TIDAK PERLU KELILING DUNIA

WELCOME TO THE NURSE ASRAMA

keperawatan

Sabtu, 25 April 2009

Anfis Sistem Urinaria

Anatomi dan Fisiologi Sistem Urinaria


A. Pengertian
Sistem urinaria adalah suatu sistem dimana terjadinya proses penyaringan darah sehingga darah bebas dari zat-zat yang tidak dipergunakan oleh tubuh dan menyerap zat-zat yang masih dipergunakan oleh tubuh.
Sistem urinaria terdiri atas beberapa organ yaitu : Ginjal, Ureter, Vesika Urinaria (Kandung Kemih) dan Uretra.

B. Organ-organ dalam sistem urinaria


Gambar susunan umum ginjal dan sistem urinaria

1. Ginjal
Masing-masing ginjal mempuyai panjang kira-kira 12 cm dan lebar 2,5 cm pada bagian paling tebal. Ginjal terletak di bagian belakang abdomen. Ginjal kanan terletak lebih rendah dari ginjal kiri karena ada hepar di sisi kanan.
Ginjal berbentuk seperti biji kacang dan permukaan medialnya yang cekung disebut hilus renal yaitu tempat masuk dan keluarnya saluran seperti pembuluh darah, pembuluh getah bening, saraf dan ureter.
Bila ginjal dibelah dua, secara longitudinal (memanjang) dapat terlihat tiga bagian penting, yaitu korteks, medula dan pelvis renis. Bagian yang paling superfisial adalah korteks renal yang tempak bergranula. Sebelah dalamnya terdapat bagian lebih gelap yaitu medula ranal yang terdiri dari bangunan-bangunan berbentuk kerucut yang disebut renal piramid, dengan dasarnya menghadap korteks dan puncaknya disebut apeks atau papula renis, mengarah kebagian dalam ginjal. Satu piramid dengan jaringan korteks yang disebut lobus ginjal.

Gambar irisan ginjal manusia menunjukkan pembuluh utama yang menyuplai aliran darah ke ginjal dan skema mikrosirkulasi dari setiap nefron

Diantara piramid terdapat jaringan korteks yang disebut kolumna renal. Ginjal terdiri atas satuan-satuan fungsionalnya yang disebut nefron yang berjumlah lebih dari 1 juta setiap ginjalnya.
- Nefron adalah tempat pembentukan urine awal. Setiap nefron terdiri dari komponen vaskuler dan tuberkuler. Komponen vaskuler terdiri atas pembuluh-pembuluh darah yaitu glomerulus dan kapiler pestibular, yang mengitari tubuli. Komponen tubular berwal dengan kapsula bowmen (glomerular) dan mencakup tubuli kontortus proksimal, ansa henle dan tubuli kontortus distal. Dari tubuli distal, isinya disalurkan ke dalam duktus koligens (saluran penampung atau pengumpul).
- Kapsula bowmen (Glomerular)
Terdir dari lapisan parietal (luar) dan lapis viseral (langsung membungkus kapiler glomerulus). Sel-sel parietal itu gepeng, namun sel-sel lapis viseral besar-besar, dengan banyak juluran mirip jari-jari disebut sek berkaki (podosit). Juluran-juluran mirip jari-jari ini disebut pedikel-pedikel dan memeluk kapiler secara teratur, sehingga celah-celah diantara pedikel itu sangat teratur dan merupakan yang disebut celah-celah pori filtrasi kapsul bowen bersama glomerulus disebut korpus renal.

Gambar bagian dasar tubulus nefron

Ginjal mempunyai beberapa fungsi sebagai berikut :
1. Fungsi ginjal dalam pengaturan tekanan darah
Pengaturan tekanan darah oleh ginjal dikendalikan oleh sistem renin-angiotansin aldosteron (ADH). Renin adalah hormon yang dikeluarkan oleh juxtaglomerular apparatus (yang berhubungan dengan glomerulus) sebagai respon terhadap berkurangnya sodium, atau terhadap stimulasi saraf ginjal melalui jalur simpati. Angiotensin yang dihasilkan oleh hati diktifkan oleh angiotensin I pada waktu terdapatnya renin. Enzim pada paru-paru mengubah angiotensin I menjadi bahan aktif, angiotensin II. Angiotensin II merupakan vasokontriksi yang sangat kuat yang juga merangsang dikeluarkannya aldesteron oleh kelenjar adrenal. Aldosteron meningkatkan reabsorbsi sodium oleh ginjal, air mengikuti sodium, berdampak peningkatan volume darah (lihat bagan 1).
GRF yang terendah terlihat pada penyakit ginjal (seperti glomerulonefritis, nephropatic, syndrome, penyakit polycitic, trauma renal, kegagalan ginjal) biasanya dapat menyebabkan hipotensi akibatnya dapat menghasilkan sistem renin-angiotensin-aldosteron.
2. Fungsi ginjal dalam pengaturan cairan dan elektrolit
Ginjal mempunyai fungsi pengendalian cairan elektrolit yaitu mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit yang tepat dalam batas ekresi yang normal, dalam batas sekresi dan reabsorbsi.
Jika bukan adanya sistem konservasi dari ginjal, orang yang akan kehabisan cairan dan garam dalam waktu 3-4 menit tubulus yang berbelok-belok proksimal mengabsorbsi 85-90 % air pada ultra filter. 80 % dari sodium yang telah difilter dan terbanyak potasium yang telah difilter, bikarbonat, klorida, fosfat, glukosa dan protein.
Mekanisme tambahan pada ginjal memungkinkan urine menjadi lebih pekat, sampai 1 % dibanding volume yang setiap harinya difilter. Ginjal dapat mengatur jumlah cairan yang diekresikan dengan tepat sehingga intake dibawah yang diperlukan untuk keseimbangan cairan normal melalui peningkatan konsentrasi urine.
Mekanisme yang berperan untuk peningkatan konsentrasi urine dan ketepatan mengekresikan volume urine yang tepat terdapat pada tubulus henle mencapai bagian medula dari ginjal yang tinggi hipertonisnya dalam perbandingan dengan filtrasi. Pada bagian tubulus henle yang asenden sodiuem direabsorbsi ke interstitium, tapi tubulus tidak permiabele untuk penggeseran air baik masuk atau keluar dari tubulus. Regulasi komposisi elektrolit tubuh yang tepat terjadi pada segmen tubulus distal, tergantung pada konsentrai elektrolit yang tersedia untuk sel-sel tubulus pada urine promotif dan konsentrasi bahan-bahan itu pada interstitium, sel-sel tubulus mengekresikan atau terus mereabsorbsi elektrolit ke urine (lihat bagan 2).

3. Fungsi ginjal dalam pengaturan asam basa
Ginjal turut mengatur asam basa bersama dengan sistem dapar paru dan cairan tubuh dengan mengekresikan asam dan mengatur penyimpanan dapar cairan tubuh. Ginjal merupakan satu-satunya organ untuk membuang tipe-tipe asam tertentu dari tubuh yang dihasilkan oleh metabolisme protein, seperti asam sulfat dan fosfat. Pengaturan keseimbangan asam basa dihasilkan oleh ginjal melalui regenerasi atau ekresi ion bikarbonat pada tubulus proksimal. Pada keadaan asidosis baik karena metabolik (bila fungsi ginjal tidak terganggu) atau respiratori gnjal mengekresi ion hidrogen dan mengkonservasi ion-ion bikarbonat. Pada waktu alkalosis terjadi efek yang sebaliknya yaitu konservasi ion-ion hidrogen (lihat bagan 3).
Pengaturan Konsentrai Ion Hidrogen Oleh Ginjal
Ginjal mengatur konsentrasi ion hidrogen terutama dengan meningkatkan atau menurunkan konsentrasi ion bikarbonat di dalam cairan tubuh.
- Sekresi ion hidrogen oleh tubulus
Sel epitel tubulus proksimal, tubulus distal, ubulus kongens, semuanya mengekresi ion hidrogen ke dalam cairan tubulus. Proses sekresi mulai dari karbondioksida di dalam sel epitel tubulus dibawah pengaruh suatu enzim (karbonat ahidrase) bergabung dengan air untuk membentuk asam karbonat dan kemudian berdisosiasi menjadi ion bikarbonat dn ion hidrogen. Kemudian ion hidrogen disekresikan dengan transpor aktif melalui batas lumen membran sel ke dalam tubulus. Di dalam kongens sekresi ion hidrogen dapat terus berlangsung sampai konsentrai ion hidrogen di dalam tubulus menjadi 900 kali di dalam cairan ekstra sel atau dengan kata lain sampai ph cairan tubulus turun menjadi kira-kira 4,5 yang menunjukkan batas kemampuan epitel tubulus untuk mengekresikan ion hidrogen.
- Pengaturan sekresi ion hidrogen oleh konsentrasi karbondioksida dalam cairan ekstra sel
Reaksi kimia untuk sekresi ion hidrogen dimulai dengan karbondioksida oleh karena itu faktor apapun yang meningkatkn konsentrasi karbondioksida dalam cairan ekstra sel, juga meningkatkan sekresi ion hidrogen. Pada konsentrasi normal kecepatan kecepatan sekresi ion hidrogen adalah kira-kira 3,5 milimol/menit.
- Interaksi ion bikarbonat dengan ion hidrogen dalam tubulus “reabsorbsi” ion bikarbonat.
- Kecepatan normal filtrasi ion bikarbonat dan sekresi ion hidrogen ke dalam tubulus filtras ion bikarbonat terhadap ion hidrogen.

4. Fungsi ginjal dalam pembentukan sel darah merah
Produksi atau eritrosit dikendalikan oleh ginjal. Eritroprotoen adalah hormon yang dikeluarkan oleh ginjal. Eritroprotoen merangsang sum-sum tulang untuk menghasilkan sel darah merah.
Dari percobaan-percobaan diduga bahwa eritroprotoen ini mungkin dibantu oleh sel-sel juxtaglomelar, sel-sel yang terletak di dalam dinding pembuluh-pembuluh arterial dekat dengan glomerulus (lihat bagan 4).



Bagan 1. Fungsi ginjal dalam pengaturan tekanan darah

GRF menurun

Suplai O2 di ginjal menurun (hipoksia)

Aparatus jugstaglomerolus
akan melepaskan Renin Release

Hati memproduksi Angiotensin I
masuk ke sirkulasi

Paru-paru melaparkan Angiotensin I
efeknya


Meningkatkan tahanan kapiler paru

Beban kerja jantung meningkat

Tekanan darah meningkat Pelepasan Aldosteron
(dari suprarenal)

Reabsorbsi Na+ dan air

Volume plasma menngkat

Beban jantung meningkat

Tekanan darah meningkat







Bagan 2. Fungsi ginjal dalam pengaturan cairan dan elektrolit
Filtrasi cairan

Direabsorbsi di tubulus

Jumlah Na + Cl

Volume cairan ekstra sel

Mekanisme ADH

Rasa haus bekerja

Tekanan arteriol renal menurun

Merangsang renin

Angiotensin

Aldosteron

Reabsorbsi Na + Cl

Osmolaritas konsentrasi
dipertahankan (konstan)












Bagan 3. Fungsi ginjal dalam pengaturan asam basa

Untuk menjaga keseimbangan Ph

Bekerjasama dengan enzim karbonat dehidrase

CO2 keluar dari sel epitel tubulus

CO2 + H2O (bereaksi)

H2O3

Berdisiosasi menjadi
H+ + HCO3-

Asidosis

Reabsorbsi HCO3- oleh tubulus
sekresi H+ normal

Konsentrasi H+ normal
Alkalosis

Reabsorbsi H+
sekresi HCO3-

Konsentrasi HCO3-

Normal










Bagan 4. Fungsi ginjal dalam pembentukan sel darah merah

Ginjal

Hormon eritropotoen

Eritroblas dari sel-sel sistem hemapoetik
di sumsum tulang


proeritroblas
(sel darah merah)

Pematangan
sel-sel darah merah

Fungsi lain dari ginjal adalah sebagai filtrasi, reabsorbsi/absorbsi, sekresi dan ekresi seperti dalam pembentukan urine ginjal berperan penting.

2. Ureter
Ureter muncul sebagai perpanjangan dari pelvis renalis yang bermuara ke kandung kemih pada suatu daerah tribone. Air kemih disekresikan oleh ginjal dialirkan ke vesika urinaria (kandung kemih melalui ureter).
Ureter terdiri dari 2 saluran pipa masing-masing bersambung melalui ginjal ke kandung kemih (vesika urinaria) panjangnya kira-kira 25-30 cm dengan penampang + 0,5 cm. Ureter sebagian terletak dalam rongga abdomen dan sebagian terletak dalam rongga pelvis. Dinding ureter terdiri atas tiga lapisan yaitu lapisan mukosa, otot polos dan jaringan fibrosa.
Fungsi ureter : menyalurkan urine dari ginjal ke kandung kemih. Dimana yang berperan adalah dinding ureter, kerena pada lapisan dinding ureter menimbulkan gerakan-gerakan peristaltik dalam 5 menit sekali yang akan mendorong air kemih masuk ke dalam kandung kemih.

3. Vesika Urinaria
Kendung kemih terletak dibelakang simpisis pubis merupakan penampung urine. Selaput mukosa berbentuk lipatan yang disebut rugae (kerutan) yang disertai dengan dinding otot yang elastis dapat mencembungkan kandung kemih yang sangat besar dan menampung jumlah urine yang banyak. Kandung kemih mendapat inervasi baik dari sistem simpatik parasimpatik sedang ureter hanya mendapat serabut dari sistem saraf simpatik.
Kandung kemih berbentuk seperti kerucut. Bagian-bagiannya ialah verteks, fundus dan korpus. Bagian verteks adalah bagian yang meruncing kearah depen dan berhubungan dengan ligamentum vesika umbilikus medius. Bagian fundus merupakan bagian yang menghadap kearah belakang dan bawah. Bagian korpus berada diantara verteks dan fundus. Bagian fundus terpisah dari rektum oleh spasium rektovesikula yang terisi oleh jaringan ikat, duktus deferens, vesikula seminalis. Dinding kandung kemih terdiri dari tiga lapis otot polos dan selapis mukosa yang berlipat-lipat. Pada dinding belakang lapisan mukosa, terlihat bagian yang tidak berlipat daerah ini disebut trigonum liestaudi.

4. Uretra
Uretra merupakan saluran sempit yang berpangkal pada kandung kemih yang berfungsi menyalurkan air kemih keluar dan juga untuk menyalurkan air kemih keluar dan juga untuk menyalurkan semen. Pada laki-laki uretra berkelok-kelok, menembus prostat, kemudian melewati tulang pubis, selanjutnya menuju penis. Oleh karena itu pada laki-laki uretra dibagi menjadi 3 bagian, yaitu pars proetalika, pars membranosa dan pars kavermosa. Muara uretra kearah dunia luar disebut meatus.
Pada perempuan, uretra terletak di belakang simfisis pubis, berjalan miring, sedikit keatas, panjangnya + 3-4 cm. Lapisan uretra wanita terdiri dari tunika muskularis (sebelah luar), lapisan spongeosa yang merupakan fleksus dari vena-vena dan lapisan mukosa (lapisan sebelah dalam). Muara uretra pada perempuan terletak disebelah atas vagina, antara klitoris dan vagina. Uretra pada perempuan hanya berfungsi sebagai saluran saluran ekskretori.

