untuk mempertahankan supaya otot tidak mengecil. Setelah fraktur mulai sembuh mobilisasi sendi dapat dimulai sampai ekstremitas betul-betul telah kembali normal.
Fungsi penyangga badan (Weight Bearing ) diperbolehkan setelah terbentuk cukup callus.
Prinsip pengobatan yang diberikan sesuai dengan jenis dan kondisi fraktur. Prinsip pengobatannya antara lain antibiotik, analgetik, toxoid, antipiretik, dan biasanya ditambah dengan suplemen vitamin.
Antibiotik
Pengobatan antibiotik pada fraktur tidaklah spesifik, keefektifan pengobatan ditentukan oleh :
1) Kontaminasi kuman terhadap luka.
2) Adanya penyakit lain yang memper¬berat dan mempermudah terjadinya fraktur.
Penyakit yang dapat memperberat dan mempermudah terjadinya frak-tur :
1) Osteomyelitis acute
2) Osteomyelitis kronik
3) Osteomalacia
4) Osteo porosis
5) Gout dan gouty
6) Rheumatoid arthritis.
Pada fraktur terbuka umumnya luka kontak dengan udara luar yang banyak ditemukan bakteri gram positif dan gram, negatif. Pada fraktur tertutup jarang terjadi kontak langsung dengan udara luar. Pemberian antibiotika digunakan untuk menghambat terjadi infeksi lokal dan sistemik.
Analgetik
Diberikan untuk mengurangi rasa sakit yang timbul akibat trau¬ma. Nyeri yang timbul dapat menyebabkan klien gelisah sampai dengan shock, yang dikenal dengan shock analgetik. Ungkapan rasa nyeri dan ketidaknyamanan, obat yang paling baik ditemukan adalah salisilate. sodium dapat digunakan, secara umum dalam bentuk aspirin ( asetil salicilat asam )
Tujuan dari therapi aspirin adalah untuk mengatur kemampuan dosis obat sebagai efek anti inflamasi , sama baiknya dengan analgetik untuk mendapatkan efek ini, aspirin harus diminum setiap hari sesuai dengan kebutuhan individu dan pada beberapa orang boleh diberikan dosis ganda untuk efek yang diinginkan.secara umum efek samping : tinitus dan penurunan pendengaran yang reversible setelah obat bekerja . Iritasi lambung memungkinkan kehilangan darah sedikit melalui saluran gastrointestinal akan dijumpai pada beberapa klien sehingga dapat menimbulkan anemia ringan . Klien dengan iritasi lambung, jika diberi aspirin harus dikombi¬nasi dengan antasid.

B. Konsep Asuhan Keperawatan
Dalam melaksanakan asuhan keperawatan terhadap pasien, perawat memandang pasien sebagai individu yang utuh terdiri dari bio, psiko, sosial dan spiritual, mempunyai kebutuhan sesuai tingkat pertumbuhan dan perkembangannya.
Griffith-Kenney dan Christensen (1986) mendefinisikan proses keperawatan sebagai aktifitas yang logis dan rasional untuk melakukan praktek keperawatan secara sistematis. “Proses keperawatan terdiri dari lima tahap : pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.”
1. Pengkajian
Pengkajian adalah langkah awal dan dasar bagi seorang perawat dalam melakukan pendekatan secara sistematis untuk mengumpulkan data dan menganalisa sehingga dapat diketahui kebutuhan pasien terse¬but. Pengumpulan data yang akurat dan sistematik akan membantu me¬nentukan status kesehatan dan pola pertahanan pasien serta memudahkan perumusan diagnosa keperawatan.
Tahap pengkajian terdiri atas tiga kegiatan yaitu :
a. Pengumpulan data
Pengumpulan data dilakukan secara sistematis, bertujuan untuk mendapatkan data yang penting tentang pasien dengan cara wawancara, observasi dan pemeriksaan fisik.
Identitas pasien dan keluarga :
a) Nama Pasien, umur/tanggal lahir, jenis kelamin, agama.
b) Nama ayah, umur, agama, pekerjaan, pendidikan, kultur, alamat.
c) Nama ibu, umur, agama, pekerjaan, pendidikan, kultur, alamat.
d) Saudara kandung, anak ke, nama, umur, pendidikan, dan keterangan.
b. Pemeriksaan fisik
Kebiasaan sehari-hari :
a) Pola nutrisi : Bagaimana kebiasaan klien dalam memenuhi nutrisi, frekuensi makan, jumlah, dan makanan tambahan.
b) Pola eliminasi : Kebiasaan BAB/BAK, apakah obstipasi dan bagaimana ciri faeces, konsistensi, warna, bau dan mulai kapan.
c) Pola tidur : Kebiasaan tidur sehari-hari (jam tidur, lama tidur)
d) Pola aktifitas : Kegiatan sehari-hari, mengisi waktu luang, dan lain-lain.
e) Pola dalam hygiene : kebiasaan mandi, menyikat gigi, memotong kuku, rambut, dan lain-lain.
c. Riwayat kesehatan masa lalu
Apakah pernah dirawat di rumah sakit, sakit waktu kecil, pernah mendapatkan obat-obatan atau tindakan operasi, alergi obat dan makanan, pernah mengalami kecelakaan.



d. Riwayat kesehatan keluarga
Apakah keluarga ada yang menderita sakit menular pada saat ini, apakah keluarga mempunyai penyakit keturunan yang memerlukan perawatan.
e. Riwayat perjalanan penyakit :
1) Keluhan utama klien datang ke RS atau tempat pelayanan keseha-tan
2) Apa penyebabnya, kapan terjadi kecelakaan atau trauma
3) Bagaimana dirasakan, adanya nyeri, panas, bengkak, dan lain-lain.
4) Perubahan bentuk, terbatasnya gerakan.
5) Kehilangan fungsi
6) Apakah klien ada riwayat penyakit osteoporosis.
f. Proses pertolongan pertama yang dilakukan
1) Pemasangan bidai sebelum memindahkan klien dan pertahankan gerakan di atas / di bawah tulang yang fraktur sebelum dipindah-kan
2) Tinggikan ekstremitas untuk mengurangi edema
3) Bila fraktur terbuka, hentikan perdarahan dan tutup luka dengan kain yang bersih.
4) Bila fraktur tertutup, jangan merubah posisi fraktur karena akan memperberat keadaan.
5) Kirim untuk pertolongan emergensi
6) Pantau daerah yang cedera dalam periode waktu pendek, untuk melihat perubahan warna, dan suhu.
g. Pemeriksaan fisik
a. Mengidentifikasi tipe fraktur ( komplit, inkomplit, dan lain-lain).
b. Inspeksi daerah mana yang terkena:.
1) Deformity yang nampak jelas
2) Edema , ekimosis sekitar lokasi cedera
3) Laserasi
4) Perubahan warna kulit
5) Kehilangan fungsi daerah lyang cedera
c. Palpasi :
1) Bengkak, adanya nyeri dan penyebaran
2) Krepitasi
3) Nadi, dingin
4) Observasi spasme otot sekitar daerah fraktur
5) Terpasang alat immobilisasi pada lokasi cedera.
d. Kapan terjadinya cidera/kecelakaan, pernah berobat kemana saja, bagaimana awal terjadinya, tindakan apa saja yang telah dilaukan.
e. Keluhan utama : adanya rasa nyeri, luka terbuka, bentuk tulang yang tidak normal.
f. Pengobatan : usaha yang dilakukan orang untuk kesembuhan pasien membawanya ke Puskesmas/rumah sakit/petugas kesehatan dan apa obat yang diberikan.

2. Diagnosa keperawatan
Menurut Carpenito (1992) mendefinisikan diagnosa keperawatan adalah : “ Pernyataan yang menjelaskan status kesehatan atau masalah aktual atau potensial. Perawat menggunakan proses keperawatan dalam mengidentifikasi dan mensintesa data klinis dan menentukan intervensi keperawatan, untuk mengurangi, menghilangkan, atau mencegah masalah klien yang ada pada tanggungjawabnya”.
Adapun diagnosa keperawatan yang timbul pada pasien dengan fraktur menurut buku “Asuhan Keperawatan Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien Edisi III” (Doenges, 2000), Dkk adalah sebagai berikut :
1. Resiko terjadi trauma berhubungan dengan kehilangan integritas tulang ( fraktur).
2. Nyeri berhubungan dengan spasme otot, pergerakan fragmen tulang, oedem, trauma pada jaringan lunak, stress, cemas.
3. Resiko terjadi disfungsi neuromusculer periferal berhubungan dengan trauma jaringan, oedema, yang berlebihan, adanya trobus, hipovolemia, terhambatnya aliran darah.
4. Resiko terjadi gangguan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan peredaran darah / emboli lemak, perubahan membran alveo¬lar / capiler.
5. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan neuromus-cular, nyeri, restriktif terapi, imobilisasi.
6. Resiko terjadi gangguan integritas kulit / jaringan berhubungan dengan adanya fraktur pemasangan gips / traksi, gangguan sirkula¬si.
7. Resiko terjadi infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan primer ( rusak kulit, jaringan prosedur invansif, traksi tulang ).
8. Kurangnya pengetahuan tentang kondisi, prognosa dan pengoba¬tan berhubungan dengan kurangnya penjelasan, salah menafsirkan informasi, tidak terbiasa dengan sumber informasi.

3. Perencanaan
Setelah merumuskan diagnosa keperawatan, maka disusunlah peren-canaan keperawatan. Perencanaan adalah tahap ketiga dari proses keperawatan, yang dimulai setelah data-data yang terkumpul sudah dianalisa. Pada bagian ini ditentukan sasaran yang akan dicapai dan rencana tindakan keperawatan dikembangkan. Tahapan dalam perenca-naan ini terdiri dari :
Menetapkan prioritas masalah berdasarkan pola kebutuhan dasar manusia menurut hirarki Maslow.
a. Merumuskan tujuan keperawatan yang akan dicapai
b. Menetapkan kriteria evaluasi
c. Merumuskan intervensi keperawatan dan aktifitas keperawatan.
Dari diagnosa keperawatan yang telah disusun di atas, maka rencana tindakan keperawatannya adalah sebagai berikut :
1. Resiko terjadi trauma berhubungan dengan kehilangan integritas tulang ( fraktur).
Hasil yang diharapkan :
1) Mempertahankan stabilisasi dan aligment fraktur.
2) Mendemonstrasikan mekanika tubuh untuk mempertahankan stabili-tas dan posisi tubuh.
3) Menunjukkan pertumbuhan callus yang baru pada bagian fraktur.
Rencana Tindakan
a. Anjurkan bed rest dengan memberikan penyangga saat mencoba menggerakkan bagian yang fraktur.
Rasional :
Meningkatkan kemampuan, mereduksi kemungkinan pengobatan.
b. Letakkan klien pada tempat tidur ortopedis.
Rasional :
Kelembutan dan kelenturan alas dapat mempengaruhi bentuk gips yang basah.
c. Beri sanggahan pada fraktur dengan bantal, pertahankan posisi netral dengan menahan bagian yang fraktur dengan bantalan pasir, bidai, trochanter roll, papan kaki.
Rasional :
Mencegah gerakan yang tidak perlu dan gangguan pada allignment. Penempatan bantal yang tepat dapat mencegah penekanan sehingga menghindari deformitas pada gips.
d. Evaluasi pergerakan bidai untuk menghindari edema.
Rasional :
Bidai mungkin digunakan luntuk memberikan immobi¬lisasi pada fraktur dan untuk mencegah terjadinya bengkak pada jaringan. Edema akan hilang dengan pemberian bidai.
e. Pertahankan posisi dan integritas dari traksi.
Rasional :
Tarikan pada traksi dilakukan pada tulang panjang yang fraktur dan kemudian menjadikan otot tegang sehingga memu¬dahkan aligment.
f. Pastikan bahwa semua klem/ penjepit berfungsi. Minyaki katrol dan cek tali.
Rasional :
Menjamin traksi dapat dipergunakan dan menghin¬dari gangguan pada fraktur.
g. Cek kembali pembatasan therapi yang diberikan.
Rasional :
Menjaga integritas tarikan pada traksi.
h. Follow up pemeriksaan X-Ray.
Rasional :
Mengetahui proses tumbuhnya callus untuk menentu¬kan tingkat aktivitas l dan memerlukan perubahan atau tambahan therapi.
i. Pertahankan fisiotherapi jika perlu.
Rasional :
Membantu menguatkan pertumbuhan tulang dalam masa penyembuhan.

