TIDAK PERLU KELILING DUNIA

WELCOME TO THE NURSE ASRAMA

keperawatan

Sabtu, 01 Agustus 2009

KTI Fraktur Communitif Metakarpal IV dan V Manus Dextra

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn. N DENGAN FRAKTUR
COMMUNITIF METAKARPAL IV DAN V MANUS DEXTRA DI RUANG
CEMPAKA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH
ABDUL WAHAB SJAHRANIE
SAMARINDA
















Karya Tulis Ilmiah
Diajukan Untuk memenuhi persyaratan
Ujian Akhir Program Diploma III Keperawatan
Pada Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Depkes Kal-Tim


Oleh :

MUSTAKIM
NIM. PO 7220106045


POLITEKNIK KESEHATAN DEPKES KALIMANTAN TIMUR
JURUSAN KEPERAWATAN
2009

HALAMAN PERSETUJUAN



JUDUL KTI : ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN TN. N DENGAN FRAKTUR COMMUNITIF METAKARPAL IV DAN V MANUS DEXTRA DI RUANG CEMPAKA RSUD. ABDUL WAHAB SYAHRANIE SAMARINDA.
NAMA : Mustakim
NIM : P07220106045
JURUSAN : KEPERAWATAN
PROGRAM STUDI : D-III KEPERAWATAN


Karya Tulis Ilmiah ini telah di periksa dan setujui untuk diujikan
Samarinda, ........................................


Pembimbing,



H. Darmansyah AF., S. Kp., MPHM.
Nip 195908221981031002


HALAMAN PENGESAHAN

JUDUL KTI : ASUHAN KEPERAWATAN Tn. N DENGAN
FRAKTUR COMMUNITIF METAKARPAL
IV DAN V MANUS DEXTRA DI RUANG
CEMPAKA RUMAH SAKIT UMUM
DAERAH ABDUL WAHAB SJAHRANIE
SAMARINDA
NAMA : Mustakim
NIM : PO7220106045
JURUSAN : KEPERAWATAN
PROGRAM STUDI : D-III KEPERAWATAN

Karya Tulis Ilmiah ini telah dipertahankan dihadapan
Dewan Penguji pada tanggal 8 Agustus 2009

Penguji I : H. Siswojo SKM ............................
Penguji II : Wiyadi, S.Kep., Ns ............................
Penguji III : Hj. Umi Kalsum, S.Pd., Mkes ............................

Mengetahui,
Ketua Jurusan Keperawatan
Poltekkes Depkes Kalimantan Timur



H.Rasmun, SKP.,M.Kep
NIP. 196006261982031005

Ketua Prodi DIII Keperawatan
Poltekkes Depkes Kalimantan Timur



Joko Sapto Pramono,S.Kp,MPHM
NIP. 196611261988031002
Direktur
Politeknik Kesehatan Depkes Kalimantan Timur

H. Darmansyah AF.S.Kp.,MPHM
NIP. 195908221981031002

ABSTRAK



Nama : Mustakim
N.I.M : PO 7220106045
Judul : Asuhan Keperawatan pada klien dengan Fraktur Communitif Metakarpal IV dan V Manus Dextra di Ruang Cempaka Rumah Sakit Abdul Wahab Syahranie Samarinda
Pembimbing : H. Darmansyah AF, S.Kp., MPHM
Daftar pustaka : 9 buku
Jumlah Halaman : ….halaman

Asuhan keperawatan pada klien Tn.N dengan Fraktur Communitif Metakarpal IV dan V Manus Dextra dilaksanakan di Ruang Cempaka Rumah Sakit Abdul Wahab Syahranie Samarinda dari tanggal 21 Juli 2009 sampai dengan 23 Juli 2009. Asuhan keperawatan ini ditulis dalam bentuk karya tulis ilmiah dengan menggunakan metode penulisan deskriptif studi kasus. Asuhan keperawatan pada klien Tn.N merupakan salah satu dari sekian jenis kasus fraktur yang terjadi diruang Cempaka Rumah Sakit Abdul Wahab Syahranie Samarinda. Pelaksanaan asuhan keperawatan ini terdiri dari lima tahap yaitu pengkajian, perumusan diagnosa keperawatan, pelaksanaan dan evaluasi tindakan keperawatan. Pada tahap pengkajian penulis mengumpulkan data-data melalui wawancara, observasi dan pemeriksaan fisik serta studi pendokumentasian. Masalah keperawatan yang ditemukan pada klien Tn.N dengan Fraktur Communitif Metakarpal IV dan V Manus dextrai adalah nyeri, cemas kerusakan kerusakan integritas kulit, risiko tinggi terjadinya infeksi, intoleran aktifitas, defisit perawatan diri, dan kurang pengetahuan. Setelah dilakukan tindakan keperawatan sesuai dengan rencana keperawatan yang telah penulis susun, diagnosa yang ditegakkan ada yang teratasi dan ada yang teratasi sebagian serta ada masalah yang tidak terjadi. Masalah yang teratasi pada klien Tn. N yaitu cemas berhubungan dengan akan dilakukannya tindakan operasi, intoleran aktifitas berhubungan dengan keterbatasan gerak, kelemahan fisik, defisit perawatan diri berhubungan dengan ketidakmampuan melakukan aktifitas sehari-hari, kelemahan fisik, kurang pengetahuan tentang konsisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya sumber informasi yang didapat, sedangkan masalah yang teratasi sebagian yaitu nyeri berhubungan dengan diskontinuitas jaringan/tulang akibat tindakan operasi (Skin Graft) dan kerusakan integritas kulit berhubungan dengan fraktur terbuka, tindakan pembedahan (Skin Graft), sedangkan masalah yang tidak terjadi yaitu risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan adanya luka operasi dan prosedur invasif (pemasangan infus). Oleh karena itu pada evaluasi SOAP tetap mendelagasikan intervensi pada klien dan perawat ruangan. Kesimpulan dibuat berdasarkan hasil dari pembahasan, dan saran merupakan masukan-masukan yang ditujukan pada institusi atau orang tertentu yang berfungsi untuk perbaikan sehingga dapat meningkatkan mutu asuhan keperawatan.


RIWAYAT HIDUP









I. Identitas
Nama : Mustakim
Tempat, tgl lahir : Tanjung Aru, 21 Juli 1987
Jenis kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Suku / Bangsa : Bugis / Indonesia
Alamat : Jl. Pasir Putih RT.I No. 63 Tanjung Aru, Kec. Tanjung Harapan Kab. Paser

Pendidikan
A. Sekolah Dasar Negeri 001 Tanjung Aru tahun 2000
B. Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Negeri 1 Tanjung Aru tahun 2003
C. Sekolah Menengah Umum Negeri 1 Tanah Grogot tahun 2006
D. Diterima di Politeknik Kesehatan Kalimantan Timur Prodi Keperawatan Jalur Umun tahun 2006

KATA PENGANTAR


Puji syukur kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan hidayah-Nya jualah, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas dalam menyusun Karya Tulis Ilmiah sebagai rangkaian ujian akhir program dengan judul “Asuhan Keperawatan pada klien Tn.N dengan Fraktur Communitif Metakarpal IV dan V Manus Dextrai di ruang Cempaka Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Wahab Syahranie Samarinda” dari tanggal 21 Juli 2009 sampai dengan 23 Juli 2009.
Penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini merupakan salah satu syarat dalam menyelesaikan program pendidikan Diploma III Keperawatan pada Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Depkes Kalimantan Timur.
Berbagai motivasi, bantuan, bimbingan, dan pengarahan dari berbagai pihak telah berpartisipasi demi terselesainya Karya Tulis Ilmiah ini. Untuk itu pada kesempatan yang ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Yth :
1. Bapak H. Darmansyah AF, S. Kp., MPHM, selaku Direktur Politeknik Kesehatan Depkes Kalimantan Timur sekaligus pembimbing dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini.
2. dr. Adji Syirafuddin, MMR selaku Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Wahab Sjahranie Samarinda.
3. Bapak Rasmun, SKP., M.Kes. selaku Ketua Jurusan Keperawatn Politeknik Kesehatan Depkes Kalimantan Timur
4. Bapak Joko Sapto Pramono, SKP.,MPHM. selaku ketua Program Studi D III Keperawatan Politeknik Kesehatan Depkes Kalimantan Timur.
5. Ibu Hj.Rohana, A.Md. Kep. Selaku kepala Ruang Perawatan Bedah Cempaka Rumah Sakit Umum Abdul Wahab Sjahranie Samarinda.
6. Para Dosen dan Staf Pendidikan Politeknik Kesehatan Depkes Kalimantan Timur Jurusan Keperawatan.
7. Seluruh Staf Perpustakaan Politeknik Kesehatan Depkes Kalimantan Timur Jurusan Keperawatan.
8. Rekan-rekan mahasiswa Politeknik Kesehatan Depkes Kalimantan Timur Jurusan Keperawatan khususnya Jalur Umum, terima kasih atas dukungan dan kerja samanya.
9. Kedua orang tuaku tercinta yang telah memberikan dukungan, semangat, motivasi, doa restu, dan pengorbanan baik materiil maupun spiritual yang tak ternilai harganya dalam menyelasaikan Karya Tulis Ilmiah ini.
Penulis menyadari bahwa Karya Tulis Ilmiah ini masih banyak kekurangannya, oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun, demi perbaikan karya tulis di masa mendatang. Akhirnya semoga Karya Tulis Ilmiah ini dapat bermanfaat bagi pengembangan keperawatan pada khususnya dan para pembaca pada umumnya.

Samarinda, Juli 2009

Penulis

DAFTAR ISI


HALAMAN JUDUL i
HALAMAN PERSETUJUAN ii
HALAMAN PENGESAHAN iii
ABSTRAK iv
RIWAYAT HIDUP v
KATA PENGANTAR vi
DAFTAR ISI viii

BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang 1
B. Tujuan Penulisan 3
C. Ruang Lingkup Pembahasan 4
D. Metode Penulisan 4
E. Sistematika Penulisan 5

BAB II. DASAR TEORITIS
A. KONSEP DASAR TEORI FRAKTUR 6
1. Pengertian Fraktur 6
2. Anatomi Fisiologi 6
3. Etiologi Fraktur 9
4. Patofisiologi Fraktur 10
5. Klasifikasi Fraktur 11
6. Gambaran Klinis Fraktur 15
7. Komplikasi 15
8. Pemeriksaan Diagnostik 17
9. Penatalaksanaan 17
B. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian 25
2. Diagnosa Keperawatan 29
3. Perencanaan 30
4. Pelaksanaan 39
5. Evaluasi 40

BAB III. TINJAUAN KASUS
A. Pengkajian 42
B. Diagnosa Keperawatan 53
C. Perencanaan 57
D. Pelaksanaan 65
E. Evaluasi 70

BAB IV. PEMBAHASAN.................................................................... 75
BAB V. PENUTUP
A. Kesimpulan 94
B. Saran 95
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN








BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
Pada dasarnya kesehatan merupakan masalah berharga dan sangat penting dalam tatanan kehidupan manusia. Oleh karena itu, perhatian masyarakat pun terhadap kesehatan dari tahun ke tahun makin besar, sehingga meningkatkan tuntutan masyarakat terhadap perawatan yang berkualitas. Seiring dengan hal itulah, maka tuntutan profesi untuk memberikan asuhan keperawatan yang bermutu terhadap masyarakat menjadi sangat penting.
Profesionalisme keperawatan melalui kegiatan praktik keperawatan profesional dapat dilihat melalui pelaksanaan kegiatan pelayanan keperawatan yang berdasarkan visi dan misi yang jelas dan tertuang dalam pelaksanaan rencana strategis pelayanan keperawatan di setiap bidang pelayanan keperawatan.
Asuhan keperawatan yang merupakan bentuk dari pelayanan kesehatan profesional yang didasarkan pada ilmu, seni dan kiat keperawatan yang ditujukan kepada individu, keluarga, dan masyarakat baik yang sehat maupun yang sakit dengan mempertimbangkan aspek bio, psiko, sosial, dan spiritual yang komprehensive. Bila salah satu aspek terlewatkan maka hal tersebut akan menjadi stressor bagi klien. Dan tidak jarang stressor pun dapat menyebabkan kesakitan bahkan dapat menyebabkan kematian.
Seiring dengan perkembangan jaman, salah satu dampak kemajuan teknologi adalah semakin padatnya arus lalu lintas dewasa ini yang mengakibatkan meningkatnya angka kecelakaan lalu lintas di jalan raya, yang dapat menyebabkan cedera pada anggota gerak atau yang di sebut dengan fraktur. Fraktur atau patah tulang ini merupakan salah satu kedaruratan medik yang harus segera di tangani secara cepat, tepat dan sesuai dengan prosedur penatalaksanaan patah tulang, sebab sering kali penanganan patah tulang ini dilaksanakan secara keliru oleh masyarakat atau orang awam di tempat kejadian kecelakaan.
Menyinggung angka kematian di Indonesia, kecelakaan lalu lintas adalah merupakan salah satu penyebabnya, selain menyebabkan kematian masalah yang timbul dari kecelakaan lalu lintas adalah trauma berupa fraktur yang dapat menyebabkan disfungsi organ tubuh atau bahkan dapat menyebabkan kecacatan.
Fraktur adalah “ Diskontinuitas jaringan tulang yang biasanya disebabkan oleh kekerasan yang timbul secara mendadak”.
Berdasarkan data yang diperoleh dari catatan Medical Record di Rumah Sakit Umum Daerah AWS Samarinda selama 6 bulan terakhir klien yang di rawat dengan fraktur secara umum dari bulan Januari 2009 s/d juni 2009 adalah sebanyak 246 jiwa.
Berdasarkan hasil seleksi kasus pada Ujian Akhir Program Tahap I dan penulis mendapat kesempatan untuk mengelola asuhan keperawatan pada Tn. N dengan diagnosa Fraktur Communitif Metakarpal IV dan V Manus dextra maka dengan itu penulis mengambil judul “Asuhan Keperawatan pada Tn. N dengan Fraktur Communitif Metakarpal IV dan V Manus di Ruang Cempaka Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Wahab Sjahranie Samarinda“ untuk Karya Tulis Ilmiah ini.

B. Tujuan Penulisan.
1. Tujuan umum
Untuk memperoleh gambaran dan pengalaman langsung dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan Fraktur Communitif Metakarpal IV dan V Manus Dextra dengan pendekatan proses keperawatan.
2. Tujuan Khusus
a. Melakukan pengkajian pada klien dengan fraktur communitif metakarpal IV dan V manus dextra secara benar dan sesuai dengan teori yang didapat.
b. Merumuskan diagnosis yang mungkin timbul dan menentukan rencana tindakan keperawatan pada klien dengan fraktur communitif metakarpal IV dan V manus dextra.
c. Membuat perencanaan tindakan keperawatan yang sesuai pada Tn.N dengan fraktur communitif metakarpal IV dan V manus dextra.
d. Melakukan tindakan keperawatan pada Tn. N dengan fraktur communitif metakarpal IV dan V manus dextra.
e. Mengevaluasi tindakan keperawatan yang dilakukan pada Tn. N dengan fraktur communitif metakarpal IV dan V manus dextra.
f. Mendokumentasikan asuhan keperawatan yang telah dilakukan pada klien Tn.N dengan fraktur communitif metakarpal IV dan V manus dextra.

C. Ruang Lingkup Pembahasan
Mengingat luasnya pembahasan mengenai masalah fraktur maka dalam karya tulis ilmiah ini, penulis hanya akan membahas bagaimana pelaksanaan asuhan keperawatan pada klien dengan fraktur communitif metakarpal IV dan V manus dextra di Ruang Cempaka Rumah Sakit Umum Daerah AWS Samarinda.

D. Metode Penulisan
Dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini penulis menggunakan metode deskriptif dengan studi kasus.
Adapun data-data yang terhimpun dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini penulis peroleh dengan cara :
a. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan yang meliputi inspeksi, auskultasi, perkusi, palpasi.
b. Penulis melakukan pengamatan secara langsung terhadap prilaku, kebiasaan, keadaan dan kondisi klien
c. Wawancara
Pengumpulan data dengan melakukan wawancara langsung pada klien maupun pada keluarga, dokter, perawat dan tim kesehatan lain.
d. Studi Dokumentasi
Menggunakan dokumen yang berhubungan dengan judul karya tulis ini, seperti catatan medis, catatan keperawatan, dan lain sebagainya.
e. Studi Kepustakaan
Menggunakan bahan yang ada kaitannya dengan judul karya ini, berupa buku-buku, diklat dan lain – lain yang dapat didukung dengan teori yang ada.

E. Sistematika Penulisan
Dalam menyusun karya tulis ilmiah ini penulis membagi dalam lima bab, yaitu : Bab satu terdiri dari pendahuluan yang berisi latar belakang, ruang lingkup bahasan, tujuan penulisan, bab dua terdiri dari dasar teori. Bab tiga terdiri dari tinjauan kasus meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, tindakan dan evaluasi. Bab empat menguraikan tentang asuhan keperawatan pada Tn.N dengan fraktur communitif metakarpal IV dan V manus dextra dalam praktek nyata dihubungkan dengan konsep-konsep asuhan keperawatan pada klien dengan fraktur communitif metakarpal IV dan V manus dextra. Bab lima penutup menguraikan kesimpulan terhadap tujuan penulisan dan juga saran.
Dilanjutkan dengan daftar pustaka yang disertai dengan lampiran – lampiran.



BAB II
DASAR TEORITIS


A. Fraktur
1. Pengertian
Fraktur adalah : terputusnya hubungan / kontinuitas jarin¬gan tulang (Syamsuhidayat, 1997).
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa. (Mansjoer, Arif. 1999)
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang, tulang rawan sendi, tulang rawan epifisis, baik yang bersifat total maupun yang parsial. (Rasjad, Chairuddin. 2007)

2. Anatomi dan fisiologi
a. Tulang dalam garis besarnya di bagi atas :
1) Tulang panjang
Yang termasuk tulang panjang misalnya femur, tibia, fibula, ulna, dan humerus, dimana daerah batas disebut diafisis dan daerah yang berdekatan dengan garis epifisis di sebut metafisis. Daerah ini merupakan suatu daerah yang sangat sering ditemukan adanya kelainan atau penyakit, oleh karena itu daerah ini merupakan daerah metabolik yang aktif dan banyak mengandung pembuluh darah. Kerusakan atau kelainan perkembangan pada daerah lempeng episis akan menyebabkan kelainan pertumbuhan tulang.
2) Tulang pendek
Contoh dari tulang pendek antara lain tulang vertebra dan tulang-tulang karpal.
3) Tulang pipih
Yang termasuk tulang pipih antara lain tilang iga, tulang skapula, dan tulang pelvis. Tulang yang terdiri dari bagian yang kompak pada bagian luar yang disebut korteks dan bagian dalam yang bersifat spongiosa berbentuk trabekula dan di luarnya dilapisi oleh periosteum. Periosteum pada anak lebih tebal dari pada orang dewasa yang memungkinkan penyembuhan tulang pada anak lebih cepat dibandingkan dengan orang dewasa.
b. Fungsi tulang sebagai struktur dan organ
Tulang adalah jaringan yang terstruktur dengan baik dan mempunyai lima fungsi utama, yaitu :
1) Membentuk rangka badan
2) Sebagai tempat melekatnya otot
3) Sebagai bagian dari tubuh untuk melindungi dan mempertahankan alat-alat dalam, seperti otak, sumsum tulang belakang , jantung dan paru-paru
4) Sebagai tempat deposit kalsium, fosfor, magnesium dan garam
5) Sebagai organ yang berfungsi sebagai jaringan hemopoetik untuk memproduksi sel-sel darah merah, sel-sel darah putih dan trombosit.
c. Sel-sel tulang dan fungsinya
Osteoblas merupakan salah satu jenis sel hasil diferensiasi sel mesenkim yang sangat penting dalam proses osteogenesis atau osifikasi. Sebagai sel, osteblas dapat memproduksi substansi organik intraseluler atau matriks dimana kasifikasi terjadi dikemudian hari. Jaringan yang tidak mengandung kalsium disebut osteoid dan apabila kalsifikasi terjadi pada matriks maka jaringan di sebut tulang. Sesaat setelah osteoblas dikelelengi oleh substsansi organik intraseluler disebut osteosit dimana keadaan ini terjadi di dalam lakuna.
Sel yang bersifat multi nukleus tidak di tutupi oleh permukaan tulang dengan sifat dan fungsi resorpsi serta mengeluarkan tulang yang di sebut osteoklas. Kalsium hanya dapat dikeluarkan melalui tulang dari proses aktivitas osteoklasis yang menghilangkan matriks organik dan kalsium secara bersamaan dan di sebut deosifikasi.
d. Anatomi Tangan
Ada tiga macam tulang yang menyusun tangan, yaitu:
1) Tulang Pergelangan Tangan (Karpus)
Pergelangan tangan terbentuk dari delapan tulang karpal irteguler yang tersusun dalam dua baris, dan setiap barisnya terdiri dari empat tulang. Barisan tulang karpal proksimal yang terdiri dari navicular(skafoid),lunatum, trikuetral(triangular),dan pisiform. Barisan tulang karpal distal yang terdiri dari: Trapezium, Trapezoid, Kapitatum, Hamatum.
2) Tangan (metacarpus)
Tangan tersusun dari lima tulang metakarpal’dimana semua tulang metacarpal berukuran serupa kecuali tulang metacarpal pertama pada ibujari. Setiap tulang metacarpal memiliki sebuah dasar proksimal yang berartikulasi dengan barisan distal tulang karpal pergelangan tangan.kepala tulang metacarpal membentuk buku jari yang menonjol pada tangan.
3) Tulang – tulang jari (phalanges)
Setiap jari memiliki tiga tulang yaitu tulang proksimal,tulang medial, dan tulang distal, kecuali ibu jari yang hanya memiliki tulang proksimal dan medial saja. ( Sloane, 2003 )

3. Etiologi
a. Trauma langsung : benturan pada tulang yang menyebabkan fraktur pada tempat benturan contoh : kecelakaan lalu lintas.
b. Trauma tidak langsung : jika titik tumpul benturan dengan terjadinya fraktur berjauhan, jatuh dari ketinggian dengan berdiri atau duduk sehingga terjadi fraktur tulang belakang.
c. Proses suatu penyakit
Penyakit yang melemahkan tulang, misalnya metastase kanker atau osteomielitis.
4. Patofisiologi
Daya

Tulang

Fraktur





Perdarahan
















5. Klasifikasi Fraktur
a. Menurut jumlah garis fraktur
1) Simple fraktur
2) Multiple fraktur
3) Comminute fractur : hanya terdapat satu garis fraktur
: terdapat lebih dari satu garis
: terjadi banyak garis fraktur atau banyak fragmen kecil yang terlepas.

b. Menurut garis fraktur
1) Fraktur inkomplit
2) Fraktur komplit
3) Hair line fraktur : tulang tidak terpotong secara total
: tulang terpotong secara total.
: garis fraktur hampir tak tampak sehingga bentuk tulang tak ada perubahan.
c. Menurut bentuk fragmen
1) Fraktur transversal
2) Fraktur oblique
3) Fraktur spiral : bentuk fragmen melintang
: bentuk fragmen miring
: bentuk fragmen melingkar







2.1 Tipe fraktur


















Sumber : (medicastrore. Com)



d. Menurut hubungan antara fragmen dengan dunia luar.
Fraktur terbuka : fragmen tulang sampai menembus kulit
Fraktur terbuka dibagi menjadi 3 (tiga) tingkat :
1) Pecahan tulang menusuk kulit, kerusakan jaringan sedikit, kontaminasi ringan, luka < 1 cm.
2) Kerusakan jaringan sedang, Resiko terjadi infeksi lebih besar, luka > 1 cm ( misal fraktur comminutive)
3) Luka besar sampai lebih kurang 8 cm, kehancuran otot kerusakan neurovaskuler, kontaminasi besar misal : luka tembak
Fraktur tertutup : fragmen tulang tak berhubungan dengan dunia luar.
e. Tahap dan Proses Penyembuhan Tulang.
1) Haematoma
Dalam 24 jam mulai pembekuan darah dan terjadi hematom di sekitar fraktur. Setelah 24 jam suplai darah ke ujung fraktur meningkat, hematoma ini mengelilingi fraktur dan tidak di absorbsi selama penyembuhan tapi berubah dan berkembang menjadi granulasi.
2) Proliferasi sel.
Sel-sel dari lapisan dalam periosteum berproliferasi pada sekitar fraktur, dimana sel-sel ini menjadi precusor dari osteoblast, osteogenesis ini berlangsung terus, lapisan fibrosa periosteum melebihi tulang.
Setelah beberapa hari kombinasi dari periosteum yang meningkat dengan fase granulasi membentuk collar di lujung fraktur.
3) Pembentukan callus
6-10 hari setelah fraktur jaringan granulasi berubah dan memben¬tuk callus. Sementara pembentukan cartilago dan matrik tulang diawali dari jaringan callus yang lunak. Callus ini bertambah banyak, callus sementara meluas, menganyam massa tulang dan cartilago sehingga diameter tulang melebihi normal. Hal ini melindungi fragmen tulang tapi tidak memberikan kekuatan callus sementara ini meluas melebihi garis fraktur.
4) Ossification
Callus yang menetap / permanen menjadikan tulang kaku karena adanya penumpukan garam-garam calcium dan bersatu bersama ujung-ujung tulang. Proses ossifikasi ini mulai dari callus bagian luar kemuadian bagian dalam dan terakhir bagian tenagh. Proses ini terjadi selama 3-10 minggu.
5) Konsolidasi dan Remodelling.
Pada waktu yang sama pembentukan tuoang yang sebenarnya callus dibentuk dari aktvitas osteoblast dan osteoklast. Kelebihan-kelebihan tulang seperti dipahat dan diabsorbsi dari callus. Proses pembentukan lagi ditentukan oleh beban tekanan dari otot.