C. Mekanisme pembentukan urine
Proses pembentukan urine diawali dengan masuknya darah melalui vas aferen ke dalam glomerolus dan keluar melalui vas aferent. Bagian yang menyerupai bentuk batang yang terdiri dari tubulus konturtus proksimal, ansa henle, tubulus kontortus distal, tubulus koligentis.
Pada bagian-bagian batang ini terjad proses sebagai berikut :
- Filtrasi
Proses filtrasi terjadi pada glomerolus karena permukaan aferen lebih besar dari pada permukaan eferen. Ha ini dapat mengakibatkan terjadinya penyaringan darah. Pada proses ini yang tersaring adalah bagian cair dari darah kecuali protein. Selanjutnya cairan tersebut seperti air, glukosa, natrium, korida, sulfat dan bikarbonat. Ditampung oleh simpai gowmen yang selanjutnya diteruskan ke tubulus-tubulus ginjal. Yang berperan dalam penyaringan molekul-molekul di atas adalah tekanan hidrostatik (TH) dan tekanan osmotik (TO).
Laju dimana filtrat dibentuk disebut laju filtrasi glomerulus (LFG). Pada orang sehat jumlah pembentukan filtrat permenit adalah 125 ml. Faktor klinis utama yang mempengaruhi LFG adalah TH darah dan TO filtrat. Karena pengaruh TH terhadap LFG, ginjal sudah lama diduga mempunyai fungsi homeostatis tekanan darah sistemik. Kita tahu bahwa LFG relatif stabil karena arteri aferan menyesuaikan diameternya sebagai respon terhadap tekanan darah yang datang kedalamnya.
- Reabsorbsi
Proses reabsorbsi terjadi pada tubulus-tubulus ginjal. Disini terjadi penyerapan kembali dari sebagian air, glukosa, natrium, klorda, sulfat bikarbonat dan beberapa ion bikarbonat. Pada tubulus ginjal bagian atas terjadi proses pasif (reabsorbsi obligatori), sedangkan pada tubulus ginjal bawah terjadi proses aktif (fakultatif) yang menyerap kembali natrium dan ion bikarbonat bila diperlukan.
- Sekresi
Sisa penyerapan/hasil reabsorbsi akan dialirkan ke piala ginjal (pelvis renalis) selanjutnya ke papila renalis.

D. Mekanisme Miksi / BAK
Fisiologi miksi dan dasar fisiologi kelainan pada proses berkemih ini masih banyak menimbulkan ketidakpastian. Berkemih pada dasarnya merupakan refleks spinal yang akan difasilitasi dan dihambat oleh pusat-pusat susunan saraf yang lebih tinggi, seperti defekasi, kasilitasi dan inhibisi bersifat volunter.
Urine yang memasuki vesika tidak begitu meningkatkan tekanan intravesika sampai telah terisi penuh. Selain itu, sepert juga jenis otot polos lainnya otot vesika memiliki sifat plastis, bila diregang ketegangan yang mula-mula timbul tidak akan dipertahankan. Hubungan anatara takanan intravesilukar dan volume vesikula dapat dipelajari dengan catatan tekanan saat vesika diisi oleh air atau udara dengan penambahan 50 ml setiap kali (sistometri).
Selama proses berkemih, otot-otot perineum dan spingter uretra eksterna relaksasi. Otot detrussor berkontraksi dan urine akan mengalir melalui uretra. Susunan otot polos pada kedua uretra ternyata tidak memegang peran pada proses berkemih dan fungsinya yang utama mungkin untuk mencegah refluks semen kedalam vesika selama ejakulasi.
Mekanisme awal yang menimbulkan proses miksi volunter belum diketahui dengan pasti. Salah satu peristiwa awal ialah relaksasi otot-otot dasar panggul dan hal tu mungkin menimbulkan tarikan ke bawah yang cukup besar pada otot detrusor untuk merangsang kontraksi. Kontraksi otot-otot perinium dan spingter eksterna dapat dilakukan secara volunter, sehingga mencegah urine untuk mengalir melewati uretra atau menghentikan aliran urine saat sedang berkemih. Melalui proses belajar seorang dewasa dapat mempertahankan kontraksi spingter eksterna sehingga mampu menunda berkemih sampai saat yang tepat. Setelah berkemih, urine di uretra wanita akan dikeluarkan oleh pengaruh gravitasi urine sisa di uretra pria dikeluarkan oleh beberapa kontraksi m. bulbokarerhosa.

E. Persyarafan Kandung Kemih
Persarafan utama kandung kemih ialah nervus pelvikus yang berhubungan dengan medula spinalis melalui fleksus sakralis, terutama berhubungan dengan medula spinalis segmen S2 dan S3. berjalan melalui nervus peptikus ini adalah serat saraf sensorik dan serat saraf motorik.
Saraf motorik yang menjalar dalam nervus pelvikus adalah saraf parasimpatis. Serat ini erakhir pada sel ganglion yang terletak dalam dinding kandung kemih. Saraf post ganglion pendek kemudian mempersarafi otot detrusor.
Selain nervus pelvikus, terdapat dua tipe persarafan lain yang penting untuk fungsi kandung kemih. Yang terpenting adalah serat otot lurik yang berjalan melalui nervus pudiental menuju spingter eksternus kandung kemih. Ini adalah serat saraf somatik yang mempersarafi dan mengontrol otot lurik pada spingter. Juga, kandung kemih menerima saraf simpatis dari pangkalan simpatis melalui nervus, hipogastrikus, terutama berhubungan dengan segmen L2 medula spinalis. Serat saraf simpatis ini mungkin terutama merangsang pembuluh darah dan sedikit mempengaruhi kontraksi kandung kemih.

Gambar kandung kemih dan persarafannya


F. Transpor urine dari ginjal melalui ureter dan masuk ke dalam kandung kemih
Urine yang keluar dari kandung kemih mempunayi komposisi utama yang sama dengan cairan yang keluar dari duktus koligentis, tidak ada perubahan yang berarti pada komposisi urine tersebut sejak mengalir melalui kaliks renalis dan ureter sampai kandung kemih.
Urine mengalir dari duktus koligentis masuk ke kaliks, meregangkan kaliks dan meningkatkan aktivitas peristaltik yang menyebar ke pelvis renalis dan kemudian turun sepanjang ureter, dengan demikian mendorong urine dari pelvis renalis dan kemudian turun sepanjang ureter, dengan demikian mendorong urine dari pelvis renalis kearah kandung kemih. Dinding ureter terdiri dari otot polos dan dipersarafi oleh saraf simpatis dan parasimpatis seperti juga neuron-neuron pada fleksus intramural dan serat saraf yang meluas di sepanjang ureter. Seperti halnya otot polos pada organ viscera yang lain, kontraksi peristaltik pada ureter ditingkatkan oleh perangsangan para simpatis dan dihambat uleh perangsangan simpatis.
Ureter memasuki kandung kemih menembus otot detrusor di daerah trigonom kandung kemih. Normalnya ureter berjalan secara oblique sepanjang beberapa centimeter menembus dinding kandung kemih. Tonus normal dari otot detrusor pada dinding kendung kemih cenderung menekan ureter, dengan demikian mencegah aliran balik urine dari kandung kemih meningkat selama berkemih atau sewaktu terjadi kompresi kandung kemih. Setiap gelombang peristaltik yang terjadi di ureter sehingga bagian yang menembus dinding kandung kemih membuka dan kesempatan urine mengalir ke dalam kandung kemih.

G. Refleks Berkemih
Selam kandung kemih terisi, banyak yang menyertai kontraksi berkemih mulai tampak seperti yang diperlihatkan oleh gelombang tajan dengan garis putus-putus. Keadaan ini disebabkan oleh reflek peregangan yang dimulai oleh resertor regang sensorik pada dinding kandung kemih. Khususnya oleh reseptor pada uretra posterior, ketika daerah ini terisi urine pada tekanan kandung kemih yang lebih tinggi. Sinyal sensori dari reseptor regangan kandung kemih dihantarkan ke segment sakral medula spinalis melalui nervus pelvikus ddan kemudian secara reflek kembali kandung kemih melalui sistem saraf parasimpatis melalui saraf yang sama.
Ketika kadung kemih hanya terisi sebagian, kontraksi berkemih ini biasanya secara spontan berelaksasi setelah beberapa detik, otot detruson berhenti berkontraksi dan tekanan turun kembali ke garis basal karena kandung kemih menjadi bertambah sering dan menyebabkan kontraksi otot detrusos lebih kuat.
Sekali refleks berkemih mulai timbul, reflek ini akan “menghilang sendiri”. Artinya kontraksi awal kandung kemih selanjutnya akan mengaktifkan reseptor regangan untuk menyebabkan peningkatan selanjutnya pada impuls sensorik ke kandung kemih dan uretra posterior, yang menimbulkan peningkatan reflek kontraksi kandung kemih lebih lanjut; jadi, siklus ini berulang dan berulang lagi sampai kandung kemih mencapai kontraksi yang kuat. Kemudian, setelah beberapa detik sampai lebih dari semenit, reflek yang menghilang sendiri ini mulai melemah dan siklus regeneratif dari refleks miksi itu berhenti, menyebabkan kandung kemih berelaksasi.
Jadi, rekleks berkemih adalah suatu siklus tunggal lengkap dari (1) peningkatan tekanan yang cepat dan progresif, (2) periode tekanan dipertahankan, dan (3) kembalinya tekanan ke tonus basal kandung kemih.
Sekali refleks berkemih terjadi tetapi tidak berhasil mengosongkan kandung kemih, elemen saraf dari reflek ini biasanya tetap dalam keadaan terinhibisi selama beberapa menit sampai satu jam atau lebih sebelum refleks berkemih lainnya terjadi. Karena kandung kemih menjadi semakin terisi, refleks berkemih menjadi semakin sering dan semakin kuat.
Sekali refleks berkemih menjadi cukup kuat, hal ini juga menimbulkan refleks lain, yang berjalan melalui nervus pudendalke sfingter eksternus untuk menghambatnya. Jika inhibisi ini lebih kuat dalam otak dari pada sinyal konstriktor volunter ke sfingter eksterna, berkemihpun akan terjadi. Jika tidak, bekemih tidak akan terjadi sampai kandung kemuh menjadi kuat.


H. Perangsangan atau penghambatan bekemih oleh otak
Refleks berkemih adalah refleks medula spinalis yang seluruhnya bersifat autonomi, tetapi dapat dihambat atau dirangsang oleh pusat dalam otak. Pusat-pusat ini antara lain (1) pusat perangsang dan penghamabt kuat dalam batang otak, terutama terletak di pons, dan (2) beberapa pusat yang terletak di korteks serebral yang terutama bekerja sebagai penghambat tetapidpt menjadi perangsang.
Refleks berkemih merupakan dasar penyakit penyebab terjadinya berkemih, tetapi pusat yang lebih tinggi normalnya memegang peranan sebagai pengendali akhir dari berkemih sebagai berikut :
1. Pusat yang lebih tinggi menjaga secara parsial pengamatan refleks berkemih kecuali jika peristiwa berkemih yang dikehendaki.
2. Pusat yang lebih tinggi dapat mencegah berkemih, bahkan jika refleks berkemih timbul, dengan membuat kontraksi tonik terus menurus pada sfingter eksternus kandung kemih sampai mendapatkan waktu yang tepat untuk berkemih.
3. Jika tiba waktu untuk berkemih, pusat kortikal dapat merangsang pucat bermih sakral untuk membantu mencetuskan refleks berkemih dan dalam waktu bersamaan menghambat sfingter eksternus kandung kemih sehingga peristiwa berkemih dapat terjadi.
Berkemih di bawah keinginan biasanya tercetus dengan cara derikut: Pertama, seseorang secara sadar mengkontraksikan otot-otot abdomennya, yang meningkatkan tekanan dalam kandung kemih dan mengakibatkan urine ekstra memasuki leher kandung kemih dan uretra posterior di bawah tekanan, sehingga meregangkan dindingnya. Hal ini menstimulasi reseptor regang, yang merangsang refleks berkemih dan menghambat sfingter eksternus uretra secara simultan. Biasanya, seluruh urine akan keluar, terkadang lebih dari 5 sampai 10 mililiter urine tertinggal di kandung kemih.




Kandung kemih terisi

Terjadi rangsangan pada reseptor
regang sensoris pada dinding kandung kemih
terutama pada reseptor uretra poaterior


Rangsangan diteruskan oleh
nervus pelvikus

Segmen sakral medula spinalis

Serat saraf parasimpatis

Rangsangan kembali ke kandung kemih

Kontraksi berkemih

Refleks berkemih
Refleks berkemih

Menimbulkan refleks lain melalui nervus pudendal
ke sfingter eksternus


Jika inhibisi jauh lebih kuat dalam otak
dari pada sinyal konstriktor volunter ke sfingter eksternus


Berkemih pun terjadi











BAB III
PENUTUP


Kesimpulan
Sistem urinaria adalah sustu sistem dimana terjadi proses penyaringan darah sehingga darah bebas dari zat-zat yang dipergunakan oleh tubuh dan menyerap zat-zat yang masih dipergunakan oleh tubuh, yang terdiri atas beberapa organ dengan masing-masing fungsinya :
1. Ginjal
Fungsi ginjal adalah sebagai mempertahankan volume dan komposisi cairan ekstrasel dalam batas-batas normal, komposisi dan volume cairan ekstrasel ini dikontrol oleh glomerulus mengabsorbsi dan sekresi tubulus.
Ginjal terletak di bagian belakang abdomen.
2. Ureter
Ureter terdiri dari 2 saluran pipa masing-masing bersambung melalui ginjal ke kandung kemih (vesika urinaria) panjangnya kira-kira 25-30 cm dengan penampang + 0,5 cm. Ureter sebagian terletak dalam rongga abdomen dan sebagian terletak dalam rongga pelvis.
Fungsi ureter : menyalurkan urine dari ginjal ke kandung kemih.
3. Vesika Urinaria
Terletak dibelakang simpisis pubis merupakan penampung urine, berbentuk seperti kerucut. Bagian-bagiannya ialah verteks, fundus dan korpus. Vesika urinaria berfungsi sebagai tempat menampung jumlah urine dari ureter.
4. Uretra
saluran sempit yang berpangkal pada kandung kemih yang berfungsi menyalurkan air kemih keluar dan juga untuk menyalurkan air kemih keluar dan juga untuk menyalurkan semen pada laki-laki.




Mekanisme Miksi atau BAK
Distensi kandung kemih, oleh air kemih akan merangsang stress reseptors yang terdapat pada dinding kandung kemih dengan jumlah + 250 cc sudah cukup untuk merangsang berkemih (proses miksi). Akibatnya akan terjadi reflek kontriksi dinding kandung kemih dan pada saat yang sama terjadi relaksasi sfingter internus, segera diikuti oleh reaksi sfingter eksternus, akhirnya terjadi pengosongan kandung kemih.

























DAFTAR PUSTAKA


Ganong W.F. Fisologi Kedokteran, Edisi 10. 1998. ECG : Jakarta.
B.AC. Sysifuddin Drs. Anatomi dan Fisiologi Untuk Siswa Perawat. 1992. ECG : Jakarta.
Gallo dan Hudak. Keperawatan Kritis Edisi VI, Volume I. 1996. Jakarta.
SKp Susanto, H. Fitri dan Harnowo Sapto dari. Keperawatan Medikal Bedah Untuk Akademi Keperawatan. Widya Medika, 2002. Jakarta.
Lorraine dan Sylvia. Patofisologi Vol. 2. 1994. ECG : Jakarta.
Hall dan Guyton. Fisiologi Kedokteran Edisi 9. 1996. ECG : Jakarta.

Anfis Endokrin

BAB I
P E N D A H U L U A N


A. Latar Belakang
Kesehatan pada dasarnya merupakan masalah yang sangat penting dan paling berharga pada semua segi kehidupan manusia. Untuk mencapai tujuan pembangunan kesehatan diperlukan adanya upaya kesehatan yang menyeluruh,terpadu, merata dan dapat diterima serta dijangkau oleh seluruh masyarakat. Di Indonesia pemerintah telah mencanangkan program “ Indonesia sehat 2010 “. Pembangunan kesehatan di lakukan dengan memberikan prioritas pada upaya peningkatan (promotif), pencegahan (preventif), penyembuhan (kuratif) dan pemulihan (rehabilitatif).
Untuk melakukan upaya pencegahan penyakit perawat haruslah mengetahui tentang anatomi dan fisiologi sistem organ pada manusia. Salah stunya adalah tentang anatomi dan fisiologi sistem Endokrin.
Kelenjar endokrin merupakansekelompok susunan sel yang mempunyai susunan mikroskopis sangat sederhana, kelenjar ini tidak mempunyai saluran keluar dan mencurahkan sekresinya lengsung ke sirkulasi darah. Sistem endokrin merupakan kelenjar hipotise, kelenjar tiroid, kelenjar paratiroid, kelenjar adrenal (suprarenal), kelenjar pancreas, kelenjar gonad (kelamin), kelenjar timus dan kelenjar pineal.

B. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini terbagi menjadi dua yaitu :
a. Tujuan umum
Untuk memperdalam pengetahuan, gambaran tentang anatomi dan fisiologi sistem Endokrin.
b. Tujuan khusus
Di harapkan :
1. Dapat mengetahui anatomi sistem endokrin dan fisiologinya.
2. Dapat mengetahui peran dan fungsi hormon.
3. Dapat mengetahui karekteristik dari hormon.

C. Sistematika Penulisan
Makalah ini terdiri atas tiga BAB yang pembahasannya disusun secara sistematis, digunakan sebagai berikut :
BAB I. Pendahuluan
A. Latar belakang
B. Tujuan penulisan
C. Sistematika penulisan
BAB II. Tinjauan teoritis “ Anatomi Fisiologi Sistem Endokrin “
1. Struktur
2. Hormon dan fungsinya
3. Karekteristik
BAB III. Penutup
Rangkuman

















BAB II
TINJAUAN TEORITIS


A. Anatomi Dan Fisiologi Sistem Endokrin
Fungsi tubuh diatur oleh dua sistem pengatur utama yaitu, sistem syaraf dan sistem hormonal atau sistem endokrin. Kedua sistem ini bersama-sama bekerja untuk mempertahankan homeostasis tubuh. Fungsi mereka satu sama lain saling berhubungan, namun dapat dibedakan dengan karekteristik tertentu. Misalnya medulla adrenal dan kelenjar hipofise posterior yang mempunyai asal dari syaraf (neural). Jika kedusnya dihancurkan atau diangkat maka fungsi dari kedua kelenjar ini sebagian diambil oleh sistem syaraf.
Bila sistem endokrin umumnya bekerja melalui hormon, maka sistem syaraf bekerja melalui neotransmitter yang dihasilkan oleh ujung-ujung syaraf. Sistem hormonal terutama berhubungan dengan pengaturan sebagai fungsi metabolisme tubuh, mengatur kecepatan reaksi kimia didalam sel, transport zat-zat melalui membrane sel, aspek pertumbuhan dan sekresi.

1. Struktur
Terdapat 2 type kelenjar yaitu eksokrin dan endokrin.
Kelenjar eksokrin melepaskan sekresinya kedalam duktus pada permukaan tubuh. Seperti kulit / organ internal seperti lapisan traktus intestinal. Kelenjar endokrin merupakan sekelompok susunan sel yang mempunyai susunan mikroskopis sangat sederhana, kelenjar ini tidak mempunyai saluran keluar dan mencurahkan sekresinya langsung ke sirkulasi darah. Kelenjar ini terdiri dari deretan sel-sel lempengan atau gumpalan sel disokong oleh jaringan ikat yang halus yang banyak mengandung pembuluh kapiler. Kelenjar endokrin termasuk : hepar, Pankreas, (kelenjar eksorin dan endokrin), payudara, dan kelenjar lakrimalis untuk air mata.


Kelenjar endokrin termasuk:
- Pulau Lagerhans pada pancreas
- Gouad (ovarium & testis)
Kelenjar adrenal, hipofise, tiroid, paratiroid, serta timus

2. Hormon dan Fungsinya
Hormon yaitu penghantar (transmitter) kimiawi yang dilepas dari sel-sel khusus kedalam aliran darah. Selanjutnya hormone tersebut dibawa ke sel-sel target (responsive cells) tempat terjadinya efek dari hormone (menurut starling). Hormon mengatur berbagai proses yang mengatur kehidupan.
Sistem endokrin mempunyai 5 fungsi umum :
1. Membedakan sistem syaraf pusat dan sistem reproduktif pada janin yang sedang berkembang.
2. Menstimulasi urutan perkembangan.
3. Mengkoordinasi sistem reproduktif.
4. Memelihara lingkungan internal optimal.
5. Melakukan respons korektif dan adatif ketika terjadi situasi darurat.
Secara kimiawi, hormon dibentuk oleh bahan- bahan sebagai berikut :
a. Derifrat asam amino
Dikeluarkan oleh sel kelenjar buntu yang berasal dari jaringan nervus medulla suprarenal dan neurohipofise. Contoh : efineprin, norefineprin.
b. Peptide / derifat peptide
Dibuat oleh kelenjar buntu yang berasal dari jaringan alat pencernaan.
c. Steroid
Hormon steroid mempunyai inti cyclo pentane pehidraphenatren dibuat oleh kelenjar buntu yang berasal dari mesotelium. Contoh : hormone testis, ovarium, dan korteks supraren.
d. Asam Lemak
Merupakan biosintesis dari 2 asam lemak. Contoh : hormone prostaglandin.
e. Hormon perkembangan (depelopment hormone)
Memegang peranan didalam perkembangan dan pertumbuhan hormone ini dihasilkan oleh kelenjar gonad.
f. Hormon metabolisme (metabolic hormone)
Proses homeostasis gula glukosa dalam tubuh diatur oleh bermacam-macam hormon diantaranya glucokorticoid, glukagon, dan katecho lamin.
g. Hormon trofik (trophik hormone)
Dihasilkan oleh stuktur khusus dalam pengaturan fungsi endokrin yauti kelenjar fipofise yang dikategorikan sebagai hormone perangsang pertumbuhan folikel (FSH) pada ovarium dan proses spermatogenesis hormone penguning (lutein hormon).
h. Hormon pengatur metaboliame air dan mineral
Kalsitonin dihasilkan oleh kelenjar tiroid, untuk mengatur metabolisme kalsium dan fosfor. Meningkatkan produksi kalsitonin menyebabkan menurunnya kalsium dan fosfor dalam darah dan meningkatnya seksresi kalsium fosfat, natrium, kalium, dan magnesium melalui ginjal.
i. Hormon pengatur sistem kardiovaskuler
Epinefrin dihasilkan oleh kelenjar adrenal bagian medulla. Efek dari hormone ini tergantung dari reseptor setiap tujuan. Efek pada jantung meningkatkan konduksi dan kontraksi dari jantung.

3. Karakteristik
Meskipun setiap hormon adalah unik dan mempunyai fungsi dan struktur tersendiri, namun semua hormone mempunyai karekteristik tersebut. Hormon disekresi dalam salah satu dari tiga pola berikut :
1. Sekresi diurnal adalah pola dan turun dalam periode 24 jam. Contoh : kortisol.
2. Pola sekresi hormonal pulsatif dan siklik naik dan turun sepanjang waktu tertentu, setiap bulanan. Contoh : Estrogen adalah hormone siklik dengan puncak dan lembahnya menyebabkan siklus mentruasi.
3. Type sekresi hormonal yang ketiga adalah variabel dan tergantung pada kadar substrat lainnya. Hormon paratiroid disekresi dalam berespons terhadap kadar kalsium serum.
Hormon bekerja dalam sistem umpan balik. Loop umpan balik dapat positif / negative dan memungkinkan tubuh untuk dipertahankan dalam suatu lingkungan optimal. Hormon mengatur laju aktifitas selular. Hormon tidak mengalami perubahan biokimia. Hormon hanya mempengaruhi sel-sel yang mengandumg reseptor yang sesuai, yang melakukan fungsi spesifik. Hormon mempunyai fungsi dependent dan interpenden. Pelepasan hormone ini dari satu kelenjar sering merangsang pelepasan hormone dari kelenjar lainnya.

B. Peran Hipotalamus dan Kelenjar Hipotise
Dua kelenjar endokrin yang utama adalah hipotalamus dan hipotise Aktifitas endokrin dikontrol secara langsung dan tak langsung oleh hipotalamus, yang menghubungkan sistem persyarafan dengan sistem endokrin dalam berespon terhadap input dari area lain dalam otak dan dari hormone dalam darah, neuron dalam hipotalamus mensekresi beberapa hormone releasing dan inhibiting. Hormone ini bekerja pada sel-sel spesifik dalam kelenjar pitvitari yang mengatur pembentukan dan sekresi hormone hifofise.,

1. Kelenjar Hipofise
Kelenjar ini disebut juga kelenjar pitvitari. Karena menghasilkan dan mengatur hormone-hormon pada bagian tubuh lainnya, sehingga disebut “ Master of bland “ kelenjar hipotise terletak di dasar tengkorak (pada bagian Sela Tursika) Fossa pitvitary os spenoidal. Berat kelaenjar kurang lebih 0,5 gram dan bentuknya seperti kacang segi lima .
Kelenjar hipofise mempunyai 3 lobus, yaitu :
1. Lobus posterior hipofisis terutama dibentuk oleh ujung axon dari nuclei supraotikum dan para ventrikulasi hypothalamus.
2. Lobus anterior dibentuk oleh pita sel menjalin dan jaringan luas kapiler sinusoid.
3. Lobus intermedia dibentuk didalam sel embrio dari tengah dorsal kantong ratke (suatu
evaginasi atau jantung).

Hormon-hormon yang dihasilkan oleh lobus anterior adalah :
1. Grwoth Hormon (GH)
- Merangsang pertumbuhan tulang → bertambah panjang.
- Pertumbuhan dari masa kanak-kanak sampai pubertas.
- Pada saat pubertas GH tidak mempunyai efek pada tulang karena tulang tidak dapat bertambah panjang lagi.
- Pertumbuhan dipengaruhi oleh factor interna (genetic, hormone) dan eksterna (makanan, keadaan sakit / sehat).
- Hormon tiroid mempengaruhi pertumbuhan sejak janin sampai anak-anak.
- Defisiensi GH sebelum pubertas akan menyebabkan Doorfism (Dewasa terlambat).
- Hipersekresi GH pada saat sebelum pubertas (Gigantism) dean sesudah pubertas (Akromegali).
- Sekresi GH meningkat pada saat : stress, hipoglikemia, peningkatan asam amino, tidur.

2. Tirosomatotrofic hormone (TSH) / Tnyroid stimulating Hormone
- Merangsang pertumbuhan kelenjar gondok.
- Berperan penting dalam pembentukan sintesis protein.
- Dalam darah berikatan dengan gama globulin.

3. Adrenatorticotropi homon (ACTH)
- Mempengaruhi pertumbuhan maturitas dan fungsi organ seks primer dan sekunder.
- Mempengaruhi / merangsang korteks adrenal.
- Mengontrol produksi kortisol.

4. Prolactin / Luteotrofic hormone (LTH)
- Merangsang pertumbuhan kelenjar mamae (payudara).
- Sekresi air susu (laktasi).
- Pada wanita hamil meningkat.

5. Melanocyte-stimulating Hormone (MSH)
- Merangsang pertumbuhan steroid atau korteks adrenal.
- Dapat merangsang korteks adrenal & dapat mempengaruhi prigmentasi.
Hormon-hormon yang dihasilkan oleh lobus posterior adalah :
1. Antideuretik hormone (ADH)
- Meningkatkan reabsorpsi air oleh tubulus distal dan tubulus kedodokus ginjal, sehingga menurunkan haluaran output urine.
- merangsang vasokontriksi arteriol → TD meningkat.

2. Oksitosin
- Merangsang pengeluaran ASI dari alveoli payudara kedalam duktus.
- Merangsang kontraksi uterus pada saat persalinan.
- Terlibat dalam transport sperma dalam traktus reproduktif wanita.

2. Kelenjar Tiroid
Terdiri atas 2 buah lobus yang terletak disebelah kanan dari trakea diikat bersama oleh jaringan tiroid dan yang melintasi trakea disebelah depan. Merupakan kelenjar yang terdapat didalam leher bagian depan bawah melekat pada dinding laring. Kelenjar ini mempunyai dua lobus yaitu lobus kanan dan kiri. Antara kedua lobus dihubungkan dengan isthmus. Isthmus merupakan lapisan tipis dari tyroid. Pada kelenjar tyroid terdapat 2 sel yaitu sel follicular dan sel para follicular. Sel-sel ini menghasilkan hormone tiroksin (T4) & triodotironin (T3) sedangkan sel parafollicular menghasilkan kalsitonin.



Fungsi dari kelenjar tyroid, terdiri dari :
1.Bekerja sebagai perangsang proses oksidasi.
2. Mengatur penggunaan oksidasi.
3. Mengatur pengeluaran karbondioksida.
4. Metabolic dalam hal pengaturan susunan kimia dalam jaringan
5. Pada anak mempengaruhi perkembangan fisik dan mental.

Bahan dasar pembentukan hormone-hormon ini adalah yodium yang diperoleh dari makanan dan minuman. Yodium yang bdikonsumsi akan diubah menjadi ion yodium (yidida) yang masuk secara aktif kedalam sel kelenjar dan dibutuhkan ATP sebagai sumber energi. Proses ini disebut pompa iodia, yang dapat dihambat oleh ATP – ase, ionkiorat, dan ionsianat. Sel folikel membentuk molekul glikoprotein yang disebut Tiroglobin yang kemudian mengalami penguraian menjadi mono iodotironin (MIT) dan Diiodotironin (DIT). Selanjutnya terjadi penggabungan antara MIT dan DIT akan membentuk tri iodotironin (T3) dan DIT dengan DIT akan membentuk tetra iodotironin / tiroksin (T4). Proses penggabungan ini dirangsang oleh TSH namun dapat dihambat oleh tiourea, tiourasil, sulfonamide, dan metil kaptoimidazol. Hormon T3 dan T4 berikatan dengan plasma dalam bentuk PBI (Protein birding Iodine).

Fungsi hormone-hormon tiroid antara lainj adalah :
1. Mengatur laju metabolisme tubuh (meningkatkan konsumsi oksigen).
2. Memegang peranan penting dalam pertumbuhan fetus khususnya pertumbuhan syaraf.
3. Mempertahankan sekresi GH dan gonadotropin.
4. Merangsang pembentukan sel darah merah.
5. Efek kronotrofik terhadap jantung yaitu menembah kekuatan kontraksi otot dan menembah frekuensi irama jantung.
6. Mempengaruhi kekuatan dan ritme pernapasan sebagai konpensasi irama jantung tubuh terhadap kebutuhan oksigen akibat metabolisme.
7. Bereaksi sebagai antagonis insulin.

3. Kelenjar Paratiroid
Kelenjar ini menempel pada bagian anterior dan posterior kedua lobus kelenjar tiroid oleh karena itu kelenjar paratiroid berjumlah 4 buah (terletak dipermukaan belakang kelenjar tiroid). Ukuran masing-masing kira-kira 5 X 52 mm. Memiliki berat masing-masing 25 – 30 mg sehingga berat keseluruhan kira-kira 120 mg.
Kelenjar ini terdiri dari 2 jenis sel yaitu chief cells dan oxyphill cells.Chief cells merupakan bagian terbesar dari kelenjar paratiroid, mensintesa dan mensekresi hormone paratiroid / parathormon (PTH).
Pharathormon mengatur metabolisme kalsium dan posfat tubuh organ targetnya adalah tulang, PTH mempertahankan reabsorpsi tulang sehingga kalsium serum meningkat. Di tubulus ginjal, PTH mengaktifkan vitamin D. Dengan vitamin D yang aktif akan terjadi peningkatan absorpsi kalsium dan posfat. Selain itu hormone ini pun akan meningkatkan reabsorpsi Ca dan Mg tubulus ginjal, meningkatkan P, Hco3 dan Na karena sebagian besar kalsium disimpan ditulang maka efek PTH lebih besar terhadap tulang.