2. Nyeri berhubungan dengan spasme otot, pergerakan fragmen tu-lang, edema, traksi / immobilisasi karena penggunaan alat, stress dan kecemasan.
Rencana Tindakan :
1) Lakukan imobilisasi ( bed rest, gips, bidai, traksi ).
Rasional :
Mengurangi lnyeri dan mencegah perubahan posisi tulang serta luka pada jaringan.
2) Tinggikan dan sangga daerah luka.
Rasional :
Meningkatkan aliran vena, mengurangi edema dan mengur¬angi nyeri.
3) Hindari penggunaan sprei plastik/ bantal dibawah gips.
Rasional :
Menyebabkan rasa tidak nyaman karena menambah panas pada gips.
4) Tinggikan bagian depan tempat tidur.
Rasional :
Memberikan rasa nyaman.
5) Evaluasi rasa nyeri lokasi dan karekteristik termasuk in¬tensitas ( skala 0 - 10 ). Perhatikan juga rasa nyeri non verbal ( periksa tanda vital dan emosi / tingkah laku ).
Rasional :
Monitor keefektifan intervensi. Tingkat kecemasan dapat menunjukkan reaksi dari nyeri.
6) Diskusikan masalah yang berhubungan dengan injury.
Rasional :
Menolong mengurangi kecemasan.
7) Terangkan prosedur sebelum memulai.
Rasional :
Mengijinkan klien untuk mempersiapkan mental agar dapat berpartisipasi dalam aktivitas.
8) Beri pengobatan sesuai terapi sebelum melakukan aktivitas perawatan.
Rasional :
Meningkatkan relaksasi otot agar dapat berpartisipasi.
9) Lakukan latihan range of motion.
Rasional :
Mempertahankan kemampuan otot dan menghindari pembeng¬kakan pada jaringan yang luka.
10) Lakukan tindakan untuk meningkatkan rasa nyaman dengan masase, perubahan posisi.
Rasional :
Memperbaiki sirkulasi umum, mengurangi tekanan pada satu tempat dan kelelahan otot.
11) Anjurkan klien untuk menggunakan teknik relaksasi ( latih nafas dalam).
Rasional :
Meningkatkan sense of control dan mungkin dapat me¬ningkatkan kemampuan mengurangi rasa nyeri.

3. Resiko terjadi gangguan integritas kulit / jaringan berhubungan dengan compound fracture, pemasangan traksi, gangguan sensasi , sirkulasi, immobilisasi fisik.
Rencana Tindakan :
1) Periksa kulit sekitar luka , kemerahan, perdarahan, perubahan warna kulit.
Rasional :
Memberikan informasi gangguan sirkulasi kulit dan masalah-masalah yang mungkin disebabkan oleh penggunaan traksi, terbentuknya edema
2) Masase kulit dan tempat yang menonjol, menjaga alat tenun tetap kering , memberikan alas yang lembut pada siku dan tumit.
Rasional :
Mengurangi penekanan pada daerah yang mudah terkena dan resiko untuk lecet dan rusak.
3) Rubah posisi selang-seling sesuai indikasi.
Rasional :
Mengurangi penekanan yang terus menerus pada posisi tertentu
4) Kaji posisi splint ring traksi.
Rasional :
Salah posisi akan menyebabkan kerusakan kulit.
5) Pakai bed matras / air matras.
Rasional :
Mencegah perlukaan setiap anggota tubuh, dan untuk anggota tubuh yang kurang gerak efektif untuk mencegah penurunan sirkulasi.

4. Resiko terjadi destruksi neuromuskuler periferal berhubungan dengan trauma jaringan, edema yang berlebihan, adanya trombus, hypovolemia, terhambatnya aliran darah
Hasil yang diharapkan:
1) Mempertahankan perfusi jaringan yang ditandai dengan terabanya pulsasi
2) Kulit hangat dan kering .
3) Perabaan normal
4) Tanda vital stabil.
5) Urin output yang adekuat.
Rencana Tindakan :.
1) Lepas perhiasan pada daerah yang mengalami ganggguan
Rasional :
Dapat membatasi bila terjadi oedema.
2) Evaluasi adanya kualitas / kualitas dari pulsasi perifer distal yang luka melalui palpasi / doppler. Bandingkan dengan sisi yang normal .
Rasional :
Berkurangnya / tidak adanya pulsasi menggambarkan adanya pembuluh darah yang luka dan memerlukan evaluasi status sirkulasi yang segera. Perlu disadari bahwa kadang -kadang pulsasi dapat teraba walaupun sirkulasi terhambat oleh sumbatan kecil. Sebagai tambahan, perpusi melalui arteri yang besar dapat berlanjut setelah menambah tekanan dari sirkulasi arteriol / venol yang kolaps.
3) Kaji kembalinya kapiler, warna kulit dan kehangatan bagian distal dari fraktur.
Rasional :
Kembalinya warna dengan cepat ( 3-5 detik ) putih. Kulit yang dingin menandakan lemahnya aliran arteri. Sianosis menandakan lemahnya aliran vena .
Pulsasi perifer, kembalinya kapiler, warna kulit dan rasa dapat normal terjadi dengan adanya syndrome comparmental karena sirkulasi permukaan sering kali tidak sesuai.
4) Kaji status neuromuskuler, catat perubahan motorik/ fungsi sensorik. Tanyakan kepada klien lokasi nyeri/ tidak nyaman.
Rasional :
Lemahnya rasa, kebal, meningkatnya/ penyebaran rasa sakit terjadi ketika sirkulasi ke saraf tidak adekuat atau adanya trauma pada saraf.
5) Tes sensasi dari syaraf peroneal dengan mencubit dorsal diantara jari kaki pertama dan kedua. Kaji kemampuan dorso fleksi jari-jari kaki.
Rasional :
Panjang dan posisi syaraf peroneal meningkatkan resiko terjadinya injury dengan adanya fraktur di kaki, oedema/ comparmental syndrome atau malposisi dari peralatan traksi.
6) Monitor posisi/ lokasi ring penyangga bidai
Rasional :
Peralatan traksi dapat menekan pembuluh darah atau syaraf, khususnya diaksila atau daerah selangkang, menyebabkan iskemik dan luka permanent.
7) Pertahankan elevasi dari ekstermitas yang cedera jika tidak kontraindikasi dengan adanya compartemen syndrome.
Rasional :
Mencegah aliran vena/ mengurangi oedema

4. Pelaksanaan
Merupakan pelaksanaan rencana tindakan keperawatan yang telah ditentuan agar kebutuhan pasien terpenuhi secara optimal. Pelaksanaan tindakan keperawatan dapat dilaksanakan sebagian oleh pasien, perawat secara mandiri, atau bekerjasama dengan tim kesehatan lain. Dalam hal ini perawat adalah sebagai pelaksana asuhan keperawatan yaitu memberikan pelayanan perawatan dengan menggunakan proses keperawatan. Adapun langkah-langkah dalam tindakan keperawatan terdiri dari tiga tahap yaitu persiapan, pelaksanaan dan dokumentasi.
Pada tahap persiapan, perawat harus memiliki keterampilan khusus dan pengetahuan untuk menghindari kesalahan dalam memberikan tindakan keperawatan pada pasien. Sebelum dilakukan tindakan keperawatan, perawat terlebih dahulu memberitahukan dan menjelaskan tentang maksud dan tujuan serta akibat tindakan yang akan dilakukan.
Tahap pelaksanaan merupakan tindakan yang akan dilakukan sesuai dengan rencana dalam rangka mengatasi masalah keperawatan yang ada.
Tahap dokumentasi yaitu tahap tindakan keperawatan yang telah di-lakukan baik kepada pasien ataupun keluarga, dicatat dalam catatan keperawatan. Pada pendokumentasian ini harus lengkap meliputi tang¬gal, jam pemberian tindakan, jenis tindakan, respon pasien, paraf serta nama perawat yang melakukan tindakan. Menurut Yoseph tahun 1994 “Pendokumentasian sangat perlu untuk menghindari pemutarbalikan fakta, untuk mencegah kehilangan informasi dan agar dapat dipelajari oleh perawat lain. Semua tahap dalam proses keperawatan harus di-dokumentasikan.” Beberapa faktor dapat mempengaruhi pelaksanaan rencana asuhan keperawatan, antara lain sumber-sumber yang ada, pengorganisasian pekerjaan perawat serta lingkungan fisik untuk pelayanan keperawatan yang dilakukan.
5. Evaluasi
Tahap evaluasi dalam proses keperawatan menyangkut pengumpulan data subyektif dan obyektif yang menunjukkan mengenai tujuan asuhan keperawatan sudah dapat dicapai atau belum, masalah apa yang sudah dipecahkan dan apa yang perlu dikaji lagi, direncanakan, dilaksanakan.
Evaluasi merupakan tahap akhir proses keperawatan yang merupakan aktifitas berkesinambungan dari tahap awal (pengkajian) sampai tahap akhir (evaluasi) dan melibatkan pasien/keluarga. Evaluasi bertujuan untuk menilai efektifitas rencana dan strategi asuhan keperawatan. Evaluasi terdiri dari evaluasi proses, untuk menilai apakah prosedur dilakukan sesuai dengan rencana dan evaluasi hasil berfokus kepada perubahan perilaku dan keadaan kesehatan pasien sebagai hasil tindakan keperawatan.
Ada tiga alternatif dalam menafsirkan hasil evaluasi yaitu :
a. Masalah teratasi
Masalah teratasi apabila pasien menunjukkan perubahan tingkah laku dan perkembangan kesehatan sesuai dengan kriteria pencapaian tu¬juan yang telah ditetapkan.
b. Masalah sebagian teratasi
Masalah sebagian teratasi apabila pasien menunjukkan perubahan dan perkembangan kesehatan hanya sebagian dari kriteria pencapaian tu-juan yang telah ditetapkan.
c. Masalah belum teratasi
Masalah belum teratasi, jika pasien sama sekali tidak menunjukkan perubahan perilaku dan perkembangan kesehatan atau bahkan timbul masalah yang baru.


BAB III
TINJAUAN KASUS

Pada bab ini penulis akan menguraikan tentang asuhan keperawatan klien dengan Fraktur Communitif Metakarpal IV dan V manus dextra di ruang Cempaka RSUD Abdul Wahab Syahranie Samarinda, yang dimulai sejak tanggal 21 Juli sampai dengan 23 Juli 2009.
Adapun pelaksanaan asuhan keperawatan ini dilakukan tahap demi tahap, dimulai dari pengkajian, perumusan diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi yang disebut dengan tahap proses keperawatan.