6. Gambaran Klinis Fraktur
a. Deformitas, dapat berupa :
1) Angulasi
Karena adanya kekerasan mengakibatkan otot-otot ekstremitas menarik patahan tulang.
2) Pemendekan tonus otot-otot ekstremitas menarik patahan tulang, sehingga ujung patahan saling bertumpuk.
b. Nyeri
Nyeri tekan dan pembengkakan di sekitar bagian fraktur. Jika frakturnya terbuka ujung patahan tulang dapat terlihat di dalam luka.
c. Krepitasi ; Rasa gemeretak ketika ujung tulang bergeser.
d. Oedema
e. Echymosis
f. Fungsileosa ( gangguan fungsi)
g. spasme otot
h. Kemungkinan lain :
 kehilangan sensasi
 mobilisasi yang abnormal
 Hypovolemik shock
7. Komplikasi
a. Segera ( immediate)
Komplikasi yang dapat terjadi segera setelah fraktur antara lain, shock neurogenik, kerusakan organ, kerusakan syaraf, dan injury / perlukaan kulit,
b. Early complication
Early komplikasi yang dapat terjadi : osteomyelitis, emboli, tetanus, nekrosis, dan sindroma compartement.
c. Late complication
Sedangkan komplikasi lanjut yang dapat terjadi antara lain stiffnes ( kaku sendi), degenerasi sendi, penyembuhan tulang terganggu ( mal union, non union, delayed union, dan cross union).
Pemeriksaan fisik
1) Mengidentifikasi tipe fraktur ( komplit, inkomplit, dan lain-lain).
2) Inspeksi daerah mana yang terkena:.
a. deformitas yang nampak jelas
b. edema , ekimosis sekitar lokasi cedera
c. laserasi
d. perubahan warna kulit
e. kehilangan fungsi daerah yang cedera
3) Palpasi :
a. bengkak, adanya nyeri dan penyebaran
b. krepitasi
c. nadi, dingin
d. observasi spasme otot sekitar daerah fraktur
e. terpasang alat immobilisasi pada lokasi cedera.
8. Pemeriksaan diagnostik
1) Laboratorium
Hb, Ht, leuco, LED, Ca dan P
2) Radiologi :
a. Untuk melihat beratnya cedera/ lokasi
b. Untuk melihat perkembangan tulang.
9. Penatalaksanaan
Kesembuhan fraktur dapat dibantu oleh aliran darah yang baik dan stabilitas ujung patahan tulang.
a. Reposisi
Setiap pergeseran atau angulasi pada ujung patahan harus direposisi dengan hati-hati melalui tindakan manipulasi yang biasanya dilakukan dengan anesthesi umum.
b. Imobilisasi
Imobilisasi untuk memungkinkan kesembuhan fragmen yang dipersatukan dengan cara :
c. Fiksasi eksterna.
Fraktur di imobilisasi dengan bidai atau gips dan traksi.
Penggunaan gips dan traksi
1) Penggunaan gips
Secara umum, gips digunakan untuk mempertahankan reduksi, namun harus melewati sendi di atas dan di bawah fraktur. gips sebaiknya tidak berlaminasi dan sesuai dengan geometri tulang yang diberi gips tersebut. Dengan membalut plester yang lunak di atas tonjolan tulang biasanya dapat mencegah timbulnya ulserasi tekanan dan dapat memaksimalkan kemampuan gips tersebut untuk mempertahankan posisi fragmen fraktur.
Reduksi dan pemasangan gips seringkali dapat di selesaikan dalam jam sesudah terjadi cedera.. Yaitu saat pembengkakan jaringan lunak belum maksimal. selain itu proses reduksi juga dapat memberberat edema jaringan yang sudah ada. Namun karena gips dipasang berbentuk melingkar, mengelilingi seluruh ekstremitas, maka suplai darah dan syaraf ke ekstremitas yang cedera harus benar benar diperhatikan. ekstremitas harus diletakkan lebih tinggi bagian distal ekstremitas yang mengalami cedera harus diperiksa berulang ulang guna mengawasi perkembangan nyeri, kepucatan parestesi dan lenyapnya denyut nadi , semua ini adalah tanda-tanda dari disfungsi neurovaskuler.
Semua keluhan penderita yang tetap dirasakan setelah reduksi harus benar-benar mendapat perhatian. Tekanan suplai darah dapat menimbulkan perubahan patologik yang tidak reversible bila dibiarkan selama satu setengah jam. Pada beberapa jam pertama setelah terjadi cedera, pemberian obat-obat narkotik secara berulang-ulang adalah suatu kontraindikasi. Hal ini dapat menghilangkan nyeri lyang timbul dari nekrosis jarin¬gan.
Tujuan pengunaan gips adalah :
1. Mengimobilisasi , mensupport, melindungi selama proses penyem¬buhan tulang patah.
2. Mencegah dan memperbaiki deformitas.
Indikasi pemasangan gips:
Macam-macam gips : short leg, long leg, silinder, short arm, hip spica.
Yang perlu diperhatikan pada pemasangan gips:
1. Gips yang tidak pas dapat menimbulkan perlukaan.
2. Bila sudah parah, gips tidak dapat digunakan lagi.
3. Gips tidak boleh longgar atau terlalu kecil.
4. Perhatikan integritas kulit selama pemasangan gips.
2) Penggunaan Traksi
Metode lain yang baik untuk mempertahankan reduksi ekstremitas yang mengalami fraktur adalah dengan traksi. Traksi dilakukan dengan menempelkan beban dengan tali pada ekstremitas biasanya lebih disukai traksi rangka dengan pin baja steril yang dimasuk¬kan melalui fragmen distal atau tulang yang lebih distal melalui pembedahan, bukan dengan traksi kulit. Bentuk bentuk traksi biasanya akan membuat ekstremitas yang patah terangkat lebih tinggi sehingga dapat mengurangi pembengkakan dan meningkatkan penyembuhan jaringan lunak.
Sewaktu memasang atau mempertahankan traksi ada beberapa faktor penting yang harus dipertimbangkan:
a) Tali utama. dipasang paha kiri rangka sebaiknya menimbulkan gaya tarik yang segaris dengan sumbu panjang normal tulang pan¬jang yang patah.
b) Berat ekstremitas maupun alat-alat penyokong sebaiknya seimban¬gan dengan pemberat untuk menjamin agar reduksi dapat dipertahan¬kan secara stabil dan mendukung ekstremitas yang patah.
c) Ada tulang yang menonjol sebaiknya diberi lapisan khusus dan terlindung dengan baik.
d) Traksi dapat bergerak bebas melalui katrol
e) Pemberat harus cukup tinggi diatas permukaan lantai dengan klien dalam posisi normal diatas tempat tidur sehingga perubahan posisi rutin tidak menyebabkan pemberat terletak dilantai sehing¬ga kehilangan regangan tali.
f) Traksi yang dipasang harus baik dan terasa nyaman
Kerugian penggunaan traksi :
a) perawatan rumah sakit lebih lama
b) mobilisasi terbatas.
c) perlu penggunaan alat-alat yang banyak
d) Indikasi penggunaan traksi :
Tujuan Traksi:
a) Mempertahankan/ memperbaiki alignment tulang paska fraktur.
b) Mengistirahatkan sendi yang implamasi
c) Koreksi deformitas.
d) Menghilangkan nyeri karena spasmeotot.
e) Mengurangi dislokasi sendi.
Prinsip-prinsip:
a) adekuat counter traksi
b) adanya kekuatan melakukan beban traksi
c) sesuai dengan poros
d) semua sistem harus bebas dari fiksi / tersangkut
e) klien teriformasi
f) penilaian terus menerus terhadap kepatenan traksi
g) Observasi neurovaskuler
h) observai adanya nyeri
i) firm matters untuk good aligment.
j) Perineal care yang benar.
k) Hindari komplikasi tirah baring.
Rumus untuk pemberian traksi :
1) dewasa 1/3 x BB
2) anak-anak 1/13 x BB
d. Fiksasi interna / pembedahan.
Fiksasi dilakukan dengan menyatukan patahan tulang dengan memasang plate, wire atau sekrup dengan tindakan operasi.
a. Open Reduksi intra fiksasi (ORIF)
Pembedahan reduksi terbuka pada patah tulang keuntungannya tulang yang patah dapat terlihat. Demikian juga jaringan sekitar. Fiksasi internal dilaksanakan dalam tehnik asepsis yang sangat ketat dan klien untuk beberapa saat mendapat antibiotik untuk pence¬gahan setelah pembedahan.
Alat-alat fiksasi internal adalah :
1. Pelat dan skup seperti neufeld dan kuntscher.
2. Transfixian screw / skreu tembus.
3. Intermedullary rod / batang menembus sumsum.
4. Prostetic implans / pencangkokan alat prostetik, seperti austin moore protesis.
b. Debridement
Pembersihan luka fraktur terbuka dari jaringan nekrotik. adanya jaringan nekrotik di sekitar luka akan memperlambat proses pen-yembuhan.
c. Transplantasi tulang
Jarang dilakukan, tapi adakalanya dilakukan pada faktur dimana tulang tidak dapat lagi disatukan ( hancur ). Untuk mempertahan¬kan keutuhan organ tubuh digunakantransplantasi tulang. Ini akan juga mempengaruhi kerja otot terhadap tulang.
e. Fisiotherapi dan mobilisasi
Fisiotherapi dilakukan untuk mempertahankan supaya otot tidak mengecil. Setelah fraktur mulai sembuh mobilisasi sendi dapat dimulai sampai ekstremitas betul-betul telah kembali normal.
Fungsi penyangga badan (Weight Bearing ) diperbolehkan setelah terbentuk cukup callus.
Prinsip pengobatan yang diberikan sesuai dengan jenis dan kondisi fraktur. Prinsip pengobatannya antara lain antibiotik, analgetik, toxoid, antipiretik, dan biasanya ditambah dengan suplemen vitamin.
Antibiotik
Pengobatan antibiotik pada fraktur tidaklah spesifik, keefektifan pengobatan ditentukan oleh :
1) Kontaminasi kuman terhadap luka.
2) Adanya penyakit lain yang memper¬berat dan mempermudah terjadinya fraktur.
Penyakit yang dapat memperberat dan mempermudah terjadinya frak-tur :
1) Osteomyelitis acute
2) Osteomyelitis kronik
3) Osteomalacia
4) Osteo porosis
5) Gout dan gouty
6) Rheumatoid arthritis.
Pada fraktur terbuka umumnya luka kontak dengan udara luar yang banyak ditemukan bakteri gram positif dan gram, negatif. Pada fraktur tertutup jarang terjadi kontak langsung dengan udara luar. Pemberian antibiotika digunakan untuk menghambat terjadi infeksi lokal dan sistemik.
Analgetik
Diberikan untuk mengurangi rasa sakit yang timbul akibat trau¬ma. Nyeri yang timbul dapat menyebabkan klien gelisah sampai dengan shock, yang dikenal dengan shock analgetik. Ungkapan rasa nyeri dan ketidaknyamanan, obat yang paling baik ditemukan adalah salisilate. sodium dapat digunakan, secara umum dalam bentuk aspirin ( asetil salicilat asam )
Tujuan dari therapi aspirin adalah untuk mengatur kemampuan dosis obat sebagai efek anti inflamasi , sama baiknya dengan analgetik untuk mendapatkan efek ini, aspirin harus diminum setiap hari sesuai dengan kebutuhan individu dan pada beberapa orang boleh diberikan dosis ganda untuk efek yang diinginkan.secara umum efek samping : tinitus dan penurunan pendengaran yang reversible setelah obat bekerja . Iritasi lambung memungkinkan kehilangan darah sedikit melalui saluran gastrointestinal akan dijumpai pada beberapa klien sehingga dapat menimbulkan anemia ringan . Klien dengan iritasi lambung, jika diberi aspirin harus dikombi¬nasi dengan antasid.

B. Konsep Asuhan Keperawatan
Dalam melaksanakan asuhan keperawatan terhadap pasien, perawat memandang pasien sebagai individu yang utuh terdiri dari bio, psiko, sosial dan spiritual, mempunyai kebutuhan sesuai tingkat pertumbuhan dan perkembangannya.
Griffith-Kenney dan Christensen (1986) mendefinisikan proses keperawatan sebagai aktifitas yang logis dan rasional untuk melakukan praktek keperawatan secara sistematis. “Proses keperawatan terdiri dari lima tahap : pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.”
1. Pengkajian
Pengkajian adalah langkah awal dan dasar bagi seorang perawat dalam melakukan pendekatan secara sistematis untuk mengumpulkan data dan menganalisa sehingga dapat diketahui kebutuhan pasien terse¬but. Pengumpulan data yang akurat dan sistematik akan membantu me¬nentukan status kesehatan dan pola pertahanan pasien serta memudahkan perumusan diagnosa keperawatan.
Tahap pengkajian terdiri atas tiga kegiatan yaitu :
a. Pengumpulan data
Pengumpulan data dilakukan secara sistematis, bertujuan untuk mendapatkan data yang penting tentang pasien dengan cara wawancara, observasi dan pemeriksaan fisik.
Identitas pasien dan keluarga :
a) Nama Pasien, umur/tanggal lahir, jenis kelamin, agama.
b) Nama ayah, umur, agama, pekerjaan, pendidikan, kultur, alamat.
c) Nama ibu, umur, agama, pekerjaan, pendidikan, kultur, alamat.
d) Saudara kandung, anak ke, nama, umur, pendidikan, dan keterangan.
b. Pemeriksaan fisik
Kebiasaan sehari-hari :
a) Pola nutrisi : Bagaimana kebiasaan klien dalam memenuhi nutrisi, frekuensi makan, jumlah, dan makanan tambahan.
b) Pola eliminasi : Kebiasaan BAB/BAK, apakah obstipasi dan bagaimana ciri faeces, konsistensi, warna, bau dan mulai kapan.
c) Pola tidur : Kebiasaan tidur sehari-hari (jam tidur, lama tidur)
d) Pola aktifitas : Kegiatan sehari-hari, mengisi waktu luang, dan lain-lain.
e) Pola dalam hygiene : kebiasaan mandi, menyikat gigi, memotong kuku, rambut, dan lain-lain.
c. Riwayat kesehatan masa lalu
Apakah pernah dirawat di rumah sakit, sakit waktu kecil, pernah mendapatkan obat-obatan atau tindakan operasi, alergi obat dan makanan, pernah mengalami kecelakaan.



d. Riwayat kesehatan keluarga
Apakah keluarga ada yang menderita sakit menular pada saat ini, apakah keluarga mempunyai penyakit keturunan yang memerlukan perawatan.
e. Riwayat perjalanan penyakit :
1) Keluhan utama klien datang ke RS atau tempat pelayanan keseha-tan
2) Apa penyebabnya, kapan terjadi kecelakaan atau trauma
3) Bagaimana dirasakan, adanya nyeri, panas, bengkak, dan lain-lain.
4) Perubahan bentuk, terbatasnya gerakan.
5) Kehilangan fungsi
6) Apakah klien ada riwayat penyakit osteoporosis.
f. Proses pertolongan pertama yang dilakukan
1) Pemasangan bidai sebelum memindahkan klien dan pertahankan gerakan di atas / di bawah tulang yang fraktur sebelum dipindah-kan
2) Tinggikan ekstremitas untuk mengurangi edema
3) Bila fraktur terbuka, hentikan perdarahan dan tutup luka dengan kain yang bersih.
4) Bila fraktur tertutup, jangan merubah posisi fraktur karena akan memperberat keadaan.
5) Kirim untuk pertolongan emergensi
6) Pantau daerah yang cedera dalam periode waktu pendek, untuk melihat perubahan warna, dan suhu.
g. Pemeriksaan fisik
a. Mengidentifikasi tipe fraktur ( komplit, inkomplit, dan lain-lain).
b. Inspeksi daerah mana yang terkena:.
1) Deformity yang nampak jelas
2) Edema , ekimosis sekitar lokasi cedera
3) Laserasi
4) Perubahan warna kulit
5) Kehilangan fungsi daerah lyang cedera
c. Palpasi :
1) Bengkak, adanya nyeri dan penyebaran
2) Krepitasi
3) Nadi, dingin
4) Observasi spasme otot sekitar daerah fraktur
5) Terpasang alat immobilisasi pada lokasi cedera.
d. Kapan terjadinya cidera/kecelakaan, pernah berobat kemana saja, bagaimana awal terjadinya, tindakan apa saja yang telah dilaukan.
e. Keluhan utama : adanya rasa nyeri, luka terbuka, bentuk tulang yang tidak normal.
f. Pengobatan : usaha yang dilakukan orang untuk kesembuhan pasien membawanya ke Puskesmas/rumah sakit/petugas kesehatan dan apa obat yang diberikan.

2. Diagnosa keperawatan
Menurut Carpenito (1992) mendefinisikan diagnosa keperawatan adalah : “ Pernyataan yang menjelaskan status kesehatan atau masalah aktual atau potensial. Perawat menggunakan proses keperawatan dalam mengidentifikasi dan mensintesa data klinis dan menentukan intervensi keperawatan, untuk mengurangi, menghilangkan, atau mencegah masalah klien yang ada pada tanggungjawabnya”.
Adapun diagnosa keperawatan yang timbul pada pasien dengan fraktur menurut buku “Asuhan Keperawatan Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien Edisi III” (Doenges, 2000), Dkk adalah sebagai berikut :
1. Resiko terjadi trauma berhubungan dengan kehilangan integritas tulang ( fraktur).
2. Nyeri berhubungan dengan spasme otot, pergerakan fragmen tulang, oedem, trauma pada jaringan lunak, stress, cemas.
3. Resiko terjadi disfungsi neuromusculer periferal berhubungan dengan trauma jaringan, oedema, yang berlebihan, adanya trobus, hipovolemia, terhambatnya aliran darah.
4. Resiko terjadi gangguan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan peredaran darah / emboli lemak, perubahan membran alveo¬lar / capiler.
5. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan neuromus-cular, nyeri, restriktif terapi, imobilisasi.
6. Resiko terjadi gangguan integritas kulit / jaringan berhubungan dengan adanya fraktur pemasangan gips / traksi, gangguan sirkula¬si.
7. Resiko terjadi infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan primer ( rusak kulit, jaringan prosedur invansif, traksi tulang ).
8. Kurangnya pengetahuan tentang kondisi, prognosa dan pengoba¬tan berhubungan dengan kurangnya penjelasan, salah menafsirkan informasi, tidak terbiasa dengan sumber informasi.

3. Perencanaan
Setelah merumuskan diagnosa keperawatan, maka disusunlah peren-canaan keperawatan. Perencanaan adalah tahap ketiga dari proses keperawatan, yang dimulai setelah data-data yang terkumpul sudah dianalisa. Pada bagian ini ditentukan sasaran yang akan dicapai dan rencana tindakan keperawatan dikembangkan. Tahapan dalam perenca-naan ini terdiri dari :
Menetapkan prioritas masalah berdasarkan pola kebutuhan dasar manusia menurut hirarki Maslow.
a. Merumuskan tujuan keperawatan yang akan dicapai
b. Menetapkan kriteria evaluasi
c. Merumuskan intervensi keperawatan dan aktifitas keperawatan.
Dari diagnosa keperawatan yang telah disusun di atas, maka rencana tindakan keperawatannya adalah sebagai berikut :
1. Resiko terjadi trauma berhubungan dengan kehilangan integritas tulang ( fraktur).
Hasil yang diharapkan :
1) Mempertahankan stabilisasi dan aligment fraktur.
2) Mendemonstrasikan mekanika tubuh untuk mempertahankan stabili-tas dan posisi tubuh.
3) Menunjukkan pertumbuhan callus yang baru pada bagian fraktur.
Rencana Tindakan
a. Anjurkan bed rest dengan memberikan penyangga saat mencoba menggerakkan bagian yang fraktur.
Rasional :
Meningkatkan kemampuan, mereduksi kemungkinan pengobatan.
b. Letakkan klien pada tempat tidur ortopedis.
Rasional :
Kelembutan dan kelenturan alas dapat mempengaruhi bentuk gips yang basah.
c. Beri sanggahan pada fraktur dengan bantal, pertahankan posisi netral dengan menahan bagian yang fraktur dengan bantalan pasir, bidai, trochanter roll, papan kaki.
Rasional :
Mencegah gerakan yang tidak perlu dan gangguan pada allignment. Penempatan bantal yang tepat dapat mencegah penekanan sehingga menghindari deformitas pada gips.
d. Evaluasi pergerakan bidai untuk menghindari edema.
Rasional :
Bidai mungkin digunakan luntuk memberikan immobi¬lisasi pada fraktur dan untuk mencegah terjadinya bengkak pada jaringan. Edema akan hilang dengan pemberian bidai.
e. Pertahankan posisi dan integritas dari traksi.
Rasional :
Tarikan pada traksi dilakukan pada tulang panjang yang fraktur dan kemudian menjadikan otot tegang sehingga memu¬dahkan aligment.
f. Pastikan bahwa semua klem/ penjepit berfungsi. Minyaki katrol dan cek tali.
Rasional :
Menjamin traksi dapat dipergunakan dan menghin¬dari gangguan pada fraktur.
g. Cek kembali pembatasan therapi yang diberikan.
Rasional :
Menjaga integritas tarikan pada traksi.
h. Follow up pemeriksaan X-Ray.
Rasional :
Mengetahui proses tumbuhnya callus untuk menentu¬kan tingkat aktivitas l dan memerlukan perubahan atau tambahan therapi.
i. Pertahankan fisiotherapi jika perlu.
Rasional :
Membantu menguatkan pertumbuhan tulang dalam masa penyembuhan.

2. Nyeri berhubungan dengan spasme otot, pergerakan fragmen tu-lang, edema, traksi / immobilisasi karena penggunaan alat, stress dan kecemasan.
Rencana Tindakan :
1) Lakukan imobilisasi ( bed rest, gips, bidai, traksi ).
Rasional :
Mengurangi lnyeri dan mencegah perubahan posisi tulang serta luka pada jaringan.
2) Tinggikan dan sangga daerah luka.
Rasional :
Meningkatkan aliran vena, mengurangi edema dan mengur¬angi nyeri.
3) Hindari penggunaan sprei plastik/ bantal dibawah gips.
Rasional :
Menyebabkan rasa tidak nyaman karena menambah panas pada gips.
4) Tinggikan bagian depan tempat tidur.
Rasional :
Memberikan rasa nyaman.
5) Evaluasi rasa nyeri lokasi dan karekteristik termasuk in¬tensitas ( skala 0 - 10 ). Perhatikan juga rasa nyeri non verbal ( periksa tanda vital dan emosi / tingkah laku ).
Rasional :
Monitor keefektifan intervensi. Tingkat kecemasan dapat menunjukkan reaksi dari nyeri.
6) Diskusikan masalah yang berhubungan dengan injury.
Rasional :
Menolong mengurangi kecemasan.
7) Terangkan prosedur sebelum memulai.
Rasional :
Mengijinkan klien untuk mempersiapkan mental agar dapat berpartisipasi dalam aktivitas.
8) Beri pengobatan sesuai terapi sebelum melakukan aktivitas perawatan.
Rasional :
Meningkatkan relaksasi otot agar dapat berpartisipasi.
9) Lakukan latihan range of motion.
Rasional :
Mempertahankan kemampuan otot dan menghindari pembeng¬kakan pada jaringan yang luka.
10) Lakukan tindakan untuk meningkatkan rasa nyaman dengan masase, perubahan posisi.
Rasional :
Memperbaiki sirkulasi umum, mengurangi tekanan pada satu tempat dan kelelahan otot.
11) Anjurkan klien untuk menggunakan teknik relaksasi ( latih nafas dalam).
Rasional :
Meningkatkan sense of control dan mungkin dapat me¬ningkatkan kemampuan mengurangi rasa nyeri.

3. Resiko terjadi gangguan integritas kulit / jaringan berhubungan dengan compound fracture, pemasangan traksi, gangguan sensasi , sirkulasi, immobilisasi fisik.
Rencana Tindakan :
1) Periksa kulit sekitar luka , kemerahan, perdarahan, perubahan warna kulit.
Rasional :
Memberikan informasi gangguan sirkulasi kulit dan masalah-masalah yang mungkin disebabkan oleh penggunaan traksi, terbentuknya edema
2) Masase kulit dan tempat yang menonjol, menjaga alat tenun tetap kering , memberikan alas yang lembut pada siku dan tumit.
Rasional :
Mengurangi penekanan pada daerah yang mudah terkena dan resiko untuk lecet dan rusak.
3) Rubah posisi selang-seling sesuai indikasi.
Rasional :
Mengurangi penekanan yang terus menerus pada posisi tertentu
4) Kaji posisi splint ring traksi.
Rasional :
Salah posisi akan menyebabkan kerusakan kulit.
5) Pakai bed matras / air matras.
Rasional :
Mencegah perlukaan setiap anggota tubuh, dan untuk anggota tubuh yang kurang gerak efektif untuk mencegah penurunan sirkulasi.