Efek parathormon terhadap jaringan target :

Parathormon






- Merangsang pembentukan vitamin D
- Meningkatkan reabsorpsi tubulus ginjal terhadap Ca dan Mg
- Meningkatkan pengeluaran P, Hco3 dan Na - Meningkatkan mobilisasi Ca dan P dari tulang kedalam cairan ekstra sel
- Mengurangi pembentukan tulang
- Meningkatkan penghancuran tulang - Meningkatkan absorpsi Ca dan P dengan bantuan vitamin D





4. Kelenjar Adrenal/Suprarenal
Kelenjar ini terletak diatas ginjal dean berada dibelakang abdomen. Jumlahnya ada 2 bentuknya ceper dan lebih menonjol kebagian kutubnya. Berat masing-masing kelenjar ini kira-kira 5 - 9 gram. Dan kadang juga di sebut sebagai kelenjar anak ginjal karena menempel pada ginjal.
Kelenjar adrenal terdiri dari 2 lapis yaitu bagian luar disebut korteks adrenal dan bagian dalam disebut medulla adrenal.

a. Korteks adrenal
Merupakan bagian terbesar dari berat keseluruhan kelenjar Adrenal + 90 % dari berat keseluruhan kelenjar adrenal. Berat bagian ini kira-kira 5 – 7 gam. Korteks adrenal merupakan bagian keluar dari kelenjar adrenal. Bagian ini terdiri dari sel-sel epitel yang besar dan berisi Lipoid. Sel-sel itu Foam Cell. Korteks adrenal esensial untuk bertahan hidup kehilangan hormone adrenokortikal dapat menyebabkan kematian.
Lapisan dari korteks Adrenal terbagi menjadi 3 bagian yang disebut dengan zona. Zona tersebut adalah :
a. Zona glomerul, yaitu lapisan yang paling luar.
b. Zona fasiculata, yaitu lapisan bagian tengah
c. Zona retikularis, yaitu lapisan paling dalam dekat dengan medulla.
Korteks adrenal mensintesa tiga kelas hormone steroid yaitu :
• Mineralokortikoid
Pada manusia adalah aldosteran dibentuk pada zona glome rulosa korteks adrenal. Hormon ini mengatur keseimbangan elektrolit dengan meningkatkan retensi natrium dan eksresi kalium. Aktifitas fisiologik ini selanjutnya membantu dalam mempertahankan tekanan darah normal dan curah jantung.
• Glukokortikoid
Dibentuk dalam zona fasikulata kortisol merupakan glukokortikoid uatama pada manusia. Kortisal mempunyai efek pada tubuh antara lain dalam : metabolisme glukosa (glukosaneogenesis) yang meningkatkan kadar gula darah, metabolisme protein, keseimbangan cairan dan elektrolit, inflomasi dan imunitas dan terhadap stessor.
• Gonadokortikoid (Hormon seks)
Korteks adrenal mensekresi sejumlah kecil steroid seks dari zona retikularis. Umumnya adrenal mensekresi sedikit androgen dan estrogen dibandingkan dengan sejumlah besar hormone seks yang disekresi oleh gonad. Namun kelebihan produksi hormone seks oleh kelenjar adrenal dapat menimbulkan gejala klinis.
Misalnya, kelebihan pelepasan androgen menyebabkan virilisme, sementara kelebihan estrogen (missal : akibat karsinoma adrenal) menyebabkan ginekomastia dan retensi natrium dan air.



b. Korteks medulla (Medulla Adrenal)
Terletak pada bagian dalam dari kelenjar adrenal sel-sel medulla Adrenal berbentuk lomjong serta tersusun dalam kelompok-kelompok dan sekitarnya terdapat pembuluh darah kapiler. Sel-sel medulla adrenal yang mengeluarkan hormone disebut “ Sel chromaffin”.
Medulla adrenal menghasilkan hormone :
a. Adrenal : meningkatkan denyut nadi, tekanan darah, denyut jantung dan lain-lain.
b. Non Adrenalin : vasokontriksi arteri nadi dan meningkatkan kecepatan metabolisme.

5. Kelenjar Pankreas
Pankreas terletak di retroperitoneal rongga abdomen bagian atas, dan terbentang horizontal dari cincin duodenial ke lien. Panjang sekitar 10 – 20 cm dan lebar 2,5 – 5 cm. Mandapat pasokan darah dari arteri mesenterika superior dan splenikus.
Kelenjar pancreas berfungsi sebagai kelenjar eksorin dan kelenjar endokrin. Sebagai kelenjar eksorin, pancreas menghasilkan enzim-enzim yang membantu proses pencernaan makanan. Sedangkan sebagai kelenjar endokrin, pancreas menghasilkan hormone yang disekresikan kedalam pembuluh darah.
Pulau-pulau langerhans pada pancreas menghasilkan 3 hormon yaitu :
a. Insulin (dihasilkan oleh sel betha)
Fungsi : Meningkatkan metabolisme karbohidrat, protein dan lemak sehingga menurunkan kadar glukosa darah.
b. Glukagon (dihasilkan oleh sel alpha)
Fungsi : Memobilisasi simpanan glikogen dengan demikian meningkatkan kadar glukosa darah.
c. Somastotatin (dihasilkan oleh sel darah)
Fungsi : menurunkan sekresi insulin, glukogan, pertumbuhan hormone, dan beberapa hormone gastrointesrinal.
Organ dan sasaran hormon-hormon tersebut adalah hepar, otot, dan jaringan lemak. Glukagon dan insulin memegang peranan penting dalam metabolisme karbohidrat, protein dan lemak. Bahkan keseimbangan kadar gula darah sangat dipengaruhi oleh hormone-hormon tersebut.

Efek pada hepar :
- Meningkatkan sintesa dan penyimpangan glukosa.
- Menghambat glikogenolisis, glukoneogenesis dan ketogenesis.
- Meningkatkan sintesa trigliserida dari asam lemak bebas di hepar.

Efek pada otot :
- Meningkatkan sintesis protein.
- Meningkatkan transportasi asam amino.
- Meningkatkan glikogenesis.

Efek pada jaringan lemak :
- Meningkatkan sintesa trigliserida dari asam lemak bebas.
- Meningkatkan penyimpanan trigliserida.
- Menurunkan lipolisis.

6. Kelenjar kelamin (kelenjar gonad)
Kelenjar ini berbentuk pada minggu-minggu gestasi dan tampak jelas pada minggu kelima. Difrensiasi jelas dengan mengukur kadar testosterone retal yang terlihat jelas pada minggu ketujuh da kedelapan gestasi. Keaktifan kelenjar gonad terjadi pada masa pre pubertas dengan meningkatnya sekresi gonadotropin (FSH dan LH) akibat penurunan inhibisi steroid.

a. Testis
Merupakan kelenjar endokrin yang terdapat pada laki-laki. Dua buah testis ada dalam skrotum. Testis mempunyai 2 fungsi yaitu sebagai organ endokrin dan organ reproduksi. Testis menghasilkan hormone : testosterone dan estradiol dibawah pengaruh LH. Testosteron diperlukan untuk mempertahankan spermatogenesis, sementara FSH diperlukan untuk memulai dan mempertahankanspermatogenesis.
Struktur dari testis itu sendiri yaitu terbentuk oval (lomjong) dengan berat kira-kira 10 – 14 gram. Panjangnya 4 – 5 cm dan lebar 2,5 cm. Masing-masing testis terdiri dari lilitan tubulus seminiferus yang menghasilkan sperma. Diantara tubulus seminiferus terdapat sel-sel yang menghasilkan hormone kelamin. Sel-sel yang menghasilkan hormone kelamin tersebut adalah Interstitial Cells atau sel leyding. Sel-sel tersebut mengeluarkan hormone kelamin laki-laki (androgen) yaitu hormon testosterone.
Efek testoeteron pada fetus merangsang diferensiasi & perkembangan genital kearah pria. Pda masa pubertas hormone ini akan merangsang perkambangan tanda-tanda seks sekunder. Seperti bentuk tubuh, perkembangan dan pertumbuhan alat gerital, distribusi rambut tubuh, pembesaran laring, penebalan pita suara serta perkembangan sifat agresif. Sebagai hormon arabolik, akan merangsang pertumbuhan dan penutupan epifise tulang.

b. Ovarium
Merupakan kelenjar endokrin pada wanita, berfungsi sebagai organ endokrin juga sebagai organ reproduksi. Struktur dari ovarium yaitu terdiri dari 2 buah, berbentuk memanjang dengan panjang kira-kira 2,5 cm, lebar 1,5 – 3 cm dan tebalnya 0,6 – 1,5 cm serta letaknya pada bagian pelvic abdomen pada sisi uterus.
Sebagai organ endokrin, ovarium menghasilkan hormone estrogen dan progesterone sebagai organ reproduksi, ovarium menghasilkan ovum (sel telur) setiap bulannya pada masa ovulasi untuk selanjutnya siap untuk di buahi sperma.
Estrogen dan progesteron akan mempengaruhi perkembangan seks sekunder, menyiapkan endometrium untuk menerima hasil konsepsi serta mempertahankan proses laktasi.
Estrogen dibentuk oleh sel-sel granulose folikel dan sel lutein korpus luteum. Progesterone dibentuk oleh sel lutein korpus luteum sebagai respon terhadap sekresi luteinizing hormone

7. Kelenjar timus
Merupakan organ Lymphoid yang terdiri dari 2 bagian / lobus. Kelenjar ini terletak dibelakang sternum pada bagian depan rongga mediastinum (ruangan pada bagian tengah rongga dada), bifurcation (percabangan) trochea.
Berat kelenjar ini pada bayi kira-kira 10 gram. Ukuran tersebut akan bertambah setelah masa remaja sampai mencapai 30 – 40 gram. Tetapi setelah dewasa ukurannya akan mengecil. Hal tersebut kemungkinan disebabkan oleh adanya aktivitas hormone steroid adrenal. Kelenjar timus menghasilkan satu bahan yang berperan dalam perkembangan sel induk limfosituntuk mempertahankan kekebalan tubuh.

8. Kelenjar Pineal
Terletak pada otak tengah (midbrain), berada diantara hemisphere cerebral otak pada bagian posterior ventikel III. Kelenjar pineal menghasilkan suatu substansi sekresi yang disebut melatonin. Hormon ini belum banyak diketahui kemungkinan berperan dalam pengaturan waktu haid dan berperan dalam pemartagan kelenjar kelamin.










BAB III
P E N U T U P


RANGKUMAN
Fungsi tubuh diatur oleh 2 sistem pengatur utama yaitu sistem syaraf dan sistem hormonal (endokrin). Keduanya bekerja untuk mempertahankan homeostasis tubuh. Sistem endokrin umumnya bekerja melalui hormon dan sistem syaraf bekerja melalui neurotransmitter yang dihasilkan oleh ujung-ujung syaraf.
Terdapat 2 type kelenjar yaitu eksokrin dan endokrin. Kelenjar eksorin melepaskan sekresinya kedalam duktus pada permukaan tubuh, sedangkan kelenjar endokrin merupakan sekelompok susunan sel yang mempunyai saluran keluar dan mencurahkan sekresinya langsung ke sirkulasi darah.
Kelenjar endokrin termasuk : pulau lagerhans pada pancreas. Gonad (ovarium dan testis), kelenjar adrenal, hipotise, tiroid, paratiroid, serta timus.
Hormon yaitu penghantar (transmitter) kimiawi yang di lepas dari sel-sel khusus ke dalam aliran dara. Hormon tersebut di bawa ke sel-sel target (responsive cells) tempat terjadinya efek dari hormon. Sistem endokrin mempunyai 5 fungsi umum yaitu :
- Membedakan sistem syaraf pusat dan sistem reproduktif pada janin yang sedang
berkembang.
- Menstimulasi urutan perkembangan.
- Mengkoordinasi sitem reproduktif.
- Memelihara lingkungan internal optimal.
- Melakukan respons korektif dan adatif ketika terjadi situasi darurat.

Secara kimiawi, hormon dibentuk oleh bahan-bahan sebagai berikut yaitu :
- Devirat Asam Amino.
- Peptide / devirat peptide.
- Steroid.
- Asam Lemak.
- Hormon perkembangan.
- Metabolisme hormone.
- Hormon trofik.
- Hormon pengatur metabolisme air dan mineral serta,
- Hormon pengatur sistem kardiovaskuler.
Kelenjar hipotise disebut juga kelenjar pituitary dank arena menghasilkan / mengatur hormone-hormon pada bagian tubuh lainnya, kelenjar ini di sebut “ Master Of Gland “. Kelenjar hipofise mempunyai 3 Lobus yaitu : Lobus posterior hipofisis, Lobus anterior, dan Lobus intermedia.
Hormon-hormon yang dihasilkan oleh lobus anterior adalah :
- Growth Hormone (GH).
- Tirosomatotrofic hormone (TSH).
- Adrenator ticotropi hormone (ACTH).
- Prolactin / Luteotrofic hormone (LTH).
- Melanocyte Stimulating hormone (MSH).
Hormon-hormon yang dihasilkan oleh lobus posterior adalah :
- Antidivretik hormone (ADH) dan,
- Oksitosin.
Kelenjar tiroid menghasilkan hormone tiroksin (T4) dan triodotironin (T3) dihasilkan oleh sel follitular dan kalsitonin dihasilkan oleh sel parafollitular.
Fungsi- fungsi dari hormone tiroid antara lain :
- mengatur laju metabolisme tubuh, memegang peranan penting dalam pertumbuhan fetus khususnya pertumbuhan syaraf.
- mempertahankan sekresi GH dan gonadotropin.
- merangsang pembentukan sel darah merah.
- efek kronotropik dan introtopik terhadap jantung (menambah kekuatan kontraksi otot dan
- menambah frekuensi irama jantung)
- mempengaruhi kekuatan dan ritme pernapasan sebagai konpensasi tubuh terhadap
- kebutuhan oksigen metabolisme.
- bereaksi sebagai antagonis insulin.

Kelenjar paratiroid menghasilkan hormone paratiroid atau parathormon (PTH) yang mengatur metabolisme kalsium dan posfat tubuh. Organ targetnya adalah tulang, ginjal, dan usus kecil (duodenum). Terhadap tulang, PTH mempertahankan reabsorpsitulang sehingga kalsium serum meningkat. Di tubulus ginjal, PTH mengaktifkan vitamin D. Hormon ini pun akan meningkatkan reabsorpsi Ca dan Mg di tubulus ginjal, meningkatkan P, Hco3 dan Na.
Kelenjar Adrenal (supra renal) terdiri dari 2 lapis yaitu :
- bagian luar disebut korteks dan medulla. Korteks Adrenal menghasilkan 3 hormon yaitu : mineralokortikoid, glukokortikoid, gonadokortikoid (hormone seks)
- korteks medulla menghasilkan hormone adrenal dan non adrenalin.
Kelenjar pancreas (pulau-pulau lagerhans) menghasilkan 3 hormon yaitu :
- Insulin (oleh sel betha).
- Glukagon (oleh sel alpha) dan,
- Somastotatin (oleh sel delta).
Hormone-hormon itu mempunyai efek tertentu terhadap hepar, otot dan jaringan lemak.
Pada kelenjar gonad , masing-masing jenis kelamin berbeda. Pada wanita adalah ovarium berfungsi sebagai organ reproduksi yang menghasilkan hormone estrogen dan progesterone, sedangkan pada pria adalah testis sebagai organ reproduksi yang menghasilkan hormone testosterone dan estradial yang diperlukan untuk mempertahankan spermatogenesis, sedangkan efek testosterone pada fetus merangsang diferensiasi dan perkembangan kearah pria. Pada masa pubertas hormone ini akan merangsang perkembangan tanda-tanda seks sekunder seperti bentuk tubuh, pertumbuhan dan perkembangan alat genital, distribusi rambut tubuh, pembesaran laring, penebalan pita suara serta perkembangan sifat agresif. Sebagai hormone anabolic, akan merangsang pertumbuhan dan penutupan epifise tulang.
Kelenjar timus menghasilkan suatu bahan yang berperan dalam perkembangan sel induk lim fosit untuk mempertahankan hormone melatonin, namun belum banyak diketahui fungsinya. Kemungkinan berperan dalam pengaturan waktu haid dan berperan dalam pematangan kelenjar kelamin.