A. Pengkajian
1. Identitas Klien
Klien bernama Tn. N, umur 22 tahun, laki-lakai, belum menikah, agama Islam, pekerjaan swasta, pendidikan terakhir SLTA, alamat Desa Tepian Terap, Kec. Sangkulirang, No. register 09012968, klien masuk rumah sakit tanggal 22 Juni 2009 dan dilakukan pengkajian pada tanggal 21 Juli 2009.
2. Riwayat kesehatan klien
a. Keluhan utama
Nyeri pada tangan kanan
b. Riwayat penyakit sekarang
Pada saat pengkajian tanggal 21 Juli 2009 klien telah dirawat di rumah sakit selama 29 hari.
Pada tanggal 22 Juni 2009 sekitar jam 8.39 klien terjepit kayu ulin pada saat klien ingin memindahkan kayu ke mobil, kemudian klien di bawa ke Puskesmas, di Puskesmas luka klien di bersihkan, kemudian klien di rujuk ke RSUD Abdul Wahab Syahranie Samarinda melalui IGD hingga akhirnya klien di rawat di Ruang Cempaka, selama perawatan klien telah 2 kali Operasi yang pertama adalah operasi Amputasi digit V manus dextra, yang kedua adalah debridement, dan tanggal 21 Juli 2009 rencana Operasi Skin Graft, sampai sekarang klien dirawat di ruang Cempaka.
c. Riwayat penyakit dahulu
Klien belum pernah dirawat dirumah sakit.
d. Riwayat kesehatan keluarga
Didalam keluarga klien tidak ada yang menderita penyakit keturunan seperti Hipertensi, Diabetes Melitus, maupun Asma.
3. Pola aktivitas sehari-hari
a. Pola tidur/ istirahat
Sebelum masuk rumah sakit, klien tidak memiliki masalah dalam tidur, selama di rumah sakit klien juga tidak mengalami masalah dalam istirahat dan tidur.
b. Pola eliminasi
Sebelum masuk rumah sakit, klien buang air besar dengan frekuensi 1-2 kali perhari begitu pula saat klien dirawat di rumah sakit. Klien tidak mengalami gangguan buang air besar seperti konstipasi atau diare. Sebelum masuk rumah sakit, klien buang air kecil kurang lebih 4-5 kali perhari. Warna kuning jernih dan bau khas urine. Sedangkan, di rumah sakit klien buang air besar 1 kali perhari dan buang air kecil 4-5 kali perhari. Warna kuning jernih dan bau khas urine.
c. Pola nutrisi
Sebelum masuk rumah sakit, klien biasa makan 3 kali sehari dengan menu nasi, sayur dan lauk. Klien minum air putih kurang lebih 6-8 gelas perhari. Di rumah sakit klien makan sendiri sesuai dengan diet TKTP yang diberikan, klien tidak memiliki masalah dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi.
d. Kebersihan diri/ personal hygiene
Saat dikaji, klien tidak mengalami gangguan dalam pemenuhan kebutuhan personal hygiene klien bisa pergi ke toilet sendiri, Cuma kuku klien yang terlihat panjang dan agak kotor bekas darah.
4. Data psikososial
Klien tidak dapat berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain dan lingkungannya serta tidak dapat beraktivitas seperti biasanya karena klien mengalami fraktur pada tangan kanannya.
5. Pemeriksaan fisik
a. Keadaan umum
Dari hasil pengkajian keadaan umum klien baik dengan tingkat kesadaran CM, GCS : 15 (E4M6V5), tingkat ketergantungan self care.
b. Tanda-tanda vital
Pada saat pengkajian, tekanan darah klien adalah 120/60 mmhg diukur pada brachialis sinistra, denyut nadi pada arteri radialis sinistra adalah 80 X/ menit dengan denyutan sedang dan irama teratur, suhu tubuh pada axilla adalah 37,1 C, frekuensi pernafasan 18 X/menit, tinggi badan 167 cm dan Berat badan 55 kg.
c. Pemeriksaan sistemik
1) Kepala dan wajah
Bentuk kepala normachepalic dan simetris, tidak terdapat lesi atau kelainan pada tulang kepala, kulit kepala bersih, ubun-ubun menutup. rambut berwarna phitam. Struktur wajah simetris dan lengkap, warna kulit kuning agak kecoklatan tidak ikterik dan sianosis.
2) Mata
Mata lengkap dan simetris antara kanan dan kiri, tidak terdapat edema pada palpebra, konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, pupil isokor dengan diameter 2-3 mm dan miosis saat terkena cahaya. Kornea jernih dan refleks kornea baik. Sedangkan iris dan ketajaman penglihatan tidak dapat dikaji karena kesadaran klien menurun. Tekanan bola mata sama antara mata kanan dan mata kiri.
3) Hidung
Pada hidung tidak ditemukan adanya kelainan, tulang hidung simetris kanan dan kiri, posisi septum nasi tegak di tengah, mukosa hidung lembab, tidak ditemukan adanya sumbatan, tidak terdapat epistaksis serta tidak ada pernafasan cuping hidung..
4) Telinga
Bentuk telinga sama besar atau simetris kanan dan kiri, tidak ada kelainan bentuk, ukuran sedang atau normal, pada lubang telinga tidak terdapat perdarahan atau pengeluaran cairan. Pada ketajaman pendengaran baik.
5) Mulut dan faring
Pada pemeriksaan bibir, mukosa bibir lembab, tidak ada sariawan, mulut berbau. Keadaan gusi dan gigi kurang bersih, lidah kotor dan pada orofaring tidak terdapat peradangan dan pembesaran tonsil.
6) Leher
Pada leher posisi trakhea berada di tengah, simetris dan tidak ada penyimpangan. Tiroid tidak ada pembesaran. Klien tidak dapat berbicara, vena jugularis tidak mengalami pembesaran dan denyut nadi karotis teraba 80 X/menit. Klien tidak menggunakan otot bantu pernapasan.
d. Pemeriksaan integumen
Kebersihan kulit klien bersih karena. Kehangatan hangat, warna kulit kuning agak kecoklatan, tidak ikterik maupun sianosis, turgor kulit baik dan kembali dalam waktu kurang dari1 detik, kelembaban cukup, terdapat gangguan integritas kulit pada tangan kanan kanan bekas operasi.
e. Pemeriksaan payudara
Pada payudara ukuran dan bentuk simetris kanan dan kiri,datar dengan thorak, tidak terdapat kelainan, warna payudara dan areola tidak terjadi perubahan pigmen yang abnormal. Pada aksila tidak terdapat benjolan dan pada klavikula tidak ada fraktur, pembengkakan atau kelainan.
f. Pemeriksaan thorax/ dada
Pada inspeksi bentuk thorax simetris kanan dan kiri, berbentuk elips, tidak ada kelainan bentuk, tidak terdapat penggunaan alat bantu pernafasan yaitu otot sternokleidomastoid dan otot pektoralis. Irama pernafasan normal dengan frekuensi 18 x/menit. Pada palpasi getaran suara atau vokal fremitus sama kiri dan kanan, pada perkusi sonor, pada auskultasi terdapat suara nafas vesikuler.
Pada pemeriksaan jantung, pada inspeksi ictus cordis tidak nampak, pada palpasi ictus cordis teraba di ICS 5 linea media clavicularis sinistra. Pada auskultasi bunyi jantung I terdengar pada katup mitral dan trikuspidalis di ICS IV linea sternal sinistra dan ICS V midclavicula sinistra. Bunyi jantung II terdengar pada katup aorta di ICS II mid sternal dextra dan pulmonalis di ICS II mid sternal sinistra, tidak ada bunyi jantung tambahan atau murmur, frekuensi denyut jantung 80 x/ menit.
g. Pemeriksaan abdomen
Pada inspeksi bentuk abdomen datar, tidak ada benjolan, tidak terlihat adanya bendungan pembuluh darah vena pada abdomen. Pada auskultasi terdengar bising usus 10 x/menit. Pada palpasi nyeri tekan tidak ada, benjolan atau massa tidak ada, tanda ascites tidak ada, hepar tidak teraba atau tidak ada pembesaran, lien tidak teraba. Pada perkusi suara abdomen tympani.
h. Pemeriksaan genetalia
Pada genitalia tidak tampak adanya kelainan, kebersihan cukup, meatus uretra terpasang kateter, pada anus tidak ada kelainan, hemoroid ataupun lecet.
i. Pemeriksaan muskuloskeletal
Otot simetris kanan dan kiri, terdapat tanda-tanda atropi pada ektremitas bawah, tidak terdapat edema pada ekstremitas atas dan bawah, pada kuku tidak terdapat clubbing finger. Kekuatan otot diperoleh nilai : 5 5
5 5
j. Pemeriksaan neorologi
Pada pemeriksaan neurologis tidak di temukan kelainan fungsi saraf otak, tidak terdapat tanda kaku kuduk, tingkat kesadaran (secara kuantitatif) GCS = 15 E4V5M6. Anggota gerak atas dan bawah kiri dan kanan dapat bergerak dengan baik, tidak terdapat kekakuan sendi klien dapat merasakan sensai nyeri. Reflek fisiologi positif dan reflek patologi negatif.
k. Pemeriksaan status mental
Tidak terdapat pada klien gangguan orientasi waktu, tempat dan ruang. Klien dapat mengingat kejadian penyakitnya dan dapat mengambil keputusan yang terbaik untuk dirinya. Klien menerima kondisi sakitnya dengan sabar. Klien ingin segera sembuh dari sakitnya walaupun agak susah. Klien memiliki persepsi bahwa penyakitnya dapat di sembuhkan dengan usaha dan mengikuti aturan diet, olahraga dan pengobatan secara rutin.
6. Pemeriksaan Penunjang
a. Dx medis : Fraktur Communutif Metakarpal IV dan V Manus Dekstra
b. Labotratorium
Tanggal 23 Juni 2009
Hb : 14,4 gr/dl (normal : 13,5-18 gr/dl)
Ht : 39,5 Vol (normal : 40-54 Vol%)
Leukosit : 10.600 /mm3 (normal : 8000-15000 /mm3)
Trombosit : 260.000 mm3 (normal : 300 ribu-500 ribu /mm3)
Eritrosit : 4,43 mill/mm3 ( normal : 4 juta-5 juta /mm3)

Pada tanggal 22 Juni 2009 dilakukan pemeriksaan Rontgen metakarpal dan didapatkan hasil terdapat praktur communitif metakarpal IV dan V manus dextra.
7. Penatalaksanaan dan terapi
Selasa, tanggal 21 Juli 2009
Pre Operasi hari
Asam Mefenamat 3x1 tab
Cefadroxil 3x1 tab
Rabu, tanggal 22 Juli 2009
Post Operasi
IVFD NS 24 tetes/menit
Cefotaxime 3x1 gr (iv)
Antrain 2x1 amp (drip)
Kamis, 23 Juli 2009
IVFD NS 24 tetes/menit
Cefotaxime 3x1 gr (iv)
Antrain 2x1 amp (drip)





DATA FOKUS
1. Data Subyektif
Pre Operasi
- Klien mengatakan “tangan saya sakit kalau digerakkan ”.
- Klien mengatakan “jam brapa saya di operasi“.
- Klien mengatakan “berapa lama saya nanti dioperasi”
Post Operasi
- Klien mengatakan “tangan dan paha saya sakit kalau digerakkan”
- Klien mengatakan “badan saya terasa lemas”
- Klien mengatakan “kira-kira berapa lama saya dirawat dirumah sakit ini”
- Klien mengatakan “apakah saya nanti akansembuh”

2. Data Obyektif
Pre Operasi
- Ku baik
- Kesadaran Compos Menthis GCS : 15 (E4 M6 V5)
- Nyeri skala 5
- Klien banyak bertanya
- Terdapat luka fraktur/operasi pada tangan kanan
- Ekspresi klien meringis
Post Operasi
- Ku baik
- Kesadaran Compos Menthis GCS : 15 (E4 M6 V5)
- Kelemahan pada ekstremitas dekstra
- TD : 100/60 mmHg, P : 80 x/i, T : 36,7 ÂșC, RR : 20 x/i
- Kekuatan motorik 4 5
4 5
- Terpasang IVFD NS 24 tetes/ menit di tangan kir.
- Luka operasi pada tangan kanan dan paha kanan
- Klien sering bertanya tentang penyakitnnya.
- Pendidikan terakhir klien SLTA.


Samarinda, 21 Juli 2009

Mustakim
P07220106045



B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Setelah data terkumpul dari beberapa sumber penulis menyimpulkan ada beberapa masalah keperawatan yang ada pada Tn. N yaitu dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Dx. Keperawatan Nama : Tn. N Umur : 22 thn
No Tanggal ditemukan Paraf Dx. Medis: Fraktur communitif metakarpal IV dan V manus dekstra No. reg : 09012968
Ruang : Flamb
DIAGNOSA KEPERAWATAN Tgl. Teratasi Paraf

I








II









III









I
















II










III











IV













V















VI




21/7/2009








21/7/2009









21/7/2009









22/7/2009
















22/7/2009










22/7/2009











22/7/2009













22/7/2009















22/07/09 Pre Operasi
Nyeri b/d diskontunitas tulang / jaringan, di tandai dengan :
DS :
“ tangan saya terasa sakit kalau digerakkan”
DO :
- Ekspresi klien meringis
- Nnyeri skala 5

Cemas b/d akan dilakukannya tindakan operasi ditandai dengan :
DS :
- “jam berapa saya di operasi”
- “berapa lama saya nanti di operasi”
DO :
- Ekspresi wajah tegang
- Klien terlihat banyak bertanya

Risiko tinggi terhadap infeksi b/d adanya luka operasi/fraktur, di tandai dengan :
DS :-
DO :
- Terdapat luka operasi/fraktur pada tangan kanan

Post Operasi
Nyeri b/d diskontinuitas jaringan/tulang akibat tindakan operasi (skin graft), di tandai dengan :
DS :
“ tangan dan paha saya sakit kalau digerakkan”
DO :
- Ekspresi klien meringis
- Klien tampak lemah
- TD = 100 / 60 mmHg
- Suhu= 36,7 oC
- Nadi= 80 x/mnt
- RR = 20 x/mnt
- Ada luka operasi pada tangan kanan dan paha kanan

Kerusakan integritas kulit b/d fraktur terbuka, tindakan pembedahan (Skin Graft), di tandai dengan :
DS :
“ tangan saya terasa sakit “
DO :
- Terdapat luka operasi pada tangan kanan dan paha kanan

Risiko tinggi terhadap infeksi b/d adanya luka operasi dan prosedur invasif (pemasangan infus) di tandai dengan :
DS : -
DO :
- Adanya luka operasi pada tangan kanan dan paha kanan
- IVFD terpasang ditangan kiri

Intoleran aktifitas b/d keterbatasan gerak, kelemahan fisik, di tandai dengan :
DS :
“tangan dan paha saya sakit kalau digerakkan“
DO :
- Kekuatan otot

- Terpasang infus ditangan kiri
- Kelemahan pada ekstremmitas dextra

Defisit perawatan diri b/d ketidak mampuan melakukan aktifitas sehari-hari, kelemahan fisik di tandai dengan :
DS :
- “badan saya terasa lemas”
DO :
- Kelemahan pada ekstremitas dextra
- Adanya luka operasi pada tangan kanan dan paha kanan.
- Kekuatan otot



Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi yang didapat, di tandai dengan :
DS:
- “Kira-kira berapa lama saya dirawat dirumah sakit ini?”
- Apakah saya nanti akan sembuh
DO
- Klien sering bertanya tentang penyakitnya
- Pendidikan terakhir klien adalah SLTA
Masalah belum teratasi






21/7/09









Masalah
Tidak terjadi







23/7/09
Masalah teratasi sebagian













23/7/09
Masalah teratasi sebagian







23/7/09
Masalah tidak terjadi








23/7/09













23/7/09















23/7/09




















C. RENCANA KEPERAWATAN

Catatan Rencana Keperawatan Nama : Tn. N Umur : 22 thn Jenis : Laki-laki
Hari, Tgl/jam Diagnosa Keperawatan Dx Medis : Fr.communitif metakarpal IV dan V manus dextra Nomor :09012968 Ruang : Cempaka
Tujuan dan hasil Rencana Tindakan Rasional Paraf Nama

Selasa
21/07/09





















Selasa
21/07/09













Selasa
21/07/09















Rabu
22/07/09





















Rabu
22/07/09




















Rabu
22/07/09
















Rabu
22/07/09



























Rabu
22/07/09















Rabu
22/07/09



Pre Operasi
Diagnosa I
Nyeri b/d diskontinuitas tulang/jaringan, ditandai dengan:
DS:
“tangan saya terasa sakit kalau digerakkan”
DO:
 Ekspresi klien meringis
 Nyeri skala 5












Diagnosa II
Cemas b/d akan dilakukannya tindakan operasi, ditandai dengan:
DS:
“jam brapa saya dioperasi”
“berapa lama nanti saya dioperasi”
DO:
 Ekspresi wajah tegang
 Klien terlihat banyak bertanya
Diagnosa III
Risiko tinggi terhadap infeksi b/d adanya luka operasi/fraktur, ditandai dengan:
DS:-
DO:
 Terdapat luka operasi /fraktur pada tangan kanan.