4. Resiko terjadi destruksi neuromuskuler periferal berhubungan dengan trauma jaringan, edema yang berlebihan, adanya trombus, hypovolemia, terhambatnya aliran darah
Hasil yang diharapkan:
1) Mempertahankan perfusi jaringan yang ditandai dengan terabanya pulsasi
2) Kulit hangat dan kering .
3) Perabaan normal
4) Tanda vital stabil.
5) Urin output yang adekuat.
Rencana Tindakan :.
1) Lepas perhiasan pada daerah yang mengalami ganggguan
Rasional :
Dapat membatasi bila terjadi oedema.
2) Evaluasi adanya kualitas / kualitas dari pulsasi perifer distal yang luka melalui palpasi / doppler. Bandingkan dengan sisi yang normal .
Rasional :
Berkurangnya / tidak adanya pulsasi menggambarkan adanya pembuluh darah yang luka dan memerlukan evaluasi status sirkulasi yang segera. Perlu disadari bahwa kadang -kadang pulsasi dapat teraba walaupun sirkulasi terhambat oleh sumbatan kecil. Sebagai tambahan, perpusi melalui arteri yang besar dapat berlanjut setelah menambah tekanan dari sirkulasi arteriol / venol yang kolaps.
3) Kaji kembalinya kapiler, warna kulit dan kehangatan bagian distal dari fraktur.
Rasional :
Kembalinya warna dengan cepat ( 3-5 detik ) putih. Kulit yang dingin menandakan lemahnya aliran arteri. Sianosis menandakan lemahnya aliran vena .
Pulsasi perifer, kembalinya kapiler, warna kulit dan rasa dapat normal terjadi dengan adanya syndrome comparmental karena sirkulasi permukaan sering kali tidak sesuai.
4) Kaji status neuromuskuler, catat perubahan motorik/ fungsi sensorik. Tanyakan kepada klien lokasi nyeri/ tidak nyaman.
Rasional :
Lemahnya rasa, kebal, meningkatnya/ penyebaran rasa sakit terjadi ketika sirkulasi ke saraf tidak adekuat atau adanya trauma pada saraf.
5) Tes sensasi dari syaraf peroneal dengan mencubit dorsal diantara jari kaki pertama dan kedua. Kaji kemampuan dorso fleksi jari-jari kaki.
Rasional :
Panjang dan posisi syaraf peroneal meningkatkan resiko terjadinya injury dengan adanya fraktur di kaki, oedema/ comparmental syndrome atau malposisi dari peralatan traksi.
6) Monitor posisi/ lokasi ring penyangga bidai
Rasional :
Peralatan traksi dapat menekan pembuluh darah atau syaraf, khususnya diaksila atau daerah selangkang, menyebabkan iskemik dan luka permanent.
7) Pertahankan elevasi dari ekstermitas yang cedera jika tidak kontraindikasi dengan adanya compartemen syndrome.
Rasional :
Mencegah aliran vena/ mengurangi oedema

4. Pelaksanaan
Merupakan pelaksanaan rencana tindakan keperawatan yang telah ditentuan agar kebutuhan pasien terpenuhi secara optimal. Pelaksanaan tindakan keperawatan dapat dilaksanakan sebagian oleh pasien, perawat secara mandiri, atau bekerjasama dengan tim kesehatan lain. Dalam hal ini perawat adalah sebagai pelaksana asuhan keperawatan yaitu memberikan pelayanan perawatan dengan menggunakan proses keperawatan. Adapun langkah-langkah dalam tindakan keperawatan terdiri dari tiga tahap yaitu persiapan, pelaksanaan dan dokumentasi.
Pada tahap persiapan, perawat harus memiliki keterampilan khusus dan pengetahuan untuk menghindari kesalahan dalam memberikan tindakan keperawatan pada pasien. Sebelum dilakukan tindakan keperawatan, perawat terlebih dahulu memberitahukan dan menjelaskan tentang maksud dan tujuan serta akibat tindakan yang akan dilakukan.
Tahap pelaksanaan merupakan tindakan yang akan dilakukan sesuai dengan rencana dalam rangka mengatasi masalah keperawatan yang ada.
Tahap dokumentasi yaitu tahap tindakan keperawatan yang telah di-lakukan baik kepada pasien ataupun keluarga, dicatat dalam catatan keperawatan. Pada pendokumentasian ini harus lengkap meliputi tang¬gal, jam pemberian tindakan, jenis tindakan, respon pasien, paraf serta nama perawat yang melakukan tindakan. Menurut Yoseph tahun 1994 “Pendokumentasian sangat perlu untuk menghindari pemutarbalikan fakta, untuk mencegah kehilangan informasi dan agar dapat dipelajari oleh perawat lain. Semua tahap dalam proses keperawatan harus di-dokumentasikan.” Beberapa faktor dapat mempengaruhi pelaksanaan rencana asuhan keperawatan, antara lain sumber-sumber yang ada, pengorganisasian pekerjaan perawat serta lingkungan fisik untuk pelayanan keperawatan yang dilakukan.
5. Evaluasi
Tahap evaluasi dalam proses keperawatan menyangkut pengumpulan data subyektif dan obyektif yang menunjukkan mengenai tujuan asuhan keperawatan sudah dapat dicapai atau belum, masalah apa yang sudah dipecahkan dan apa yang perlu dikaji lagi, direncanakan, dilaksanakan.
Evaluasi merupakan tahap akhir proses keperawatan yang merupakan aktifitas berkesinambungan dari tahap awal (pengkajian) sampai tahap akhir (evaluasi) dan melibatkan pasien/keluarga. Evaluasi bertujuan untuk menilai efektifitas rencana dan strategi asuhan keperawatan. Evaluasi terdiri dari evaluasi proses, untuk menilai apakah prosedur dilakukan sesuai dengan rencana dan evaluasi hasil berfokus kepada perubahan perilaku dan keadaan kesehatan pasien sebagai hasil tindakan keperawatan.
Ada tiga alternatif dalam menafsirkan hasil evaluasi yaitu :
a. Masalah teratasi
Masalah teratasi apabila pasien menunjukkan perubahan tingkah laku dan perkembangan kesehatan sesuai dengan kriteria pencapaian tu¬juan yang telah ditetapkan.
b. Masalah sebagian teratasi
Masalah sebagian teratasi apabila pasien menunjukkan perubahan dan perkembangan kesehatan hanya sebagian dari kriteria pencapaian tu-juan yang telah ditetapkan.
c. Masalah belum teratasi
Masalah belum teratasi, jika pasien sama sekali tidak menunjukkan perubahan perilaku dan perkembangan kesehatan atau bahkan timbul masalah yang baru.


BAB III
TINJAUAN KASUS

Pada bab ini penulis akan menguraikan tentang asuhan keperawatan klien dengan Fraktur Communitif Metakarpal IV dan V manus dextra di ruang Cempaka RSUD Abdul Wahab Syahranie Samarinda, yang dimulai sejak tanggal 21 Juli sampai dengan 23 Juli 2009.
Adapun pelaksanaan asuhan keperawatan ini dilakukan tahap demi tahap, dimulai dari pengkajian, perumusan diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi yang disebut dengan tahap proses keperawatan.

A. Pengkajian
1. Identitas Klien
Klien bernama Tn. N, umur 22 tahun, laki-lakai, belum menikah, agama Islam, pekerjaan swasta, pendidikan terakhir SLTA, alamat Desa Tepian Terap, Kec. Sangkulirang, No. register 09012968, klien masuk rumah sakit tanggal 22 Juni 2009 dan dilakukan pengkajian pada tanggal 21 Juli 2009.
2. Riwayat kesehatan klien
a. Keluhan utama
Nyeri pada tangan kanan
b. Riwayat penyakit sekarang
Pada saat pengkajian tanggal 21 Juli 2009 klien telah dirawat di rumah sakit selama 29 hari.
Pada tanggal 22 Juni 2009 sekitar jam 8.39 klien terjepit kayu ulin pada saat klien ingin memindahkan kayu ke mobil, kemudian klien di bawa ke Puskesmas, di Puskesmas luka klien di bersihkan, kemudian klien di rujuk ke RSUD Abdul Wahab Syahranie Samarinda melalui IGD hingga akhirnya klien di rawat di Ruang Cempaka, selama perawatan klien telah 2 kali Operasi yang pertama adalah operasi Amputasi digit V manus dextra, yang kedua adalah debridement, dan tanggal 21 Juli 2009 rencana Operasi Skin Graft, sampai sekarang klien dirawat di ruang Cempaka.
c. Riwayat penyakit dahulu
Klien belum pernah dirawat dirumah sakit.
d. Riwayat kesehatan keluarga
Didalam keluarga klien tidak ada yang menderita penyakit keturunan seperti Hipertensi, Diabetes Melitus, maupun Asma.
3. Pola aktivitas sehari-hari
a. Pola tidur/ istirahat
Sebelum masuk rumah sakit, klien tidak memiliki masalah dalam tidur, selama di rumah sakit klien juga tidak mengalami masalah dalam istirahat dan tidur.
b. Pola eliminasi
Sebelum masuk rumah sakit, klien buang air besar dengan frekuensi 1-2 kali perhari begitu pula saat klien dirawat di rumah sakit. Klien tidak mengalami gangguan buang air besar seperti konstipasi atau diare. Sebelum masuk rumah sakit, klien buang air kecil kurang lebih 4-5 kali perhari. Warna kuning jernih dan bau khas urine. Sedangkan, di rumah sakit klien buang air besar 1 kali perhari dan buang air kecil 4-5 kali perhari. Warna kuning jernih dan bau khas urine.
c. Pola nutrisi
Sebelum masuk rumah sakit, klien biasa makan 3 kali sehari dengan menu nasi, sayur dan lauk. Klien minum air putih kurang lebih 6-8 gelas perhari. Di rumah sakit klien makan sendiri sesuai dengan diet TKTP yang diberikan, klien tidak memiliki masalah dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi.
d. Kebersihan diri/ personal hygiene
Saat dikaji, klien tidak mengalami gangguan dalam pemenuhan kebutuhan personal hygiene klien bisa pergi ke toilet sendiri, Cuma kuku klien yang terlihat panjang dan agak kotor bekas darah.
4. Data psikososial
Klien tidak dapat berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain dan lingkungannya serta tidak dapat beraktivitas seperti biasanya karena klien mengalami fraktur pada tangan kanannya.
5. Pemeriksaan fisik
a. Keadaan umum
Dari hasil pengkajian keadaan umum klien baik dengan tingkat kesadaran CM, GCS : 15 (E4M6V5), tingkat ketergantungan self care.
b. Tanda-tanda vital
Pada saat pengkajian, tekanan darah klien adalah 120/60 mmhg diukur pada brachialis sinistra, denyut nadi pada arteri radialis sinistra adalah 80 X/ menit dengan denyutan sedang dan irama teratur, suhu tubuh pada axilla adalah 37,1 C, frekuensi pernafasan 18 X/menit, tinggi badan 167 cm dan Berat badan 55 kg.
c. Pemeriksaan sistemik
1) Kepala dan wajah
Bentuk kepala normachepalic dan simetris, tidak terdapat lesi atau kelainan pada tulang kepala, kulit kepala bersih, ubun-ubun menutup. rambut berwarna phitam. Struktur wajah simetris dan lengkap, warna kulit kuning agak kecoklatan tidak ikterik dan sianosis.
2) Mata
Mata lengkap dan simetris antara kanan dan kiri, tidak terdapat edema pada palpebra, konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, pupil isokor dengan diameter 2-3 mm dan miosis saat terkena cahaya. Kornea jernih dan refleks kornea baik. Sedangkan iris dan ketajaman penglihatan tidak dapat dikaji karena kesadaran klien menurun. Tekanan bola mata sama antara mata kanan dan mata kiri.
3) Hidung
Pada hidung tidak ditemukan adanya kelainan, tulang hidung simetris kanan dan kiri, posisi septum nasi tegak di tengah, mukosa hidung lembab, tidak ditemukan adanya sumbatan, tidak terdapat epistaksis serta tidak ada pernafasan cuping hidung..
4) Telinga
Bentuk telinga sama besar atau simetris kanan dan kiri, tidak ada kelainan bentuk, ukuran sedang atau normal, pada lubang telinga tidak terdapat perdarahan atau pengeluaran cairan. Pada ketajaman pendengaran baik.
5) Mulut dan faring
Pada pemeriksaan bibir, mukosa bibir lembab, tidak ada sariawan, mulut berbau. Keadaan gusi dan gigi kurang bersih, lidah kotor dan pada orofaring tidak terdapat peradangan dan pembesaran tonsil.
6) Leher
Pada leher posisi trakhea berada di tengah, simetris dan tidak ada penyimpangan. Tiroid tidak ada pembesaran. Klien tidak dapat berbicara, vena jugularis tidak mengalami pembesaran dan denyut nadi karotis teraba 80 X/menit. Klien tidak menggunakan otot bantu pernapasan.
d. Pemeriksaan integumen
Kebersihan kulit klien bersih karena. Kehangatan hangat, warna kulit kuning agak kecoklatan, tidak ikterik maupun sianosis, turgor kulit baik dan kembali dalam waktu kurang dari1 detik, kelembaban cukup, terdapat gangguan integritas kulit pada tangan kanan kanan bekas operasi.
e. Pemeriksaan payudara
Pada payudara ukuran dan bentuk simetris kanan dan kiri,datar dengan thorak, tidak terdapat kelainan, warna payudara dan areola tidak terjadi perubahan pigmen yang abnormal. Pada aksila tidak terdapat benjolan dan pada klavikula tidak ada fraktur, pembengkakan atau kelainan.
f. Pemeriksaan thorax/ dada
Pada inspeksi bentuk thorax simetris kanan dan kiri, berbentuk elips, tidak ada kelainan bentuk, tidak terdapat penggunaan alat bantu pernafasan yaitu otot sternokleidomastoid dan otot pektoralis. Irama pernafasan normal dengan frekuensi 18 x/menit. Pada palpasi getaran suara atau vokal fremitus sama kiri dan kanan, pada perkusi sonor, pada auskultasi terdapat suara nafas vesikuler.
Pada pemeriksaan jantung, pada inspeksi ictus cordis tidak nampak, pada palpasi ictus cordis teraba di ICS 5 linea media clavicularis sinistra. Pada auskultasi bunyi jantung I terdengar pada katup mitral dan trikuspidalis di ICS IV linea sternal sinistra dan ICS V midclavicula sinistra. Bunyi jantung II terdengar pada katup aorta di ICS II mid sternal dextra dan pulmonalis di ICS II mid sternal sinistra, tidak ada bunyi jantung tambahan atau murmur, frekuensi denyut jantung 80 x/ menit.
g. Pemeriksaan abdomen
Pada inspeksi bentuk abdomen datar, tidak ada benjolan, tidak terlihat adanya bendungan pembuluh darah vena pada abdomen. Pada auskultasi terdengar bising usus 10 x/menit. Pada palpasi nyeri tekan tidak ada, benjolan atau massa tidak ada, tanda ascites tidak ada, hepar tidak teraba atau tidak ada pembesaran, lien tidak teraba. Pada perkusi suara abdomen tympani.
h. Pemeriksaan genetalia
Pada genitalia tidak tampak adanya kelainan, kebersihan cukup, meatus uretra terpasang kateter, pada anus tidak ada kelainan, hemoroid ataupun lecet.
i. Pemeriksaan muskuloskeletal
Otot simetris kanan dan kiri, terdapat tanda-tanda atropi pada ektremitas bawah, tidak terdapat edema pada ekstremitas atas dan bawah, pada kuku tidak terdapat clubbing finger. Kekuatan otot diperoleh nilai : 5 5
5 5
j. Pemeriksaan neorologi
Pada pemeriksaan neurologis tidak di temukan kelainan fungsi saraf otak, tidak terdapat tanda kaku kuduk, tingkat kesadaran (secara kuantitatif) GCS = 15 E4V5M6. Anggota gerak atas dan bawah kiri dan kanan dapat bergerak dengan baik, tidak terdapat kekakuan sendi klien dapat merasakan sensai nyeri. Reflek fisiologi positif dan reflek patologi negatif.
k. Pemeriksaan status mental
Tidak terdapat pada klien gangguan orientasi waktu, tempat dan ruang. Klien dapat mengingat kejadian penyakitnya dan dapat mengambil keputusan yang terbaik untuk dirinya. Klien menerima kondisi sakitnya dengan sabar. Klien ingin segera sembuh dari sakitnya walaupun agak susah. Klien memiliki persepsi bahwa penyakitnya dapat di sembuhkan dengan usaha dan mengikuti aturan diet, olahraga dan pengobatan secara rutin.
6. Pemeriksaan Penunjang
a. Dx medis : Fraktur Communutif Metakarpal IV dan V Manus Dekstra
b. Labotratorium
Tanggal 23 Juni 2009
Hb : 14,4 gr/dl (normal : 13,5-18 gr/dl)
Ht : 39,5 Vol (normal : 40-54 Vol%)
Leukosit : 10.600 /mm3 (normal : 8000-15000 /mm3)
Trombosit : 260.000 mm3 (normal : 300 ribu-500 ribu /mm3)
Eritrosit : 4,43 mill/mm3 ( normal : 4 juta-5 juta /mm3)

Pada tanggal 22 Juni 2009 dilakukan pemeriksaan Rontgen metakarpal dan didapatkan hasil terdapat praktur communitif metakarpal IV dan V manus dextra.
7. Penatalaksanaan dan terapi
Selasa, tanggal 21 Juli 2009
Pre Operasi hari
Asam Mefenamat 3x1 tab
Cefadroxil 3x1 tab
Rabu, tanggal 22 Juli 2009
Post Operasi
IVFD NS 24 tetes/menit
Cefotaxime 3x1 gr (iv)
Antrain 2x1 amp (drip)
Kamis, 23 Juli 2009
IVFD NS 24 tetes/menit
Cefotaxime 3x1 gr (iv)
Antrain 2x1 amp (drip)





DATA FOKUS
1. Data Subyektif
Pre Operasi
- Klien mengatakan “tangan saya sakit kalau digerakkan ”.
- Klien mengatakan “jam brapa saya di operasi“.
- Klien mengatakan “berapa lama saya nanti dioperasi”
Post Operasi
- Klien mengatakan “tangan dan paha saya sakit kalau digerakkan”
- Klien mengatakan “badan saya terasa lemas”
- Klien mengatakan “kira-kira berapa lama saya dirawat dirumah sakit ini”
- Klien mengatakan “apakah saya nanti akansembuh”

2. Data Obyektif
Pre Operasi
- Ku baik
- Kesadaran Compos Menthis GCS : 15 (E4 M6 V5)
- Nyeri skala 5
- Klien banyak bertanya
- Terdapat luka fraktur/operasi pada tangan kanan
- Ekspresi klien meringis
Post Operasi
- Ku baik
- Kesadaran Compos Menthis GCS : 15 (E4 M6 V5)
- Kelemahan pada ekstremitas dekstra
- TD : 100/60 mmHg, P : 80 x/i, T : 36,7 ºC, RR : 20 x/i
- Kekuatan motorik 4 5
4 5
- Terpasang IVFD NS 24 tetes/ menit di tangan kir.
- Luka operasi pada tangan kanan dan paha kanan
- Klien sering bertanya tentang penyakitnnya.
- Pendidikan terakhir klien SLTA.


Samarinda, 21 Juli 2009

Mustakim
P07220106045



B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Setelah data terkumpul dari beberapa sumber penulis menyimpulkan ada beberapa masalah keperawatan yang ada pada Tn. N yaitu dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Dx. Keperawatan Nama : Tn. N Umur : 22 thn
No Tanggal ditemukan Paraf Dx. Medis: Fraktur communitif metakarpal IV dan V manus dekstra No. reg : 09012968
Ruang : Flamb
DIAGNOSA KEPERAWATAN Tgl. Teratasi Paraf

I








II









III









I
















II










III











IV













V















VI




21/7/2009








21/7/2009









21/7/2009









22/7/2009
















22/7/2009










22/7/2009











22/7/2009













22/7/2009















22/07/09 Pre Operasi
Nyeri b/d diskontunitas tulang / jaringan, di tandai dengan :
DS :
“ tangan saya terasa sakit kalau digerakkan”
DO :
- Ekspresi klien meringis
- Nnyeri skala 5

Cemas b/d akan dilakukannya tindakan operasi ditandai dengan :
DS :
- “jam berapa saya di operasi”
- “berapa lama saya nanti di operasi”
DO :
- Ekspresi wajah tegang
- Klien terlihat banyak bertanya

Risiko tinggi terhadap infeksi b/d adanya luka operasi/fraktur, di tandai dengan :
DS :-
DO :
- Terdapat luka operasi/fraktur pada tangan kanan

Post Operasi
Nyeri b/d diskontinuitas jaringan/tulang akibat tindakan operasi (skin graft), di tandai dengan :
DS :
“ tangan dan paha saya sakit kalau digerakkan”
DO :
- Ekspresi klien meringis
- Klien tampak lemah
- TD = 100 / 60 mmHg
- Suhu= 36,7 oC
- Nadi= 80 x/mnt
- RR = 20 x/mnt
- Ada luka operasi pada tangan kanan dan paha kanan

Kerusakan integritas kulit b/d fraktur terbuka, tindakan pembedahan (Skin Graft), di tandai dengan :
DS :
“ tangan saya terasa sakit “
DO :
- Terdapat luka operasi pada tangan kanan dan paha kanan

Risiko tinggi terhadap infeksi b/d adanya luka operasi dan prosedur invasif (pemasangan infus) di tandai dengan :
DS : -
DO :
- Adanya luka operasi pada tangan kanan dan paha kanan
- IVFD terpasang ditangan kiri

Intoleran aktifitas b/d keterbatasan gerak, kelemahan fisik, di tandai dengan :
DS :
“tangan dan paha saya sakit kalau digerakkan“
DO :
- Kekuatan otot

- Terpasang infus ditangan kiri
- Kelemahan pada ekstremmitas dextra

Defisit perawatan diri b/d ketidak mampuan melakukan aktifitas sehari-hari, kelemahan fisik di tandai dengan :
DS :
- “badan saya terasa lemas”
DO :
- Kelemahan pada ekstremitas dextra
- Adanya luka operasi pada tangan kanan dan paha kanan.
- Kekuatan otot



Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi yang didapat, di tandai dengan :
DS:
- “Kira-kira berapa lama saya dirawat dirumah sakit ini?”
- Apakah saya nanti akan sembuh
DO
- Klien sering bertanya tentang penyakitnya
- Pendidikan terakhir klien adalah SLTA
Masalah belum teratasi






21/7/09









Masalah
Tidak terjadi







23/7/09
Masalah teratasi sebagian













23/7/09
Masalah teratasi sebagian







23/7/09
Masalah tidak terjadi








23/7/09













23/7/09















23/7/09




















C. RENCANA KEPERAWATAN

Catatan Rencana Keperawatan Nama : Tn. N Umur : 22 thn Jenis : Laki-laki
Hari, Tgl/jam Diagnosa Keperawatan Dx Medis : Fr.communitif metakarpal IV dan V manus dextra Nomor :09012968 Ruang : Cempaka
Tujuan dan hasil Rencana Tindakan Rasional Paraf Nama

Selasa
21/07/09





















Selasa
21/07/09













Selasa
21/07/09















Rabu
22/07/09





















Rabu
22/07/09




















Rabu
22/07/09
















Rabu
22/07/09



























Rabu
22/07/09















Rabu
22/07/09



Pre Operasi
Diagnosa I
Nyeri b/d diskontinuitas tulang/jaringan, ditandai dengan:
DS:
“tangan saya terasa sakit kalau digerakkan”
DO:
 Ekspresi klien meringis
 Nyeri skala 5












Diagnosa II
Cemas b/d akan dilakukannya tindakan operasi, ditandai dengan:
DS:
“jam brapa saya dioperasi”
“berapa lama nanti saya dioperasi”
DO:
 Ekspresi wajah tegang
 Klien terlihat banyak bertanya
Diagnosa III
Risiko tinggi terhadap infeksi b/d adanya luka operasi/fraktur, ditandai dengan:
DS:-
DO:
 Terdapat luka operasi /fraktur pada tangan kanan.






Post Operasi
Diagnosa I
Nyeri b/d diskontinuitas jaringan/tulang akibat tindakan operasi (Skin Graft), ditandai dengan:
DS:
“tangan dan paha saya sakit kalau digerakkan”
DO:
 Ekspresi klien meringis
 Klien tampak lemah
 TD: 100/60 mmHg
 Suhu: 36,7 oC
 Nadi: 80 x/mnt
 RR: 20 x/mnt





Diagnosa II
Kerusakan integritas kulit b/d fraktur terbuka, tindakan pembedahan (Skin Graft), ditandai dengan:
DS:
“tangan saya terasa sakit”
DO:
 Terdapat luka operasi pada tangan kanan dan paha kanan








Diagnosa III
Risiko tinggi terhadap infeksi b/d adanya luka operasi dan prosedur invasif (pemasangan infus), ditandai dengan:
DS:-
DO:
 Adanya luka operasi pada tangan dan paha kanan
 IVFD terpasang ditangan kiri





Diagnosa IV
Intoleran aktivitas b/dketerbatasan gerak, kelemahan fisik, ditandai dengan:
DS:
“tangan dan paha saya sakit kalau digerakkan”
DO:
 Terpasang infus ditangan kiri
 Kekuatan otot




















Diagnosa V
Defisit perawatan diri b/d ketidakmampuan melakukan aktifitas sehari-hari, kelemahan fisik, ditandai dengan:
DS:
“klien mengatakan badannya terasa lemas”
DO:
 Klien hanya berbaring ditempat tidur
 Kuku panjang dan kotor.






Diagnosa VI
Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi yang didapat, di tandai dengan :
DS:
- “Kira-kira berapa lama saya dirawat dirumah sakit ini?”
- Apakah saya nanti akan sembuh
DO
- Klien sering bertanya tentang penyakitnya.
- Pendidikan terakhir klien adalah SLTA
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam, diharapkan klien dapat mengungkapkan nyeri berkurang atau dapaat mengontrol nyerinya.
KH:
- Ekspresi klien tenang dan rileks.
- Nyeri skala 2











Tujuan: setelah dilakukan satu kali pertemuan diharapkan klien dapat mengungkapkan pemahaman tentang kondisinya.
KH:
 Klien mengungkapkan cemas berkurang atau hilang
 Ekspresi wajah rileks.

Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, diharapkan tidak terdapatnya tanda-tanda infeksi
KH:
 Tanda-tanda infeksi (Calor, Rubor, dolor, Tumor, dan Fungsiolesa) tidak ada.





Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan klien dapat mengungkapkan nyeri berkurang atau dapat mengontrol nyerinya.
KH:
 Ekspresi klien rileks dan tenang
 Nyeri skala 2









Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan tidak terjadi kerusakan kulit dan memudahkan dalam proses penyembuhan.
KH:
 Klien mengatakan nyeri berkurang
 Kulit bersih dan terawat dengan baik.








Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, diharapkan tidak ada tanda-tanda infeksi.
KH:
 Tanda-tanda infeksi (kalor, rubor, dolor, tumor, fungsiolesa) tidak ada.
 Suhu tubuh dalam batas normal (36-37oC)




Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam kebutuhan klien dapat terpenuhi dengan bantuan minimal selama dalam perawatan.
KH:
 Klien mampu memenuhi kebutuhan baik dengan mandiri/dengan bantuan
 Mampu meningkatkan aktifitasnya.













Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam diharapkan aktivitas perawatan diri klien dapat terpenuhi secara mandiri oleh klien sendiri
KH:
 Pesonal hygiene klien terpenuhi
 Klien tampak lebih segar dan cerah
 Kuku pendek dan bersih.





Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan klien mengerti tentang penyakitnya.
KH:
- Klien menyatakan pemahaman mengenai kondisi, prognosis, dan pengobatan
1.1. Kaji keluhan nyeri, perhatikan lokasi, lamanya dan intensitas (skala 1-10)
1.2. Pertahankan imobilisasi bagian yang sakit dengan pembabat

1.3. Atur posisi senyaman mungkin bagi klien
1.4. Ajarkan teknik relaksasi





1.5. Berikan kompres dingin



1.6. Berikan analgetik sesuai advice dr. David yaitu Asam Mefenamat 3x1 tab.


2.1. Kaji tingkat kecemasan


2.2. Motivasi klien untuk mengungkapkan perasaan secara verbal
2.3. Beri penjelasan tentang perubahan yang terjadi akibat perubahan sensasi

2.4. Anjurkan keluarga untuk memberikan dukungan moral



3.1. Kaji terhadap kemerahan, edema, panas dan pus pada daerah luka operasi
3.2. Observasi tanda-tanda vital (suhu tubuh)

3.3. Ganti kasa tiap hari bila kotor atau basah serta pertahankan fiksasi tetap kuat.
3.4. Tutup lokasi tusukan jarum infus dengan kasa steril dan fiksasi tetap kuat.
3.5. Berikan informasi atau penkes untuk mempertahankan botol infus lebih tinggi dari tusukan jarum.


1.1. Kaji keluhan nyeri, perhatikan lokasi, lamanya dan intensitas (skala 1-10)
1.2. Pertahankan imobilisasi bagian yang sakit dengna pembabat

1.3. Atur posisi senyaman mungkin bagi klien
1.4. Ajarkan teknik relaksasi





1.5. Berikan kompres dingin



1.6. Berikan analgetik sesuai advice dr. David yaitu Antrain 2x1 amp.


2.1. Kaji kulit untuk luka terbuka, benda asing, kemerahan, dan perubahan warna.


2.2. Ubah posisi sesering mungkin



2.3. Observasi untuk potensial area yang tertekan khususnya pada akhir dan bawah bebatan/gips
2.4. Bersihkan kulit dengan sabun air hangat
2.5. Letakkan bantalan pelindung dibawah kaki dan diatas tonjolan tulang
2.6. Gerakkan tempat tidur busa, bantal apung, atau kasur udara sesuai indikasi



3.1. Kaji terhadap kemerahan, edema, panas dan pus pada daerah luka operasi
3.2. Observasi tanda-tanda vital (suhu tubuh).

3.3. Ganti kasa tiap hari bila kotor atau basah serta pertahankan fiksasi tetap kuat.
3.4. Tutup lokasi tusukan jarum infus dengan kasa steril dan fiksasi tetap kuat.
3.5. Berikan informasi atau penkes untuk mempertahankan botol infus lebih tinggi dari tusukan jarum.
3.6. Berikan antibiotik sesuai advice dr. David yaitu Cefotaxime 3x1 gram.

4.1. Kaji derajat imobilisasi yang disebabkan cidera atau tindakan keperawatan

4.2. Instruksi klien/bantu dalam latihan gerak aktif/pasif pada ekstremitas yang sakit dan yang tidak sakit.




4.3. Awasi tekanan darah dengan melakukan aktifitas perhatikan keluhan pusing

4.4. Bantu/dorong perawatan diri/kebersihan diri klien



4.5. Berikan/bantu dalam mobilisasi dengan kursi roda, kruk, tongkat sesegera mungkin.

4.6. Dorong peningkatan cairan sampai 2000-3000 ml/hari.



5.1. Kaji kemampuan klien dan hambatan untuk partisipasi dalam perawatan diri.
5.2. Tingkatkan partisipasi aktif klien dan ADL sesuai batas terapeutik.

5.3. Dorong/bantu pasien dalam perawtan diri, gigi dan mulut setiap hari.
5.4. Dukung penggunaan mekanisme koping.

5.5. Modifikasi lingkungan kalau/bila perlu.



6.1. Kaji tingkat pemahaman klien

6.2. Berikan sumber-sumber bahan pengajaran secara visual sesuai keadaan.
6.3. Jelaskan tentang proses penyakit klien.
6.4. Bantu klien dalam mengidentifikasi faktor-faktor resiko terjadinya penyakit.

6.5. Bantu klien mengidentifikasi aktifitas sesuai toleransi dengan periode istirahat yang adekuat
1.1 Mempengaruhi pilihan / pengawasan keefektifan intervensi
1.2 Menghilangkan nyeri dan mencegah kesalahan posisi tulang.
1.3 Menurunkan rangsangan nyeri

1.4 Memfokuskan kembali perhatian meningkatkan kemampuan koping dalam menajemen nyeri yang mungkin menetap untuk periode lama.
1.5 Menurunkan edema/pembentukan hematoma, menurunkan sensasi nyeri.
1.6 Analgetik dapat memblok syaraf neyeri, sehingga dapat mengurangi nyeri dan menurunkan spasme otot.

2.1. Mempengeruhi pilihan atau pengawasan keefektivan intervensi.
2.2. Mengidentifikasikan perasaan dan pengaruh pilihan intervensi

2.3. Memberikan informasi tentang apa yang diharapkan membantu klien menerima situasi lebih efektif.
2.4. Membantu meningkatkan kemampuan koping klien.



3.1. Mengidentifikasi apakah terjadi adanya tanda-tanda infeksi atau tidak ada.
3.2. Untuk mengetahui dan mencegah secara rutin terjadinya infeksi.
3.3. Kasa yang bersih, steril dan terinfeksi baik dapat memperkecil, terjadinya infeksi.
3.4. Kontaminasi dengan udara bebas dapat mempercepat terjadinya infeksi.
3.5. Melibatkan keduanya berperan dalam perawatan infus.



1.1 Mempengaruhi pilihan/pengawasan keefektifan intervensi
1.2 Menghilangkan nyeri dan mencegah keslahan posisi tulang.
1.3 Menurunkan rangsangan nyeri

1.4 Memfokuskan kembali perhatian meningkatkan kemampuan koping dalam menajemen nyeri yang mungkin menetap untuk periode lama.
1.5 Menurunkan edema/pembentukan hematoma, menurunkan sensasi nyeri.
1.6 Analgetik dapat memblok syaraf neyeri, sehingga dapat mengurangi nyeri dan menurunkan spasme otot.
2.1. Memberikan informasi tentang sirkulasi kulit dan masalah pembentukan edema yang membutuhkan intervensi medik lanjut.
2.2. Mengurangi tekanan konstan pada area yang sama meminimalkan resiko kerusaakan kulit
2.3. Tekanan dapat menyebabkan ulserasi/nekrotik dan kelumpuhan saraf
2.4. Menurunkan kadar kontaminasi kulit
2.5. Meminimalkan tekanan pada area ini

2.6. Karena imobilisasi bagian tubuh, tonjolan tulang lebih dari area yang sakit oleh gips mungkin sakit karena penurunan sirkulasi.

3.1. Mengidentifikasi apakah terjadi adanya tanda-tanda infeksi atau tidak ada.
3.2. Untuk mengetahui dan mencegah secara rutin terjadinya infeksi.
3.3. Kasa yang bersih, steril dan terinfeksi baik dapat memperkecil, terjadinya infeksi.
3.4. Kontaminasi dengan udara bebas dapat mempercepat terjadinya infeksi.
3.5. Melibatkan keduanya berperan dalam perawatan infus.

3.6. Antibiotik dapat digunakan sebagai profilaktif.

4.1. Persepsi klien tentang keterbatasan fisik aktual memerlukan intervensi untuk meningkatkan penyembuhan.
4.2. Meningkatkan aliran darah ke otot dan tulang, untuk meningkatkan tonus otot, mempertahankan gerak sendi, mencegah kont aktur/atropi, dan resorpsi kalsium karena tidak digunakan .
4.3. Hipotensi posturl adalah masalah umum yang menyertai tirah baring lama dan memerlukan intervensi khusus.
4.4. Meningkatkan kekuatan otot dan sirkulasi, meningkatkan kontrol pasien dalam situasi dan menigkatkan kesehatan diri secara langsung.
4.5. Mobilisasi dini menurunkan komplikasi tirah baring dan meningkatkan penyembuhan dan normalitas fungsi organ
4.6. Mempertahankan hidrasi tubuh, menurunkan resikok tinggi urinarius, pembentukan batu dan konstipasi.

5.1. Mengidentifikasi kebutuhan intervensi yang dibutuhkan.

5.2. Diharapkan klien juga mampu beraktifitas dalam batas terapeutik
5.3. Mengurangi resiko penyakit guzi/kehilangan gigi dan penyakit kulit lainnya.
5.4. Diharapkan klien bekerja sama dalam mengatasi masalahnya sendiri
5.5. Untuk mempermudah klien melakukan aktifitasnya sehari-hari.


6.1. Berikan fasilitas perencanaan program pengajaran.
6.2. Bahan yang di buat secara khusus akan dapat memenuhi kebutuhan pasien untuk belajar.
6.3. Memberikan pemahaman ke klien.
6.4. Membuat klien lebih memahami akan faktor resiko yang akan terjadi pada penyakit klien.
6.5. Dapat memenuhi rasa kenyamanan pada pasien sehingga dapat membantu partisipasi klien


D. TINDAKAN KEPERAWATAN


Nama :Tn. N J k/umur :Laki-laki/22 thn
Dx. Medis :Fr. Communnitif Ruang :Cempaka
Metakarpal IV dan V
Manus Dextra
Hari
Tanggal/ Jam Tindakan Keperawatan Evaluasi Tindakan Paraf/ Nama
Senin
24/07/06

08.15







08.30





08.40











09.00








10.00



10.30


16.40


17.30




18.00




Rabu
22/07/09

06.10





06.25




07.35




07.10


08.00







09.10




10.00




10.30



12.00




12.30



18.00










Kamis
2307/09

06.30





07.10




07.20




07.30










08.20

\

09.00



10.00




11.00



12.00




12.30






18.00




19.00







21.00






















5.1



1.1




1.4


2.1




2.3



2.4









3.2




1.4








3.2




4.1




3.1




5.3










1.4




2.4




1.3



1.2




2.2



1.2




2.1









3.2




4.1




3.1




5.3










1.4



1.1



2.4




6.2



3.2




2.2



1.4


3.2




3.6


2.2






Membina hubungan saling percaya (BHSP) dengan klien
 Mengucapkan salam terapetik
 Memperkenalkan diri
 Kontrak waktu
 Menjelaskan tujuan

Mengganti laken membersihakn lingkungan klien setiap hari



Melakukan pengkajian pada kulit dan mengobservasi terhadap tanda-tanda infeksi

Mengkaji tingkat nyeri, lokasi dan skala nyeri



Menganjurkan klien untuk relaksasi bila timbul nyeri

Menanyakan kepada klien, apakah merasa cemas akan rencana operasinya


Memberikan penjelasan kepada klien tentang operasi yang akan dijalaninya

Menganjurkan kepada keluarga untuku memberikan dukungan kepada anaknya.

Mengantar pasien ke ruang operasi

Menjemput pasien dari ruang operasi

Mengukur tekanan darah
Mengukur suhu,
Menghitng nadi
Menghitng pernafasan

Memberikan obat injeksi cefotaxim 1 gr melalui IV






Morning care
Mengukur tekanan darah
Mengukur suhu,
Menghitng nadi
Menghitng pernafasan

Melakukan pengkajian pada tingkat toleransi aktivitas klien


Melakukan pengkajian pada kulit dan mengobservasi terhadap tanda-tanda infeksi


Memandikan klien di tempat tidur

Mengganti laken dan membersihkan lingkungan setiap hari

Mempertahankan tempat tidur klien tetap kering dan bebas kerutan.

Mengajarkan pada klien tehnik relaksasi dan nafas dalam


Memberikan injeksi anti biotik dan analgetik
Cefotaxime 1 gr
Antrain 1 amp

Mengatur posisi klien senyaman mungkin.


Mengukur tekanan darah
Mengukur suhu,
Menghitng nadi
Menghitng pernafasan

Menganjurkan pada klien untuk mengubah posisi dengan sering.

Mengukur tekanan darah
Mengukur suhu,
Menghitng nadi
Menghitng pernafasan

Memberikan injeksi anti biotik
Cefotaxime 1 gr

Menganjurkan klien untuk istirahat



Morning care
Mengukur tekanan darah
Mengukur suhu tubuh
Menghitung nadi
Menghitung pernafasan

Melakukan pengkajian pada tingkat toleransi aktivitas klien


Melakukan pengkajian pada kulit dan mengobservasi terhadap tanda-tanda infeksi


Memandikan klien di tempat tidur

Mengganti laken dan membersihkan lingkungan setiap hari

Mempertahankan tempat tidur klien tetap kering dan bebas kerutan.

Menganjurkan pada klien tehnik relaksasi dan nafas dalam

Mengkaji skala nyeri, lokasi dan intensitasnya


Memberikan injeksi anti biotik dan analgetik
Cefotaxime 1 gr
Antrain 1 amp

Memberikan penkes kepada klien mengenai penyakit klien.

Mengukur tekanan darah
Mengukur suhu,
Menghitng nadi
Menghitng pernafasan.

Menganjurkan pada klien untuk mengubah posisi dengan sering

Mengobservasi aktivitras / pergerakan klien

Mengukur tekanan darah
Mengukur suhu,
Menghitng nadi
Menghitng pernafasan

Memberikan injeksi antibiotik
Cefotaxime 1 gram

Menganjurkan pada klien untuk mengubah posisi dengan sering.


Mendelegasikan kepada perawat ruangan yang bertugas untuk melakukan tindakan keperawatan selanjutnya pada klien.
















5.1



1.1




1.4


2.1




2.3



2.4









3.2




1.4








3.2




4.1




3.1




5.3










1.4




2.4




1.3



1.2




2.2



1.2




2.1









3.2




4.1




3.1




5.3










1.4



1.1



2.4




6.2



3.2




2.2



1.4


3.2




3.6


2.2









Klien membalas salam
Klien menerima kedatangan perawatan yang akan merawat klien selama tiga hari

Semua keluarga klien berada diluar, tempat tidur, meja serta lingkugan klien tampak bersih

Luka tampak kering dan bersih serta tidak ditemui tanda-tanda infeksi
Nyeri skala 5, pada daerah luka fraktur/operasi bila digerakkan.

Klien mau mengikuti anjuran perawat

Klien mengatakan cemas, dan banyak bertanya tentang kapan rencana operasinya.

Klien mengerti tentang penjelasan perawat


Klien mau mengikuti anjuran perawat.








Keadaan umum baik, TD : 100/60, Nadi 80 x/I, temp : 36,7 0C, dan respirasi : 20 x/i.

Keadaan umum baik, tidak ada alergi dan tidak ada keluhan nyeri





Keadaan umum baik, TD : 100/60, Nadi 80 x/I, temp : 36 0C, dan respirasi : 20 x/i.


Klien dapat melakukan aktivitas tetapi masih memerlukan bantuan perawat

Tidak ditemukan tanda-tanda infeksi seperti rubor, kalor, dolor maupun tumor.

Klien terlihat bersih dan wangi

Laken diganti dan tampak rapi dan bersih


Tempat tidur klien lakennya sudah diganti dan sudah dirapikan

Klien mengatakan rasa nyeri agak berkurang setelah melakukan tehnik yang diajarkan

Tidak ada reaksi alergi pada klien.



Klien merasa nyaman dengan posisi semi fowler.

Keadaan umum baik, TD : 100/70, Nadi 80 x/I, temp : 36,5 0C, dan respirasi : 18 x/i.

Klien mengerti yang dianjurkan perawat.


Keadaan umum baik, TD : 100/70, Nadi 80 x/I, temp : 36.4 0C, dan respirasi : 20 x/i.

Tidak ada reaksi alergi pada klien.


Klien mau mengikuti anjuran perawat.




Keadaan umum baik, TD : 110/80, Nadi 80 x/I, temp : 37 0C, dan respirasi : 18 x/i.

Klien dapat melakukan aktivitas tetapi masih memerlukan bantuan perawat

Tidak ditemukan tanda-tanda infeksi seperti rubor, kalor, dolor maupun tumor.

Klien terlihat bersih dan wangi

Laken diganti dan tampak rapi dan bersih


Tempat tidur klien lakennya sudah diganti dan sudah dirapikan

Klien mau mengikuti anjuran perawat


Nyeri skala 2, didaerah luka operasi, hilang timbul

Tidak ada reaksi alergi pada klien.



Klien menyimak dan klien mengerti.


Keadaan umum baik, TD : 120/80, Nadi 88 x/I, temp : 36.6 0C, dan respirasi : 20 x/i.

Klien mengerti yang dianjurkan perawat.


Klien mampu berjalan


Keadaan umum baik, TD : 120/80, Nadi 88 x/I, temp : 36.6 0C, dan respirasi : 20 x/i.

Tidak ada tanda-tanda alergi.

Klien mengerti dan mau melakukan apa yang dianjurkan perawat

Pendelegasian jelas mengenai tindakan keperawatan yang akan dilakukan, perawat ruangan dapat melihat rencana tindakan pada List klien.


E.EVALUASI

Hari
Tgl/Jam No
Dx Subjektif / Objektif / Analisa / Perencanaan Paraf
Selasa
21/7/09 I S : “Tangan saya terasa nyeri kalau digerakkan ”
O : - Skala nyeri 5
A : Masalah belum teratasi
P : lanjutkan intervensi
1.1 Kaji keluhan nyeri, perhatikan lokasi / karakter dan intensitas nyeri (skala 0 - 10 )
1.2 Pertahankan imobilisasi bagian yang sakit dengan pembebat
1.3 Atur posisi senyaman mungkin
1.4 Anjurkan untuk teknik relaksasi
Selasa
21/7/09 II S : “ Saya berharap semua dapat berjalan dengan baik”
O : - Klien terlihat rileks
A : Masalah teratasi
P : Pertahankan Intervensi
2.1. Kaji tingkat kecemasan
2.2. Motivasi klien untuk mengungkapkan perasaan secara verbal
2.3. Beri penjelasan tntang perbahan jadi akibat perubahan sensasi.
2.4. Anjurkan keluarga untuk memberikan dukungan moral
Selasa
21/7/09 III S : -
O : - Tidak terdapat tanda-tanda infeksi
- TD :100/60
- P : 80 x/i
- T : 36,7 oC
A : Masalah tidak terjadi
P : Pertahankan intervensi
3.1 Kaji terhadap kemerahan, panas, pus pada daerah luka operasi
3.2 Observasi tanda - tanda vital (suhu tubuh)
3.3 Ganti kasa tiap hari bila kotor atau basah serta pertahankan fiksasi agar tetap kuat
3.4 Tutup lukasi tusukan jarum infus dengan kasa steril dan fiksasi dengan kuat





EVALUASI
Hari
Tgl/Jam No
Dx Subjektif / Objektif / Analisa / Perencanaan Paraf
Rabu
22-7-09



I

S : “Tangan dan paha saya terasa sakit kalau digerakkan”
O : - Ekspresi klien rileks dan tenang
- Nyeri skala 4
A : Masalah belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi
1.1. Kaji keluhan nyeri, perhatikan lokasi, lamanya dan intensitas (skala 1-10)
1.2. Pertahankan imobilisasi bagian yang sakit dengan pembebat
1.3. Atur posisi senyaman mungkin bagi klien
1.4. Anjurkan teknik relaksasi
1.6.Berikan analgetik sesuai advice dr. Riki yaitu Antrain 2x1 amp.
Rabu
22-7-09 II S :“Tangan dan paha saya terasa sakit kalau digerakkan”
O : - Kulit bersih
A : Masalah teratasi sebagian
P : Lanjutkan intervensi
2.1 Kaji kulit untuk luka terbuka, benda asing, kemerahan dan perubahan warna
2.2 Ubah posisi sesering mungkin
2.3 Obsevasi untuk potensial area yang tertekan khususunya pada akhir dan bawah bebatan.
2.4 Bersihkan kulit dengan air hangat
2.5 Letakkan bantalan pelindung dibawah tangan yang sakit dan diatas tonkolan tulang.
Rabu
22-7-09 III S : -
O : - Tidak terdapat tanda-tanda infeksi
- Infus lancar
A : Masalah tidak terjadi
P : Pertahankan intervensi
3.1 Kaji terhadap kemerahan, panas, pus pada daerah luka operasi
3.2 Observasi tanda - tanda vital (suhu tubuh)
3.3 Ganti kasa tiap hari bila kotor atau basah serta pertahankan fiksasi agar tetap kuat
3.4 Tutup lukasi tusukan jarum infus dengan kasa steril dan fiksasi dengan kuat
3.6 Berikan informasi sesuai advice dr. David yaitu Cefotaxime 3x1 gram
Rabu
22-7-09 IV S : “Tangan dan paha saya masih terasa sakit kalau digerakkan “
O :
- Klien sudah mampu ketoilet
- KU lemah
A : Masalah teratasi sebagian
P : Lanjutkan intervensi
4.1 Kaji derajat imobilisasi yang disebabkan oleh cidera atau tindakan pengobatan
4.2 Instruksikan klien/bantu dalam latihan gerak aktif atau pasif pada ekstremitas yang sakit dan tidak sakit.
4.3 Awasi tekanan darah dengan melakukan aktifitas
4.4 Batu/dorong perawatan diri klien.
Rabu
22-7-09 V S : “ Saya belum bisa mandi sendiri, badan saya masih lemas ”
O :
- Klien tamapak lebih segar dan bersih
- Klien Di seka di tempat tidur oleh perawat
A : Masalah teratasi sebagian
P : lanjutkan intervnesi
5.1 Kaji kemampuan klien dan hambatan untuk partisipasi dlam perawatan diri
5.2 Tingkatkan partisifasi aktif klien dalam ADL sesuai batas terapeutik
5.3 Dorong/bantu pasien dalam perawatan diri, gigi, dan mulut
5.4 Dukung penggunaan mekanisme koping




















EVALUASI
Hari
Tgl/Jam No
Dx Subjektif / Objektif / Analisa / Perencanaan Paraf
Kamis
23-7-09



I

S : “Nyeri tangan saya sudah berkurang bila digerakkan”
O : - Ekspresi klien rileks dan tenang
- Nyeri skala 2
A : Masalah teratasi sebagian
P : lanjutkan intervensi
1.1 Kaji keluhan nyeri, perhatikan lokasi, lamanya dan intensitas (skala 1-10)
1.2 Pertahankan imobilisasi bagian yang sakit dengan pembebat
1.3 Atur posisi senyaman mungkin bagi klien
1.4 Anjurkan teknik relaksasi
1.6 berikan analgetik sesuai advice dr. Riki yaitu Antrain 2x1 amp.
Kamis
23-7-09
II S : “Nyeri tangan saya sudah berkurang bila digerakkan”
O : - Kulit bersih
A : Masalah teratasi sebagian
P : Lanjutkan intervensi
2.1. Kaji kulit untuk luka terbuka, benda asing, kemerahan dan perubahan warna
2.2. Ubah posisi sesering mungkin
2.3. Obsevasi untuk potensial area yang tertekan khususunya pada akhir dan bawah bebatan.
2.4. Bersihkan kulit dengan air hangat
2.5. Letakkan bantalan pelindung dibawah tangan yang sakit dan diatas tonkolan tulang.
Kamis
23-7-09
III S : -
O : - Tidak terdapat tanda-tanda infeksi
- Infus lancar
A : Masalah tidak terjadi
P : Pertahankan intervensi
3.1. Kaji terhadap kemerahan, panas, pus pada daerah luka operasi.
3.2. Observasi tanda - tanda vital (suhu tubuh).
3.3. Ganti kasa tiap hari bila kotor atau basah serta pertahankan fiksasi agar tetap kuat.
3.4. Tutup lukasi tusukan jarum infus dengan kasa steril dan fiksasi dengan kuat
3.5. Berikan informasi sesuai advice dr. David yaitu Cefotaxime 3x1 gram
Kamis
23-7-09
IV S : “Nyeri tangan saya sudah berkurang bila digerakkan “
O :
- Klien sudah mampu ketoilet
- KU baik
A : Masalah teratasi
P : Pertahankan intervensi
4.1. Kaji derajat imobilisasi yang disebabkan oleh cidera atau tindakan pengobatan.
4.2. Instruksikan klien/bantu dalam latihan gerak aktif atau pasif pada ekstremitas yang sakit dan tidak sakit.
4.3. Awasi tekanan darah dengan melakukan aktifitas
4.4. Batu/dorong perawatan diri klien.
Kamis
23-7-09
V S : “ Saya sudah bisa ke toilet sendiri ”
O :
- Klien tampak lebih segar dan bersih
A : Masalah teratasi
P : Pertahankan intervnesi
5.1. Kaji kemampuan klien dan hambatan untuk partisipasi dlam perawatan diri.
5.2. Tingkatkan partisifasi aktif klien dalam ADL sesuai batas terapeutik
5.3. Dorong/bantu pasien dalam perawatan diri, gigi, dan mulut
5.4. Dukung penggunaan mekanisme koping
23-7-09 VI S : “Saya sudah mengerti tentang penyakit saya”
O: Klien dapat menjelaskan kembali tentang penyakitnya.
A : Masalah teratasi
P : Pertahankan intervensi
6.1. Kaji tingkat pemahaman klien
6.2. Berikan sumber-sumber bahan pengajaran secara visual sesuai keadaan.
6.3. Jelaskan tentang proses penyakit klien.
6.4. Bantu klien dalam mengidentifikasi faktor-faktor resiko terjadinya penyakit.
6.5. Bantu klien mengidentifikasi aktifitas sesuai toleransi dengan periode istirahat yang adekuat