GADAR Hopertiroidisme

DASAR TEORITIS

A. KONSEP DASAR TEORI
1. Pengertian
Hipertiroidisme (Tiroktosikosis) merupakan suatu keadaan di mana didapatkan kelebihan hormon tiroid karena ini berhubungan dengan suatu kompleks fisiologis dan biokimiawi yang ditemukan bila suatu jaringan memberikan hormon tiroid berlebihan.
Hipertiroidisme adalah keadaan tirotoksikosis sebagai akibat dari produksitiroid yang merupakan akibat dari fungsi tiroid yang berlebihan.
(Hyperthyrodism) adalah keadaan disebabkan oleh kelenjar tiroid bekerja secara berlebihan sehingga menghasilkan hormon tiroid yang berlebihan di dalam darah.
Krisis tiroid merupakan suatu keadaan klinis hipertiroidisme yang paling berat mengancam jiwa, umumnya keadaan ini timbul pada pasien dengan dasar penyakit Graves atau Struma multinodular toksik, dan berhubungan dengan faktor pencetus seperti infeksi, operasi, trauma, zat kontras beriodium, hipoglikemia, partus, stress emosi, penghentian obat anti tiroid, ketoasidosis diabetikum, tromboemboli paru, penyakit serebrovaskular/strok, palpasi tiroid terlalu kuat.
2. Anatomi Fisiologi
a. Kalenjar Tyroid
Kelenjar Tiroid adalah sejenis kelenjar endokrin yang terletak di bagian bawah depan leher yang memproduksi hormon tiroid dan hormon calcitonin.

b. Hormon Tiroid

Hormon yang terdiri dari asam amino yang mengawal kadar metabolisme. Hormon tiroid berfungsi untuk mengendalikan kecepatan metabolisme tubuh. Hormon tiroid mempengaruhi kecepatan metabolisme tubuh melalui dua cara :
1) Merangsang hampir setiap jaringan tubuh untuk menghasilkan protein.
2) Meningkatkan jumlah oksigen yang digunakan oleh sel.
Untuk menghasilkan hormon tiroid, kelenjar tiroid memerlukan iodium. Hormon tiroid dibentuk melalui penyatuan satu atau dua molekul iodium ke sebuah glikoprotein besar yang disebut tiroglobulin yang dibuat di kelenjar tiroid dan mengandung asam amino tirosin. Kompleks yang mengandung iodium ini disebut iodotirosin. Dua iodotirosin kemudian menyatu untuk membentuk dua jenis hormon tiroid dalam darah yaitu : Tiroksin (T4), triiodotironin (T3). Dua jenis hormon ini dipengaruhi oleh hormon TSH (Thyreoid Stimulating Hormone) dan TRH (Thyrotropin Releasing Hormone). Tubuh memiliki mekanisme yang rumit untuk menyesuaikan kadar hormon tiroid. Hipotalamus menghasilkan Thyrotropin-Releasing Hormone, yang menyebabkan kelenjar hipofisa mengeluarkan TSH. TSH merangsang kelenjar tiroid untuk menghasilkan hormon tiroid dalam darah (Cooper, 2005).
Penyakit Grave, penyebab tersering hipertiroidisme, adalah suatu penyakit otoimun yang biasanya ditandai oleh produksi otoantibodi yang memiliki kerja mirip TSH pada kelenjar tiroid. Otoantibodi IgG ini, yang disebut immunooglobulin perangsang tiroid (thyroid-stimulating immunoglobulin), meningkatkan pembentukan HT, tetapi tidak mengalami umpan balik negatif dari kadar HT yang tinggi Kadar TSH dan TRH rendah karena keduanya berespons terhadap peningkatan kadar HT. Penyebab penyakit Grave tidak diketahui, namun tampaknya terdapat predisposisi genetik terhadap penyakit otoimun, yang paling sering terkena adalah wanita berusia antara 20 tahun sampai 30 tahun. Gondok nodular adalah peningkatan ukuran kelenjar tiroid akibat peningkatan kebutuhan akan hormon tiroid. Peningkatan kebutuhan akan hormon tiroid terjadi selama periode pertumbuhan atau kebutuhan metabolik yang tinggi misalnya pada pubertas atau kehamilan. Dalarn hal ini, peningkatan HT disebabkan oleh pengaktivan hipotalamus yang didorong oleh proses metabolisme tubuh sehingga disertai oleh peningkatan TRH dan TSH. Apabila kebutuhan akan hormon tiroid berkurang, ukuran kelenjar tiroid biasanya kembali ke normal. Kadang-kadang terjadi perubahan yang ireversibel dan kelenjar tidak dapat mengecil. Kelenjar yang membesar tersebut dapat, walaupun tidak selalu tetap memproduksi HT dalam jumlah berlebihan. Apabila individu yang bersangkutan tetap mengalami hipertiroidisme, maka keadaan ini disebut gondok nodular toksik. Dapat terjadi adenoma, hipofisis sel-sel penghasil TSH atau penyakit.
3. Klasifikasi
Hipertiroidisme (Tiroktosikosis) di bagi dalam 2 kategori:
1. Kelainan yang berhubungan dengan Hipertiroidisme
2. Kelainan yang tidak berhubungan dengan Hipertiroidisme

4. Etiologi
Hipertiroidisme dapat terjadi akibat disfungsi kelenjar tiroid, hipofisis, atau hipotalamus. Peningkatan TSH akibat malfungsi kelenjar tiroid akan disertai penurunan TSH dan TRF karena umpan balik negatif HT terhadap pelepasan keduanya. Hipertiroidisme akibat rnalfungsi hipofisis memberikan gambamn kadar HT dan TSH yang tinggi. TRF akan Tendah karena uinpan balik negatif dari HT dan TSH.
Hipertiroidisme akibat malfungsi hipotalamus akan memperlihatkan HT yang tinggi disertai TSH dan TRH yang berlebihan.
a. Penyebab Utama
 Penyakit Grave
 Toxic multinodular goiter
 ’’Solitary toxic adenoma’’
b. Penyebab Lain
 Tiroiditis
 Penyakit troboblastis
 Ambilan hormone tiroid secara berlebihan
 Pemakaian yodium yang berlebihan
 Kanker pituitary
 Obat-obatan seperti Amiodarone

5. Tanda dan Gejala
a. Peningkatan frekuensi denyut jantung
b. Peningkatan tonus otot, tremor, iritabilitas, peningkatan kepekaan terhadap katekolamin
c. Peningkatan laju metabolisme basal, peningkatan pembentukan panas, intoleran terhadap panas, keringat berlebihan
d. Penurunan berat, peningkatan rasa lapar (nafsu makan baik)
e. Peningkatan frekuensi buang air besar
f. Gondok (biasanya), yaitu peningkatan ukuran kelenjar tiroid
g. Gangguan reproduksi
h. Tidak tahan panas
i. Cepat letih
j. Tanda bruit
k. Haid sedikit dan tidak tetap
l. Pembesaran kelenjar tiroid
m. Mata melotot (exoptalmus)


6. Patofisiologi





















7. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan darah yang mengukur kadar HT (T3 dan T4), TSH, dan TRH akan memastikan diagnosis keadaan dan lokalisasi masalah di tingkat susunan saraf pusat atau kelenjar tiroid. Diagnosa bergantung kepada beberapa hormon berikut ini :
1) TSH (Tiroid Stimulating Hormone) biasanya menurun
2) Bebas T4 (tiroksin) meningkat
3) Bebas T3 (triiodotironin) meningkat
b. Diagnosa juga boleh dibuat menggunakan ultrasound untuk memastikan pembesaran kelenjar tiroid
c. Tiroid scan untuk melihat pembesaran kelenjar tiroid terutama membedakan penyakit plummer dari penyakit Graves dengan komponen nodusa.
d. EKG
e. Foto toraks

8. Komplikasi
Komplikasi hipertiroidisme yang dapat mengancam nyawa adalah krisis tirotoksik (thyroid storm). Hal ini dapat berkernbang secara spontan pada pasien hipertiroid yang menjalani terapi, selama pembedahan kelenjar tiroid, atau terjadi pada pasien hipertiroid yang tidak terdiagnosis. Akibatnya adalah pelepasan HT dalam jumlah yang sangat besar yang menyebabkan takikardia, agitasi, tremor, hipertermia (sampai 106 oF) dan apabila tidak diobati, kematian, penyakit jantung hipertiroid, oftalmopati Graves, dermopati Graves, infeksi karena agranulositosis pada pengobatan dengan obat antitiroid, krisis tiroid dan mortalitas.

9. Penatalaksanaan
a. Terapi Konservatif
Tujuan terapi hipertiroidisme adalah mengurangi sekresi kelenjar tiroid. Sasaran terapi dengan menekan produksi hormon tiroid atau merusak jaringan kelenjar (dengan yodium radioaktif atau pengangkatan kelenjar) (Cooper, 2005).
1) Non Farmakologis
Adapun penatalaksanaan terapi hipertiroidisme meliputi terapi nonfarmakologi dan terapi farmakologi. Terapi non farmakologi dapat dilakukan dengan:
 Diet yang diberikan harus tinggi kalori, yaitu memberikan kalori 2600-3000 kalori per hari baik dari makanan maupun dari suplemen.
 Konsumsi protein harus tinggi yaitu 100-125 gr (2,5 gr/kg berat badan ) per hari untuk mengatasi proses pemecahan protein jaringan seperti susu dan telur.
 Olah raga secara teratur.
 Mengurangi rokok, alkohol dan kafein yang dapat meningkatkan kadar metabolisme.
2) Farmakologis
Penatalaksanaan hipertiroidisme secara farmakologi menggunakan kelompok obat sebagai berikut yaitu:
 Obat antitiroid, penghambat transport iodida, iodida dalam dosis besar menekan fungsi kelenjar tiroid, yodium radioaktif yang merusak sel-sel kelenjar tiroid. Obat antitiroid bekerja dengan cara menghambat pengikatan (inkorporasi) yodium pada TBG (thyroxine binding globulin) sehingga akan menghambat sekresi TSH (Thyreoid Stimulating Hormone) sehingga mengakibatkan berkurang produksi atau sekresi hormon tiroid. Antitiroid digunakan untuk :
 mempertahankan remisi pada straumadengan tirotoksikkosis
 mengendalikan kadar hormon pada pasien yang mendapat yodium radioaktif
 menjelang pengangkatan tiroid (Anonim, 2000).
Contoh obat adalah sebagai berikut :
 Thioamide
 Methimazole dosis awal 20 -30 mg/hari
 Propylthiouracil (PTU) dosis awal 300 – 600 mg/hari, dosis maksimal 2.000 mg/hari
 Potassium Iodide
 Sodium Ipodate
 Anion Inhibitor
 Beta-adrenergic reseptor antagonist. Obat ini adalah untuk mengurangi gejala - gejala hipotiroidisme. Contoh: Propanolol
Indikasi :
 Mendapat remisi yang menetap atau memperpanjang remisi pada pasien muda dengan struma ringan –sedang dan tiroktosikosis
 Untuk mengendalikan tiroktosikosis pada fase sebelum pengobatan atau sesudah pengobatan yodium radioaktif
 Persiapan tiroidektomi
 Pasien hamil, usia lanjut
 Krisis tiroid
Penyekat adinergik ß pada awal terapi diberikan, sementara menunggu pasien menjadi eutiroid setelah 6-12 minggu pemberian anti tiroid. Propanolol dosis 40-200 mg dalam 4 dosis pada awal pengobatan, pasien kontrol setelah 4-8 minggu. Setelah eutiroid, pemantauan setiap 3-6 bulan sekali: memantau gejala dan tanda klinis, serta Lab.FT4/T4/T3 dan TSHs. Setelah tercapai eutiroid, obat anti tiroid dikurangi dosisnya dan dipertahankan dosis terkecil yang masih memberikan keadaan eutiroid selama 12-24 bulan. Kemudian pengobatan dihentikan , dan di nilai apakah tejadi remisi. Dikatakan remisi apabila setelah 1 tahun obat antitiroid di hentikan, pasien masih dalam keadaan eutiroid, walaupun kemidian hari dapat tetap eutiroid atau terjadi kolaps.
b. Surgical
1) Radioaktif iodine.
Tindakan ini adalah untuk memusnahkan kelenjar tiroid yang hiperaktif


2) Tiroidektomi.
Tindakan Pembedahan ini untuk mengangkat kelenjar tiroid yang membesar

B. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
Konsep asuhan keperawatan pada klien hipertiroidisme merujuk pada konsep yang dikutip dari Doenges (2000), seperti dibawah ini :
a. Aktivitas atau istirahat
 Gejala : Imsomnia, sensitivitas meningkat, Otot lemah, gangguan koordinasi, Kelelahan berat
 Tanda : Atrofi otot
b. Sirkulasi
 Gejala : Palpitasi, nyeri dada (angina)
 Tanda : Distritmia (vibrilasi atrium), irama gallop, murmur, Peningkatan tekanan darah dengan tekanan nada yang berat. Takikardia saat istirahat. Sirkulasi kolaps, syok (krisis tirotoksikosis)
c. Eliminasi
 Gejala : Perubahan pola berkemih ( poliuria, nocturia), Rasa nyeri / terbakar, kesulitan berkemih (infeksi), Infeksi saluran kemih berulang, nyeri tekan abdomen, Diare, Urine encer, pucat, kuning, poliuria ( dapat berkembang menjadi oliguria atau anuria jika terjadi hipovolemia berat), urine berkabut, bau busuk (infeksi), Bising usus lemah dan menurun, hiperaktif ( diare )
d. Integritas / Ego
 Gejala : Stress, tergantung pada orang lain, Masalah finansial yang berhubungan dengan kondisi.
 Tanda : Ansietas peka rangsang
e. Makanan / Cairan
 Gejala : Hilang nafsu makan, Mual atau muntah. Tidak mengikuti diet, peningkatan masukan glukosa atau karbohidrat, penurunan berat badan lebih dari periode beberapa hari/minggu, haus, penggunaan diuretik ( tiazid )
 Tanda : Kulit kering atau bersisik, muntah, Pembesaran thyroid ( peningkatan kebutuhan metabolisme dengan pengingkatan gula darah ), bau halitosis atau manis, bau buah ( napas aseton)
f. Neurosensori
 Gejala : Pusing atau pening, sakit kepala, kesemutan, kebas, kelemahan pada otot parasetia, gangguan penglihatan
 Tanda : Disorientasi, megantuk, lethargi, stupor atau koma ( tahap lanjut), gangguan memori ( baru masa lalu ) kacau mental. Refleks tendon dalam (RTD menurun; koma). Aktivitas kejang ( tahap lanjut dari DKA)

g. Nyeri / Kenyamanan
 Gejala : Abdomen yang tegang atau nyeri (sedang / berat), Wajah meringis dengan palpitasi, tampak sangat berhati-hati.
h. Pernapasan
 Gejala : Merasa kekurangan oksigen, batuk dengan / tanpa sputum purulen (tergantung adanya infeksi atau tidak)
 Tanda : sesak napas, batuk dengan atau tanpa sputum purulen (infeksi), frekuensi pernapasan meningkat
i. Keamanan
 Gejala : Kulit kering, gatal, ulkus kulit
 Tanda : Demam, diaforesis, kulit rusak, lesi atau ulserasi, menurunnya kekuatan umum / rentang gerak, parastesia atau paralysis otot termasuk otot otot pernapasan (jika kadar kalium menurun dengan cukup tajam )
j. Seksualitas
 Gejala : Rabas wanita ( cenderung infeksi ), masalah impotent pada pria ; kesulitan orgasme pada wanita
 Tanda : Glukosa darah : meningkat 100-200 mg/ dl atau lebih. Aseton plasma : positif secara menjolok. Asam lemak bebas : kadar lipid dengan kolosterol meningkat.