Post Operasi
Diagnosa I
Nyeri b/d diskontinuitas jaringan/tulang akibat tindakan operasi (Skin Graft), ditandai dengan:
DS:
“tangan dan paha saya sakit kalau digerakkan”
DO:
 Ekspresi klien meringis
 Klien tampak lemah
 TD: 100/60 mmHg
 Suhu: 36,7 oC
 Nadi: 80 x/mnt
 RR: 20 x/mnt





Diagnosa II
Kerusakan integritas kulit b/d fraktur terbuka, tindakan pembedahan (Skin Graft), ditandai dengan:
DS:
“tangan saya terasa sakit”
DO:
 Terdapat luka operasi pada tangan kanan dan paha kanan








Diagnosa III
Risiko tinggi terhadap infeksi b/d adanya luka operasi dan prosedur invasif (pemasangan infus), ditandai dengan:
DS:-
DO:
 Adanya luka operasi pada tangan dan paha kanan
 IVFD terpasang ditangan kiri





Diagnosa IV
Intoleran aktivitas b/dketerbatasan gerak, kelemahan fisik, ditandai dengan:
DS:
“tangan dan paha saya sakit kalau digerakkan”
DO:
 Terpasang infus ditangan kiri
 Kekuatan otot




















Diagnosa V
Defisit perawatan diri b/d ketidakmampuan melakukan aktifitas sehari-hari, kelemahan fisik, ditandai dengan:
DS:
“klien mengatakan badannya terasa lemas”
DO:
 Klien hanya berbaring ditempat tidur
 Kuku panjang dan kotor.






Diagnosa VI
Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi yang didapat, di tandai dengan :
DS:
- “Kira-kira berapa lama saya dirawat dirumah sakit ini?”
- Apakah saya nanti akan sembuh
DO
- Klien sering bertanya tentang penyakitnya.
- Pendidikan terakhir klien adalah SLTA
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam, diharapkan klien dapat mengungkapkan nyeri berkurang atau dapaat mengontrol nyerinya.
KH:
- Ekspresi klien tenang dan rileks.
- Nyeri skala 2











Tujuan: setelah dilakukan satu kali pertemuan diharapkan klien dapat mengungkapkan pemahaman tentang kondisinya.
KH:
 Klien mengungkapkan cemas berkurang atau hilang
 Ekspresi wajah rileks.

Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, diharapkan tidak terdapatnya tanda-tanda infeksi
KH:
 Tanda-tanda infeksi (Calor, Rubor, dolor, Tumor, dan Fungsiolesa) tidak ada.





Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan klien dapat mengungkapkan nyeri berkurang atau dapat mengontrol nyerinya.
KH:
 Ekspresi klien rileks dan tenang
 Nyeri skala 2









Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan tidak terjadi kerusakan kulit dan memudahkan dalam proses penyembuhan.
KH:
 Klien mengatakan nyeri berkurang
 Kulit bersih dan terawat dengan baik.








Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, diharapkan tidak ada tanda-tanda infeksi.
KH:
 Tanda-tanda infeksi (kalor, rubor, dolor, tumor, fungsiolesa) tidak ada.
 Suhu tubuh dalam batas normal (36-37oC)




Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam kebutuhan klien dapat terpenuhi dengan bantuan minimal selama dalam perawatan.
KH:
 Klien mampu memenuhi kebutuhan baik dengan mandiri/dengan bantuan
 Mampu meningkatkan aktifitasnya.













Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam diharapkan aktivitas perawatan diri klien dapat terpenuhi secara mandiri oleh klien sendiri
KH:
 Pesonal hygiene klien terpenuhi
 Klien tampak lebih segar dan cerah
 Kuku pendek dan bersih.





Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan klien mengerti tentang penyakitnya.
KH:
- Klien menyatakan pemahaman mengenai kondisi, prognosis, dan pengobatan
1.1. Kaji keluhan nyeri, perhatikan lokasi, lamanya dan intensitas (skala 1-10)
1.2. Pertahankan imobilisasi bagian yang sakit dengan pembabat

1.3. Atur posisi senyaman mungkin bagi klien
1.4. Ajarkan teknik relaksasi





1.5. Berikan kompres dingin



1.6. Berikan analgetik sesuai advice dr. David yaitu Asam Mefenamat 3x1 tab.


2.1. Kaji tingkat kecemasan


2.2. Motivasi klien untuk mengungkapkan perasaan secara verbal
2.3. Beri penjelasan tentang perubahan yang terjadi akibat perubahan sensasi

2.4. Anjurkan keluarga untuk memberikan dukungan moral



3.1. Kaji terhadap kemerahan, edema, panas dan pus pada daerah luka operasi
3.2. Observasi tanda-tanda vital (suhu tubuh)

3.3. Ganti kasa tiap hari bila kotor atau basah serta pertahankan fiksasi tetap kuat.
3.4. Tutup lokasi tusukan jarum infus dengan kasa steril dan fiksasi tetap kuat.
3.5. Berikan informasi atau penkes untuk mempertahankan botol infus lebih tinggi dari tusukan jarum.


1.1. Kaji keluhan nyeri, perhatikan lokasi, lamanya dan intensitas (skala 1-10)
1.2. Pertahankan imobilisasi bagian yang sakit dengna pembabat

1.3. Atur posisi senyaman mungkin bagi klien
1.4. Ajarkan teknik relaksasi





1.5. Berikan kompres dingin



1.6. Berikan analgetik sesuai advice dr. David yaitu Antrain 2x1 amp.


2.1. Kaji kulit untuk luka terbuka, benda asing, kemerahan, dan perubahan warna.


2.2. Ubah posisi sesering mungkin



2.3. Observasi untuk potensial area yang tertekan khususnya pada akhir dan bawah bebatan/gips
2.4. Bersihkan kulit dengan sabun air hangat
2.5. Letakkan bantalan pelindung dibawah kaki dan diatas tonjolan tulang
2.6. Gerakkan tempat tidur busa, bantal apung, atau kasur udara sesuai indikasi



3.1. Kaji terhadap kemerahan, edema, panas dan pus pada daerah luka operasi
3.2. Observasi tanda-tanda vital (suhu tubuh).

3.3. Ganti kasa tiap hari bila kotor atau basah serta pertahankan fiksasi tetap kuat.
3.4. Tutup lokasi tusukan jarum infus dengan kasa steril dan fiksasi tetap kuat.
3.5. Berikan informasi atau penkes untuk mempertahankan botol infus lebih tinggi dari tusukan jarum.
3.6. Berikan antibiotik sesuai advice dr. David yaitu Cefotaxime 3x1 gram.

4.1. Kaji derajat imobilisasi yang disebabkan cidera atau tindakan keperawatan

4.2. Instruksi klien/bantu dalam latihan gerak aktif/pasif pada ekstremitas yang sakit dan yang tidak sakit.




4.3. Awasi tekanan darah dengan melakukan aktifitas perhatikan keluhan pusing

4.4. Bantu/dorong perawatan diri/kebersihan diri klien



4.5. Berikan/bantu dalam mobilisasi dengan kursi roda, kruk, tongkat sesegera mungkin.

4.6. Dorong peningkatan cairan sampai 2000-3000 ml/hari.



5.1. Kaji kemampuan klien dan hambatan untuk partisipasi dalam perawatan diri.
5.2. Tingkatkan partisipasi aktif klien dan ADL sesuai batas terapeutik.

5.3. Dorong/bantu pasien dalam perawtan diri, gigi dan mulut setiap hari.
5.4. Dukung penggunaan mekanisme koping.

5.5. Modifikasi lingkungan kalau/bila perlu.



6.1. Kaji tingkat pemahaman klien

6.2. Berikan sumber-sumber bahan pengajaran secara visual sesuai keadaan.
6.3. Jelaskan tentang proses penyakit klien.
6.4. Bantu klien dalam mengidentifikasi faktor-faktor resiko terjadinya penyakit.

6.5. Bantu klien mengidentifikasi aktifitas sesuai toleransi dengan periode istirahat yang adekuat
1.1 Mempengaruhi pilihan / pengawasan keefektifan intervensi
1.2 Menghilangkan nyeri dan mencegah kesalahan posisi tulang.
1.3 Menurunkan rangsangan nyeri

1.4 Memfokuskan kembali perhatian meningkatkan kemampuan koping dalam menajemen nyeri yang mungkin menetap untuk periode lama.
1.5 Menurunkan edema/pembentukan hematoma, menurunkan sensasi nyeri.
1.6 Analgetik dapat memblok syaraf neyeri, sehingga dapat mengurangi nyeri dan menurunkan spasme otot.

2.1. Mempengeruhi pilihan atau pengawasan keefektivan intervensi.
2.2. Mengidentifikasikan perasaan dan pengaruh pilihan intervensi

2.3. Memberikan informasi tentang apa yang diharapkan membantu klien menerima situasi lebih efektif.
2.4. Membantu meningkatkan kemampuan koping klien.



3.1. Mengidentifikasi apakah terjadi adanya tanda-tanda infeksi atau tidak ada.
3.2. Untuk mengetahui dan mencegah secara rutin terjadinya infeksi.
3.3. Kasa yang bersih, steril dan terinfeksi baik dapat memperkecil, terjadinya infeksi.
3.4. Kontaminasi dengan udara bebas dapat mempercepat terjadinya infeksi.
3.5. Melibatkan keduanya berperan dalam perawatan infus.



1.1 Mempengaruhi pilihan/pengawasan keefektifan intervensi
1.2 Menghilangkan nyeri dan mencegah keslahan posisi tulang.
1.3 Menurunkan rangsangan nyeri

1.4 Memfokuskan kembali perhatian meningkatkan kemampuan koping dalam menajemen nyeri yang mungkin menetap untuk periode lama.
1.5 Menurunkan edema/pembentukan hematoma, menurunkan sensasi nyeri.
1.6 Analgetik dapat memblok syaraf neyeri, sehingga dapat mengurangi nyeri dan menurunkan spasme otot.
2.1. Memberikan informasi tentang sirkulasi kulit dan masalah pembentukan edema yang membutuhkan intervensi medik lanjut.
2.2. Mengurangi tekanan konstan pada area yang sama meminimalkan resiko kerusaakan kulit
2.3. Tekanan dapat menyebabkan ulserasi/nekrotik dan kelumpuhan saraf
2.4. Menurunkan kadar kontaminasi kulit
2.5. Meminimalkan tekanan pada area ini

2.6. Karena imobilisasi bagian tubuh, tonjolan tulang lebih dari area yang sakit oleh gips mungkin sakit karena penurunan sirkulasi.

3.1. Mengidentifikasi apakah terjadi adanya tanda-tanda infeksi atau tidak ada.
3.2. Untuk mengetahui dan mencegah secara rutin terjadinya infeksi.
3.3. Kasa yang bersih, steril dan terinfeksi baik dapat memperkecil, terjadinya infeksi.
3.4. Kontaminasi dengan udara bebas dapat mempercepat terjadinya infeksi.
3.5. Melibatkan keduanya berperan dalam perawatan infus.