BAB IV
PEMBAHASAN


Pada bab ini, penulis akan membahas asuhan keperawatan pada klien Tn.N dengan Fraktur Communitif Metakarpal IV dan V Manus Dextra dilaksanakan di Ruang Cempaka Rumah Sakit Abdul Wahab Syahranie Samarinda dari tanggal 21 Juli sampai dengan 23 Juli 2009 adalah pendekatan proses keperawatan yang terdiri dari pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.
Dalam upaya pengumpulan data sebagai langkah awal dari proses keperawatan, penulis melakukan pengkajian baik secara langsung maupun tidak langsung, tujuan dari pengkajian keperawatan ialah untuk mengumpulkan data, mengelompokkan data dan menganalisa data sehingga ditemukan diagnosa keperawatan (Gaffar, 1999).
Pada kasus klien Tn. N dengan Fraktur Communitif Matakarpal IV dan V Manus Dextra penulis melakukan pengumpulan data melalui beberapa tehnik yaitu observasi, wawancara, pemeriksaan fisik, dan pengambilan data penunjang dari beberapa tim medis serta catatan perawatan klien Tn.N, sejak dirawat dari tanggal 22 Juni 2009. sehingga setelah dikumpulkan data dari klien Tn. N baik dari aspek bio, psiko, sosial dan spiritual, maka penulis mengelompokkan beberapa data dan menganalisa untuk menentukan diagnosa keperawatan yang berkaitan dengan keadaan klien Tn.N.
Data yang diperoleh pada klien Tn.N selanjutnya akan dikelompokkan menjadi data objektif dan subjektif kemudian dianalisa untuk menentukan prioritas masalah keperawatan yang berkaitan dengan keadaan klien Tn.N, secara nyata pengkajian data dapat dilihat pada BAB III, maka penulis merumuskan tiga diagnosa pre operasi skin graft dan post operasi skin graft penulis merumuskan enam diagnosa keperawatan yang telah diurutkan sesuai dengan kebutuhan dasar manusia dan keaktualan masalah yang terjadi pada klien yaitu sebagai berikut :
Diagnosa Pre Operasi Skin Graft
1. Nyeri berhubungan dengan diskontinuitas tulang/jaringan. Diagnosa ini penulis angkat karena diagnosa ini merupakan diagnosa aktual pada klien dengan trauma tulang atau terputusnya kontinuitas jaringan tulang, Klien mengeluh nyeri pada daerah fraktur klien dan susah menggerakkan tangan kanan. Klien tampak meringis dan nyeri dengan skala 5.
Menurut International Association for Study of Pain (IASP), nyeri adalah sensori subyektif dan emosional yang tidak menyenangkan yang didapat terkait dengan kerusakan jaringan aktual maupun potensial, atau menggambarkan kondisi terjadinya kerusakan.
Antara kerusakan jaringan (sebagai sumber stimuli nyeri) sampai dirasakan sebagai persepsi nyeri terdapat suatu rangkaian proses elektrofisiologik yang secara kolektif disebut sebagai nosisepsi (nociception). Ada empat proses yang jelas yang terjadi pada suatu nosisepsi, yakni ;
a) Proses Transduksi (Transduction), merupakan proses dimana suatu stimuli nyeri (noxious stimuli) di rubah menjadi suatu aktifitas listrik yang akan diterima ujung-ujung saraf (nerve ending). Stimuli ini dapat berupa stimuli fisik (tekanan), suhu (panas) atau kimia (substansi nyeri).
b) Proses Transmisi (Transmison), dimaksudkan sebagai penyaluran impuls melalui saraf sensoris menyusul proses transduksi. Impuls ini akan disalurkan oleh serabut saraf A delta dan serabut C sebagai neuron pertama, dari perifer ke medulla spinalis dimana impuls tersebut mengalami modulasi sebelum diteruskan ke thalamus oleh traktus sphinotalamikus sebagai neuron kedua. Dari thalamus selanjutnya impuls disalurkan ke daerah somato sensoris di korteks serebri melalui neuron ketiga, dimana impuls tersebut diterjemahkan dan dirasakan sebagai persepsi nyeri.
c) Proses Modulasi (Modulation), adalah proses dimana terjadi interaksi antara sistem analgesik endogen yang dihasilkan oleh tubuh kita dengan imput nyeri yang masuk ke kornu posterior medulla spinalis. Jadi merupakan proses acendern yang di kontrol oleh otak. Sistem analgesik endogen ini meliputi enkefalin, endorfin, serotonin, dan noradrenalin memiliki efek yang dapat menekan impuls nyeri pada kornu posterior medulla spinalis. Kornu posterior ini dapat diiabaratkan sebagai pintu yang dapat tertetutup atau terbukanya pintu nyeri tersebut diperankan oleh sistem analgesik endogen tersebut di atas. Proses modulasi inilah yang menyebabkan persepsi nyeri menjadi sangat subyektif orang per orang.
d) Persepsi (perception), adalah hasil akhir dari proses interaksi yang kompleks dan unik yang dimulai dari proses transduksi, transmisi, dan modulasi yang pada gilirannya menghasilkan suatu perasaan yang subyektif yang dikenal sebagai persepsi nyeri.
Mekanismenya, Fraktur klien ini sebagai impuls akan dirubah menjadi suatu aktifitas listrik yang akan diterima oleh ujung-ujung syaraf sensori, hingga nanti impuls ini akan disalurkan oleh serabut A Delta dan serabut C sebagai neuron pertama, dari perifer ke medulla spinalis dimana impuls tersebut mengalami modulasi sebelum diteruskan ke thalamus oleh traktus sphinotalamikus sebagai neuron kedua. Dari thalamus selanjutnya impuls disalurkan ke daerah somato sensoris di korteks serebri melalui neuron ketiga, dimana impuls tersebut diterjemahkan dan dirasakan sebagai persepsi nyeri, terjadi interaksi antara sistem analgesik endogen yang dihasilkan oleh tubuh kita dengan imput nyeri yang masuk ke kornu posterior medulla spinalis. Jadi merupakan proses acendern yang di kontrol oleh otak. Sistem analgesik endogen ini meliputi enkefalin, endorfin, serotonin, dan noradrenalin memiliki efek yang dapat menekan impuls nyeri pada kornu posterior medulla spinalis. Kornu posterior ini dapat diiabaratkan sebagai pintu yang dapat tertetutup atau terbukanya pintu nyeri tersebut diperankan oleh sistem analgesik endogen tersebut di atas. Proses modulasi inilah yang menyebabkan persepsi nyeri menjadi sangat subyektif orang per orang. Rencana tindakan yang telah disusun oleh penulis tidak semua dapat dilaksanakan hal ini disesuaikan dengan kebutuhan klien diantaranya adalah mengkaji keluhan nyeri klien, lokasi dan lamanya dan insentitas (skala 1-10), mengatur posisi klien senyaman mungkin, dan mengajarkan klien teknik relaksasi. Dari tindakan keperawatan yang telah dilakukan diagnosa ini tidak dapat teratasi karena diagnosa ini diangkat pada pre operasi skin graft, sehingga hasil evaluasi tidak terdapat dalam kriteria hasil.
2. Cemas b/d akan dilakukannnya tindakan operasi. Diagnosa ini penulis angkat karena pada saat pengkajian klien banyak bertanya tentang rencana operasi yang akan dijalaninya. Ekspresi klien juga terlihat tegang.
Cemas adalah perasaan tidak nyaman atau ketakutan yang tidak jelas dan gelisah disertai dengan respon otonom (sumber terkadang tidak spesifik atau tidak diketahui oleh individu), perasaan yang was-was untuk mengatasi bahaya.
Empat tingkatan rasa cemas/gangguan perasaan (anxiety) pada manusia.
a) Rasa cemas ringan
b) Rasa cemas sedang
c) Rasa cemas berat
d) Panik
Gejala-gejala kecemasan ditandai pada tiga aspek :
a) Aspek biologis/fisiologis, seperti peningkatan denyut nadi dan tekanan darah, tarikan nafas menjadi pendek dan cepat, berkeringat dingin, termasuk di telapak tangan, nafsu makan hilang, mual/muntah, sering buang air kecil, nyeri kepala, tak bisa tidur, mengeluh, pembesaran pupil dan gangguan pencernaan.
b) Aspek intelektual/kognitif; seperti ketidakmampuan berkonsentrasi, penurunan perhatian dan keinginan, tidak bereaksi terhadap rangsangan lingkungan, penurunan produktivitas, pelupa, orientasi lebih ke masa lampau daripada masa kini/masa depan.
c) Aspek emosional dan perilaku; seperti penarikan diri, depresi, mudah tersinggung, mudah menangis, mudah marah dan apatisme.
Pembagian rasa cemas antara lain:
a) Rasa cemas ringan: berhubungan dengan permasalahan yang dihadapi sehari-hari. Keadaan ini akan meningkatkan persepsi individu, yang mengakibatkan orang akan berhati-hati/waspada dan mendorong manusia untuk belajar serta kreatif.
b) Rasa cemas sedang: lapangan persepsi terhadap lingkungan menurun. Individu lebih memfokuskan hal yang penting saat itu saja dan mengesampingkan hal lainnya.
c) Rasa cemas berat: lapangan persepsi sangat menurun.
Orang hanya memikirkan hal yang kecil saja dan mengabaikan hal lainnya. Individu tak mampu berpikir lagi, dia sudah harus diberi pertolongan/tuntunan.
d) Panik: lapangan persepsi sudah sangat sempit. Individu tidak dapat mengendalikan diri lagi. Bila manusia salah orientasi; ketika menghadapi masalah pelik; rasa dan periksa tidak berfungsi.
Klien mengalami cemas sedang hal ini sesuai dengan keadaan klien yaitu klien banyak bertanya tentang kondisinya, klien hanya memikirkan bagaimana operasinya nanti bisa berjalan dengan baik, eskpresi klien tegang. Rencana tindakan yang telah disusun oleh penulis dapat dilaksanakan semaksimal mungkin, diantaranya adalah mengkaji tingkat kecemasan, memotivasi klien untuk mengungkapkan perasaan secara verbal, memberikan penjelasan tentang perubahan yang terjadi akibat perubahan sensasi, menganjurkan keluarga untuk memberikan motivasi, dukungan moral. Sehingga diagnosa ini dapat teratasi hal ini seseuai dengan kriteria hasil yang tercantum dalam intervensi keperawatan diataranya adalah ekspresi klien terlihat rileks dan klien juga mengungkapkan bahwa cemasnya sudah berkurang sebelum diberikan penjelasan oleh perawat.
3. Risiko tinggi terhadap infeksi b/d adanya luka operasi/fraktur. Penulis mengangkat diagnosa ini karena berdasarkan observasi dan pemeriksaan fisik tampak luka operasi pada tangan kanan klien yang masih terbalut dengan elastis verban, dengan adanya fraktur pada tangan kanan klien memberi jalan bagi kuman patogen masuk ke dalam tubuh sehingga bisa mengakibatkan infeksi, dalam hal ini perlu mendapat perhatian dari perawat untuk melakukan tindakan keperawatan pada area kulit yang terdapat luka fraktur serta mengobservasi area kulit dengan melihat tanda-tanda infeksi seperti kalor, dolor, rubor maupun tumor serta memantau tanda-tanda vital klien yang secara umum perubahan tanda-tanda vital merupakan tanda terjadinya infeksi, sehingga hal ini perlu mendapat perhatian dari perawat untuk mencegah hal itu maka penulis mengangkat diagnosa ini. Rencana tindakan yang telah disusun oleh penulis tidak semua dapat dilaksanakan hal ini disesuaikan dengan keadaan klien karena pada saat itu klien akan segera dilakukan operasi skin graft, sehingga tindakan yang dilakukan hanya mengobservasi tanda-tanda vital klien, masalah risiko ini tidak menjadi aktual.
Diagnosa Post Operasi Skin Graft
1. Nyeri berhubungan dengan diskontinuitas jaringan/tulang akibat tindakan operasi (skin graft). Diagnosa ini penulis angkat karena diagnosa ini merupakan diagnosa aktual pada klien dengan trauma tulang atau terputusnya kontinuitas jaringan. Klien mengeluh nyeri pada daerah fraktur dan daerah paha kanan.
Menurut International Association for Study of Pain (IASP), nyeri adalah sensori subyektif dan emosional yang tidak menyenangkan yang didapat terkait dengan kerusakan jaringan aktual maupun potensial, atau menggambarkan kondisi terjadinya kerusakan.
Antara kerusakan jaringan (sebagai sumber stimuli nyeri) sampai dirasakan sebagai persepsi nyeri terdapat suatu rangkaian proses elektrofisiologik yang secara kolektif disebut sebagai nosisepsi (nociception). Ada empat proses yang jelas yang terjadi pada suatu nosisepsi, yakni ;
a) Proses Transduksi (Transduction), merupakan proses dimana suatu stimuli nyeri (noxious stimuli) di rubah menjadi suatu aktifitas listrik yang akan diterima ujung-ujung saraf (nerve ending). Stimuli ini dapat berupa stimuli fisik (tekanan), suhu (panas) atau kimia (substansi nyeri).
b) Proses Transmisi (Transmison), dimaksudkan sebagai penyaluran impuls melalui saraf sensoris menyusul proses transduksi. Impuls ini akan disalurkan oleh serabut saraf A delta dan serabut C sebagai neuron pertama, dari perifer ke medulla spinalis dimana impuls tersebut mengalami modulasi sebelum diteruskan ke thalamus oleh traktus sphinotalamikus sebagai neuron kedua. Dari thalamus selanjutnya impuls disalurkan ke daerah somato sensoris di korteks serebri melalui neuron ketiga, dimana impuls tersebut diterjemahkan dan dirasakan sebagai persepsi nyeri.
c) Proses Modulasi (Modulation), adalah proses dimana terjadi interaksi antara sistem analgesik endogen yang dihasilkan oleh tubuh kita dengan imput nyeri yang masuk ke kornu posterior medulla spinalis. Jadi merupakan proses acendern yang di kontrol oleh otak. Sistem analgesik endogen ini meliputi enkefalin, endorfin, serotonin, dan noradrenalin memiliki efek yang dapat menekan impuls nyeri pada kornu posterior medulla spinalis. Kornu posterior ini dapat diiabaratkan sebagai pintu yang dapat tertetutup atau terbukanya pintu nyeri tersebut diperankan oleh sistem analgesik endogen tersebut di atas. Proses modulasi inilah yang menyebabkan persepsi nyeri menjadi sangat subyektif orang per orang.
d) Persepsi (perception), adalah hasil akhir dari proses interaksi yang kompleks dan unik yang dimulai dari proses transduksi, transmisi, dan modulasi yang pada gilirannya menghasilkan suatu perasaan yang subyektif yang dikenal sebagai persepsi nyeri.
Mekanismenya, daerah fraktur dan daerah paha post skin graft ini menyebabkan diskontinuitas jaringan sehingga mempengaruhi serabut saraf nyeri yang ada disekitar, sebagai impuls akan dirubah menjadi suatu aktifitas listrik yang akan diterima oleh ujung-ujung syaraf sensori, hingga nanti impuls ini akan disalurkan oleh serabut A Delta dan serabut C sebagai neuron pertama, dari perifer ke medulla spinalis dimana impuls tersebut mengalami modulasi sebelum diteruskan ke thalamus oleh traktus sphinotalamikus sebagai neuron kedua. Dari thalamus selanjutnya impuls disalurkan ke daerah somato sensoris di korteks serebri melalui neuron ketiga, dimana impuls tersebut diterjemahkan dan dirasakan sebagai persepsi nyeri, terjadi interaksi antara sistem analgesik endogen yang dihasilkan oleh tubuh kita dengan imput nyeri yang masuk ke kornu posterior medulla spinalis. Jadi merupakan proses acendern yang di kontrol oleh otak. Sistem analgesik endogen ini meliputi enkefalin, endorfin, serotonin, dan noradrenalin memiliki efek yang dapat menekan impuls nyeri pada kornu posterior medulla spinalis. Kornu posterior ini dapat diiabaratkan sebagai pintu yang dapat tertetutup atau terbukanya pintu nyeri tersebut diperankan oleh sistem analgesik endogen tersebut di atas. Proses modulasi inilah yang menyebabkan persepsi nyeri menjadi sangat subyektif orang per orang. Rencana tindakan yang telah disusun oleh penulis tidak semua dapat dilaksanakan hal ini disesuaikan dengan kebutuhan klien pada saat itu, diantaranya adalah mengkaji keluhan nyeri, lokasi, lamanya dan insensitas nyeri (skala 1-10), mengatur posisi klien senyaman mungkin, mengajarkan teknik relaksasi, memberikan obat analgetik sesuai advice dr. David yaitu Antrain 3 x 1 ampul. Dari tindakan yang telah dilaksanakan dignosa ini dapat teratasi sebagian sesuai dengan kriteri hasil yaitu klien mengungkapkan bahwa nyeri skala 2, klien juga mengungkapkan bahwa nyerinya hanya timbul pada saat tangannya digerakkan, hal ini dikarenakan nyeri klien bersifat hilang timbul, nyeri klien muncul
2. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan fraktur terbuka, tindakan pembedahan (skin graft). Kerusakan integritas kulit adalah perubahan pada epidermis atau dermis.
Lapisan Kulit:
Epidermis (lapisan luar) antara lain:
a) Statum korneum (lapisan tanduk) dan bagian dalam di sebut lapisan malpighi.
 Terdiri atas sel-sel mati dan selalu mengelupas.
 Fungsi : melindungi sel-sel dan mencegah masuknya bibit penyakit.
 Lapisan malpighi : terdiri dari sel-sel yang aktif membelah dan menghasilkan pigmen melanin.
b) Statum lusidum
Terdiri sel-selnya tidak berinti dan berwarna bening.
c) Statum granulosom
 Fungsi : menggantikan sel-sel dilapisi statum korneum.
 Mengandung pigmen warna kulit.
d) Statum germanativum
Sel-selnya aktif membelah membentuk sel-sel baru kearah luar.
Dermis (lapisan dalam) terdiri dari:
a) Kelenjar keringat
 Berupa pipa terpilin yang memanjang dari epidermis masuk kebagian dermis.
 Kira-kira 2 juta kelenjar keringat yang tersebar diseluruh dermis.
 Manusia dewasa dapat menghasilkan keringat ± 225 ml setiap harinya.
 Air yang keluar dari kelenjar keringat tidak hanya berfungsi mensekresikan garam mineral.
b) Kelenjar minyak (glandula sabacea), fungsi : untuk mencegah kekeringan pada kulit dan rambut.
c) Pembuluh darah
d) Syaraf perasa dan peraba
e) Jaringan lemak
Batasan karakteristik:
a) Invasi struktur tubuh
b) Kerusakan lapisan kulit (dermis)
c) Disrupsi permukaan kulit (epidermis)
Alasan penulis mengangkat diagnosa ini karena klien post operasi terlihat sering tidur pada posisi yang sama, posisi tidur yang lama tanpa ada pergantian posisi dapat menyebabkan kemerahan pada kulit dan akhirnya lecet pada kulit yang diakibatkan oleh tidak adanya sirkulasi oksigen serta terjadinya vasokontriksi pembuluh darah bawah kulit pada area tubuh yang tertindis bagian tubuh yang lain yang menyebabkan suplai oksigen dan darah terhenti dan keadaan ini diperburuk oleh alas tempat tidur yang terbuat dari kulit/plastik, reaksi kulit/plastik pada tubuh kita pada saat tidur dengan posisi yang lama tanpa perubahan menyebabkan panas pada lapisan bawah kulit. Rencana tindakan yang telah disusun oleh penulis tidak semua dapat dilaksanakan hal ini sesuai dengan keadaan klien yang post skin graft hari pertama dan kedua dengan kondisi yang lemah. Tindakan yang telah dilaksanakan adalah mengubah posisi klien sesering mungkin, mengobservasi daerah yang tertekan, membersihkan kulit dengan air sabun, meletakkan bantalan pelindung dibawah kaki dan diatas tonjolan tulang. Diagnosa ini teratasi sebagian, karena hanya sebagian dari kriteria hasil yang dapat dicapai diantaranya adalah klien mengatakan bahwa kulitnya terlihat bersih dan segar.
3. Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan adanya luka operasi dan prosedur invasif (pemasangan infus). Penulis mengangkat diagnosa ini karena berdasarkan observasi dan pemeriksaan fisik tampak luka operasi pada tangan kanan dan paha kaki kanan klien yang masih terbalut dengan elastis verban. Klien Post-Op Skin Graft, dengan adanya bekas operasi memberi jalan bagi kuman patogen masuk ke dalam tubuh sehingga bisa mengakibatkan infeksi, dalam hal ini perlu mendapat perhatian dari perawat untuk melakukan tindakan keperawatan pada area kulit yang terdapat luka bekas operasi serta mengobservasi area kulit dengan melihat tanda-tanda infeksi seperti kalor, dolor, rubor maupun tumor serta memantau tanda-tanda vital klien yang secara umum perubahan tanda-tanda vital merupakan tanda terjadinya infeksi, sehingga hal ini perlu mendapat perhatian dari perawat untuk mencegah hal itu maka penulis mengangkat diagnosa ini. Rencana tindakan yang telah disusun oleh penulis tidak semua dapat dilaksanakan hal ini disesuaikan dengan kondisi klien yang baru satu hari post operasi skin graft. Tindakan yang telah dialakukan diataranya mengobservasi tanda-tanda vital (suhu tubuh) dan memberikan anti biotik sesuai dengan advice dr. David yaitu Cefotaxime 3 x 1 gram. Dari tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan diagnosa ini tidak menjadi aktual.
4. Intoleran aktifitas berhubungan dengan keterbatasan gerak, kelemahan fisik. Intoleran aktifitas adalah ketidakcukupan energi secara fisiologis atau psikologis dalam pemenuhan aktivitas sehari-hari yang dibutuhkan atau diperlukan.
Batasan karakteristik:
a) Laporan verbal: kelelahan dan kelemahan
b) Respon terhadap aktivitas menunjukkan nadi dan tekanan darah abnormal.
c) Perubahan EKG menunjukkan aritmia dan distritmia.
d) Dispnea dan ketidaknyamanan yang sangat
Faktor yang berhubungan:
a) Tirah baring atau imobilisasi
b) Kelemahan secara menyeluruh
c) Ketidakseimbangan antara kebutuhan dan suplai oksigen
d) Gaya hidup yang menetap.
Diagnosa ini penulis angkat karena pada saat pengkajian klien tidak dapat menggerakkan ekstremitas kanannya sehubungan dengan adanya fraktur pada Metakarpal IV dan V Manus Dextra dan setelah Post Operasi Skin Graft, klien juga mengeluh bahwa badannya terasa lemas semua. Rencana tindakan yang telah disusun oleh penulis dapat dilaksanakan semaksimal mungkin, tindakan yang telah dilakukan adalah mengkaji derajat/kemampuan imobilisasi, membantu dalam perawatan diri klien, seperti memandaikan klien, menganjurkan klien untuk minum sebanyak 2000-3000 cc setiap hari. Dari tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan diagnosa ini dapat teratasi hal ini sesuai dengan kriteria hasil yaitu tidak terdapat tanda-tanda infeksi, dan suhu tubuh dalam batas normal.
5. Defisit perawatan diri berhubungan dengan ketidakmampuan melakukan aktifitas sehari-hari, kelemahan fisik. Kurang perawatan diri/mandi adalah kerusakan kemampuan dalam memnuhi kebutuhan aktifitifitas mandi/kebersihan diri secara mandiri.
Batasan karakteristik:
Tidak mampu dalam:
a) Membasuh bagian atau seluruh tubuh
b) Menyediakan sumber air mandi
c) Suhu air mandi reguler
d) Mendapatkan peralatan mandi
e) Mengeringkan tubuh
f) Masuk dan keluar kamar mandi.
Faktor yang berhubungan:
a) Kurang atau penurunan motovasi
b) Lemah atau lelah
c) Cemas berat
d) Tidak mampu merasakan bagian tubuh
e) Kerusakan kognisi atau perseptual
f) Nyeri
g) Kerusakan neurovaskuler
h) Kerusakan muskuloskletal
Diagnosa ini penulis angkat karena beradasarkan pengkajian yang penulis lakukan klien mengatakan bahwa klien selama dirawat di rumah sakit klien jarang dimandikan, dalam pemenuhan kebutuhan perawatan diri klien dibantu oleh perawat dan keluarga. Klien juga mengeluh kondisinya lemah, dan terasa nyeri pada daerah pos operasi Skin Graft. Rencana tindakan yang telah disusun oleh penulis dapat dilaksanakan semaksimal mungkin, tindakan yang telah dilakukan adalah mengkaji kemampuan klien dalam perawatan diri, meningkatkan partisipasi aktif klien dan ADL sesuai batas terapeutik, membantu klien dalam perawatan diri. Dari tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan diagnosa ini dapat teratasi hal ini sesuai dengan kriteria hasil yaitu personal hygiene klien terpenuhi, klien tampak lebih segar, dan kuku klien terlihat pendek.
6. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi yang didapat. Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui; kepandaian (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2003). Pengetahuan adalah hasil dari tahu dan terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia yaitu indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2003).
Pengetahuan dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan sebagai berikut :
a) Tahu (Know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya.
b) Memahami (Comprehensio )
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui.
c) Aplikasi (Application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari.
d) Analisis (Analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau objek kedalam komponen-komponen.
e) Sintesis (Synthesis)
Sintesis menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.
f) Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi yaitu kemampuaan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek.
NANDA (2005) menjelaskan bahwa faktor-faktor yang terkait dengan kurang pengetahuan (deficient knowledge) terdiri dari: kurang terpapar informasi, kurang daya ingat/hapalan, salah menafsirkan informasi, keterbatasan kognitif, kurang minat untuk belajar dan tidak familiar terhadap sumber informasi (Nanda, 2005). Dari hal tersebut dapat disimpulkan bahwa pengetahuan/knowledge seseorang di tentukan oleh faktor-faktor sebagai berikut:
a) Keterpaparan terhadap informasi
b) Daya ingat
c) Interpretasi informasi
d) Kognitif
e) Minat belajar, dan
f) Kefamiliaran akan sumber informasi
Alasan penulis mengambil diagnosa ini karena klien sering bertanya tentang penyakitnya dan dapat dilihat lagi dari tingkat pendidikan klien yaitu SLTA dan klien juga tidak pernah mendapat informasi mengenai penyakit klien. Rencana tindakan yang telah disusun oleh penulis dapat dilaksanakan semaksimal mungkin, seperti mengkaji tingkat pemahaman klien, menjelaskan tentang proses penyakit klien, membantu klien dalam mengidentifikasi faktor-faktor resiko terjadinya penyakit. Membantu klien mengientifikasi aktifitas sesuai toleransi dengan periode istirahat. hal ini dapat diperkuat dengan pernyataan bahwa klien telah mengerti tentang kondisi kesehatannya. Dari tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan diagnosa ini dapat teratasi hal ini sesuai dengan kriteria hasil dari rencana keperawatan yaitu klien menyatakan pemahaman mengenai kondisi, prognosis dan pengobatannya.