2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang lazim terjadi pada klien yang mengalami hipertiroidisme adalah sebagai berikut :
1. Risiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan hipertiroid tidak terkontrol, keadaan hipermetabolisme, peningkatan beban kerja jantung
2. Kelelahan berhubungan dengan hipermetabolik dengan peningkatan kebutuhan energi
3. Risiko tinggi terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan peningkatan metabolisme (peningkatan nafsu makan/pemasukan dengan penurunan berat badan)
4. Risiko tinggi terhadap kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan perubahan mekanisme perlindungan dari mata ; kerusakan penutupan kelopak mata/eksoftalmus.
5. Ansietas berhubungan dengan faktor fisiologis; status hipermetabolik.
6. Kurang pengetahuan mengenai kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan tidak mengenal sumber informasi.
7. Risiko tinggi perubahan proses pikir berhubungan dengan perubahan fisiologik, peningkatan stimulasi SSP/mempercepat aktifitas mental, perubahan pola tidur


3. Rencana Keperawatan
a. Risiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan hipertiroid tidak terkontrol, keadaan hipermetabolisme, peningkatan beban kerja jantung
 Tujuan : Klien akan mempertahankan curah jantung yang adekuat sesuai dengan kebutuhan tubuh,
 Dengan kriteria :
1) Nadi perifer dapat teraba normal.
2) Vital sign dalam batas normal.
3) Pengisian kapiler normal
4) Status mental baik
5) Tidak ada disritmia
 Intervensi :
1) Pantau tekanan darah pada posisi baring, duduk dan berdiri jika
memungkinkan. Perhatikan besarnya tekanan nadi
Rasional : Hipotensi umum atau ortostatik dapat terjadi sebagai akibat dari vasodilatasi perifer yang berlebihan dan penurunan volume sirkulasi
2) Periksa kemungkinan adanya nyeri dada atau angina yang dikeluhkan pasien.
Rasional : Merupakan tanda adanya peningkatan kebutuhan oksigen oleh otot jantung atau iskemia
3) Auskultasi suara nafas. Perhatikan adanya suara yang tidak normal (seperti krekels)
Rasional : S1 dan murmur yang menonjol berhubungan dengan curah jantung meningkat pada keadaan hipermetabolik
4) Observasi tanda dan gejala haus yang hebat, mukosa membran kering, nadi lemah, penurunan produksi urine dan hipotensi
Rasional : Dehidrasi yang cepat dapat terjadi yang akan menurunkan volume sirkulasi dan menurunkan curah jantung
5) Catat masukan dan haluaran
Rasional : Kehilangan cairan yang terlalu banyak dapat menimbulkan dehidrasi berat
b. Kelelahan berhubungan dengan hipermetabolik dengan peningkatan kebutuhan energi
 Tujuan : Klien akan mengungkapkan secara verbal tentang peningkatan tingkat energi
 Intervensi :
1) Pantau tanda vital dan catat nadi baik istirahat maupun saat aktivitas.
Rasional : Nadi secara luas meningkat dan bahkan istirahat , takikardia mungkin ditemukan
2) Ciptakan lingkungan yang tenang
Rasional : Menurunkan stimulasi yang kemungkinan besar dapat menimbulkan agitasi, hiperaktif, dan imsomnia
3) Sarankan pasien untuk mengurangi aktivitas
Rasional : Membantu melawan pengaruh dari peningkatan metabolisme
4) Berikan tindakan yang membuat pasien merasa nyaman seperti massage
Rasional : Meningkatkan relaksasi
c. Risiko tinggi terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan peningkatan metabolisme (peningkatan nafsu makan/pemasukan dengan penurunan berat badan)
 Tujuan : Klien akan menunjukkan berat badan stabil
 Dengan kriteria :
 Nafsu makan baik.
 Berat badan normal
 Tidak ada tanda-tanda malnutrisi
 Intervensi :
1) Catat adanya anoreksia, mual dan muntah
Rasional : Peningkatan aktivitas adrenergic dapat menyebabkan gangguan sekresi insulin/terjadi resisten yang mengakibatkan hiperglikemia
2) Pantau masukan makanan setiap hari, timbang berat badan setiap hari
Rasional : Penurunan berat badan terus menerus dalam keadaan masukan kalori yang cukup merupakan indikasi kegagalan terhadap terapi antitiroid
3) kolaborasi untuk pemberian diet tinggi kalori, protein, karbohidrat dan vitamin
Rasional : Mungkin memerlukan bantuan untuk menjamin pemasukan zat-zat makanan yang adekuat dan mengidentifikasi makanan pengganti yang sesuai
d. Risiko tinggi terhadap kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan perubahan mekanisme perlindungan dari mata; kerusakan penutupan kelopak mata/eksoftalmus
 Tujuan : Klien akan mempertahankan kelembaban membran mukosa mata, terbebas dari ulkus
 Intervensi :
1) Observasi adanya edema periorbital
Rasional : Stimulasi umum dari stimulasi adrenergik yang berlebihan
2) Evaluasi ketajaman mata
Rasional : Oftalmopati infiltratif adalah akibat dari peningkatan jaringan retroorbita
3) Anjurkan pasien menggunakan kaca mata gelap
Rasional : Melindungi kerusakan kornea
4) Bagian kepala tempat tidur ditinggikan
Rasional : Menurunkan edema jaringan bila ada komplikasi
e. Ansietas berhubungan dengan faktor fisiologis; status hipermetabolik
 Tujuan : Klien akan melaporkan ansietas berkurang sampai tingkat dapat diatasi
 Dengan kriteria : Pasien tampak rileks
 Intervensi :
1) Observasi tingkah laku yang menunjukkan tingkat ansietas
Rasional : Ansietas ringan dapat ditunjukkan dengan peka rangsang dan imsomnis
2) Bicara singkat dengan kata yang sederhana
Rasional : Rentang perhatian mungkin menjadi pendek , konsentrasi berkurang, yang membatasi kemampuan untuk mengasimilasi informasi
3) Jelaskan prosedur tindakan
Rasional : Memberikan informasi yang akurat yang dapat menurunkan kesalahan interpretasi
4) Kurangi stimulasi dari luar
Rasional : Menciptakan lingkungan yang terapeutik

f. Kurang pengetahuan mengenai kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan tidak mengenal sumber informasi
 Tujuan : Klien akan melaporkan pemahaman tentang penyakitnya
 dengan kriteria : Mengungkapkan pemahaman tentang penyakitnya
 Intervensi :
1) Tinjau ulang proses penyakit dan harapan masa depan
Rasional : Memberikan pengetahuan dasar dimana pasien dapat menentukan pilihan berdasarkana informasi
2) Berikan informasi yang tepat
Rasional : Berat ringannya keadaan, penyebab, usia dan komplikasi yang muncul akan menentukan tindakan pengobatan
3) Identifikasi sumber stress
Rasional : Faktor psikogenik seringkali sangat penting dalam
memunculkan/eksaserbasi dari penyakit ini
4) Tekankan pentingnya perencanaan waktu istirahat
Rasional : Mencegah munculnya kelelahan
5) Berikan informasi tanda dan gejala dari hipotiroid
Rasional : Pasien yang mendapat pengobatan hipertiroid besar kemungkinan mengalami hipotiroid yang dapat terjadi segera setelah pengobatan selama 5 tahun kedepan

g. Risiko tinggi perubahan proses pikir berhubungan dengan perubahan fisiologik, peningkatan stimulasi SSP/mempercepat aktifitas mental, perubahan pola tidur
 Tujuan : Mempertahankan orientasi realitas umumnya, mengenali perubahan dalam berpikir/berprilaku dan faktor penyebab.
 Intervensi :
1) Kaji proses pikir pasien seperti memori, rentang perhatian, orientasi terhadap tempat, waktu dan orang
Rasional : Menentukan adanya kelainan pada proses sensori
2) Catat adanya perubahan tingkah laku
Rasional :Kemungkinan terlalu waspada, tidak dapat beristirahat, sensitifitas meningkat atau menangis atau mungkin berkembang menjadi psikotik yang sesungguhnya
3) Kaji tingkat ansietas
Rasional :Ansietas dapat merubah proses pikir
4) Ciptakan lingkungan yang tenang, turunkan stimulasi lingkungan
Rasional :Penurunan stimulasi eksternal dapat menurunkan
hiperaktifitas/refleks, peka rangsang saraf, halusinasi pendengara.
5) Orientasikan pasien pada tempat dan waktu
Rasional :Membantu untuk mengembangkan dan mempertahankan kesadaran pada realita/lingkungan
6) Anjurkan keluarga atau orang terdekat lainnya untuk mengunjungi klien.
Rasional :Membantu dalam mempertahankan sosialisasi dan orientasi pasien.
7) Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi seperti sedatif/tranquilizer, atau obat anti psikotik.
Rasional :Meningkatkan relaksasi, menurunkan hipersensitifitas saraf/agitasi untuk meningkatkan proses pikir.

4. Evaluasi
Hasil yang diharapkan adalah :
1. Klien akan mempertahankan curah jantung yang adekuat sesuai dengan kebutuhan tubuh
2. Klien akan mengungkapkan secara verbal tentang peningkatan tingkat energi
3. Klien akan menunjukkan berat badan stabil
4. Klien akan mempertahankan kelembaban membran mukosa mata, terbebas dari ulkus
5. Klien akan melaporkan ansietas berkurang sampai tingkat dapat diatasi
6. Klien akan melaporkan pemahaman tentang penyakitnya
7. Mempertahankan orientasi realitas umumnya, mengenali perubahan dalam berpikir/berprilaku dan faktor penyebab



















DAFTAR PUSTAKA

Bare & Suzanne. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Volume 2. (Edisi8). EGC; Jakarta

Carpenito. 1999. Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan, (Edisi 2). EGC;Jakarta

Corwin,. J. Elizabeth. 2001. Patofisiologi. EGC; Jakarta

Doenges, E. Marilynn dan MF. Moorhouse. 2001. Rencana Asuhan Keperawatan,(Edisi III). EGC; Jakarta.

Price, S. A dan Wilson, L. M. 1995. Patofisiologi. EGC; Jakarta

Askep Gagal Jantung

Gagal Jantung

Gagal Jantung, sering disebut gagal jantung kongestif, adalah ketidakmampuan jsntung untuk memompa darah yang adekuat untuk memenuhi kebutuhan jaringan akan oksigen dan nutrisi
Gagal Jantung Kiri. Kongesti paru menonjol pada gagal ventrikel kiri, karena ventrikel kiri tidak mampu memompa darah yang datang dari paru. Peningkatan dalam sirkulasi paru menyebabkan cairan terdorong ke jaringan paru. Manifestasi klinis yang terjadi meliputi dispnu, batuk, mudah lelah, denyut jantung cepat(takikardia) dengan bunyi jantung S3, kecemasan dan kegelisahan.
Gagal Jantung Kanan. Bila ventrikel kanan gagal, yang menonjol adalah kongesti visera dean jaringan perifer. Hal ini terjadi karena sisi kanan jantung tidak mampu mengososngkan volume darah dengan adekuat sehingga tidak dapat mengakomodasi semua darah yang secara normal kembali dari sirkulasi vena.
Manifestasi klinis yang tampak meliputi edema ekstrimitas bawah(edema dependen), yang biasanya merupakan pitting edema, pertambahan berat badan, hepatomegali (pembesaran hepar), distensi vena leher, asites (penimbunan cairan didalam rongga peritoneum), anoreksia dan mual, nokturia dan lemah.

Etilogi
Kelainan Otot Jantung
Gagal Jantung paling sering terjadi pada penderita kelainan otot jantung, menyebabkan menurunnya kontraktilitas jantung.
Aterosklerosis koroner
Mengakibatkan disfungsi miokardium karena terganggunya aliran darah ke otot jantung
Hipertensi Sistemik atau Pulmonal
(Peningkatan afterloud) meningkatkan beban kerja jantung dan pada gilirannya mengakibatkan hipertrofi serabut jantung.
Peradangan dan Penyakit Miokardium Degenaratif
Berhubungan dengan gagal jantung karena kondisi ini secara langsung merusak serabut jantung, menyebabkan kontraktilitas menurun.
Penyakit jantung lain
Gagal jantung dapat terjadi sebagai akibat penyakit jantung yang sebenarnya tidak secara langsung mempengaruhi jantung.
Factor Sistemik
Terdapat sejumlah factor yangberperan dalam perkembangan dan beratnya gagal jantung . meningkatnya laju metabolisme(missal demam, tirotoksikosis), hipoksia, dan anemia memerlukan peningkatan curah jantung untuk memenuhi kebutuhan oksigen sistemik.

Tanda dan Gejala
Tanpa dominan gagal jantung adalah meningkatnya volume intravascular. Peningkatan tekanan vena pulmonalis dapat menyebabkan cairan mengalir dari kapiler paru ke alveoli, akibatnya terjadi edema paru, yang dimanifestasikan dengan batuk dan nafas pendek.
Turunna curah jantung pada gagal jantung dimanifestasikan secara luas karena darah tidak dapat menyampaikan oksigen yang dibutuhkan . beberapa efek yang biasanya timbul akibat perfusi rendah adalah pusing, konfusi, kelelahan, tidak toleran terhadap latihan dan panas, ekstremitas dingin,dan haluaran urin berkurang.

Pemeriksaan Penunjang
Pemantauan Hemodinamika
Diagnosa gagal jantung dibuat dengan mengevaluasi manifestasi klinis kongesti paru dan kongesti sistemik.
Pengukuran tekanan preloud, afterloud dan curah jantung dapat diperoleh melalui lubang-lubang yang terletak pada berbagai interval sepanjang kateter.
Curah jantung diukur dengan suatu lumen termodilusi yanh dihubungkan dengan computer.

Penatalaksanaan
Tujuan dasar penatalaksanaan pasien dengan gagal jantung adalah sebagai berikut:
1. Dukung istirahat untuk mengurangi beban kerja jantung
2. Meningkatkan kekuatan dan efisiensi kontraksi jantung dengan bahan-bahan farmakologis.
3. Menghilangkan penimbunan cairan tubuh berlebihan dengan terapi deuretik diet dan istirahat.

A. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
Pengkajian merupakan dasar utama atau langkah awal dari proses keperawatan secara keseluruhan. Pada tahap ini semua data dan informasi tentang klien yang dibutuhkan dikumpulkan dan di analisa untuk menentukan diagnosa keperawatan. Tujuan dari pengkajian keperawatan mengumpulkan data, mengelompokkan data, dan menganalisa data, sehingga ditemukan diagnosa keperawatan.
Pengkajian pada klien myocard infark menurun Marlyn E, Doenges meliputi ;
a. Aktivitas/istirahat
1. Kelemahan, kelelahan dan kurang tidur.
2. Takhikardi, sesak saat beraktifitas atau saat istirahat
b. Sirkulasi
1. Tekanan darah bermasalah serta gangguan toleransi glukosa.
2. Tekanan darah mungkin normal, meningkat atau turun, serta perubahan postural dari posisi berbaring ke posisi duduk / berdiri, nadi normal, meningkat atau turun kualitasnya dengan pengisian kapiler yang lambat dan disritmia, bunyi jantung tambahan (S3 dan S4). Mencerminkan adanya kegagalan kontraktilitas ventrikel jantung, adanya murmur insufisiensi katub atau disfungsi otot papiler, denyut jantung mungkin teratur atau irreguler, distensi vena jugularis, edema perifer, edema menyeluruh, dan adanya crace (rales) menunjukkanO adanya kegagalan jantung, kulit, kuku, membran mukosa dan bibir mungkin pucat / sianosis.
c. Integrasi diri
1. Takut mati, perasaan mendekati ajal, marah tak sesuai terhadap penyakit / kebutuhan hospitalisasi, kecemasan terhadap keluarga, pekerjaan dan biaya.
2. Denial, Withdrawal (menarik diri), cemas, kontak mata berkurang, mudah tersinggung dan marah, tingkah laku melawan dan persepsi menyempit (berpusat pada diri / nyeri).

d. Eleminasi
Normal atau berkurangnya bising usus yang mungkin di sertai kontipasi.
e. Makanan/Nutrisi
1. Mual, dan nafsu makan berkurang.
2. Turgor kulit berkurang, kulit kering atau berkeringat dan perubahan berat badan.
f. Hygiene
1. Sesak napas / nyeri dada atau Takhikardi selama beraktifitas.
g. Neorosensori
1. Pusing dan rasa hendak pingsan
2. Perubahan status mental
h. Nyeri/rasa aman
1. Nyeri dada tiba-tiba (dengan atau tanpa aktivitas) yang tidak hilang dengan pemberian nitrogliserin atau istirahat. Lokasi khas pada dada depan, substernal, precodial, dapat di sertai dengan penjalaran kelengan atau muka, dan lokasi yang tidak khas seperti epigastrium, siku, dagu dan punggung, kualitas kasar, tumpul atau terus-menerus kuat. Intensitas selalu sepuluh pada skala nyeri 1 sampai 10. Bahkan merupakan nyeri yang paling nyeri pernah di alami klien.
2. Muka menyeringai, perubahan postur tubuh, menangis, merintih, withdrawal, kehilangan kontak mata, perubahan irama jantung / denyut jantung, tekanan darah, pernapasan, warna kulit atau tingkat kesadaran.
i. Pernafasan
1. Sesak nafas dengan atau tanpa aktifitas, sesak pada malam hari, garuk dengan atau tanpa sputum. Riwayat merokok atau penyakit pernafasan kronis.
3. Meningkatnya pernafasan, pernafasan dangkal atau sukar, pucat / sianosis, suara nafas bersih atau adanya suara tambahan sputum bersih atau kemerahan.
j. Interaksi sosial
1. Baru mengalami stress, misalnya pekerjaan atau keluarga, koping yang sukar terhadap stressor yang baru dialaminya, misalnya karena penyakit atau hospitalisasi.
2. Sukar istirahat dengan tenang, emosi yang berlebihan (selalu marah dan takut)
k. Tingkat pengetahuan
Riwayat penyakit jantung, diabetes mellitus, stroke, hipotensi, atau penyakit pembuluh darah perifer, penggunaan tembakau atau rokok.
2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah pernyataan yang menjelaskan status atau masalah kesehatan aktual atau potensial. Tujuannya adalah mengidentifikasi: pertama, adanya masalah aktual berdasarkan respon klien terhadap masalah atau penyakit; kedua, faktor-faktor yang berkonstribusi atau penyebab adanya masalah; ketiga, kemampuan klien mencegah atau menghilangkan masalah.
Setelah mengumpulkan data tahap selanjutnya yaitu pengolahan data dan merumuskan diagnosa keperawatan. Adapun diagnosa keperawatan pada klien dengan Infark Myocard Acut menurut Marylin E. Doenges et. Al Antara lain meliputi :
a. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan iskemik jaringan myocard.
b. Ansietas berhubungan dengan ancaman atau perubahan kesehatan dan status sosioekonomi.
c. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan ketidakseimbangan supplay O2 ke jaringan myocard.
d. Resiko tinggi terhadap kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan perfusi organ (ginjal).
e. Resiko tinggi penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan frekuensi, irama dan konduksi elektrika myocard.
f. Resiko tinggi perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penghentian / penurunan aliran darah (vasokontriksi, Hypovolemia dan Tramboembolik).
g. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang informasi tentang fungsi jantung / implikasi penyakit jantung dan status kesehatan akan datang.