3.6. Antibiotik dapat digunakan sebagai profilaktif.

4.1. Persepsi klien tentang keterbatasan fisik aktual memerlukan intervensi untuk meningkatkan penyembuhan.
4.2. Meningkatkan aliran darah ke otot dan tulang, untuk meningkatkan tonus otot, mempertahankan gerak sendi, mencegah kont aktur/atropi, dan resorpsi kalsium karena tidak digunakan .
4.3. Hipotensi posturl adalah masalah umum yang menyertai tirah baring lama dan memerlukan intervensi khusus.
4.4. Meningkatkan kekuatan otot dan sirkulasi, meningkatkan kontrol pasien dalam situasi dan menigkatkan kesehatan diri secara langsung.
4.5. Mobilisasi dini menurunkan komplikasi tirah baring dan meningkatkan penyembuhan dan normalitas fungsi organ
4.6. Mempertahankan hidrasi tubuh, menurunkan resikok tinggi urinarius, pembentukan batu dan konstipasi.

5.1. Mengidentifikasi kebutuhan intervensi yang dibutuhkan.

5.2. Diharapkan klien juga mampu beraktifitas dalam batas terapeutik
5.3. Mengurangi resiko penyakit guzi/kehilangan gigi dan penyakit kulit lainnya.
5.4. Diharapkan klien bekerja sama dalam mengatasi masalahnya sendiri
5.5. Untuk mempermudah klien melakukan aktifitasnya sehari-hari.


6.1. Berikan fasilitas perencanaan program pengajaran.
6.2. Bahan yang di buat secara khusus akan dapat memenuhi kebutuhan pasien untuk belajar.
6.3. Memberikan pemahaman ke klien.
6.4. Membuat klien lebih memahami akan faktor resiko yang akan terjadi pada penyakit klien.
6.5. Dapat memenuhi rasa kenyamanan pada pasien sehingga dapat membantu partisipasi klien


D. TINDAKAN KEPERAWATAN


Nama :Tn. N J k/umur :Laki-laki/22 thn
Dx. Medis :Fr. Communnitif Ruang :Cempaka
Metakarpal IV dan V
Manus Dextra
Hari
Tanggal/ Jam Tindakan Keperawatan Evaluasi Tindakan Paraf/ Nama
Senin
24/07/06

08.15







08.30





08.40











09.00








10.00



10.30


16.40


17.30




18.00




Rabu
22/07/09

06.10





06.25




07.35




07.10


08.00







09.10




10.00




10.30



12.00




12.30



18.00










Kamis
2307/09

06.30





07.10




07.20




07.30










08.20

\

09.00



10.00




11.00



12.00




12.30






18.00




19.00







21.00






















5.1



1.1




1.4


2.1




2.3



2.4









3.2




1.4








3.2




4.1




3.1




5.3










1.4




2.4




1.3



1.2




2.2



1.2




2.1









3.2




4.1




3.1




5.3










1.4



1.1



2.4




6.2



3.2




2.2



1.4


3.2




3.6


2.2






Membina hubungan saling percaya (BHSP) dengan klien
 Mengucapkan salam terapetik
 Memperkenalkan diri
 Kontrak waktu
 Menjelaskan tujuan

Mengganti laken membersihakn lingkungan klien setiap hari



Melakukan pengkajian pada kulit dan mengobservasi terhadap tanda-tanda infeksi

Mengkaji tingkat nyeri, lokasi dan skala nyeri



Menganjurkan klien untuk relaksasi bila timbul nyeri

Menanyakan kepada klien, apakah merasa cemas akan rencana operasinya


Memberikan penjelasan kepada klien tentang operasi yang akan dijalaninya

Menganjurkan kepada keluarga untuku memberikan dukungan kepada anaknya.

Mengantar pasien ke ruang operasi

Menjemput pasien dari ruang operasi

Mengukur tekanan darah
Mengukur suhu,
Menghitng nadi
Menghitng pernafasan

Memberikan obat injeksi cefotaxim 1 gr melalui IV






Morning care
Mengukur tekanan darah
Mengukur suhu,
Menghitng nadi
Menghitng pernafasan

Melakukan pengkajian pada tingkat toleransi aktivitas klien


Melakukan pengkajian pada kulit dan mengobservasi terhadap tanda-tanda infeksi


Memandikan klien di tempat tidur

Mengganti laken dan membersihkan lingkungan setiap hari

Mempertahankan tempat tidur klien tetap kering dan bebas kerutan.

Mengajarkan pada klien tehnik relaksasi dan nafas dalam


Memberikan injeksi anti biotik dan analgetik
Cefotaxime 1 gr
Antrain 1 amp

Mengatur posisi klien senyaman mungkin.


Mengukur tekanan darah
Mengukur suhu,
Menghitng nadi
Menghitng pernafasan

Menganjurkan pada klien untuk mengubah posisi dengan sering.

Mengukur tekanan darah
Mengukur suhu,
Menghitng nadi
Menghitng pernafasan

Memberikan injeksi anti biotik
Cefotaxime 1 gr

Menganjurkan klien untuk istirahat



Morning care
Mengukur tekanan darah
Mengukur suhu tubuh
Menghitung nadi
Menghitung pernafasan

Melakukan pengkajian pada tingkat toleransi aktivitas klien


Melakukan pengkajian pada kulit dan mengobservasi terhadap tanda-tanda infeksi


Memandikan klien di tempat tidur

Mengganti laken dan membersihkan lingkungan setiap hari

Mempertahankan tempat tidur klien tetap kering dan bebas kerutan.

Menganjurkan pada klien tehnik relaksasi dan nafas dalam

Mengkaji skala nyeri, lokasi dan intensitasnya


Memberikan injeksi anti biotik dan analgetik
Cefotaxime 1 gr
Antrain 1 amp

Memberikan penkes kepada klien mengenai penyakit klien.

Mengukur tekanan darah
Mengukur suhu,
Menghitng nadi
Menghitng pernafasan.

Menganjurkan pada klien untuk mengubah posisi dengan sering

Mengobservasi aktivitras / pergerakan klien

Mengukur tekanan darah
Mengukur suhu,
Menghitng nadi
Menghitng pernafasan

Memberikan injeksi antibiotik
Cefotaxime 1 gram

Menganjurkan pada klien untuk mengubah posisi dengan sering.


Mendelegasikan kepada perawat ruangan yang bertugas untuk melakukan tindakan keperawatan selanjutnya pada klien.
















5.1



1.1




1.4


2.1




2.3



2.4









3.2




1.4








3.2




4.1




3.1




5.3










1.4




2.4




1.3



1.2




2.2



1.2




2.1









3.2




4.1




3.1




5.3










1.4



1.1



2.4




6.2



3.2




2.2



1.4


3.2




3.6


2.2









Klien membalas salam
Klien menerima kedatangan perawatan yang akan merawat klien selama tiga hari

Semua keluarga klien berada diluar, tempat tidur, meja serta lingkugan klien tampak bersih

Luka tampak kering dan bersih serta tidak ditemui tanda-tanda infeksi
Nyeri skala 5, pada daerah luka fraktur/operasi bila digerakkan.

Klien mau mengikuti anjuran perawat

Klien mengatakan cemas, dan banyak bertanya tentang kapan rencana operasinya.

Klien mengerti tentang penjelasan perawat


Klien mau mengikuti anjuran perawat.








Keadaan umum baik, TD : 100/60, Nadi 80 x/I, temp : 36,7 0C, dan respirasi : 20 x/i.

Keadaan umum baik, tidak ada alergi dan tidak ada keluhan nyeri





Keadaan umum baik, TD : 100/60, Nadi 80 x/I, temp : 36 0C, dan respirasi : 20 x/i.


Klien dapat melakukan aktivitas tetapi masih memerlukan bantuan perawat

Tidak ditemukan tanda-tanda infeksi seperti rubor, kalor, dolor maupun tumor.

Klien terlihat bersih dan wangi

Laken diganti dan tampak rapi dan bersih


Tempat tidur klien lakennya sudah diganti dan sudah dirapikan

Klien mengatakan rasa nyeri agak berkurang setelah melakukan tehnik yang diajarkan

Tidak ada reaksi alergi pada klien.



Klien merasa nyaman dengan posisi semi fowler.

Keadaan umum baik, TD : 100/70, Nadi 80 x/I, temp : 36,5 0C, dan respirasi : 18 x/i.

Klien mengerti yang dianjurkan perawat.


Keadaan umum baik, TD : 100/70, Nadi 80 x/I, temp : 36.4 0C, dan respirasi : 20 x/i.

Tidak ada reaksi alergi pada klien.


Klien mau mengikuti anjuran perawat.




Keadaan umum baik, TD : 110/80, Nadi 80 x/I, temp : 37 0C, dan respirasi : 18 x/i.

Klien dapat melakukan aktivitas tetapi masih memerlukan bantuan perawat

Tidak ditemukan tanda-tanda infeksi seperti rubor, kalor, dolor maupun tumor.

Klien terlihat bersih dan wangi

Laken diganti dan tampak rapi dan bersih


Tempat tidur klien lakennya sudah diganti dan sudah dirapikan

Klien mau mengikuti anjuran perawat


Nyeri skala 2, didaerah luka operasi, hilang timbul

Tidak ada reaksi alergi pada klien.



Klien menyimak dan klien mengerti.


Keadaan umum baik, TD : 120/80, Nadi 88 x/I, temp : 36.6 0C, dan respirasi : 20 x/i.

Klien mengerti yang dianjurkan perawat.


Klien mampu berjalan


Keadaan umum baik, TD : 120/80, Nadi 88 x/I, temp : 36.6 0C, dan respirasi : 20 x/i.

Tidak ada tanda-tanda alergi.

Klien mengerti dan mau melakukan apa yang dianjurkan perawat

Pendelegasian jelas mengenai tindakan keperawatan yang akan dilakukan, perawat ruangan dapat melihat rencana tindakan pada List klien.


E.EVALUASI

Hari
Tgl/Jam No
Dx Subjektif / Objektif / Analisa / Perencanaan Paraf
Selasa
21/7/09 I S : “Tangan saya terasa nyeri kalau digerakkan ”
O : - Skala nyeri 5
A : Masalah belum teratasi
P : lanjutkan intervensi
1.1 Kaji keluhan nyeri, perhatikan lokasi / karakter dan intensitas nyeri (skala 0 - 10 )
1.2 Pertahankan imobilisasi bagian yang sakit dengan pembebat
1.3 Atur posisi senyaman mungkin
1.4 Anjurkan untuk teknik relaksasi
Selasa
21/7/09 II S : “ Saya berharap semua dapat berjalan dengan baik”
O : - Klien terlihat rileks
A : Masalah teratasi
P : Pertahankan Intervensi
2.1. Kaji tingkat kecemasan
2.2. Motivasi klien untuk mengungkapkan perasaan secara verbal
2.3. Beri penjelasan tntang perbahan jadi akibat perubahan sensasi.
2.4. Anjurkan keluarga untuk memberikan dukungan moral
Selasa
21/7/09 III S : -
O : - Tidak terdapat tanda-tanda infeksi
- TD :100/60
- P : 80 x/i
- T : 36,7 oC
A : Masalah tidak terjadi
P : Pertahankan intervensi
3.1 Kaji terhadap kemerahan, panas, pus pada daerah luka operasi
3.2 Observasi tanda - tanda vital (suhu tubuh)
3.3 Ganti kasa tiap hari bila kotor atau basah serta pertahankan fiksasi agar tetap kuat
3.4 Tutup lukasi tusukan jarum infus dengan kasa steril dan fiksasi dengan kuat





EVALUASI
Hari
Tgl/Jam No
Dx Subjektif / Objektif / Analisa / Perencanaan Paraf
Rabu
22-7-09