BAB V
PENUTUP


A. Kesimpulan
Setelah penulis menguraikan beberapa hal yang menyangkut asuhan keperawatan pada klien dengan Fraktur Communitif Metakarpal IV dan V Manus Dextra di ruang Cempaka RSUD A.W Sjahranie Samarinda dari tanggal 21 Juli 2009 sampai dengan 23 Juli 2009 serta membahas permasalahan yang ada selama melaksanakan asuhan keperawatan dan menyimpulkan berdasarkan uraian dari bab-bab terdahulu, penulis mengambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1. Pada saat dilakukan pengkajian baik aspek bio, psiko, sosial dan spiritual perlu adanya beberapa tehnik yaitu observasi, wawancara, pemeriksaan fisik, dan pengambilan data penunjang sehingga didapatkan status kesehatan klien atau permasalahan dan kesehatan klien.
2. Diagnosa keperawatan yang ditegakkan pada klien Tn.N dengan Fraktur Communitif Metakarpal IV dan V Manus Dextra terdapat tiga diagnosa yang tidak muncul antara lain: Resiko terjadi trauma berhubungan dengan kehilangan integritas tulang (fraktur), resiko terjadi disfungsi neuromusculer periferal berhubungan dengan trauma jaringan, oedema yang berlebihan, adanya trombus, hipovolemia, terhambatnya aliran darah, resiko terjadi gangguan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan peredaran darah / emboli lemak, perubahan membran alveo¬lar / capiler. hal ini dikarenakan pada saat melakukan pengkajian penulis tidak menemukan data-data yang dapat mendukung diagnosa tersebut.
3. Perencanaan tindakan keperawatan pada klien Tn.N dengan Fraktur Communitif Metakarpal IV dan V Manus Dextra, secara spesifik dapat diukur, melibatkan tujuan, dapat dicapai, dapat pertanggung jawabkan dan ada kriteria waktu.
4. Semua rencana tindakan pada klien Tn.N dengan Fraktur Communitif Metakarpal IV dan V Manus Dextra, dapat di implementasikan, hal ini didukung oleh faktor-faktor yang ada pada klien dan rumah sakit serta klien berpartisifasi aktif dalam tindakan keperawatan, serta tangggapan yang baik dari dokter dan perawat ruangan terhadap penulis bila menanyakan hal-hal yang berhubungan dengan klien.
5. Evaluasi keperawatan pada klien Tn.N dengan Fraktur Communitif Metakarpal IV dan V Manus Dextra, dilakukan secara formatif yaitu, mengevaluasi setelah melakukan tindakan dan evaluasi secara sumatif dengan SOAP.
B. Saran
Berdasarkan kesimpulan diatas, maka penulis memberikan saran sebagai berikut :
1. Hendaknya dalam melakukan pengkajian secara komprehensif baik dari aspek bio-psiko-sosial dan spritual. Untuk dapat melakukan pengkajian secara komprehensif diperlukan tentang konsep teori dan kemampuan dalam pemeriksaan klinis pada kasus tersebut. Adanya kerjasama dengan tim kesehatan lain (dokter, petugas laboratorium, ahli gizi, dan lainnya) diharapkan memiliki kemampuan dalam menganalisa sehingga didapatkan diagnose yang benar-benar valid.
2. Dalam merumuskan diagnosa keperawatan, perawat hendaknya menyesuiakan dengan data yang diperoleh dari hasil pengkajian. Pengkajian yang dilakukan secara komprehensif dan valid sangat menentukan dalam merumuskan diagnosa. Penentuan prioritas masalah hendaknya disesuiakan dengan kebutuhan klien saat itu. Kurang pengetahuan dapat dipertimbangkan dalam penentuan masalah keperawatan.
3. Dalam merumuskan rencana keperawatan hendaknya sesuai dengan diagnosa yang telah ditemukan dan mengacu pada teori-teori yang ada hubunganya dengan masalah yang sedang dihadapi klien. Dalam penyusunan rencana tindakan hendaknya perawat melibatkan klien dan keluarga, sehingga dapat memaksimalkan kemampuan klien dan keluarga dalam melakukan perawatan.
4. Dalam melakukan tindakan asuhan keperawatan perawat hendaknya perawat selalu melibatkan klien dan keluarganya. Pemberian pendidikan kesehatan mengenai perawatan dirumah kepada klien dan keluarga dengan Fraktur Communitif Metakarpal IV dan V Manus Dextra sangat diperlukan.
5. Evaluasi dibuat sesuai dengan perkembangan kondisi klien. Evaluasi hendaknya dilakukan secara berkelanjutan untuk mengetahui perkembangan dan kondisi klien. Dalam melakukan evaluasi sebaiknya dilakukan bersama-sama dengan klien dan keluarga, sehingga klien dan keluarga dapat mengetahui pencapaian yang telah diperoleh dari pelaksanaan asuhan keperawatan.
6. Pendokumentasian tindakan keperawatan hendaknya dilakukan secara berkesinambungan, sehingga kondisi dan perkembangan klien dapat dipantau setiap hari. Perawat hendaknya melakukan pendokumentasian setelah melakukan tindakan keperawatan, karena pendokumentasian merupakan aspek legal yang dapat melindungi perawat dari tindakan mal praktik.

Minggu, 31 Mei 2009

Kenangan selama dinas di RSUD I.A Moeis

alhamdulillah dinas di RSUD I.A. Moeis udah selesai,,,,,,
banyak pengalaman yang didapat disana,,, memasang NGT, memasang kateter, menggunakan syringe pupm untuk pasien,,, menggunakan infus pump untuk pasien,memasang IVFD, mengambil darah untuk pemeriksaan lab, memasang EKG,, persiapan BNO, menjahit luka di ruang IRD,,, banyak banget pengalamannya,,,, ada juga mendorong brangkar/mendorong pasien untuk radiologi,,,, hehehe,,,,,
yang paling penting juga neh,,,, kakak pegawainya, semuanya baik2,,,, mereka semua mau membantu,,, mau mengajarkan apa yang kami belum tau,,,, BAIK kan,,,,
minggu pertama dinasnya di Ruang bangsal,,, biasanya ruangan ini digunakan oleh para pasien yang menggunakan ASMARA, ASKES dll,,,, neh ruangan yang paling banyak pasiennya,,, tapi banyak tindakan juga,,,,,, jadi agak cape,,, ga masalah yang penting dapat ilmunya,,,,
minggu kedua dinasnya di kelas III,, waktu kami dinas pasiennya,,, sedikit kira-kira kurnag dari 10 orang,,, hehehe,,,, banyak juga tindakannya,,,
truz minggu ketiga di ruang ICU/ICCU,, disini pasiennya sedikit,,, tapi perlu observasi tiap jam,,,, hehehe,,,, disini low waktunya istirahat,,, makan bareng ama perwat yang lain,,,, hehehe,,,,, disini ada memasang NGT, pasang Syringe pump, pasang infus pump,, dll,,,, seru kan,,,,
trus minggu keempat dinas di IGD,,, disini semuanya harus serba cepat tapi harus tepat,,,, keterampilan harus hebat,,,,,, disini juga banyak tindakan,,, saya bisa menjahit lukan pasien karena terjatuhan dan ketimpah kaca,,,,
trus minggu kelima saya dinas di ruangan kelas I dan II,,, lumayan rame pasiennya,,, sibuk dengan rutinitas,,,,, cape banget,,, low dinas malam,,, bel pasien bunyi mulu tuh,,,, jadi tergganggu tdurnya,,, tapi yang namanya tanggung jawab,,, tetap harus semangat,,,, iya ga,,,, hehehehe,,,,
di hari terakhir,,, ada acara ramah tamah,,, dengan para pegawai rumah sakit,,, sekalian acara makan-makan,,,, senangnnya,,,, acara mendadak,,,, saya lagi yang membaca do'a di depan,,,, mang seh,,, low dadakan saya psti selalu dicari,,, hehehe,,,,
trus keliling ruangan wat minta maaf,,, sape tau ada salah kata, prilaku dan ucap,,, wah bisa panjang low ga minta maaf,,,,, setelah selesai keliling minta maaf rupang kerumah,,,, hehehe,,,

sampai jumpa di pengalaman dinas saya yang selanjutnya,,,, di Gerontik/Panti Werda,,,,

Kamis, 14 Mei 2009




Kamis, 07 Mei 2009

"Kacang Yunani" anti kanker dan sehatnkan jantung


"Kacang Yunani" Antikanker dan Sehatkan Jantung


Di balik kelezatan dan aroma sedap almond, terdapat zat-zat gizi yang menyehatkan. Asam lemak tak jenuh yang dikandungnya, mengurangi risiko gangguan jantung, hipertensi, dan stroke. Seratnya dapat mencegah kanker usus besar. Bahan makanan ini kaya protein, vitamin, dan mineral yang sangat berguna bagi kesehatan.

Masyarakat dewasa ini sangat banyak yang menghindari konsumsi lemak karena berkonotasi dengan timbulnya obesitas dan berbagai penyakit degeneratif. Ketakutan yang berlebihan terhadap lemak, mengakibatkan sebagian masyarakat bersikap fobia terhadap zat gizi tersebut. Bagaimanapun, lemak tetap dibutuhkan tubuh sebagai sumber energi dan pelarut berbagai vitamin (A, D, E, dan K).

Pengetahuan masyarakat tentang lemak harus ditingkatkan agar kita bisa membedakan antara lemak nabati dan lemak hewani. Tidak seperti lemak hewani, lemak nabati sedikit kadar lemak jenuh, tetapi tinggi lemak tidak jenuh yang justru baik bagi kesehatan. Contoh bahan pangan sumber lemak nabati adalah nut dan kacang-kacangan.

Jenis nut yang populer saat ini adalah almond. Hingga saat ini, masyarakat awam sering menyebut almond sebagai kacang. Sesungguhnya almond bukanlah kacang (leguminosa), tetapi merupakan biji pohon almond, sehingga lebih dikenal dengan istilah tree nut.

Pohon almond masih satu famili dengan pohon peach, ceri, dan aprikot. Termasuk ke dalam kelompok nut tersebut adalah almond, hazelnut, macadamia, pecan, dan walnut. Sementara peanut (kacang tanah) tergolong kelompok kacang.

Dalam sejarahnya, kepopuleran almond tidak hanya bertumpu pada kelezatan cita rasa dan flavornya yang unik, tetapi juga didukung oleh bukti-bukti ilmiah tentang manfaatnya bagi kesehatan masyarakat.

Dua Jenis
Almond diduga berasal dari Asia Barat dan Afrika Utara. Orang Romawi menyebut almond sebagai ”kacang yunani” karena orang Yunani yang pertama kali menanamnya. Kini, tanaman almond banyak tumbuh di sekitar Laut Mediterania, termasuk Spanyol, Italia, Portugal, dan Maroko. Di Amerika Serikat, almond banyak tumbuh di daerah California.

Secara umum, almond dibedakan atas dua kategori, yaitu almond manis (Prunus amygdalu var. dulcis) dan almond pahit (Prunus amygdalu var. amara). Almond manis lebih banyak dikonsumsi karena rasanya yang enak, sedangkan almond pahit merupakan bahan baku pembuatan minyak dan aroma almond.

Di pasaran, almond dijual dalam dua bentuk utama, yaitu mentah dan sudah dipanggang. Almond yang baik adalah yang bijinya masih utuh, beraroma kacang, dan berasa manis. Almond yang tengik dan berbau menunjukkan kualitas yang rendah.

Pembuangan kulit almond dapat dilakukan dengan cara merendam biji dalam air beberapa menit saja. Pemotongan atau penghancuran almond dapat dilakukan dengan menggunakan blender kering. Pemanggangan almond di tingkat rumah tangga dapat dilakukan dengan oven microwave pada suhu sekitar 71 – 77oC selama 15-20 menit. Sebaiknya tidak menggunakan panas yang tinggi agar tidak merusak komponen lemak yang justru dibutuhkan untuk kesehatan.

Dewasa ini almond banyak ditambahkan ke dalam berbagai produk pangan dengan tujuan untuk: (1) meningkatkan cita rasa, tekstur, dan daya tarik, serta (2) memperbaiki komposisi gizi, sehingga lebih menyehatkan.

Produk yang biasa ditambah almond adalah: hot and cold cereals, aneka snack, yoghurt beku, muffins, salad, pancake, roti, es krim, cokelat manis, serta berbagai jenis minuman.

MUFA
Almond sangat sedikit mengandung asam lemak jenuh, tetapi sebaliknya kaya akan asam lemak tidak jenuh (unsaturated fat), khususnya asam lemak tidak jenuh tunggal (monounsaturated fatty acid = MUFA), serta didukung oleh vitamin, mineral, dan serat pangan yang memadai. Komposisi lemak yang demikian sangat baik bagi penurunan kadar kolesterol yang secara langsung akan mencegah aterosklerosis dan semua dampak buruknya, seperti penyakit jantung, hipertensi, dan stroke.

Banyak penelitian telah membuktikan bahwa MUFA yang merupakan asam lemak dominan pada almond dapat menurunkan kadar kolesterol total dan LDL (kolesterol jahat), tetapi tidak mengubah posisi HDL (kolesterol baik) walaupun konsumsi lemak dari makanan cukup tinggi. Dengan demikian, rasio HDL terhadap LDL tetap tinggi, sehingga menurunkan risiko terkena penyakit jantung.

Konsumsi almond dalam jumlah wajar ternyata tidak berdampak kepada kenaikan berat badan, sehingga baik untuk dikonsumsi oleh semua orang, termasuk yang overweight dan obesitas. Suatu hasil penelitian yang dimuat pada International Journal of Obesity and Related Metabolic Disorder edisi November 2003, menunjukkan bahwa diet yang diperkaya almond lebih dapat membantu orang obesitas untuk mengurangi berat badan, ketimbang diet rendah kalori dan tinggi karbohidrat kompleks.

Konsumsi satu takaran saji almond (20-25 biji) akan menghasilkan 15 gram lemak, lebih dari 90 persen merupakan asam lemak tidak jenuh. Dari total asam lemak tidak jenuh yang terkandung pada almond, 70 persen di antaranya adalah MUFA.

The American Heart Association merekomendasikan agar sumbangan energi yang berasal dari lemak tidak lebih dari 30 persen, dengan rincian 10 persen berasal dari lemak jenuh, 10 persen lemak tidak jenuh tunggal (MUFA), dan 10 persen lemak tidak jenuh ganda (PUFA). Penelitian Dr. Paul Davis dari the University of California-Davis, menunjukkan bahwa kandungan MUFA pada biji almond sangat potensial untuk mengurangi risiko terjadinya kanker kolon.

Penelitian Jenkins dkk. (2002) menunjukkan bahwa pria dan wanita yang mengonsumsi 1 ounce atau 28,35 gram almond (sekitar satu genggam yang setara dengan 23 biji) setiap hari selama satu bulan, mampu menurunkan kadar LDL sebanyak 4 persen dari kondisi sebelumnya. Penurunan sebanyak 9,4 persen akan terjadi jika konsumsinya ditingkatkan menjadi dua genggam per hari. Uniknya, konsumsi almond sebanyak itu setiap hari ternyata mampu mempertahankan berat badan para sukarelawan.

Sabate dkk. (2003) pernah melakukan penelitian pada manusia dengan menggunakan tiga level penambahan almond ke dalam dietnya, yaitu 0 persen, 10 persen, dan 20 persen dari total konsumsi energi. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa dibandingkan diet rendah almond, penambahan almond hingga level 20 persen total energi, secara nyata mampu menurunkan kadar kolesterol total, kadar LDL, serta rasio LDL terhadap HDL. Dibandingkan kondisi sebelumnya, diet tinggi almond mengakibatkan penurunan kolesterol total dan LDL masing-masing sebesar 7 dan 9 persen.

Hasil meta-analisis dari tujuh studi klinis tentang pengaruh konsumsi almond terhadap kolesterol total, kolesterol LDL, HDL, dan trigliserida menunjukkan bahwa konsumsi satu ounce almond sehari sebagai pola makan sehat mampu menurunkan kolesterol total dan kolesterol LDL masing-masing sebesar 4 dan 5 persen, sehingga menurunkan risiko penyakit jantung.

sumber: kompas.com

BROKOLI TEMAN BAIK PRIA



Brokoli Teman Baik Pria


Beberapa sayuran dapat menurunkan risiko kanker paru-paru.

Para perokok dan mantan perokok yang mengkonsumsi banyak brokoli dan sayuran lainnya mempunyai kemungkinan lebih rendah terkena risiko kanker paru-paru dibandingkan dengan yang tidak.

Para peneliti di Roswell Park Cancer Institute di Buffalo, New York melaporkan hasil penelitian ini di Washington pada 18/11 2008 dalam acara pertemuan asosiasi peneliti kanker dalam bidang pencegahan (American Association of Cancer Research meeting on cancer prevention).

"Hal pertama yang harus dilakukan adalah berhenti merokok, karena itulah cara yang terbaik mengurangi risiko kanker paru-paru," kata peneliti Li Tang,PhD. Disamping berhenti merokok, Tang menganjurkan perokok dan para mantan perokok untuk mengkonsumsi sayur-sayuran yang penting bagi tubuh, seperti brokoli, kol bunga, kubis, lobak, khususnya dalam bentuk mentah.

Tang mengingatkan bahwa tidak ada peluru ajaib yang dapat menjamin pencegahan kanker paru-paru. Tetapi, tidak ada sisi buruknya mengkonsumsi sayur-sayuran.

Tim Tang menanyakan kepada 948 pasien kanker paru-paru dan 1.743 tanpa kanker paru-paru mengenai sejarah merokok mereka, konsumsi buah-buahan dan sayuran.

Diantara perokok, khususnya diantara mantan perokok, komsumsi sayuran dalam jumlah besar berhubungan erat dengan dengan risiko kanker yang lebih rendah.

Itu tidak berarti bahwa sayuran tersebut mencegah kanker paru-paru. Studi yang dilakukan Tang bersifat observasi, tidak secara langsung mencoba manfaat sayuran tersebut dalam pencegahan kanker.

Tetapi, penelitian lain telah menunjukkan bahwa komponen isothiocyanates dalam sayuran mengandung zat yang dapat melawan kanker, kata Tang.

Sayuran penting yang paling umum dikonsumsi dalam studi Tang adalah brokoli, kubis, dan kol bunga. Mengkonsumsi sayuran ini dalam keadaan mentah lebih baik, karena pemanasan merusak enzim dalam sayuran yang berfungsi mengaktifkan isothiocyanates, kata Tang.

Pada bulan Februari, tes laboratorium yang dilakukan oleh peneliti lain menunjukkan bahwa isothiocyanates pada brokoli dapat membantu mencegah kanker kandung kemih pada tikus.

Pada bula Juli, studi lain menunjukkan bahwa laki-laki yang mengkonsumsi brokoli beberapa kali dalam seminggu memiliki risiko yang lebih kecil terkena kanker prostat daripada laki-laki yang tidak mengkonsumsi brokoli.

sumber: media indonesia

Flu Singapura







FLU SINGAPURA - HFMD - KTM

"Flu Singapura" sebenarnya adalah penyakit yang didunia kedokteran dikenal sebagai Hand, Foot, and Mouth Disease (HFMD) atau penyakit Kaki, Tangan dan Mulut ( KTM )
Penyakit KTM ini adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus RNA yang masuk dalam famili Picornaviridae (Pico, Spanyol = kecil ), Genus Enterovirus ( non Polio ). Genus yang lain adalah Rhinovirus, Cardiovirus, Apthovirus. Didalam Genus enterovirus terdiri dari Coxsackie A virus, Coxsackie B virus, Echovirus dan Enterovirus.
Penyebab KTM yang paling sering pada pasien rawat jalan adalah Coxsackie A16, sedangkan yang sering memerlukan perawatan karena keadaannya lebih berat atau ada komplikasi sampai meninggal adalah Enterovirus 71. Berbagai enterovirus dapat menyebabkan berbagai penyakit.

EPIDEMIOLOGI:
Penyakit ini sangat menular dan sering terjadi dalam musim panas. KTM adalah penyakit umum/?biasa? pada kelompok masyarakat yang ?crowded? dan menyerang anak-anak usia 2 minggu sampai 5 tahun ( kadang sampai 10 tahun ).
Orang dewasa umumnya kebal terhadap enterovirus. Penularannya melalui kontak langsung dari orang ke orang yaitu melalui droplet, pilek, air liur (oro-oro), tinja, cairan dari vesikel atau ekskreta. Penularan kontak tidak langsung melalui barang, handuk, baju, peralatan makanan, dan mainan yang terkontaminasi oleh sekresi itu. Tidak ada vektor tetapi ada pembawa (?carrier?) seperti lalat dan kecoa. Penyakit KTM ini mempunyai imunitas spesifik, namun anak dapat terkena KTM lagi oleh virus strain Enterovirus lainnya. Masa Inkubasi 2 ? 5 hari.

GAMBARAN KLINIK :

Mula-mula demam tidak tinggi 2-3 hari, diikuti sakit leher (pharingitis), tidak ada nafsu makan, pilek, gejala seperti ?flu? pada umumnya yang tak mematikan. Timbul vesikel yang kemudian pecah, ada 3-10 ulcus dumulut seperti sariawan ( lidah, gusi, pipi sebelah dalam ) terasa nyeri sehingga sukar untuk menelan.
Bersamaan dengan itu timbul rash/ruam atau vesikel (lepuh kemerahan/blister yang kecil dan rata), papulovesikel yang tidak gatal ditelapak tangan dan kaki.
Kadang-kadang rash/ruam (makulopapel) ada dibokong. Penyakit ini membaik sendiri dalam 7-10 hari.
Bila ada muntah, diare atau dehidrasi dan lemah atau komplikasi lain maka penderita tersebut harus dirawat. Pada bayi/anak-anak muda yang timbul gejala berat , harus dirujuk kerumah sakit sebagai berikut :

o Hiperpireksia ( suhu lebih dari 39 der. C).
o Demam tidak turun-turun (?Prolonged Fever?)
o Tachicardia.
o Tachypneu
o Malas makan, muntah atau diare dengan dehidrasi.
o Lethargi
o Nyeri pada leher,lengan dan kaki.
o Serta kejang-kejang.

Komplikasi penyakit ini adalah :

o Meningitis (aseptic meningitis, meningitis serosa/non bakterial)
o Encephalitis ( bulbar )
o Myocarditis (Coxsackie Virus Carditis) atau pericarditis
o Paralisis akut flaksid (?Polio-like illness? )

Satu kelompok dengan penyakit ini adalah :

1. Vesicular stomatitis dengan exanthem (KTM) - Cox A 16, EV 71 (Penyakit ini)
2. Vesicular Pharyngitis (Herpangina) - EV 70
3. Acute Lymphonodular Pharyngitis - Cox A 10

LABORATORIUM :

Sampel ( Spesimen ) dapat diambil dari tinja, usap rektal, cairan serebrospinal dan usap/swab ulcus di mulut/tenggorokan, vesikel di kulit spesimen atau biopsi otak.
Spesimen dibawa dengan ?Hank?s Virus Transport?. Isolasi virus dencara biakan sel dengan suckling mouse inoculation.
Setelah dilakukan ?Tissue Culture?, kemudian dapat diidentifikasi strainnya dengan antisera tertentu / IPA, CT, PCR dll. Dapat dilakukan pemeriksaan antibodi untuk melihat peningkatan titer.

Diagnosa Laboratorium adalah sebagai berikut :

1. Deteksi Virus :

o Immuno histochemistry (in situ)
o Imunofluoresensi antibodi (indirek)
o Isolasi dan identifikasi virus.
Pada sel Vero ; RD ; L20B
Uji netralisasi terhadap intersekting pools
Antisera (SCHMIDT pools) atau EV-71 (Nagoya) antiserum.

2. Deteksi RNA :

RT-PCR
Primer : 5? CTACTTTGGGTGTCCGTGTT 3?
5? GGGAACTTCGATTACCATCC 3?
Partial DNA sekuensing (PCR Product)

3. Serodiagnosis :

Serokonversi paired sera dengan uji serum netralisasi terhadap virus EV-71 (BrCr, Nagoya) pada sel Vero.
Uji ELISA sedang dikembangkan.
Sebenarnya secara klinis sudah cukup untuk mendiagnosis KTM, hanya kita dapat mengatahui apakah penyebabnya Coxsackie A-16 atau Enterovirus 71.