4. Perencanaan
Setelah merumuskan diagnosa keperawatan maka perlu dibuat perencanaan. Perencanaan adalah langkah awal dalam menentukan apa yang dilakukan untuk membantu klien dalam memenuhi serta mengatasi masalah keperawatan yang telah ditentukan. Tahap perencanaan keperawatan adlan menentukan prioritas diagnosa keperawatan, penetapan sasaran dan tujuan, penetapan kriteria evaluasi dan merumuskan intervebsi keperawatan.
Rencana tindakan keperawatan yang disusun pada klien dengan Infark Myocard Acut menurut Doenges M.E. adalah sebagai berikut:
a. Diagnosa keperawatan pertama
Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan iskemik jaringan otot myocard.
1). Hasil yang di harapkan :
a) Menyatakan nyeri dada hilang.
b) Mendemonstrasikan penggunaan tekhnik relaksasi, menunjukkan menurunnya tegangan, rileks, mudah bergerak.
2). Rencana tindakan :
a) Pantau / catat karakteristik nyeri, cacat laporkan verbal, non verbal.
b) Ambil gambaran lengkap terhadap nyeri dan klien termasuk lokasi, intensitas (1 – 10) : lamanya, kualitas dan penyebaran.
c) Kaji ulang riwayat angina sebelumnya.
d) Anjurkan klien untuk melaporkan nyeri dada dengan segera.
e) Berikan lingkungan yang tenang, aktivitas perlahandan tindakan nyaman.
f) Berikan oksigen tambahan dengan kanula nasal atau masker sesuai indikasi.
g) Berikan obat-obatan sesuai indikasi contoh Angina, analgesik.
b. Diagnosa keperawatan kedua
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara supplay 02 myocard dengan kebutuhan.
1). Hasil yang di harapkan :
Mendemonstrasikan peningkatan toleransi aktivitas yang dapat di ukur, maju dengan frekuensi jantung / irama dan TD dalam batas normal klien dan kulit hangat, merah muda dan kering.
2). Rencana Tindakan:
a) Catat / dokumentasikan frekuensi jantung, irama dan perubahan TD sebelum, selama, sesudah aktivitas sesuai indikasi.
b) Tingkatkan istirahat (tempat tidur/kursi). Batasi aktivitas pada dasan nyeri, berikan aktivitas senggang yang tidak berat.
c) Batasi pengunjung.
d) Anjurkan klien untuk menghindari peningkatan tekanan abdomen contoh : mengejan pada saat defekasi.
e) Jelaskan pola peningkatan bertahap dari tingkat aktivitas.
f) Kaji ulang/gejala/tanda yang menunjukkan tidak toleran terhadap aktivitas atau memerlukan pelaporan pada perawat.
c. Diagnosa keperawatan ketiga
Ansietas berhubungan dengan ancaman atau perubahan kesehatan dan status sosioekonomi
1). Hasil yang diharapkan :
Mengenal perasaannya, mengidentifikasi penyebab, menyatakan penurunan ansietas / takut.
2). Rencana tindakan:
a) Identifikasi dan ketahui persepsi klien terhadap ancaman kesehatan/ situasi.
b) Catat adanya kegelisahan, menolak dan, atau menyangkal.
c) Mempertahankann gaya percaya (tanpa keyakinan yang salah)
d) Kaji tanda verbal/non verbal kecemasan dengan klien bila perilaku menujukkan mencederai.
e) Orientasikan klien/orang terdekat terhadap prosedur rutin dan aktivitas yang diharapkan
f) Berikan anti cemas/hipnotik sesuai indikasi. Contoh diazepam (valium).
d. Diagnosa Keperawatan keempat
Resiko terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan frekuensi, irama, konduksi elektrikal myocard.
1). Hasil yang diharapkan :
Mempertahankan stabilitas hemodinamik, TD serta curah jantung dalam rentang normal.
2). Rencana tindakan:
a) Auskultasi TD, bandingkan tangan dan ukur dengan tidur, duduk dan berdiri bila bisa.
b) Evaluasi kualitas dan kesamaan nadi, sesuai indikasi.
c) Catat terjadinya S3, S4, dan adanya murmur.
d) Auskultasi bunyi napas.
e) Pantau frekuensi jantung dan irama, catat distritmia melalui telemetri.
f) Pertahankan masukan IV sesuai indikasi.
e. Diagnosa keperawatan kelima
Resiko tinggi terhadap perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan/ penghentian aliran darah.
1) Hasil yang diharapkan :
Mendemonstrasikan perfusi adekuat secara individual, contoh; acral hangat, nadi kuat, tanda vital dalam batas normal.
2) Rencana Tindakan :
a) Selidiki perubahan tiba-tiba atau gangguan mental kontinue contoh; cemas, bingung, lethargi dan pingsan.
b) Lihat pucat, sianosis, belang, kulit dingin / lembab, catat kekuatan nadi perifer.
c) Anjurkan klien dalam melakukan / melepas kaus kaki antiembolik bila di gunakan.
d) Pantau pernapasan, catat kerja pernapasan.
e) Pantau data laboratorium, contoh; GDA, kreatinin, dan elektrolit.
f) Beri obat sesuai indikasi misalnya, Heparin / natrium warfarin dan cimetidine.
f. Diagnosa keperawatan keenam
Resiko tinggi kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan perfusi organ (ginjal) /peningkatan natrium/retensi air.
1). Hasil yang di harapkan:
Mempertahankan keseimbangan cairan seperti TD dalam batas normal/tidak ada distensi vena dan edema.
2). Rencana Tindakan :
a) Auskultasi bunyi napas untuk adanya krekels.
b) Catat denyut vena jugularis, adanya edema dependen.
c) Ukur masukan/haluaran, catat penurunan/pengeluaran, sifat konsentrasi.
d) Timbang berat badan tiap hari.
e) Pertahankan pemasukan total cairan 2000 ml/24 jam dalam toleransi kardiovaskuler.B
f) Berikan diet rendah natrium.
g) Berikan diuretik misalnya : furosemid (lasix).
g. Diagnosa keperawatan ketujuh
Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi, kebutuhan pengobatan.

1). Hasil yang di harapkan :
Menyatakan pemahaman penyakit jantung sendiri, rencana pengobatan tujuan pengobatan dan efek samping/reaksi merugikan.
1). Rencana Tindakan :
a) Kaji tingkat pengetahuan klien /orang terdekat dan kemampuan / keinginan untuk belajar.
b) Waspada terhadap tanda penghindaran, contoh mengubah subjek dari informasi yang ada atau perilaku ekstern (menolak).
c) Berikan informasi dalam bentuk belajar yang bervariasi.
d) Peringatkan untuk menghindari aktivitas/sometrik.
e) Kaji ulang tanda/gejala yang memerlukan penurunan aktivitas dan pelaporan pada pemberi perawatan kesehatan.
f) Beri tekanan pentingnya menghubungi dokter bila nyeri dada, perubahan pola angina dan terjadi gejala lain.
5. Pelaksanaan
Pelaksanaan merupakan tahap pemberian tindakan-tindakan keperawatan untuk mengetahui/mengatasi permasalahan penderita secara terarah dan komprehensif, berdasarkan rencana yang telah di tetapkan sebelumnya.
Perencanaan keperawatan di kembangkan untuk memenuhi pengurangan nyeri, pengurangan sesak, mencegah distrimia, mengurangi kebutuhan oksigen ke myocard mengurangi kerusakan sel, mencegah komplikasi dan membantu individu beradaptasi dengan pengalaman myocard infarknya.
6. Evaluasi
Evaluasi merupakan tahap akhir yang berkelanjutan dari proses keperawatan yang merupakan tolak ukur mengetahui keberhasilan tindakan keperawatan yang di berikan.
Pada tahap evaluasi terdapat beberapa kemungkinan, masalah teratasi seluruhnya, sebagian, belum teratasi bahkan timbul masalah baru.
Evaluasi bertujuan untuk mengetahui kemajuan klien dalam mencapai kriteria hasil yang ditetapkan dalam tujuan asuhan keperawatan. Evaluasi yang di lakukan terdiri dari evaluasi hasil dan evaluasi proses.

Kamis, 16 April 2009

askep Halusinasi

BAB II
LANDASAN TEORI

A. Konsep Dasar
1. Pengertian Halusinasi
Secara umum halusinasi merupakan persepsi klien terhadap lingkungan tanpa stimulus yang nyata. Ada beberapa pengertian halusinasi, diantaranya adalah :
a. Halusinasi adalah pengalaman sensorik tanpa rangsangan eksternal (Cook and Fontaine, 1987).
b. Halusinasi adalah penyerapan tanpa adanya rangsang apapun pada panca indera seorang pasien yang terjadi dalam keadaan sadar/bangun, dasarnya mungkin organik, fungsional, psikotik ataupun histerik (W. Maramis, 1990).
c. Halusinasi adalah suatu penghayatan yang dialami seperti suatu persepsi melalui panca indera tanpa stimulus ekstern atau persepsi palsu (Lubis,1993).
2. Jenis Halusinasi
Halusinasi dapat terjadi pada kelima indera sensoris utama yaitu :
a. Pendengaran terhadap suara
Klien mendengar suara-suara yang tidak berhubungan dengan stimulus yang nyata dan orang lain tidak mendengarnya.

b. Visual terhadap penglihatan
Klien melihat gambaran yang jelas atau samar-samar tanpa stimulus yang nyata dan orang lain tidak melihatnya.
c. Taktil terhadap sentuhan
Klien merasakan sesuatu pada kulitnya tanpa stimulus yang nyata.
d. Pengecap terhadap rasa
Klien merasa makan atau mengecap sesuatu yang tidak nyata.
e. Penghidu terhadap bau.
Klien mencium bau yang muncul dari sumber tertentu tanpa stimulus yang nyata dan orang lain tidak menciumnya.
3. Penyebab Halusinasi
Individu yang berhalusinasi sering beranggapan bahwa sumber penyebab itu berasal dari lingkungan, padahal rangsangan primer dari halusinasi adalah kebutuhan perlindungan diri secara psikologis terhadap kejadian traumatik sehubungan dengan rasa bersalah, sedih, marah, rasa takut ditinggalkan orang yang dicintai, tidak dapat mengendalikan ego, pikiran dan perasaannya sendiri.
Secara umum dikatakan yang mengancam harga diri dan keutuhan keluarga merupakan penyebab terjadinya halusinasi. Selain itu kecemasan, kemampuan untuk memisahkan dan mengatur persepsi mengenai perbedaan antara apa yang dipikirkan dengan perasaan sendiri menurun sehingga segala sesuatu sukar dibedakan mana rangsangan dari pikiran dan rangsangan dari lingkungan (Keliat, 1998).
Ada 2 (dua) faktor penyebab terjadinya halusinasi, yaitu :
a. Faktor Predisposisi
Meliputi perkembangan sosial kultural, psikologis, genetik dan biokimia.
b. Faktor presipitasi
Dirumah sakit jiwa, rangsangan lingkungan sering sebagai pencetus halusinasi yaitu partisipasi klien dalam kelompok, terlalu lama diajak bicara, objek yang ada dilingkungannya dan suasana sepi.
4. Rentang Respon Halusinasi
Respon perilaku klien dapat diidentifikasi sepanjang rentang respon sehingga perawat dapat menilai apakah respon klien masih adaptif atau maladaptif. Halusinasi merupakan salah satu respon maladaptif individu yang berada dalam rentang respon neurobiologi (Stuart dan Laraia, 2001).

Respon Adaptif Respon Maladaptif







5. Tanda dan Gejala
Menurut Stuart dan Sundeen (1995), tanda dan gejala yang muncul pada klien dengan perubahan persepsi sensori halusinasi dengar yaitu bicara atau senyum sendiri, klien mengatakan mendengar suara-suara, marah tanpa alasan, merusak diri sendiri, orang lain dan lingkungan, tidak dapat membedakan hal nyata dan tidak nyata, tidak dapat berkonsentrasi, curiga dan bermusuhan, menarik diri dan menghindar dari orang lain, sulit membuat keputusan, ketakutan, tidak mampu mengurus diri sendiri, ekspresi wajah tegang dan gelisah.
6. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan yang biasanya diberikan kepada klien dengan masalah utama perubahan sensori persepsi : halusinasi pendengaran adalah sebagai berikut :
a. Chlorpromazine (CPZ)
Merupakan obat antipsikosis dengan nama dagang : Largactil, Promactil, Ethibernal. Indikasinya yaitu sindroma psikosis dengan hendaya berat dalam menilai realitas yang dimanifestasikan : kesadaran diri terganggu, daya nilai terganggu, daya tilik terganggu serta hendaya berat pada fungsi mental dengan manifestasi : gangguan asosiasi pikiran (inkoheren), isi pikir tidak wajar (waham), gangguan persepsi halusinasi, gangguan perasaan, perilaku aneh dan tidak terkendali. Hendaya berat dalam kehidupan sehari-hari dengan manifestasi : tidak mau bekerja, hubungan sosial/kegiatan rutin. Kontra indikasinya antara lain : hepatotoksik, hematotoksik, epilepsi, kelainan jantung, febris yang tinggi, ketergantungan alkohol, penyakit susunan saraf pusat dan gangguan kesadaran.
Mekanisme kerja obat ini yaitu : memblokade dopamin pada reseptor pasca sinaptik neuron di otak khususnya sistem limbik dan sistem ekstrapiramidal. Efek sampingnya adalah sedasi dan inhibisi psikomotor, gangguan otonomik (hipotensi, antikolinergik, parasimpatoliptik : mulut kering, dan kesulitan miksi serta defekasi, hidung tersumbat, tekanan introkuler tinggi, gangguan irama jantung), gangguan ekstra piramidal (distonia, akatshia, sindroma parkinson tremor, bradikinesia rigiditas) gangguan endokrin (amenore, ginekomastia), gangguan metabolik (jaundice), hematologi (agranulositosis) biasanya untuk pemakaian jangka panjang.
b. Haloperidol (HP)
Indikasi obat ini adalah hendaya berat dalam kemampuan menilai realita serta hendaya berat dalam kondisi kehidupan sehari-hari. Kontra indikasinya adalah penyakit hati, penyakit darah, epilepsi, kelainan jantung, febris yang tinggi, ketergantungan alkohol serta gangguan kesadaran. Mekanisme kerja yaitu sebagai obat anti psikosis dalam memblokade dopamin, pada reseptor pasca sinaptik neuron di otak, khususnya sistem limbik dan sistem ekstrapiramidal. Efek sampingnya antara lain sedasi dan inhibisi psikomotor, gangguan otonomik (hipotensi, antikolinergik/parasimpatik : mulut kering, kesulitan miksi dan defekasi, hidung tersumbat, mata kabur dan tekanan intraokuler meningkat, gangguan irama jantung).
c. Trihexilphenidil (THP)
Indikasi obat ini untuk segala jenis Parkinson termasuk pasca encefalitis dan idiopatik, sindroma parkinson, akibat obat misalnya : Reserpin dan Fenothiazine. Kontra indikasinya antara lain : hipersensitif terhadap THP glaukoma sudut sempit, takiaritmia, psikosis berat, psikoneurosis, hipertropi prostat dan obstruksi saluran cerna. Mekanisme kerja obat ini sinergis dengan kinidime, obat antidepresan presiklik, dan antikolinergik lainnya. Sedangkan efek sampingnya dapat berupa penglihatan kabur, mulut kering, pusing, mual, muntah, bingung, agitasi, konstipasi, takikardi, dilatasi ginjal dan retensi urin.