I

S : “Tangan dan paha saya terasa sakit kalau digerakkan”
O : - Ekspresi klien rileks dan tenang
- Nyeri skala 4
A : Masalah belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi
1.1. Kaji keluhan nyeri, perhatikan lokasi, lamanya dan intensitas (skala 1-10)
1.2. Pertahankan imobilisasi bagian yang sakit dengan pembebat
1.3. Atur posisi senyaman mungkin bagi klien
1.4. Anjurkan teknik relaksasi
1.6.Berikan analgetik sesuai advice dr. Riki yaitu Antrain 2x1 amp.
Rabu
22-7-09 II S :“Tangan dan paha saya terasa sakit kalau digerakkan”
O : - Kulit bersih
A : Masalah teratasi sebagian
P : Lanjutkan intervensi
2.1 Kaji kulit untuk luka terbuka, benda asing, kemerahan dan perubahan warna
2.2 Ubah posisi sesering mungkin
2.3 Obsevasi untuk potensial area yang tertekan khususunya pada akhir dan bawah bebatan.
2.4 Bersihkan kulit dengan air hangat
2.5 Letakkan bantalan pelindung dibawah tangan yang sakit dan diatas tonkolan tulang.
Rabu
22-7-09 III S : -
O : - Tidak terdapat tanda-tanda infeksi
- Infus lancar
A : Masalah tidak terjadi
P : Pertahankan intervensi
3.1 Kaji terhadap kemerahan, panas, pus pada daerah luka operasi
3.2 Observasi tanda - tanda vital (suhu tubuh)
3.3 Ganti kasa tiap hari bila kotor atau basah serta pertahankan fiksasi agar tetap kuat
3.4 Tutup lukasi tusukan jarum infus dengan kasa steril dan fiksasi dengan kuat
3.6 Berikan informasi sesuai advice dr. David yaitu Cefotaxime 3x1 gram
Rabu
22-7-09 IV S : “Tangan dan paha saya masih terasa sakit kalau digerakkan “
O :
- Klien sudah mampu ketoilet
- KU lemah
A : Masalah teratasi sebagian
P : Lanjutkan intervensi
4.1 Kaji derajat imobilisasi yang disebabkan oleh cidera atau tindakan pengobatan
4.2 Instruksikan klien/bantu dalam latihan gerak aktif atau pasif pada ekstremitas yang sakit dan tidak sakit.
4.3 Awasi tekanan darah dengan melakukan aktifitas
4.4 Batu/dorong perawatan diri klien.
Rabu
22-7-09 V S : “ Saya belum bisa mandi sendiri, badan saya masih lemas ”
O :
- Klien tamapak lebih segar dan bersih
- Klien Di seka di tempat tidur oleh perawat
A : Masalah teratasi sebagian
P : lanjutkan intervnesi
5.1 Kaji kemampuan klien dan hambatan untuk partisipasi dlam perawatan diri
5.2 Tingkatkan partisifasi aktif klien dalam ADL sesuai batas terapeutik
5.3 Dorong/bantu pasien dalam perawatan diri, gigi, dan mulut
5.4 Dukung penggunaan mekanisme koping




















EVALUASI
Hari
Tgl/Jam No
Dx Subjektif / Objektif / Analisa / Perencanaan Paraf
Kamis
23-7-09



I

S : “Nyeri tangan saya sudah berkurang bila digerakkan”
O : - Ekspresi klien rileks dan tenang
- Nyeri skala 2
A : Masalah teratasi sebagian
P : lanjutkan intervensi
1.1 Kaji keluhan nyeri, perhatikan lokasi, lamanya dan intensitas (skala 1-10)
1.2 Pertahankan imobilisasi bagian yang sakit dengan pembebat
1.3 Atur posisi senyaman mungkin bagi klien
1.4 Anjurkan teknik relaksasi
1.6 berikan analgetik sesuai advice dr. Riki yaitu Antrain 2x1 amp.
Kamis
23-7-09
II S : “Nyeri tangan saya sudah berkurang bila digerakkan”
O : - Kulit bersih
A : Masalah teratasi sebagian
P : Lanjutkan intervensi
2.1. Kaji kulit untuk luka terbuka, benda asing, kemerahan dan perubahan warna
2.2. Ubah posisi sesering mungkin
2.3. Obsevasi untuk potensial area yang tertekan khususunya pada akhir dan bawah bebatan.
2.4. Bersihkan kulit dengan air hangat
2.5. Letakkan bantalan pelindung dibawah tangan yang sakit dan diatas tonkolan tulang.
Kamis
23-7-09
III S : -
O : - Tidak terdapat tanda-tanda infeksi
- Infus lancar
A : Masalah tidak terjadi
P : Pertahankan intervensi
3.1. Kaji terhadap kemerahan, panas, pus pada daerah luka operasi.
3.2. Observasi tanda - tanda vital (suhu tubuh).
3.3. Ganti kasa tiap hari bila kotor atau basah serta pertahankan fiksasi agar tetap kuat.
3.4. Tutup lukasi tusukan jarum infus dengan kasa steril dan fiksasi dengan kuat
3.5. Berikan informasi sesuai advice dr. David yaitu Cefotaxime 3x1 gram
Kamis
23-7-09
IV S : “Nyeri tangan saya sudah berkurang bila digerakkan “
O :
- Klien sudah mampu ketoilet
- KU baik
A : Masalah teratasi
P : Pertahankan intervensi
4.1. Kaji derajat imobilisasi yang disebabkan oleh cidera atau tindakan pengobatan.
4.2. Instruksikan klien/bantu dalam latihan gerak aktif atau pasif pada ekstremitas yang sakit dan tidak sakit.
4.3. Awasi tekanan darah dengan melakukan aktifitas
4.4. Batu/dorong perawatan diri klien.
Kamis
23-7-09
V S : “ Saya sudah bisa ke toilet sendiri ”
O :
- Klien tampak lebih segar dan bersih
A : Masalah teratasi
P : Pertahankan intervnesi
5.1. Kaji kemampuan klien dan hambatan untuk partisipasi dlam perawatan diri.
5.2. Tingkatkan partisifasi aktif klien dalam ADL sesuai batas terapeutik
5.3. Dorong/bantu pasien dalam perawatan diri, gigi, dan mulut
5.4. Dukung penggunaan mekanisme koping
23-7-09 VI S : “Saya sudah mengerti tentang penyakit saya”
O: Klien dapat menjelaskan kembali tentang penyakitnya.
A : Masalah teratasi
P : Pertahankan intervensi
6.1. Kaji tingkat pemahaman klien
6.2. Berikan sumber-sumber bahan pengajaran secara visual sesuai keadaan.
6.3. Jelaskan tentang proses penyakit klien.
6.4. Bantu klien dalam mengidentifikasi faktor-faktor resiko terjadinya penyakit.
6.5. Bantu klien mengidentifikasi aktifitas sesuai toleransi dengan periode istirahat yang adekuat