TATALAKSANA :

o Istirahat yang cukup
o Pengobatan spesifik tidak ada.
o Dapat diberikan :

Immunoglobulin IV (IGIV), pada pasien imunokompromis atau neonatus

Extracorporeal membrane oxygenation.

o Pengobatan simptomatik :
Antiseptik didaerah mulut
Analgesik misal parasetamol
Cairan cukup untuk dehidrasi yang disebabkan sulit minum dan karena demam
Pengobatan suportif lainnya ( gizi dll )
Penyakit ini adalah ?self limiting diseases? ( berobat jalan ) yang sembuh dalam 7-10 hari, pasien perlu istirahat karena daya tahan tubuh menurun. Pasien yang dirawat adalah yang dengan gejala berat dan komplikasi tersebut diatas.

PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN PENYAKIT:
Penyakit ini sering terjadi pada masyarakat dengan sanitasi yang kurang baik. Pencegahan penyakit adalah dengan menghilangkan ?Overcrowding?, kebersihan (Higiene dan Sanitasi). Lingkungan dan perorangan misal cuci tangan, desinfeksi peralatan makanan, mainan, handuk yang memungkinkan terkontaminasi.
Bila perlu anak tidak bersekolah selama satu minggu setelah timbul rash sampai panas hilang. Pasien sebenarnya tak perlu diasingkan karena ekskresi virus tetap berlangsung beberapa minggu setelah gejala hilang, yang penting menjaga kebersihan perorangan.
Di Rumah sakit ? Universal Precaution? harus dilaksanakan.
Penyakit ini belum dapat dicegah dengan vaksin (Imunisasi)

UPAYA PEMERINTAH DALAM HAL INI :
Meningkatkan survailans epidemiologi (perlu definisi klinik)
Memberikan penyuluhan tentang cara-cara penularan dan pencegahan KTM untuk memotong rantai penularan.
Memberikan penyuluhan tentang tamda-tanda dan gejala KTM
Menjaga kebersihan perorangan.
Bila anak tidak dirawat, harus istirahat di rumah karena :
o Daya tahan tubuh menurun.
o Tidak menularkan kebalita lainnya.
Menyiapkan sarana kesehatan tentang tatalaksana KTM termasuk pelaksanaan ?Universal Precaution?nya.

Hand-Foot-Mouth Disease (HFMD)

Etiologi : Coxsackievirus A 16
Cara Penularan : Droplets
Masa Inkubasi : 4 ? 6 Hari

Manifestasi Klinis :
Masa prodromal ditandai dengan panas subfebris, anoreksia, malaise dan nyeri tenggorokan yang timbul 1 ? 2 hari sebelum timbul enantem. Enantem adalah manifestasi yang paling sering pada HFMD. Lesi dimulai dengan vesikel yang cepat menjadi ulkus dengan dasar eritem, ukuran 4-8 mm yang kemudian menjadi krusta, terdapat pada mukosa bukal dan lidah serta dapat menyebar sampai palatum uvula dan pilar anterior tonsil. Eksantema tampak sebagai vesiko pustul berwarna putih keabu-abuan, berukuran 3-7 mm terdapat pada lengan dan kaki, pada permukaan dorsal atau lateral, pada anak sering juga terdapat di bokong. Lesi dapat berulang beberapa minggu setelah infeksi, jarang menjadibula dan biasanya asimptomatik, dapat terjadi rasa gatal atau nyeri pada lesi. Lesi menghilang tanpa bekas.

Diagnosis :
Manifestasi klinis dan isolasi virus dengan preparat Tzank.

Diagnosis Banding : Varisela, herpes

Terapi : Simptomatis

"Flu Singapura" sebenarnya adalah penyakit yang didunia kedokteran dikenal sebagai Hand, Foot, and Mouth Disease (HFMD) atau penyakit Kaki, Tangan dan Mulut ( KTM )
Penyakit KTM ini adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus RNA yang masuk dalam famili Picornaviridae (Pico, Spanyol = kecil ), Genus Enterovirus ( non Polio ). Genus yang lain adalah Rhinovirus, Cardiovirus, Apthovirus. Didalam Genus enterovirus terdiri dari Coxsackie A virus, Coxsackie B virus, Echovirus dan Enterovirus.
Penyebab KTM yang paling sering pada pasien rawat jalan adalah Coxsackie A16, sedangkan yang sering memerlukan perawatan karena keadaannya lebih berat atau ada komplikasi sampai meninggal adalah Enterovirus 71. Berbagai enterovirus dapat menyebabkan berbagai penyakit.

EPIDEMIOLOGI:
Penyakit ini sangat menular dan sering terjadi dalam musim panas. KTM adalah penyakit umum/?biasa? pada kelompok masyarakat yang ?crowded? dan menyerang anak-anak usia 2 minggu sampai 5 tahun ( kadang sampai 10 tahun ). Orang dewasa umumnya kebal terhadap enterovirus. Penularannya melalui kontak langsung dari orang ke orang yaitu melalui droplet, pilek, air liur (oro-oro), tinja, cairan dari vesikel atau ekskreta. Penularan kontak tidak langsung melalui barang, handuk, baju, peralatan makanan, dan mainan yang terkontaminasi oleh sekresi itu. Tidak ada vektor tetapi ada pembawa (?carrier?) seperti lalat dan kecoa. Penyakit KTM ini mempunyai imunitas spesifik, namun anak dapat terkena KTM lagi oleh virus strain Enterovirus lainnya. Masa Inkubasi 2 ? 5 hari.

GAMBARAN KLINIK :
Mula-mula demam tidak tinggi 2-3 hari, diikuti sakit leher (pharingitis), tidak ada nafsu makan, pilek, gejala seperti ?flu? pada umumnya yang tak mematikan. Timbul vesikel yang kemudian pecah, ada 3-10 ulcus dumulut seperti sariawan ( lidah, gusi, pipi sebelah dalam ) terasa nyeri sehingga sukar untuk menelan.
Bersamaan dengan itu timbul rash/ruam atau vesikel (lepuh kemerahan/blister yang kecil dan rata), papulovesikel yang tidak gatal ditelapak tangan dan kaki.
Kadang-kadang rash/ruam (makulopapel) ada dibokong. Penyakit ini membaik sendiri dalam 7-10 hari.
Bila ada muntah, diare atau dehidrasi dan lemah atau komplikasi lain maka penderita tersebut harus dirawat. Pada bayi/anak-anak muda yang timbul gejala berat , harus dirujuk kerumah sakit sebagai berikut :

o Hiperpireksia ( suhu lebih dari 39 der. C).
o Demam tidak turun-turun (?Prolonged Fever?)
o Tachicardia.
o Tachypneu
o Malas makan, muntah atau diare dengan dehidrasi.
o Lethargi
o Nyeri pada leher,lengan dan kaki.
o Serta kejang-kejang.

Komplikasi penyakit ini adalah :

o Meningitis (aseptic meningitis, meningitis serosa/non bakterial)
o Encephalitis ( bulbar )
o Myocarditis (Coxsackie Virus Carditis) atau pericarditis
o Paralisis akut flaksid (?Polio-like illness? )

Satu kelompok dengan penyakit ini adalah :

1. Vesicular stomatitis dengan exanthem (KTM) - Cox A 16, EV 71 (Penyakit ini)
2. Vesicular Pharyngitis (Herpangina) - EV 70
3. Acute Lymphonodular Pharyngitis - Cox A 10

LABORATORIUM :
Sampel ( Spesimen ) dapat diambil dari tinja, usap rektal, cairan serebrospinal dan usap/swab ulcus di mulut/tenggorokan, vesikel di kulit spesimen atau biopsi otak.
Spesimen dibawa dengan ?Hank?s Virus Transport?. Isolasi virus dencara biakan sel dengan suckling mouse inoculation.
Setelah dilakukan ?Tissue Culture?, kemudian dapat diidentifikasi strainnya dengan antisera tertentu / IPA, CT, PCR dll. Dapat dilakukan pemeriksaan antibodi untuk melihat peningkatan titer.
Diagnosa Laboratorium adalah sebagai berikut :
1. Deteksi Virus :
o Immuno histochemistry (in situ)
o Imunofluoresensi antibodi (indirek)
o Isolasi dan identifikasi virus.
Pada sel Vero ; RD ; L20B
Uji netralisasi terhadap intersekting pools
Antisera (SCHMIDT pools) atau EV-71 (Nagoya) antiserum.
2. Deteksi RNA :
RT-PCR
Primer : 5? CTACTTTGGGTGTCCGTGTT 3?
5? GGGAACTTCGATTACCATCC 3?
Partial DNA sekuensing (PCR Product)
3. Serodiagnosis :
Serokonversi paired sera dengan uji serum netralisasi terhadap virus EV-71 (BrCr, Nagoya) pada sel Vero.
Uji ELISA sedang dikembangkan.
Sebenarnya secara klinis sudah cukup untuk mendiagnosis KTM, hanya kita dapat mengatahui apakah penyebabnya Coxsackie A-16 atau Enterovirus 71.

TATALAKSANA :
o Istirahat yang cukup
o Pengobatan spesifik tidak ada.
o Dapat diberikan :
Immunoglobulin IV (IGIV), pada pasien imunokompromis atau neonatus

Extracorporeal membrane oxygenation.

o Pengobatan simptomatik :
Antiseptik didaerah mulut Analgesik misal parasetamol Cairan cukup untuk dehidrasi yang disebabkan sulit minum dan karena demam Pengobatan suportif lainnya ( gizi dll )
Penyakit ini adalah ?self limiting diseases? ( berobat jalan ) yang sembuh dalam 7-10 hari, pasien perlu istirahat karena daya tahan tubuh menurun. Pasien yang dirawat adalah yang dengan gejala berat dan komplikasi tersebut diatas.

PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN PENYAKIT:

Penyakit ini sering terjadi pada masyarakat dengan sanitasi yang kurang baik. Pencegahan penyakit adalah dengan menghilangkan ?Overcrowding?, kebersihan (Higiene dan Sanitasi). Lingkungan dan perorangan misal cuci tangan, desinfeksi peralatan makanan, mainan, handuk yang memungkinkan terkontaminasi.
Bila perlu anak tidak bersekolah selama satu minggu setelah timbul rash sampai panas hilang. Pasien sebenarnya tak perlu diasingkan karena ekskresi virus tetap berlangsung beberapa minggu setelah gejala hilang, yang penting menjaga kebersihan perorangan.
Di Rumah sakit ? Universal Precaution? harus dilaksanakan.
Penyakit ini belum dapat dicegah dengan vaksin (Imunisasi)

UPAYA PEMERINTAH DALAM HAL INI :
Meningkatkan survailans epidemiologi (perlu definisi klinik)
Memberikan penyuluhan tentang cara-cara penularan dan pencegahan KTM untuk memotong rantai penularan.
Memberikan penyuluhan tentang tamda-tanda dan gejala KTM
Menjaga kebersihan perorangan.
Bila anak tidak dirawat, harus istirahat di rumah karena :
o Daya tahan tubuh menurun.
o Tidak menularkan kebalita lainnya.
Menyiapkan sarana kesehatan tentang tatalaksana KTM termasuk pelaksanaan ?Universal Precaution?nya.

Hand-Foot-Mouth Disease (HFMD)
Etiologi : Coxsackievirus A 16
Cara Penularan : Droplets
Masa Inkubasi : 4 ? 6 Hari

Manifestasi Klinis :
Masa prodromal ditandai dengan panas subfebris, anoreksia, malaise dan nyeri tenggorokan yang timbul 1 ? 2 hari sebelum timbul enantem. Enantem adalah manifestasi yang paling sering pada HFMD. Lesi dimulai dengan vesikel yang cepat menjadi ulkus dengan dasar eritem, ukuran 4-8 mm yang kemudian menjadi krusta, terdapat pada mukosa bukal dan lidah serta dapat menyebar sampai palatum uvula dan pilar anterior tonsil. Eksantema tampak sebagai vesiko pustul berwarna putih keabu-abuan, berukuran 3-7 mm terdapat pada lengan dan kaki, pada permukaan dorsal atau lateral, pada anak sering juga terdapat di bokong. Lesi dapat berulang beberapa minggu setelah infeksi, jarang menjadibula dan biasanya asimptomatik, dapat terjadi rasa gatal atau nyeri pada lesi. Lesi menghilang tanpa bekas.

Diagnosis :
Manifestasi klinis dan isolasi virus dengan preparat Tzank.
Diagnosis Banding : Varisela, herpes
Terapi : Simptomatis
Tanggal dibuat : 19/03/2005 @ 13:16
Revisi terakhir : 03/02/2007 @ 12:14
Kategori : PENYAKIT
Halaman pernah dibaca 27678 kali
Tanggapan atas artikel ini
Tanggapan #14 oleh wardita 23/04/2009 @ 09:13

sangat bermanfaat...saran saya kalo bisa untuk pencegahan dan pengobatannya diuraikan lebih seksama, mungkin lebih berguna untuk kalangan medis-nonmedis.trmksh...
Tanggapan #13 oleh mamazaza 23/04/2009 @ 01:56

Terimakasih informasinya, untuk saya gambaran klinisnya belum begitu jelas dan mudah difahami. Anak saya usia 22 bulan, beberapa minggu yang lalu pipi kanan dan sebagian lehernya merah seperti kebakar. selang satu mnggu sudah mengelupas, namun ada satu luka yang membekas (lubang kecil). Apakah ini juga termasuk gejala flu singapura? karena tidak diawali dengan demam. apakah obat bekas luka pipi anak saya?
Tanggapan #12 oleh ibuamelitaputri 21/04/2009 @ 07:42

selamat malam..
saya memiliki anak perempuan, umurnya 11bulan. sudah lama pada badan anak saya terdapat bercak-bercak merah tapi tidak keluar cairan, hanya gatal. diseluruh tubuh anak saya timbul bercak-bercak merah tersebut. saya sudah pernah memeriksakan ke dokter, tapi diagnosanya hanya biang keringat saja. tapi belakangan ini, anak saya sariawan pada lidahnya, nafsu makan turun drastis, tapi tidak demam, masih terdapat bercak-bercak merah dibadannya. yang ingin saya tanyakan, apakah anak saya termasuk penderita flu singapura?
kemana saya harus membawa anak saya berobat?
terimakasih dan selamat malam
ibu amelita putri, denpasar-bali.

Tanggapan #11 oleh teguhimaniro 21/04/2009 @ 04:28

tapi kami harapakan pemerintah cepat tanggap mengenai flu ini jangan dianggap remeh, pemerintah jangan kebakaran setelah terjadi korban
Tanggapan #10 oleh hadyans 21/04/2009 @ 02:45

terimakasih infonya meskipun banyak istilah yang tidak bisa dimengerti. kalau bisa disederhanakan supaya mudah dipahami oleh (saya) masyarakat awam

Benigna Prostat Hiperplasia



BENIGNA PROSTATE HYPERPLASIA
1. Definisi BPH
Pembesaran Prostat Jinak (PPJ) disebut juga Benigna Prostate Hyperplasia (BPH) adalah hiperplasia kelenjar periuretral prostat yang akan mendesak jaringan prostat yang asli ke perifer dan menjadi simpai bedah.3

2. Anatomi Prostat
Prostat merupakan kelenjar berbentuk konus terbalik yang dilapisi oleh kapsul fibromuskuler, yang terletak di sebelah inferior vesika urinaria, mengelilingi bagian proksimal uretra (uretra pars prostatika) dan berada disebelah anterior rektum. Bentuknya sebesar buah kenari dengan berat normal pada orang dewasa kurang lebih 20 gram, dengan jarak basis ke apex kurang lebih 3 cm, lebar yang paling jauh 4 cm dengan tebal 2,5 cm.5
Kelenjar prostat terbagi menjadi 5 lobus :
1. lobus medius
2. lobus lateralis (2 lobus)
3. lobus anterior
4. lobus posterior 5,6
Selama perkembangannya lobus medius, lobus anterior, lobus posterior akan menjadi satu dan disebut lobus medius saja. Pada penampang, lobus medius kadang-kadang tak tampak karena terlalu kecil dan lobus lain tampak homogen berwarna abu-abu, dengan kista kecil berisi cairan seperti susu, kista ini disebut kelenjar prostat.6
Mc Neal (1976) membagi kelenjar prostat dalam beberapa zona, antara lain adalah: zona perifer, zona sentral, zona transisional, zona fibromuskuler anterior, dan zona periuretral. Sebagian besar hiperplasia prostat terdapat pada zona transisional yang letaknya proksimal dari sfincter eksternus di kedua sisi dari verumontanum dan di zona periuretral. Kedua zona tersebut hanya merupakan 2% dari seluruh volume prostat. Sedangkan pertumbuhan karsinoma prostat berasal dari zona perifer.7,8
Prostat mempunyai kurang lebih 20 duktus yang bermuara di kanan dari verumontanum dibagian posterior dari uretra pars prostatika. Di sebelah depan didapatkan ligamentum pubo prostatika, di sebelah bawah ligamentum triangulare inferior dan di sebelah belakang didapatkan fascia denonvilliers.
Fascia denonvilliers terdiri dari 2 lembar, lembar depan melekat erat dengan prostat dan vesika seminalis, sedangkan lembar belakang melekat secara longgar dengan fascia pelvis dan memisahkan prostat dengan rektum. Antara fascia endopelvic dan kapsul sebenarnya dari prostat didapatkan jaringan peri prostat yang berisi pleksus prostatovesikal.6
Pada potongan melintang kelenjar prostat terdiri dari :
1. Kapsul anatomis
Sebagai jaringan ikat yang mengandung otot polos yang membungkus kelenjar prostat.
2. Jaringan stroma yang terdiri dari jaringan fibrosa dan jaringan muskuler
3. Jaringan kelenjar yang terbagi atas 3 kelompok bagian:
1. Bagian luar disebut glandula principalis atau kelenjar prostat sebenarnya yang menghasilkan bahan baku sekret.
2. Bagian tengah disebut kelenjar submukosa, lapisan ini disebut juga sebagai adenomatous zone
3. Di sekitar uretra disebut periurethral gland atau glandula mukosa yang merupakan bagian terkecil. Bagian ini serinng membesar atau mengalami hipertrofi pada usia lanjut.
Pada BPH, kapsul pada prostat terdiri dari 3 lapis :
1. kapsul anatomis
2. kapsul chirurgicum, ini terjadi akibat terjepitnya kelenjar prostat yang sebenarnya (outer zone) sehingga terbentuk kapsul
3. kapsul yang terbentuk dari jaringan fibromuskuler antara bagian dalam (inner zone) dan bagian luar (outer zone) dari kelenjar prostat.
BPH sering terjadi pada lobus lateralis dan lobus medialis karena mengandung banyak jaringan kelenjar, tetapi tidak mengalami pembesaran pada bagian posterior daripada lobus medius (lobus posterior) yang merupakan bagian tersering terjadinya perkembangan suatu keganasan prostat. Sedangkan lobus anterior kurang mengalami hiperplasi karena sedikit mengandung jaringan kelenjar.5,6
Secara histologis, prostat terdiri atas kelenjar-kelenjar yang dilapisi epitel thoraks selapis dan di bagian basal terdapat juga sel-sel kuboid, sehingga keseluruhan epitel tampak menyerupai epitel berlapis.
Vaskularisasi
Vaskularisasi kelenjar prostat yanng utama berasal dari a. vesikalis inferior (cabang dari a. iliaca interna), a. hemoroidalis media (cabang dari a. mesenterium inferior), dan a. pudenda interna (cabang dari a. iliaca interna). Cabang-cabang dari arteri tersebut masuk lewat basis prostat di Vesico Prostatic Junction. Penyebaran arteri di dalam prostat dibagi menjadi 2 kelompok , yaitu:
1. Kelompok arteri urethra, menembus kapsul di postero lateral dari vesico prostatic junction dan memberi perdarahan pada leher buli-buli dan kelompok kelenjar periurethral.
2. Kelompok arteri kapsule, menembus sebelah lateral dan memberi beberapa cabang yang memvaskularisasi kelenjar bagian perifer (kelompok kelenjar paraurethral).9
Aliran Limfe
Aliran limfe dari kelenjar prostat membentuk plexus di peri prostat yang kemudian bersatu untuk membentuk beberapa pembuluh utama, yang menuju ke kelenjar limfe iliaca interna , iliaca eksterna, obturatoria dan sakral.9
Persarafan
Sekresi dan motor yang mensarafi prostat berasal dari plexus simpatikus dari Hipogastricus dan medula sakral III-IV dari plexus sakralis.

3. Fisiologi Prostat
Prostat adalah kelenjar sex sekunder pada laki-laki yang menghasilkan cairan dan plasma seminalis, dengan perbandingan cairan prostat 13-32% dan cairan vesikula seminalis 46-80% pada waktu ejakulasi. Kelenjar prostat dibawah pengaruh Androgen Bodies dan dapat dihentikan dengan pemberian Stilbestrol.

4. Etiologi BPH
Hingga sekarang masih belum diketahui secara pasti penyebab terjadinya hiperplasia prostat, tetapi beberapa hipotesis menyebutkan bahwa hiperplasia prostat erat kaitannya dengan peningkatan kadar dehidrotestosteron (DHT) dan proses aging (menjadi tua).7
Beberapa teori atau hipotesis yang diduga sebagai penyebab timbulnya hiperplasia prostat adalah:
1. Teori Hormonal
Dengan bertambahnya usia akan terjadi perubahan keseimbangan hormonal, yaitu antara hormon testosteron dan hormon estrogen. Karena produksi testosteron menurun dan terjadi konversi testosteron menjadi estrogen pada jaringan adiposa di perifer dengan pertolongan enzim aromatase, dimana sifat estrogen ini akan merangsang terjadinya hiperplasia pada stroma, sehingga timbul dugaan bahwa testosteron diperlukan untuk inisiasi terjadinya proliferasi sel tetapi kemudian estrogenlah yang berperan untuk perkembangan stroma. Kemungkinan lain ialah perubahan konsentrasi relatif testosteron dan estrogen akan menyebabkan produksi dan potensiasi faktor pertumbuhan lain yang dapat menyebabkan terjadinya pembesaran prostat.
Pada keadaan normal hormon gonadotropin hipofise akan menyebabkan produksi hormon androgen testis yang akan mengontrol pertumbuhan prostat. Dengan makin bertambahnya usia, akan terjadi penurunan dari fungsi testikuler (spermatogenesis) yang akan menyebabkan penurunan yang progresif dari sekresi androgen. Hal ini mengakibatkan hormon gonadotropin akan sangat merangsang produksi hormon estrogen oleh sel sertoli. Dilihat dari fungsional histologis, prostat terdiri dari dua bagian yaitu sentral sekitar uretra yang bereaksi terhadap estrogen dan bagian perifer yang tidak bereaksi terhadap estrogen.
2. Teori Growth Factor (Faktor Pertumbuhan)
Peranan dari growth factor ini sebagai pemacu pertumbuhan stroma kelenjar prostat. Terdapat empat peptic growth factor yaitu: basic transforming growth factor, transforming growth factor 1, transforming growth factor 2, dan epidermal growth factor.
3. Teori peningkatan lama hidup sel-sel prostat karena berkuramgnya sel yang mati
4. Teori Sel Stem (stem cell hypothesis)
Seperti pada organ lain, prostat dalam hal ini kelenjar periuretral pada seorang dewasa berada dalam keadaan keseimbangan “steady state”, antara pertumbuhan sel dan sel yang mati, keseimbangan ini disebabkan adanya kadar testosteron tertentu dalam jaringan prostat yang dapat mempengaruhi sel stem sehingga dapat berproliferasi. Pada keadaan tertentu jumlah sel stem ini dapat bertambah sehingga terjadi proliferasi lebih cepat. Terjadinya proliferasi abnormal sel stem sehingga menyebabkan produksi atau proliferasi sel stroma dan sel epitel kelenjar periuretral prostat menjadi berlebihan.
5. Teori Dehidrotestosteron (DHT)
Testosteron yang dihasilkan oleh sel leydig pada testis (90%) dan sebagian dari kelenjar adrenal (10%) masuk dalam peredaran darah dan 98% akan terikat oleh globulin menjadi sex hormon binding globulin (SHBG). Sedang hanya 2% dalam keadaan testosteron bebas. Testosteron bebas inilah yang bisa masuk ke dalam “target cell” yaitu sel prostat melewati membran sel langsung masuk kedalam sitoplasma, di dalam sel, testosteron direduksi oleh enzim 5 alpha reductase menjadi 5 dehidrotestosteron yang kemudian bertemu dengan reseptor sitoplasma menjadi “hormone receptor complex”. Kemudian “hormone receptor complex” ini mengalami transformasi reseptor, menjadi “nuclear receptor” yang masuk kedalam inti yang kemudian melekat pada chromatin dan menyebabkan transkripsi m-RNA. RNA ini akan menyebabkan sintese protein menyebabkan terjadinya pertumbuhan kelenjar prostat.5,6,8,10

5. Patofisiologi BPH
Pembesaran prostat menyebabkan penyempitan lumen uretra pars prostatika dan akan menghambat aliran urine. Keadaan ini menyebabkan peningkatan tekanan intravesikal. Untuk dapat mengeluarkan urin, buli-buli harus berkontraksi lebih kuat guna melawan tahanan itu. Kontraksi yang terus-menerus ini menyebabkan perubahan anatomik dari buli-buli berupa hipertrofi otot detrusor, trabekulasi, terbentuknya selula, sakula, dan divertikel buli-buli. Fase penebalan otot detrusor ini disebut fase kompensasi.
Perubahan struktur pada buli-buli dirasakan oleh pasien sebagai keluhan pada saluran kemih sebelah bawah atau lower urinary tract symptom (LUTS) yang dahulu dikenal dengan gejala-gejala prostatismus.
Dengan semakin meningkatnya resistensi uretra, otot detrusor masuk ke dalam fase dekompensasi dan akhirnya tidak mampu lagi untuk berkontraksi sehingga terjadi retensi urin. Tekanan intravesikal yang semakin tinggi akan diteruskan ke seluruh bagian buli-buli tidak terkecuali pada kedua muara ureter. Tekanan pada kedua muara ureter ini dapat menimbulkan aliran balik urin dari buli-buli ke ureter atau terjadi refluks vesico-ureter. Keadaan ini jika berlangsung terus akan mengakibatkan hidroureter, hidronefrosis, bahkan akhirnya dapat jatuh ke dalam gagal ginjal.7

Hiperplasi prostat

Penyempitan lumen uretra posterior

Tekanan intravesikal ↑


Buli-buli Ginjal dan Ureter
o Hipertrofi otot detrusor - Refluks vesiko-ureter
o Trabekulasi - Hidroureter
o Selula - Hidronefrosis
o Divertikel buli-buli - Pionefrosis Pilonefritis
- Gagal ginjal
Pada BPH terdapat dua komponen yang berpengaruh untuk terjadinya gejala yaitu komponen mekanik dan komponen dinamik. Komponen mekanik ini berhubungan dengan adanya pembesaran kelenjar periuretra yang akan mendesak uretra pars prostatika sehingga terjadi gangguan aliran urine (obstruksi infra vesikal) sedangkan komponen dinamik meliputi tonus otot polos prostat dan kapsulnya, yang merupakan alpha adrenergik reseptor. Stimulasi pada alpha adrenergik reseptor akan menghasilkan kontraksi otot polos prostat ataupun kenaikan tonus. Komponen dinamik ini tergantung dari stimulasi syaraf simpatis, yang juga tergantung dari beratnya obstruksi oleh komponen mekanik.6

6. Gambaran Klinis BPH
Gejala hiperplasia prostat dapat menimbulkan keluhan pada saluran kemih maupun keluhan di luar saluran kemih.
1. Gejala pada saluran kemih bagian bawah
Keluhan pada saluran kemih sebelah bawah (LUTS) terdiri atas gejala obstruktif dan gejala iritatif. Gejala obstruktif disebabkan oleh karena penyempitan uretara pars prostatika karena didesak oleh prostat yang membesar dan kegagalan otot detrusor untuk berkontraksi cukup kuat dan atau cukup lama sehingga kontraksi terputus-putus.