B. Asuhan Keperawatan
Pemberian asuhan keperawatan merupakan proses terapeutik yang melibatkan hubungan kerjasama antara perawat dengan klien, keluarga dan atau masyarakat untuk mencapai tingkat kesehatan yang optimal (Carpenito, 1989 dikutip oleh Keliat, 1991). Asuhan keperawatan pada klien untuk memecahkan masalah klien dengan menggunakan proses keperawatan. Dalam proses keperawatan, perawat memakai latar belakang pengetahuan pasien, mendiagnosa, merencanakan intervensi keperawatan (Keliat.dkk,1998).

Tahap-tahapan dari proses keperawatan tersebut adalah :
1. Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal dan dasar utama dari proses keperawatan. Tahap pengkajian terdiri atas pengumpulan data dan perumusan masalah klien. Data yang dikumpulkan meliputi data biologis, psikologis, sosial dan spiritual. Pengelompokan data pada pengkajian kesehatan jiwa dapat berupa faktor predisposisi, faktor presipitasi, penilaian terhadap stressor, sumber koping dan kemampuan koping yang dimiliki klien (Stuart dan Sundeen, 1995). Isi pengkajian meliputi identitas klien, keluhan utama atau alasan masuk, faktor predisposisi, aspek fisik atau biologis, aspek psikososial, status mental, kebutuhan persiapan pulang, mekanisme koping, masalah psikososial dan lingkungan, pengetahuan dan aspek medik.
Dari data yang dikumpulkan, perawat langsung merumuskan masalah keperawatan pada setiap kelompok data yang terkumpul. Umumnya sejumlah masalah klien saling berhubungan dan dapat digambarkan sebagai pohon masalah. Agar penentuan pohon masalah dapat dipahami, perlu diperhatikan tiga komponen yang terdapat pada pohon masalah yaitu penyebab (causa), masalah utama (core problem), dan akibat (effect).



Pohon Masalah :
Risiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan.

Perubahan sensori persepsi : halusinasi pendengaran

Isolasi sosial : menarik diri

Gangguan konsep diri : harga diri rendah
2. Diagnosa Keperawatan
Dalam keperawatan jiwa ditemukan diagnosa keperawatan dimana jika etiologi sudah diberikan tindakan dan pemasalahan belum selesai, maka permasalahan dijadikan etiologi pada diagnosa yang baru, demikian seterusnya. Jika permasalahan tersebut menjadi etiologi, maka tindakan diberikan secara tuntas. Dalam diagnosa keperawatan seluruh pernyataan dituliskan jika pernyataan pohon masalah diangkat menjadi permasalahan.
Diagnosa keperawatan dari pohon masalah adalah sebagai berikut :
a. Resiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan berhubungan dengan halusinasi pendengaran.
b. Perubahan sensori persepsi : halusinasi pendengaran berhubungan dengan menarik diri.
c. Isolasi sosial : menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah.


Menurut FASID (1993) dan INFI (1996), diagnosa yang mungkin timbul pada klien dengan halusinasi secara umum adalah :
a. Resiko tinggi terjadi tindak kekerasan yang diarahkan pada diri sendiri dan lingkungan berhubungan dengan halusinasi dengar.
b. Perubahan persepsi sensori : halusinasi dengar berhubungan dengan menarik diri.
c. Isolasi sosial : menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah.
d. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kurangnya motivasi.
3. Rencana Tindakan Keperawatan
Rencana tindakan keperawatan terdiri dari tiga aspek yaitu tujuan umum, tujuan khusus dan rencana tindakan keperawatan. Tujuan umum berfokus pada penyelesaian permasalahan dari diagnosa tertentu. Tujuan umum dapat dicapai jika serangkaian tujuan khusus telah dicapai. Sedangkan tujuan khusus berfokus pada penyelesaian etiologi dari diagnosa tertentu dan merupakan rumusan kemampuan klien yang perlu dicapai atau dimiliki klien.Rencana tindakan keperawatan merupakan serangkaian tindakan yang dapat mencapai tiap tujuan khusus tersebut.
Berikut ini rencana keperawatan yang ditemukan pada klien dengan halusinasi pendengaran :
a. Diagnosa keperawatan I
Resiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan berhubungan dengan halusinasi pendengaran.

Tujuan Umum :
Klien tidak mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan.
Tujuan Khusus :
1). Klien dapat membina hubungan saling percaya
a). Bina hubungan saling percaya.
b). Dorong dan beri kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaannya.
c). Dengarkan ungkapan klien dengan empati.
2). Klien dapat mengenal halusinasinya
a). Adakan kontak sering dan singkat secara bertahap.
b). Observasi tingkah laku klien terkait dengan halusinasinya.
c). Bantu klien mengenal halusinasinya.
d). Diskusikan dengan klien tentang situasi, waktu, frekuensi terjadinya halusinasi.
e). Diskusikan dengan klien mengenai perasaan saat timbulnya halusinasi.
f). Motivasi klien untuk mengungkapkan atau melaporkan kepada perawat ketika halusinasi timbul.
3). Klien dapat mengontrol halusinasinya
a). Identifikasi bersama klien tindakan apa yang dilakukan bila halusinasi muncul.
b). Beri penguatan dan pujian terhadap tindakan klien yang positif.
c). Diskusikan bersama klien cara baru untuk mecegah terjadinya halusinasi.
d). Bantu klien memilih dan melatih cara mengontrol halusinasi secara bertahap.
e). Beri kesempatan klien untuk melaksanakan cara yang telah dipilih untuk mengendalikan halusinasinya. Evaluasi hasilnya dan beri reinforcement positif jika berhasil.
f). Anjurkan klien mengikuti terapi aktifitas kelompok.
4). Klien dapat memanfaatkan obat dengan baik
a). Diskusikan dengan klien dan keluarga tentang dosis, frekuensi dan manfaat obat
b). Anjurkan klien minta sendiri obat pada perawat dan merasakan manfaatnya
c). Anjurkan klien bicara dengan dokter tentang manfaat dan efek samping obat yang dirasakan
d). Diskusikan akibat berhenti obat tanpa konsultasi
e). Bantu klien menggunakan obat dengan prinsip 5 (lima) benar.
5). Klien dapat dukungan dari keluarga dalam mengontrol halusinasinya
a). Anjurkan klien untuk memberitahu keluarga bila mengalami halusinasi
b). Diskusikan dengan keluarga tentang gejala halusinasi yang dialami klien,cara yang dapat dilakukan keluarga dan klien untuk memutus halusinasi,cara merawat keluarga dengan halusinasi dirumah, serta beri informasi waktu follow up atau kapan perlu mendapat bantuan.
b. Diagnosa Keperawatan II
Perubahan persepsi sensori : halusinasi pendengaran berhubungan dengan menarik diri.
Tujuan Umum :
Klien dapat berinteraksi dengan orang lain sehingga tidak terjadi halusinasi.
Tujuan Khusus:
1). Klien dapat membina hubungan saling percaya.
a). Bina hubungan saling percaya : salam terapeutik, perkenalkan diri, jelaskan tujuan interaksi, ciptakan lingkungan yang tenang, buat kontrak yang jelas pada tiap pertemuan (topik yang akan dibicarakan, tempat berbicara, waktu berbicara).
b). Berikan perhatian dan penghargaan : temani klien walaupun klien tidak menjawab, katakan “saya akan duduk di samping anda jika ingin mengatakan sesuatu saya siap mendengarkan”. Jika klien menatap perawat, katakan “ada yang ingin anda katakan ?”.
c). Dengarkan klien dengan empati.


2). Klien dapat menyebutkan penyebab menarik diri.
a). Kaji pengetahuan klien tentang perilaku menarik diri dan tanda-tandanya.
b). Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaan penyebab menarik diri atau tidak mau bergaul.
c). Diskusikan bersama klien tentang perilaku menarik diri, tanda-tanda serta penyebab yang muncul.
d). Berikan pujian terhadap kemampuan klien mengungkapkan perasaannya.
3). Klien dapat menyebutkan keuntungan berhubungan dengan orang lain dan kerugian tidak berhubungan dengan orang lain.
a). Kaji pengetahuan klien tentang manfaat dan keuntungan berhubungan dengan orang lain.
b). Bantu klien mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki klien untuk bergaul.
c). Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaan tentang keuntungan berhubungan dengan orang lain.
d). Diskusikan bersama klien tentang manfaat berhubungan dengan orang lain.
e). Beri reinforcement positif terhadap kemampuan mengungkapkan perasaan tentang keuntungan berhubungan dengan orang lain.
f). Kaji pengetahuan klien tentang kerugian bila tidak berhubungan dengan orang lain.
g). Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaan tentang kerugian bila tidak berhubungan dengan orang lain.
h). Diskusikan bersama klien tentang kerugian tidak berhubungan dengan orang lain.
i). Beri reinforcement positif terhadap kemampuan mengungkapkan perasaan tentang kerugian bila tidak berhubungan dengan orang lain.
4). Klien dapat melakukan hubungan sosial secara bertahap
a). Kaji kemampuan klien membina hubungan dengan orang lain.
b). Dorong dan bantu klien untuk berhubungan dengan orang lain melalui tahap : K-P, K-P-P lain, K-P-P lain-K lain, K-Kel/Klp/Masy.
c). Beri reinforcement positif terhadap keberhasilan yang telah dicapai.
d). Bantu klien untuk mengevaluasi manfaat berhubungan dengan orang lain.
e). Diskusikan jadwal harian yang dapat dilakukan bersama klien dalam mengisi waktu.
f). Motivasi klien untuk mengikuti kegiatan ruangan.
g). Beri reinforcement positif atas kegiatan klien dalam kegiatan ruangan.
5). Klien dapat mengungkapkan perasaannya setelah melakukan hubungan sosial.
a). Dorong klien untuk mengungkapkan perasaannya bila berhubungan dengan orang lain.
b). Diskusikan dengan klien tentang perasaan manfaat berhubungan dengan orang lain.
c). Beri reinforcement positif atas kemampuan klien mengungkapkan perasaan manfaat berhubungan dengan orang lain.
6). Klien dapat memberdayakan sistem pendukung atau keluarga.
a). Bina hubungan saling percaya dengan keluarga.
b). Diskusikan dengan anggota keluarga tentang perilaku menarik diri, penyebab perilaku menarik diri, akibat yang akan terjadi jika perilaku menarik diri tidak ditanggapi serta cara keluarga menghadapi klien menarik diri.
c). Dorong anggota keluarga untuk memberi dukungan kepada klien untuk berkomunikasi dengan orang lain.
d). Anjurkan anggota keluarga secara rutin dan bergantian menjenguk klien minimal satu kali dalam seminggu.
e). Beri reinforcement positif atas hal-hal yang telah dicapai oleh keluarga.
c. Diagnosa Keperawatan III
Isolasi sosial : menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah.
Tujuan Umum :
Klien dapat berhubungan dengan orang lain secara bertahap.
Tujuan Khusus :
1). Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat.
a). Bina hubungan saling percaya.
b). Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaannya tentang penyakit yang diderita.
c). Sediakan waktu untuk mendengarkan klien.
d). Katakan kepada klien bahwa ia adalah seseorang yang berharga dan bertanggung jawab serta mampu menolong dirinya sendiri.
2). Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki.
a). Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien.
b). Setiap bertemu klien, hindarkan memberikan penilaian negatif. Utamakan memberi pujian yang realistis.
3). Klien dapat menilai kemampuan yang digunakan :
a). Diskusikan dengan klien kemampuan yang masih dapat digunakan selama sakit misalnya penampilan klien dalam self care, latihan fisik dan ambulasi serta aspek asuhan terkait dengan gangguan fisik yang dialami klien.
b). Diskusikan dengan klien kemampuan yang dapat dilanjutkan penggunaannya setelah pulang sesuai dengan kondisi sakit klien.
4). Klien dapat menetapkan (merencanakan) kegiatan sesuai kemampuan yang dimiliki.
a). Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat digunakan setiap hari sesuai kemampuan : kegiatan mandiri, kegiatan dengan bantuan sebagian, kegiatan yang membutuhkan bantuan total.
b). Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi klien.
c). Berikan contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan.
5). Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi sakit dan kemampuan.
a). Beri kesempatan pada klien untuk mencoba kegiatan yang tidak direncanakan.
b). Beri pujian atas keberhasilan klien.
c). Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah.
6). Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada.
a). Berikan pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien harga diri rendah di rumah.
b). Bantu keluarga memberi dukungan selama klien dirawat.
c). Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah.


4. Implementasi
Implementasi tindakan keperawatan disesuaikan dengan rencana tindakan keperawatan. Sebelum melaksanakan tindakan yang sudah direncanakan, perawat perlu memvalidasi dengan singkat apakah rencana tindakan masih sesuai dan dibutuhkan klien sesuai dengan kondisinya saat ini. Pengelolaan dari rencana tindakan keperawatan yang ada untuk mengatasi masalah keperawatan hendaknya menggunakan empat metode tindakan keperawatan yaitu observasi, pendidikan kesehatan, terapi keperawatan dan terapi kolaboratif. Pada saat akan dilaksanakan tindakan keperawatan maka kontrak dengan klien dilaksanakan dengan menjelaskan apa yang akan dikerjakan serta peran serta klien yang diharapkan. Dokumentasikan semua tindakan yang telah dilaksanakan beserta respon klien.
Prinsip tindakan keperawatan pada klien dengan halusinasi menurut Stuart dan Sundeen (1998) adalah bina hubungan saling percaya, kaji gejala halusinasi, fokuskan pada gejala dan minta klien menguraikan apa yang sedang terjadi, identifikasi apakah klien sebelumnya pernah menggunakan obat atau alkohol, bantu klien untuk menguraikan dan membandingkan hal yang sekarang dengan yang terakhir dialaminya, dorong klien untuk mengamati dan menguraikan pikiran, perasaan dan tindakannya, sekarang atau yang lalu berkaitan dengan halusinasi yang dialaminya, bantu klien menguraikan kebutuhan yang mungkin tercermin pada isi halusinasinya, bantu klien mengidentifikasi apakah ada hubungan antara halusinasi dengan kebutuhan yang mungkin tercermin, sarankan dan perkuat penggunaan hubungan interpersonal dalam pemenuhan kebutuhan dan identifikasi bagaimana gejala psikosis lain telah mempengaruhi kemampuan klien untuk melaksanakan aktivitas hidup sehari-hari.
5. Evaluasi
Evaluasi adalah proses yang berkelanjutan untuk menilai efek dari tindakan keperawatan pada klien. Evaluasi dilakukan terus menerus pada respon klien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan. Evaluasi dapat dibagi dua, yaitu evaluasi proses atau formatif dilakukan setiap selesai melaksanakan tindakan dan evaluasi hasil atau sumatif dilakukan dengan membandingkan respon klien pada tujuan khusus dan tujuan umum yang telah ditentukan.
Hasil yang diharapkan setelah merawat pasien dengan halusinasi menurut Hamid (2000) adalah :
a. Klien mampu : memutus halusinasi dengan berbagai cara yang telah diajarkan, melakukan kegiatan hidup sehari-hari sesuai jadwal yang dibuat klien, meminta bantuan keluarga, menggunakan obat dengan benar serta melakukan follow up secara teratur.
b. Keluarga klien dapat : mengidentifikasi gejala halusinasi, merawat klien dirumah, mengetahui cara memutuskan halusinasi dan mendukung kegiatan klien serta menolong klien menggunakan obat dan follow up.