BAB IV
PEMBAHASAN


Pada bab ini, penulis akan membahas asuhan keperawatan pada klien Tn.N dengan Fraktur Communitif Metakarpal IV dan V Manus Dextra dilaksanakan di Ruang Cempaka Rumah Sakit Abdul Wahab Syahranie Samarinda dari tanggal 21 Juli sampai dengan 23 Juli 2009 adalah pendekatan proses keperawatan yang terdiri dari pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.
Dalam upaya pengumpulan data sebagai langkah awal dari proses keperawatan, penulis melakukan pengkajian baik secara langsung maupun tidak langsung, tujuan dari pengkajian keperawatan ialah untuk mengumpulkan data, mengelompokkan data dan menganalisa data sehingga ditemukan diagnosa keperawatan (Gaffar, 1999).
Pada kasus klien Tn. N dengan Fraktur Communitif Matakarpal IV dan V Manus Dextra penulis melakukan pengumpulan data melalui beberapa tehnik yaitu observasi, wawancara, pemeriksaan fisik, dan pengambilan data penunjang dari beberapa tim medis serta catatan perawatan klien Tn.N, sejak dirawat dari tanggal 22 Juni 2009. sehingga setelah dikumpulkan data dari klien Tn. N baik dari aspek bio, psiko, sosial dan spiritual, maka penulis mengelompokkan beberapa data dan menganalisa untuk menentukan diagnosa keperawatan yang berkaitan dengan keadaan klien Tn.N.
Data yang diperoleh pada klien Tn.N selanjutnya akan dikelompokkan menjadi data objektif dan subjektif kemudian dianalisa untuk menentukan prioritas masalah keperawatan yang berkaitan dengan keadaan klien Tn.N, secara nyata pengkajian data dapat dilihat pada BAB III, maka penulis merumuskan tiga diagnosa pre operasi skin graft dan post operasi skin graft penulis merumuskan enam diagnosa keperawatan yang telah diurutkan sesuai dengan kebutuhan dasar manusia dan keaktualan masalah yang terjadi pada klien yaitu sebagai berikut :
Diagnosa Pre Operasi Skin Graft
1. Nyeri berhubungan dengan diskontinuitas tulang/jaringan. Diagnosa ini penulis angkat karena diagnosa ini merupakan diagnosa aktual pada klien dengan trauma tulang atau terputusnya kontinuitas jaringan tulang, Klien mengeluh nyeri pada daerah fraktur klien dan susah menggerakkan tangan kanan. Klien tampak meringis dan nyeri dengan skala 5.
Menurut International Association for Study of Pain (IASP), nyeri adalah sensori subyektif dan emosional yang tidak menyenangkan yang didapat terkait dengan kerusakan jaringan aktual maupun potensial, atau menggambarkan kondisi terjadinya kerusakan.
Antara kerusakan jaringan (sebagai sumber stimuli nyeri) sampai dirasakan sebagai persepsi nyeri terdapat suatu rangkaian proses elektrofisiologik yang secara kolektif disebut sebagai nosisepsi (nociception). Ada empat proses yang jelas yang terjadi pada suatu nosisepsi, yakni ;
a) Proses Transduksi (Transduction), merupakan proses dimana suatu stimuli nyeri (noxious stimuli) di rubah menjadi suatu aktifitas listrik yang akan diterima ujung-ujung saraf (nerve ending). Stimuli ini dapat berupa stimuli fisik (tekanan), suhu (panas) atau kimia (substansi nyeri).
b) Proses Transmisi (Transmison), dimaksudkan sebagai penyaluran impuls melalui saraf sensoris menyusul proses transduksi. Impuls ini akan disalurkan oleh serabut saraf A delta dan serabut C sebagai neuron pertama, dari perifer ke medulla spinalis dimana impuls tersebut mengalami modulasi sebelum diteruskan ke thalamus oleh traktus sphinotalamikus sebagai neuron kedua. Dari thalamus selanjutnya impuls disalurkan ke daerah somato sensoris di korteks serebri melalui neuron ketiga, dimana impuls tersebut diterjemahkan dan dirasakan sebagai persepsi nyeri.
c) Proses Modulasi (Modulation), adalah proses dimana terjadi interaksi antara sistem analgesik endogen yang dihasilkan oleh tubuh kita dengan imput nyeri yang masuk ke kornu posterior medulla spinalis. Jadi merupakan proses acendern yang di kontrol oleh otak. Sistem analgesik endogen ini meliputi enkefalin, endorfin, serotonin, dan noradrenalin memiliki efek yang dapat menekan impuls nyeri pada kornu posterior medulla spinalis. Kornu posterior ini dapat diiabaratkan sebagai pintu yang dapat tertetutup atau terbukanya pintu nyeri tersebut diperankan oleh sistem analgesik endogen tersebut di atas. Proses modulasi inilah yang menyebabkan persepsi nyeri menjadi sangat subyektif orang per orang.
d) Persepsi (perception), adalah hasil akhir dari proses interaksi yang kompleks dan unik yang dimulai dari proses transduksi, transmisi, dan modulasi yang pada gilirannya menghasilkan suatu perasaan yang subyektif yang dikenal sebagai persepsi nyeri.
Mekanismenya, Fraktur klien ini sebagai impuls akan dirubah menjadi suatu aktifitas listrik yang akan diterima oleh ujung-ujung syaraf sensori, hingga nanti impuls ini akan disalurkan oleh serabut A Delta dan serabut C sebagai neuron pertama, dari perifer ke medulla spinalis dimana impuls tersebut mengalami modulasi sebelum diteruskan ke thalamus oleh traktus sphinotalamikus sebagai neuron kedua. Dari thalamus selanjutnya impuls disalurkan ke daerah somato sensoris di korteks serebri melalui neuron ketiga, dimana impuls tersebut diterjemahkan dan dirasakan sebagai persepsi nyeri, terjadi interaksi antara sistem analgesik endogen yang dihasilkan oleh tubuh kita dengan imput nyeri yang masuk ke kornu posterior medulla spinalis. Jadi merupakan proses acendern yang di kontrol oleh otak. Sistem analgesik endogen ini meliputi enkefalin, endorfin, serotonin, dan noradrenalin memiliki efek yang dapat menekan impuls nyeri pada kornu posterior medulla spinalis. Kornu posterior ini dapat diiabaratkan sebagai pintu yang dapat tertetutup atau terbukanya pintu nyeri tersebut diperankan oleh sistem analgesik endogen tersebut di atas. Proses modulasi inilah yang menyebabkan persepsi nyeri menjadi sangat subyektif orang per orang. Rencana tindakan yang telah disusun oleh penulis tidak semua dapat dilaksanakan hal ini disesuaikan dengan kebutuhan klien diantaranya adalah mengkaji keluhan nyeri klien, lokasi dan lamanya dan insentitas (skala 1-10), mengatur posisi klien senyaman mungkin, dan mengajarkan klien teknik relaksasi. Dari tindakan keperawatan yang telah dilakukan diagnosa ini tidak dapat teratasi karena diagnosa ini diangkat pada pre operasi skin graft, sehingga hasil evaluasi tidak terdapat dalam kriteria hasil.
2. Cemas b/d akan dilakukannnya tindakan operasi. Diagnosa ini penulis angkat karena pada saat pengkajian klien banyak bertanya tentang rencana operasi yang akan dijalaninya. Ekspresi klien juga terlihat tegang.
Cemas adalah perasaan tidak nyaman atau ketakutan yang tidak jelas dan gelisah disertai dengan respon otonom (sumber terkadang tidak spesifik atau tidak diketahui oleh individu), perasaan yang was-was untuk mengatasi bahaya.
Empat tingkatan rasa cemas/gangguan perasaan (anxiety) pada manusia.
a) Rasa cemas ringan
b) Rasa cemas sedang
c) Rasa cemas berat
d) Panik
Gejala-gejala kecemasan ditandai pada tiga aspek :
a) Aspek biologis/fisiologis, seperti peningkatan denyut nadi dan tekanan darah, tarikan nafas menjadi pendek dan cepat, berkeringat dingin, termasuk di telapak tangan, nafsu makan hilang, mual/muntah, sering buang air kecil, nyeri kepala, tak bisa tidur, mengeluh, pembesaran pupil dan gangguan pencernaan.
b) Aspek intelektual/kognitif; seperti ketidakmampuan berkonsentrasi, penurunan perhatian dan keinginan, tidak bereaksi terhadap rangsangan lingkungan, penurunan produktivitas, pelupa, orientasi lebih ke masa lampau daripada masa kini/masa depan.
c) Aspek emosional dan perilaku; seperti penarikan diri, depresi, mudah tersinggung, mudah menangis, mudah marah dan apatisme.
Pembagian rasa cemas antara lain:
a) Rasa cemas ringan: berhubungan dengan permasalahan yang dihadapi sehari-hari. Keadaan ini akan meningkatkan persepsi individu, yang mengakibatkan orang akan berhati-hati/waspada dan mendorong manusia untuk belajar serta kreatif.
b) Rasa cemas sedang: lapangan persepsi terhadap lingkungan menurun. Individu lebih memfokuskan hal yang penting saat itu saja dan mengesampingkan hal lainnya.
c) Rasa cemas berat: lapangan persepsi sangat menurun.
Orang hanya memikirkan hal yang kecil saja dan mengabaikan hal lainnya. Individu tak mampu berpikir lagi, dia sudah harus diberi pertolongan/tuntunan.
d) Panik: lapangan persepsi sudah sangat sempit. Individu tidak dapat mengendalikan diri lagi. Bila manusia salah orientasi; ketika menghadapi masalah pelik; rasa dan periksa tidak berfungsi.
Klien mengalami cemas sedang hal ini sesuai dengan keadaan klien yaitu klien banyak bertanya tentang kondisinya, klien hanya memikirkan bagaimana operasinya nanti bisa berjalan dengan baik, eskpresi klien tegang. Rencana tindakan yang telah disusun oleh penulis dapat dilaksanakan semaksimal mungkin, diantaranya adalah mengkaji tingkat kecemasan, memotivasi klien untuk mengungkapkan perasaan secara verbal, memberikan penjelasan tentang perubahan yang terjadi akibat perubahan sensasi, menganjurkan keluarga untuk memberikan motivasi, dukungan moral. Sehingga diagnosa ini dapat teratasi hal ini seseuai dengan kriteria hasil yang tercantum dalam intervensi keperawatan diataranya adalah ekspresi klien terlihat rileks dan klien juga mengungkapkan bahwa cemasnya sudah berkurang sebelum diberikan penjelasan oleh perawat.
3. Risiko tinggi terhadap infeksi b/d adanya luka operasi/fraktur. Penulis mengangkat diagnosa ini karena berdasarkan observasi dan pemeriksaan fisik tampak luka operasi pada tangan kanan klien yang masih terbalut dengan elastis verban, dengan adanya fraktur pada tangan kanan klien memberi jalan bagi kuman patogen masuk ke dalam tubuh sehingga bisa mengakibatkan infeksi, dalam hal ini perlu mendapat perhatian dari perawat untuk melakukan tindakan keperawatan pada area kulit yang terdapat luka fraktur serta mengobservasi area kulit dengan melihat tanda-tanda infeksi seperti kalor, dolor, rubor maupun tumor serta memantau tanda-tanda vital klien yang secara umum perubahan tanda-tanda vital merupakan tanda terjadinya infeksi, sehingga hal ini perlu mendapat perhatian dari perawat untuk mencegah hal itu maka penulis mengangkat diagnosa ini. Rencana tindakan yang telah disusun oleh penulis tidak semua dapat dilaksanakan hal ini disesuaikan dengan keadaan klien karena pada saat itu klien akan segera dilakukan operasi skin graft, sehingga tindakan yang dilakukan hanya mengobservasi tanda-tanda vital klien, masalah risiko ini tidak menjadi aktual.
Diagnosa Post Operasi Skin Graft
1. Nyeri berhubungan dengan diskontinuitas jaringan/tulang akibat tindakan operasi (skin graft). Diagnosa ini penulis angkat karena diagnosa ini merupakan diagnosa aktual pada klien dengan trauma tulang atau terputusnya kontinuitas jaringan. Klien mengeluh nyeri pada daerah fraktur dan daerah paha kanan.
Menurut International Association for Study of Pain (IASP), nyeri adalah sensori subyektif dan emosional yang tidak menyenangkan yang didapat terkait dengan kerusakan jaringan aktual maupun potensial, atau menggambarkan kondisi terjadinya kerusakan.
Antara kerusakan jaringan (sebagai sumber stimuli nyeri) sampai dirasakan sebagai persepsi nyeri terdapat suatu rangkaian proses elektrofisiologik yang secara kolektif disebut sebagai nosisepsi (nociception). Ada empat proses yang jelas yang terjadi pada suatu nosisepsi, yakni ;
a) Proses Transduksi (Transduction), merupakan proses dimana suatu stimuli nyeri (noxious stimuli) di rubah menjadi suatu aktifitas listrik yang akan diterima ujung-ujung saraf (nerve ending). Stimuli ini dapat berupa stimuli fisik (tekanan), suhu (panas) atau kimia (substansi nyeri).
b) Proses Transmisi (Transmison), dimaksudkan sebagai penyaluran impuls melalui saraf sensoris menyusul proses transduksi. Impuls ini akan disalurkan oleh serabut saraf A delta dan serabut C sebagai neuron pertama, dari perifer ke medulla spinalis dimana impuls tersebut mengalami modulasi sebelum diteruskan ke thalamus oleh traktus sphinotalamikus sebagai neuron kedua. Dari thalamus selanjutnya impuls disalurkan ke daerah somato sensoris di korteks serebri melalui neuron ketiga, dimana impuls tersebut diterjemahkan dan dirasakan sebagai persepsi nyeri.
c) Proses Modulasi (Modulation), adalah proses dimana terjadi interaksi antara sistem analgesik endogen yang dihasilkan oleh tubuh kita dengan imput nyeri yang masuk ke kornu posterior medulla spinalis. Jadi merupakan proses acendern yang di kontrol oleh otak. Sistem analgesik endogen ini meliputi enkefalin, endorfin, serotonin, dan noradrenalin memiliki efek yang dapat menekan impuls nyeri pada kornu posterior medulla spinalis. Kornu posterior ini dapat diiabaratkan sebagai pintu yang dapat tertetutup atau terbukanya pintu nyeri tersebut diperankan oleh sistem analgesik endogen tersebut di atas. Proses modulasi inilah yang menyebabkan persepsi nyeri menjadi sangat subyektif orang per orang.
d) Persepsi (perception), adalah hasil akhir dari proses interaksi yang kompleks dan unik yang dimulai dari proses transduksi, transmisi, dan modulasi yang pada gilirannya menghasilkan suatu perasaan yang subyektif yang dikenal sebagai persepsi nyeri.
Mekanismenya, daerah fraktur dan daerah paha post skin graft ini menyebabkan diskontinuitas jaringan sehingga mempengaruhi serabut saraf nyeri yang ada disekitar, sebagai impuls akan dirubah menjadi suatu aktifitas listrik yang akan diterima oleh ujung-ujung syaraf sensori, hingga nanti impuls ini akan disalurkan oleh serabut A Delta dan serabut C sebagai neuron pertama, dari perifer ke medulla spinalis dimana impuls tersebut mengalami modulasi sebelum diteruskan ke thalamus oleh traktus sphinotalamikus sebagai neuron kedua. Dari thalamus selanjutnya impuls disalurkan ke daerah somato sensoris di korteks serebri melalui neuron ketiga, dimana impuls tersebut diterjemahkan dan dirasakan sebagai persepsi nyeri, terjadi interaksi antara sistem analgesik endogen yang dihasilkan oleh tubuh kita dengan imput nyeri yang masuk ke kornu posterior medulla spinalis. Jadi merupakan proses acendern yang di kontrol oleh otak. Sistem analgesik endogen ini meliputi enkefalin, endorfin, serotonin, dan noradrenalin memiliki efek yang dapat menekan impuls nyeri pada kornu posterior medulla spinalis. Kornu posterior ini dapat diiabaratkan sebagai pintu yang dapat tertetutup atau terbukanya pintu nyeri tersebut diperankan oleh sistem analgesik endogen tersebut di atas. Proses modulasi inilah yang menyebabkan persepsi nyeri menjadi sangat subyektif orang per orang. Rencana tindakan yang telah disusun oleh penulis tidak semua dapat dilaksanakan hal ini disesuaikan dengan kebutuhan klien pada saat itu, diantaranya adalah mengkaji keluhan nyeri, lokasi, lamanya dan insensitas nyeri (skala 1-10), mengatur posisi klien senyaman mungkin, mengajarkan teknik relaksasi, memberikan obat analgetik sesuai advice dr. David yaitu Antrain 3 x 1 ampul. Dari tindakan yang telah dilaksanakan dignosa ini dapat teratasi sebagian sesuai dengan kriteri hasil yaitu klien mengungkapkan bahwa nyeri skala 2, klien juga mengungkapkan bahwa nyerinya hanya timbul pada saat tangannya digerakkan, hal ini dikarenakan nyeri klien bersifat hilang timbul, nyeri klien muncul
2. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan fraktur terbuka, tindakan pembedahan (skin graft). Kerusakan integritas kulit adalah perubahan pada epidermis atau dermis.
Lapisan Kulit:
Epidermis (lapisan luar) antara lain:
a) Statum korneum (lapisan tanduk) dan bagian dalam di sebut lapisan malpighi.
 Terdiri atas sel-sel mati dan selalu mengelupas.
 Fungsi : melindungi sel-sel dan mencegah masuknya bibit penyakit.
 Lapisan malpighi : terdiri dari sel-sel yang aktif membelah dan menghasilkan pigmen melanin.
b) Statum lusidum
Terdiri sel-selnya tidak berinti dan berwarna bening.
c) Statum granulosom
 Fungsi : menggantikan sel-sel dilapisi statum korneum.
 Mengandung pigmen warna kulit.
d) Statum germanativum
Sel-selnya aktif membelah membentuk sel-sel baru kearah luar.
Dermis (lapisan dalam) terdiri dari:
a) Kelenjar keringat
 Berupa pipa terpilin yang memanjang dari epidermis masuk kebagian dermis.
 Kira-kira 2 juta kelenjar keringat yang tersebar diseluruh dermis.
 Manusia dewasa dapat menghasilkan keringat ± 225 ml setiap harinya.
 Air yang keluar dari kelenjar keringat tidak hanya berfungsi mensekresikan garam mineral.
b) Kelenjar minyak (glandula sabacea), fungsi : untuk mencegah kekeringan pada kulit dan rambut.
c) Pembuluh darah
d) Syaraf perasa dan peraba
e) Jaringan lemak
Batasan karakteristik:
a) Invasi struktur tubuh
b) Kerusakan lapisan kulit (dermis)
c) Disrupsi permukaan kulit (epidermis)
Alasan penulis mengangkat diagnosa ini karena klien post operasi terlihat sering tidur pada posisi yang sama, posisi tidur yang lama tanpa ada pergantian posisi dapat menyebabkan kemerahan pada kulit dan akhirnya lecet pada kulit yang diakibatkan oleh tidak adanya sirkulasi oksigen serta terjadinya vasokontriksi pembuluh darah bawah kulit pada area tubuh yang tertindis bagian tubuh yang lain yang menyebabkan suplai oksigen dan darah terhenti dan keadaan ini diperburuk oleh alas tempat tidur yang terbuat dari kulit/plastik, reaksi kulit/plastik pada tubuh kita pada saat tidur dengan posisi yang lama tanpa perubahan menyebabkan panas pada lapisan bawah kulit. Rencana tindakan yang telah disusun oleh penulis tidak semua dapat dilaksanakan hal ini sesuai dengan keadaan klien yang post skin graft hari pertama dan kedua dengan kondisi yang lemah. Tindakan yang telah dilaksanakan adalah mengubah posisi klien sesering mungkin, mengobservasi daerah yang tertekan, membersihkan kulit dengan air sabun, meletakkan bantalan pelindung dibawah kaki dan diatas tonjolan tulang. Diagnosa ini teratasi sebagian, karena hanya sebagian dari kriteria hasil yang dapat dicapai diantaranya adalah klien mengatakan bahwa kulitnya terlihat bersih dan segar.
3. Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan adanya luka operasi dan prosedur invasif (pemasangan infus). Penulis mengangkat diagnosa ini karena berdasarkan observasi dan pemeriksaan fisik tampak luka operasi pada tangan kanan dan paha kaki kanan klien yang masih terbalut dengan elastis verban. Klien Post-Op Skin Graft, dengan adanya bekas operasi memberi jalan bagi kuman patogen masuk ke dalam tubuh sehingga bisa mengakibatkan infeksi, dalam hal ini perlu mendapat perhatian dari perawat untuk melakukan tindakan keperawatan pada area kulit yang terdapat luka bekas operasi serta mengobservasi area kulit dengan melihat tanda-tanda infeksi seperti kalor, dolor, rubor maupun tumor serta memantau tanda-tanda vital klien yang secara umum perubahan tanda-tanda vital merupakan tanda terjadinya infeksi, sehingga hal ini perlu mendapat perhatian dari perawat untuk mencegah hal itu maka penulis mengangkat diagnosa ini. Rencana tindakan yang telah disusun oleh penulis tidak semua dapat dilaksanakan hal ini disesuaikan dengan kondisi klien yang baru satu hari post operasi skin graft. Tindakan yang telah dialakukan diataranya mengobservasi tanda-tanda vital (suhu tubuh) dan memberikan anti biotik sesuai dengan advice dr. David yaitu Cefotaxime 3 x 1 gram. Dari tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan diagnosa ini tidak menjadi aktual.
4. Intoleran aktifitas berhubungan dengan keterbatasan gerak, kelemahan fisik. Intoleran aktifitas adalah ketidakcukupan energi secara fisiologis atau psikologis dalam pemenuhan aktivitas sehari-hari yang dibutuhkan atau diperlukan.
Batasan karakteristik:
a) Laporan verbal: kelelahan dan kelemahan
b) Respon terhadap aktivitas menunjukkan nadi dan tekanan darah abnormal.
c) Perubahan EKG menunjukkan aritmia dan distritmia.
d) Dispnea dan ketidaknyamanan yang sangat
Faktor yang berhubungan:
a) Tirah baring atau imobilisasi
b) Kelemahan secara menyeluruh
c) Ketidakseimbangan antara kebutuhan dan suplai oksigen
d) Gaya hidup yang menetap.
Diagnosa ini penulis angkat karena pada saat pengkajian klien tidak dapat menggerakkan ekstremitas kanannya sehubungan dengan adanya fraktur pada Metakarpal IV dan V Manus Dextra dan setelah Post Operasi Skin Graft, klien juga mengeluh bahwa badannya terasa lemas semua. Rencana tindakan yang telah disusun oleh penulis dapat dilaksanakan semaksimal mungkin, tindakan yang telah dilakukan adalah mengkaji derajat/kemampuan imobilisasi, membantu dalam perawatan diri klien, seperti memandaikan klien, menganjurkan klien untuk minum sebanyak 2000-3000 cc setiap hari. Dari tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan diagnosa ini dapat teratasi hal ini sesuai dengan kriteria hasil yaitu tidak terdapat tanda-tanda infeksi, dan suhu tubuh dalam batas normal.
5. Defisit perawatan diri berhubungan dengan ketidakmampuan melakukan aktifitas sehari-hari, kelemahan fisik. Kurang perawatan diri/mandi adalah kerusakan kemampuan dalam memnuhi kebutuhan aktifitifitas mandi/kebersihan diri secara mandiri.
Batasan karakteristik:
Tidak mampu dalam:
a) Membasuh bagian atau seluruh tubuh
b) Menyediakan sumber air mandi
c) Suhu air mandi reguler
d) Mendapatkan peralatan mandi
e) Mengeringkan tubuh
f) Masuk dan keluar kamar mandi.
Faktor yang berhubungan:
a) Kurang atau penurunan motovasi
b) Lemah atau lelah
c) Cemas berat
d) Tidak mampu merasakan bagian tubuh
e) Kerusakan kognisi atau perseptual
f) Nyeri
g) Kerusakan neurovaskuler
h) Kerusakan muskuloskletal
Diagnosa ini penulis angkat karena beradasarkan pengkajian yang penulis lakukan klien mengatakan bahwa klien selama dirawat di rumah sakit klien jarang dimandikan, dalam pemenuhan kebutuhan perawatan diri klien dibantu oleh perawat dan keluarga. Klien juga mengeluh kondisinya lemah, dan terasa nyeri pada daerah pos operasi Skin Graft. Rencana tindakan yang telah disusun oleh penulis dapat dilaksanakan semaksimal mungkin, tindakan yang telah dilakukan adalah mengkaji kemampuan klien dalam perawatan diri, meningkatkan partisipasi aktif klien dan ADL sesuai batas terapeutik, membantu klien dalam perawatan diri. Dari tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan diagnosa ini dapat teratasi hal ini sesuai dengan kriteria hasil yaitu personal hygiene klien terpenuhi, klien tampak lebih segar, dan kuku klien terlihat pendek.
6. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi yang didapat. Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui; kepandaian (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2003). Pengetahuan adalah hasil dari tahu dan terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia yaitu indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2003).
Pengetahuan dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan sebagai berikut :
a) Tahu (Know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya.
b) Memahami (Comprehensio )
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui.
c) Aplikasi (Application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari.
d) Analisis (Analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau objek kedalam komponen-komponen.
e) Sintesis (Synthesis)
Sintesis menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.
f) Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi yaitu kemampuaan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek.
NANDA (2005) menjelaskan bahwa faktor-faktor yang terkait dengan kurang pengetahuan (deficient knowledge) terdiri dari: kurang terpapar informasi, kurang daya ingat/hapalan, salah menafsirkan informasi, keterbatasan kognitif, kurang minat untuk belajar dan tidak familiar terhadap sumber informasi (Nanda, 2005). Dari hal tersebut dapat disimpulkan bahwa pengetahuan/knowledge seseorang di tentukan oleh faktor-faktor sebagai berikut:
a) Keterpaparan terhadap informasi
b) Daya ingat
c) Interpretasi informasi
d) Kognitif
e) Minat belajar, dan
f) Kefamiliaran akan sumber informasi
Alasan penulis mengambil diagnosa ini karena klien sering bertanya tentang penyakitnya dan dapat dilihat lagi dari tingkat pendidikan klien yaitu SLTA dan klien juga tidak pernah mendapat informasi mengenai penyakit klien. Rencana tindakan yang telah disusun oleh penulis dapat dilaksanakan semaksimal mungkin, seperti mengkaji tingkat pemahaman klien, menjelaskan tentang proses penyakit klien, membantu klien dalam mengidentifikasi faktor-faktor resiko terjadinya penyakit. Membantu klien mengientifikasi aktifitas sesuai toleransi dengan periode istirahat. hal ini dapat diperkuat dengan pernyataan bahwa klien telah mengerti tentang kondisi kesehatannya. Dari tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan diagnosa ini dapat teratasi hal ini sesuai dengan kriteria hasil dari rencana keperawatan yaitu klien menyatakan pemahaman mengenai kondisi, prognosis dan pengobatannya.


BAB V
PENUTUP


A. Kesimpulan
Setelah penulis menguraikan beberapa hal yang menyangkut asuhan keperawatan pada klien dengan Fraktur Communitif Metakarpal IV dan V Manus Dextra di ruang Cempaka RSUD A.W Sjahranie Samarinda dari tanggal 21 Juli 2009 sampai dengan 23 Juli 2009 serta membahas permasalahan yang ada selama melaksanakan asuhan keperawatan dan menyimpulkan berdasarkan uraian dari bab-bab terdahulu, penulis mengambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1. Pada saat dilakukan pengkajian baik aspek bio, psiko, sosial dan spiritual perlu adanya beberapa tehnik yaitu observasi, wawancara, pemeriksaan fisik, dan pengambilan data penunjang sehingga didapatkan status kesehatan klien atau permasalahan dan kesehatan klien.
2. Diagnosa keperawatan yang ditegakkan pada klien Tn.N dengan Fraktur Communitif Metakarpal IV dan V Manus Dextra terdapat tiga diagnosa yang tidak muncul antara lain: Resiko terjadi trauma berhubungan dengan kehilangan integritas tulang (fraktur), resiko terjadi disfungsi neuromusculer periferal berhubungan dengan trauma jaringan, oedema yang berlebihan, adanya trombus, hipovolemia, terhambatnya aliran darah, resiko terjadi gangguan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan peredaran darah / emboli lemak, perubahan membran alveo¬lar / capiler. hal ini dikarenakan pada saat melakukan pengkajian penulis tidak menemukan data-data yang dapat mendukung diagnosa tersebut.
3. Perencanaan tindakan keperawatan pada klien Tn.N dengan Fraktur Communitif Metakarpal IV dan V Manus Dextra, secara spesifik dapat diukur, melibatkan tujuan, dapat dicapai, dapat pertanggung jawabkan dan ada kriteria waktu.
4. Semua rencana tindakan pada klien Tn.N dengan Fraktur Communitif Metakarpal IV dan V Manus Dextra, dapat di implementasikan, hal ini didukung oleh faktor-faktor yang ada pada klien dan rumah sakit serta klien berpartisifasi aktif dalam tindakan keperawatan, serta tangggapan yang baik dari dokter dan perawat ruangan terhadap penulis bila menanyakan hal-hal yang berhubungan dengan klien.
5. Evaluasi keperawatan pada klien Tn.N dengan Fraktur Communitif Metakarpal IV dan V Manus Dextra, dilakukan secara formatif yaitu, mengevaluasi setelah melakukan tindakan dan evaluasi secara sumatif dengan SOAP.
B. Saran
Berdasarkan kesimpulan diatas, maka penulis memberikan saran sebagai berikut :
1. Hendaknya dalam melakukan pengkajian secara komprehensif baik dari aspek bio-psiko-sosial dan spritual. Untuk dapat melakukan pengkajian secara komprehensif diperlukan tentang konsep teori dan kemampuan dalam pemeriksaan klinis pada kasus tersebut. Adanya kerjasama dengan tim kesehatan lain (dokter, petugas laboratorium, ahli gizi, dan lainnya) diharapkan memiliki kemampuan dalam menganalisa sehingga didapatkan diagnose yang benar-benar valid.
2. Dalam merumuskan diagnosa keperawatan, perawat hendaknya menyesuiakan dengan data yang diperoleh dari hasil pengkajian. Pengkajian yang dilakukan secara komprehensif dan valid sangat menentukan dalam merumuskan diagnosa. Penentuan prioritas masalah hendaknya disesuiakan dengan kebutuhan klien saat itu. Kurang pengetahuan dapat dipertimbangkan dalam penentuan masalah keperawatan.
3. Dalam merumuskan rencana keperawatan hendaknya sesuai dengan diagnosa yang telah ditemukan dan mengacu pada teori-teori yang ada hubunganya dengan masalah yang sedang dihadapi klien. Dalam penyusunan rencana tindakan hendaknya perawat melibatkan klien dan keluarga, sehingga dapat memaksimalkan kemampuan klien dan keluarga dalam melakukan perawatan.
4. Dalam melakukan tindakan asuhan keperawatan perawat hendaknya perawat selalu melibatkan klien dan keluarganya. Pemberian pendidikan kesehatan mengenai perawatan dirumah kepada klien dan keluarga dengan Fraktur Communitif Metakarpal IV dan V Manus Dextra sangat diperlukan.
5. Evaluasi dibuat sesuai dengan perkembangan kondisi klien. Evaluasi hendaknya dilakukan secara berkelanjutan untuk mengetahui perkembangan dan kondisi klien. Dalam melakukan evaluasi sebaiknya dilakukan bersama-sama dengan klien dan keluarga, sehingga klien dan keluarga dapat mengetahui pencapaian yang telah diperoleh dari pelaksanaan asuhan keperawatan.
6. Pendokumentasian tindakan keperawatan hendaknya dilakukan secara berkesinambungan, sehingga kondisi dan perkembangan klien dapat dipantau setiap hari. Perawat hendaknya melakukan pendokumentasian setelah melakukan tindakan keperawatan, karena pendokumentasian merupakan aspek legal yang dapat melindungi perawat dari tindakan mal praktik.

Quick Blog

Ada kesalahan di dalam gadget ini