Gejalanya ialah :
1. Harus menunggu pada permulaan miksi (Hesistancy)
2. Pancaran miksi yang lemah (weak stream)
3. Miksi terputus (Intermittency)
4. Menetes pada akhir miksi (Terminal dribbling)
5. Rasa belum puas sehabis miksi (Sensation of incomplete bladder emptying).
Manifestasi klinis berupa obstruksi pada penderita hipeplasia prostat masih tergantung tiga faktor, yaitu :
1. Volume kelenjar periuretral
2. Elastisitas leher vesika, otot polos prostat dan kapsul prostat
3. Kekuatan kontraksi otot detrusor7,10,11
Tidak semua prostat yang membesar akan menimbulkan gejala obstruksi, sehingga meskipun volume kelenjar periurethral sudah membesar dan elastisitas leher vesika, otot polos prostat dan kapsul prostat menurun, tetapi apabila masih dikompensasi dengan kenaikan daya kontraksi otot detrusor maka gejala obstruksi belum dirasakan.8
Gejala iritatif disebabkan oleh karena pengosongan vesica urinaria yang tidak sempurna pada saat miksi atau disebabkan oleh hipersensitifitas otot detrusor karena pembesaran prostat menyebabkan rangsangan pada vesica, sehingga vesica sering berkontraksi meskipun belum penuh.
Gejalanya ialah :
1. Bertambahnya frekuensi miksi (Frequency)
2. Nokturia
3. Miksi sulit ditahan (Urgency)
4. Disuria (Nyeri pada waktu miksi)
Gejala-gejala tersebut diatas sering disebut sindroma prostatismus. Secara klinis derajat berat gejala prostatismus itu dibagi menjadi :
Grade I : Gejala prostatismus + sisa kencing <>
Grade II : Gejala prostatismus + sisa kencing > 50 ml
Grade III: Retensi urin dengan sudah ada gangguan saluran kemih bagian atas + sisa urin > 150 ml.8
Untuk menilai tingkat keparahan dari keluhan pada saluran kemih sebelah bawah, WHO menganjurkan klasifikasi untuk menentukan berat gangguan miksi yang disebut Skor Internasional Gejala Prostat atau I-PSS (International Prostatic Symptom Score). Sistem skoring I-PSS terdiri atas tujuh pertanyaan yang berhubungan dengan keluhan miksi (LUTS) dan satu pertanyaan yang berhubungan dengan kualitas hidup pasien. Setiap pertanyaan yang berhubungan dengan keluhan miksi diberi nilai 0 sampai dengan 5, sedangkan keluhan yang menyangkut kualitas hidup pasien diberi nilai dari 1 hingga 7.
Dari skor I-PSS itu dapat dikelompokkan gejala LUTS dalam 3 derajat, yaitu: - Ringan : skor 0-7
- Sedang : skor 8-19
- Berat : skor 20-35
Timbulnya gejala LUTS merupakan menifestasi kompensasi otot vesica urinaria untuk mengeluarkan urin. Pada suatu saat otot-otot vesica urinaria akan mengalami kepayahan (fatique) sehingga jatuh ke dalam fase dekompensasi yang diwujudkan dalam bentuk retensi urin akut.
Faktor pencetus
Kompensasi Dekompensasi
(LUTS) Retensi urin
Inkontinensia paradoksa
International Prostatic Symptom Score
Pertanyaan Jawaban dan skor
Keluhan pada bulan terakhir Tidak sekali <20% <50% 50% >50% Hampir selalu
a. Adakah anda merasa buli-buli tidak kosong setelah berkemih 0 1 2 3 4 5
b. Berapa kali anda berkemih lagi dalam waktu 2 menit 0 1 2 3 4 5
c. Berapa kali terjadi arus urin berhenti sewaktu berkemih 0 1 2 3 4 5
d. Berapa kali anda tidak dapat menahan untuk berkemih 0 1 2 3 4 5
e. Beraapa kali terjadi arus lemah sewaktu memulai kencing 0 1 2 3 4 5
f. Berapa keli terjadi bangun tidur anda kesulitan memulai untuk berkemih 0 1 2 3 4 5
g. Berapa kali anda bangun untuk berkemih di malam hari 0 1 2 3 4 5
Jumlah nilai :
0 = baik sekali 3 = kurang
1 = baik 4 = buruk
2 = kurang baik 5 = buruk sekali

Timbulnya dekompensasi vesica urinaria biasanya didahului oleh beberapa faktor pencetus, antara lain:
o Volume vesica urinaria tiba-tiba terisi penuh yaitu pada cuaca dingin, menahan kencing terlalu lama, mengkonsumsi obat-obatan atau minuman yang mengandung diuretikum (alkohol, kopi) dan minum air dalam jumlah yang berlebihan
o Massa prostat tiba-tiba membesar, yaitu setelah melakukan aktivitas seksual atau mengalami infeksi prostat akut
o Setelah mengkonsumsi obat-obatan yang dapat menurunkan kontraksi otot detrusor atau yang dapat mempersempit leher vesica urinaria, antara lain: golongan antikolinergik atau alfa adrenergik.7
2. Gejala pada saluran kemih bagian atas
Keluhan akibat penyulit hiperplasi prostat pada saluran kemih bagian atas berupa gejala obstruksi antara lain nyeri pinggang, benjolan di pinggang (yang merupakan tanda dari hidronefrosis)., atau demam yang merupakan tanda dari infeksi atau urosepsis.
3. Gejala di luar saluran kemih
Tidak jarang pasien berobat ke dokter karena mengeluh adanya hernia inguinalis atau hemoroid. Timbulnya kedua penyakit ini karena sering mengejan pada saat miksi sehingga mengakibatkan peningkatan tekanan intraabdominal.7

7. Diagnosis BPH
a. Anamnesis : gejala obstruktif dan gejala iritatif
b. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan colok dubur dapat memberikan gambaran tentang keadaan tonus spingter ani, reflek bulbo cavernosus, mukosa rektum, adanya kelainan lain seperti benjolan di dalam rektum dan tentu saja teraba prostat. Pada perabaan prostat harus diperhatikan :
1. Konsistensi prostat (pada hiperplasia prostat konsistensinya kenyal)
2. Adakah asimetris
3. Adakah nodul pada prostate
4. Apakah batas atas dapat diraba
5. Sulcus medianus prostate
6. Adakah krepitasi
Colok dubur pada hiperplasia prostat menunjukkan prostat teraba membesar, konsistensi prostat kenyal seperti meraba ujung hidung, permukaan rata, lobus kanan dan kiri simetris, tidak didapatkan nodul, dan menonjol ke dalam rektum. Semakin berat derajat hiperplasia prostat, batas atas semakin sulit untuk diraba. Sedangkan pada carcinoma prostat, konsistensi prostat keras dan atau teraba nodul dan diantara lobus prostat tidak simetris. Sedangkan pada batu prostat akan teraba krepitasi.
Pemeriksaan fisik apabila sudah terjadi kelainan pada traktus urinaria bagian atas kadang-kadang ginjal dapat teraba dan apabila sudah terjadi pielonefritis akan disertai sakit pinggang dan nyeri ketok pada pinggang. Vesica urinaria dapat teraba apabila sudah terjadi retensi total, daerah inguinal harus mulai diperhatikan untuk mengetahui adanya hernia. Genitalia eksterna harus pula diperiksa untuk melihat adanya kemungkinan sebab yang lain yang dapat menyebabkan gangguan miksi seperti batu di fossa navikularis atau uretra anterior, fibrosis daerah uretra, fimosis, condiloma di daerah meatus.
Pada pemeriksaan abdomen ditemukan kandung kencing yang terisi penuh dan teraba masa kistus di daerah supra simfisis akibat retensio urin dan kadang terdapat nyeri tekan supra simfisis.
c. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium berperan dalam menentukan ada tidaknya komplikasi.
1. Darah : - Ureum dan Kreatinin
• Elektrolit
• Blood urea nitrogen
• Prostate Specific Antigen (PSA)
• Gula darah
2. Urin : - Kultur urin + sensitifitas test
• Urinalisis dan pemeriksaan mikroskopik
• Sedimen
Sedimen urin diperiksa untuk mencari kemungkinan adanya proses infeksi atau inflamasi pada saluran kemih. Pemeriksaan kultur urine berguna dalam mencari jenis kuman yang menyebabkan infeksi dan sekaligus menentukan sensitifitas kuman terhadap beberapa antimikroba yang diujikan.
Faal ginjal diperiksa untuk mengetahui kemungkinan adanya penyulit yang mengenai saluran kemih bagian atas. Sedangkan gula darah dimaksudkan untuk mencari kemungkinan adanya penyakit diabetes mellitus yang dapat menimbulkan kelainan persarafan pada vesica urinaria.
d. Pemeriksaan pencitraan
1. Foto polos abdomen (BNO)
BNO berguna untuk mencari adanya batu opak di saluran kemih, adanya batu/kalkulosa prostat dan kadangkala dapat menunjukkan bayangan vesica urinaria yang penuh terisi urin, yang merupakan tanda dari suatu retensi urine. Selain itu juga bisa menunjukkan adanya hidronefrosis, divertikel kandung kemih atau adanya metastasis ke tulang dari carsinoma prostat.
2. Pielografi Intravena (IVP)
Pemeriksaan IVP dapat menerangkan kemungkinan adanya:
1. kelainan pada ginjal maupun ureter berupa hidroureter atau hidronefrosis
2. memperkirakan besarnya kelenjar prostat yang ditunjukkan oleh adanya indentasi prostat (pendesakan vesica urinaria oleh kelenjar prostat) atau ureter di sebelah distal yang berbentuk seperti mata kail atau hooked fish
3. penyulit yang terjadi pada vesica urinaria yaitu adanya trabekulasi, divertikel, atau sakulasi vesica urinaria
4. foto setelah miksi dapat dilihat adanya residu urin

3. Sistogram retrograd
Apabila penderita sudah dipasang kateter oleh karena retensi urin, maka sistogram retrograd dapat pula memberi gambaran indentasi.
4. USG secara transrektal (Transrectal Ultrasonography = TURS)
Untuk mengetahui besar atau volume kelenjar prostat, adanya kemungkinan pembesaran prostat maligna, sebagai petunjuk untuk melakukan biopsi aspirasi prostat, menentukan volume vesica urinaria dan jumlah residual urine, serta mencari kelainan lain yang mungkin ada di dalam vesica urinaria seperti batu, tumor, dan divertikel.
5. Pemeriksaan Sistografi
Dilakukan apabila pada anamnesis ditemukan hematuria atau pada pemeriksaan urine ditemukan mikrohematuria. Sistografi dapat memberikan gambaran kemungkinan tumor di dalam vesica urinaria atau sumber perdarahan dari atas bila darah datang dari muara ureter, atau batu radiolusen di dalam vesica. Selain itu juga memberi keterangan mengenai basar prostat dengan mengukur panjang uretra pars prostatika dan melihat penonjolan prostat ke dalam uretra.
6. MRI atau CT jarang dilakukan
Digunakan untuk melihat pembesaran prostat dan dengan bermacam – macam potongan.
e. Pemeriksaan Lain
1. Uroflowmetri
Untuk mengukur laju pancaran urin miksi. Laju pancaran urin ditentukan oleh : - daya kontraksi otot detrusor
• tekanan intravesica
• resistensi uretra
Angka normal laju pancaran urin ialah 10-12 ml/detik dengan puncak laju pancaran mendekati 20 ml/detik. Pada obstruksi ringan, laju pancaran melemah menjadi 6 – 8 ml/detik dengan puncaknya sekitar 11 – 15 ml/detik. Semakin berat derajat obstruksi semakin lemah pancaran urin yang dihasilkan.
2. Pemeriksaan Tekanan Pancaran (Pressure Flow Studies)
Pancaran urin melemah yang diperoleh atas dasar pemeriksaan uroflowmetri tidak dapat membedakan apakah penyebabnya adalah obstruksi atau daya kontraksi otot detrusor yang melemah. Untuk membedakan kedua hal tersebut dilakukan pemeriksaan tekanan pancaran dengan menggunakan Abrams-Griffiths Nomogram. Dengan cara ini maka sekaligus tekanan intravesica dan laju pancaran urin dapat diukur.
3. Pemeriksaan Volume Residu Urin
Volume residu urin setelah miksi spontan dapat ditentukan dengan cara sangat sederhana dengan memasang kateter uretra dan mengukur berapa volume urin yang masih tinggal atau ditentukan dengan pemeriksaan ultrasonografi setelah miksi, dapat pula dilakukan dengan membuat foto post voiding pada waktu membuat IVP. Pada orang normal sisa urin biasanya kosong, sedang pada retensi urin total sisa urin dapat melebihi kapasitas normal vesika. Sisa urin lebih dari 100 cc biasanya dianggap sebagai batas indikasi untuk melakukan intervensi pada penderita prostat hipertrofi.3,6,8,10,11

8 Diagnosis Banding
1. Kelemahan detrusor kandung kemih
1. kelainan medula spinalis
2. neuropatia diabetes mellitus
3. pasca bedah radikal di pelvis
4. farmakologik
2. Kandung kemih neuropati, disebabkan oleh :
1. kelainan neurologik
2. neuropati perifer
3. diabetes mellitus
4. alkoholisme
5. farmakologik (obat penenang, penghambat alfa dan parasimpatolitik)

3. Obstruksi fungsional :
1. dis-sinergi detrusor-sfingter terganggunya koordinasi antara kontraksi detrusor dengan relaksasi sfingter
2. ketidakstabilan detrusor
4. Kekakuan leher kandung kemih :
Fibrosis
5. Resistensi uretra yang meningkat disebabkan oleh :
1. hiperplasia prostat jinak atau ganas
2. kelainan yang menyumbatkan uretra
3. uretralitiasis
4. uretritis akut atau kronik
e. striktur uretra
6. Prostatitis akut atau kronis3,11

9. Kriteria Pembesaran Prostat
Untuk menentukan kriteria prostat yang membesar dapat dilakukan dengan beberapa cara, diantaranya adalah :
1. Rektal grading
Berdasarkan penonjolan prostat ke dalam rektum :
• derajat 1 : penonjolan 0-1 cm ke dalam rektum
• derajat 2 : penonjolan 1-2 cm ke dalam rektum
• derajat 3 : penonjolan 2-3 cm ke dalam rektum
• derajat 4 : penonjolan > 3 cm ke dalam rektum
2. Berdasarkan jumlah residual urine
• derajat 1 : <>
• derajat 2 : 50-100 ml
• derajat 3 : >100 ml
• derajat 4 : retensi urin total
3. Intra vesikal grading
• derajat 1 : prostat menonjol pada bladder inlet
• derajat 2 : prostat menonjol diantara bladder inlet dengan muara ureter
• derajat 3 : prostat menonjol sampai muara ureter
• derajat 4 : prostat menonjol melewati muara ureter
4. Berdasarkan pembesaran kedua lobus lateralis yang terlihat pada uretroskopi : - derajat 1 : kissing 1 cm
• derajat 2 : kissing 2 cm
• derajat 3 : kissing 3 cm
• derajat 4 : kissing >3 cm6

10. Komplikasi
Dilihat dari sudut pandang perjalanan penyakitnya, hiperplasia prostat dapat menimbulkan komplikasi sebagai berikut :
1. Inkontinensia Paradoks
2. Batu Kandung Kemih
3. Hematuria
4. Sistitis
5. Pielonefritis
6. Retensi Urin Akut Atau Kronik
7. Refluks Vesiko-Ureter
8. Hidroureter
9. Hidronefrosis
10. Gagal Ginjal11

11. Penatalaksanaan
Hiperplasi prostat yang telah memberikan keluhan klinik biasanya akan menyebabkan penderita datang kepada dokter. Derajat berat gejala klinik dibagi menjadi empat gradasi berdasarkan penemuan pada colok dubur dan sisa volume urin, yaitu:
- Derajat satu, apabila ditemukan keluhan prostatismus, pada colok dubur ditemukan penonjolan prostat, batas atas mudah diraba dan sisa urin kurang dari 50 ml.
- Derajat dua, apabila ditemukan tanda dan gejala sama seperti pada derajat satu, prostat lebih menonjol, batas atas masih dapat teraba dan sisa urin lebih dari 50 ml tetapi kurang dari 100 ml.
- Derajat tiga, seperti derajat dua, hanya batas atas prostat tidak teraba lagi dan sisa urin lebih dari 100 ml
- Derajat empat, apabila sudah terjadi retensi urin total.
Organisasi kesehatan dunia (WHO) menganjurkan klasifikasi untuk menentukan berat gangguan miksi yang disebut WHO PSS (WHO Prostate Symptom Score). Skor ini berdasarkan jawaban penderita atas delapan pertanyaan mengenai miksi. Terapi non bedah dianjurkan bila WHO PSS tetap dibawah 15. Untuk itu dianjurkan melakukan kontrol dengan menentukan WHO PSS. Terapi bedah dianjurkan bila WHO PSS 25 ke atas atau bila timbul obstruksi.3,11
Pembagian derajat beratnya hiperplasia prostat derajat I-IV digunakan untuk menentukan cara penanganan.
• Derajat satu biasanya belum memerlukan tindakan operatif, melainkan dapat diberikan pengobatan secara konservatif.
• Derajat dua sebenarnya sudah ada indikasi untuk melakukan intervensi operatif, dan yang sampai sekarang masih dianggap sebagai cara terpilih ialah trans uretral resection (TUR). Kadang-kadang derajat dua penderita masih belum mau dilakukan operasi, dalam keadaan seperti ini masih bisa dicoba dengan pengobatan konservatif.
• Derajat tiga, TUR masih dapat dikerjakan oleh ahli urologi yang cukup berpengalaman biasanya pada derajat tiga ini besar prostat sudah lebih dari 60 gram. Apabila diperkirakan prostat sudah cukup besar sehingga reseksi tidak akan selesai dalam satu jam maka sebaiknya dilakukan operasi terbuka.
• Derajat empat tindakan pertama yang harus segera dikerjakan ialah membebaskan penderita dari retensi urin total, dengan jalan memasang kateter atau memasang sistostomi setelah itu baru dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk melengkapi diagnostik, kemudian terapi definitif dapat dengan TURP atau operasi terbuka.3,11
Terapi sedini mungkin sangat dianjurkan untuk mengurangi gejala, meningkatkan kualitas hidup dan menghindari komplikasi akibat obstruksi yang berkepanjangan. Tindakan bedah masih merupakan terapi utama untuk hiperplasia prostat (lebih dari 90% kasus). Meskipun demikian pada dekade terakhir dikembangkan pula beberapa terapi non-bedah yang mempunyai keunggulan kurang invasif dibandingkan dengan terapi bedah. Mengingat gejala klinik hiperplasia prostat disebabkan oleh 3 faktor yaitu pembesaran kelenjar periuretral, menurunnya elastisitas leher vesika, dan berkurangnya kekuatan detrusor, maka pengobatan gejala klinik ditujukan untuk :
1. Menghilangkan atau mengurangi volume prostat
2. Mengurangi tonus leher vesika, otot polos prostat dan kapsul prostat
3. Melebarkan uretra pars prostatika, menambah kekuatan detrusor 7,11
Tujuan terapi pada pasien hiperplasia prostat adalah menghilangkan obstruksi pada leher vesica urinaria. Hal ini dapat dicapai dengan cara medikamentosa, pembedahan, atau tindakan endourologi yang kurang invasif.
Pilihan Terapi pada Hiperplasi Prostat Benigna7
Observasi Medikamentosa Operasi Invasif Minimal
Watchfull waiting Penghambat adrenergik α Prostatektomi terbuka TUMT
TUBD
Penghambat reduktase α
Fitoterapi
Hormonal Endourologi
1. TUR P
2. TUIP
3. TULP (laser) Strent uretra dengan prostacath
TUNA

Terapi Konservatif Non Operatif
1. Observasi (Watchful waiting)
Biasanya dilakukan pada pasien dengan keluhan ringan. Nasihat yang diberikan adalah mengurangi minum setelah makan malam untuk mengurangi nokturia, menghindari obat-obatan dekongestal (parasimpatolitik), mengurangi minum kopi, dan tidak diperbolehkan minuman alkohol agar tidak sering miksi. Setiap 3 bulan lakukan kontrol keluhan (sistem skor), sisa kencing dan pemeriksaan colok dubur.5
2. Medikamentosa
Tujuan terapi medikamentosa adalah untuk:
1. mengurangi resistensi leher buli-buli dengan obat-obatan golongan  blocker (penghambat alfa adrenergik)
2. menurunkan volume prostat dengan cara menurunkan kadar hormon testosteron/dehidrotestosteron (DHT)
Obat Penghambat adrenergik 
Dasar pengobatan ini adalah mengusahakan agar tonus otot polos di dalam prostat dan leher vesica berkurang dengan menghambat rangsangan alpha adrenergik. Seperti diketahui di dalam otot polos prostat dan leher vesica banyak terdapat reseptor alpha adrenergik. Obat-obatan yang sering digunakan prazosin, terazosin, doksazosin, dan alfuzosin. Obat penghambat alpha adrenergik yang lebih selektif terhadap otot polos prostat yaitu α1a (tamsulosin), sehingga efek sistemik yang tak diinginkan dari pemakai obat ini dapat dikurangi. Dosis dimulai 1 mg/hari sedangkan dosis tamzulosin 0,2-0,4 mg/hari. Penggunaan antagonis alpha 1 adrenergik untuk mengurangi obstruksi pada vesica tanpa merusak kontraktilitas detrusor.
Obat-obatan golongan ini memberikan perbaikan laju pancaran urine, menurunkan sisa urine dan mengurangi keluhan. Obat-obat ini juga memberi penyulit hipotensi, pusing, mual, lemas, dan meskipun sangat jarang bisa terjadi ejakulasi retrograd, biasanya pasien mulai merasakan berkurangnya keluhan dalam waktu 1-2 minggu setelah pemakaian obat.
Obat Penghambat Enzim 5 Alpha Reduktase
Obat yang dipakai adalah finasterid (proskar) dengan dosis 1x5 mg/hari. Obat golongan ini dapat menghambat pembentukan dehidrotestosteron sehingga prostat yang membesar dapat mengecil. Namun obat ini bekerja lebih lambat daripada golongan alpha blocker dan manfaatnya hanya jelas pada prostat yang sangat besar. Salah satu efek samping obat ini adalah melemahkan libido dan ginekomastia. 3,4,12
Fitoterapi
Merupakan terapi alternatif yang berasal dari tumbuhan. Fitoterapi yang digunakan untuk pengobatan BPH adalah Serenoa repens atau Saw Palmetto dan Pumpkin Seeds. Keduanya, terutama Serenoa repens semakin diterima pemakaiannya dalam upaya pengendalian prostatisme BPH dalam konteks “watchfull waiting strategy”.
Saw Palmetto menunjukkan perbaikan klinis dalam hal:
• frekuensi nokturia berkurang
• aliran kencing bertambah lancar
• volume residu di kandung kencing berkurang
• gejala kurang enak dalam mekanisme urinaria berkurang.
Mekanisme kerja obat diduga kuat:
• menghambat aktivitas enzim 5 alpha reduktase dan memblokir reseptor androgen
• bersifat antiinflamasi dan anti oedema dengan cara menghambat aktivitas enzim cyclooxygenase dan 5 lipoxygenase. 4,5
3. Terapi Operatif
Tindakan operasi ditujukan pada hiperplasi prostat yang sudah menimbulkan penyulit tertentu, antara lain: retensi urin, batu saluran kemih, hematuri, infeksi saluran kemih, kelainan pada saluran kemih bagian atas, atau keluhan LUTS yang tidak menunjukkan perbaikan setelah menjalani pengobatan medikamentosa. Tindakan operasi yang dilakukan adalah operasi terbuka atau operasi endourologi transuretra.
1. Prostatektomi terbuka
a.1. Retropubic infravesica (Terence Millin)
Keuntungan :
• Tidak ada indikasi absolut, baik untuk adenoma yang besar pada subservikal
• Mortaliti rate rendah
• Langsung melihat fossa prostat
• Dapat untuk memperbaiki segala jenis obstruksi leher buli
• Perdarahan lebih mudah dirawat
• Tanpa membuka vesika sehingga pemasangan kateter tidak perlu selama bila membuka vesika
Kerugian :
• Dapat memotong pleksus santorini
• Mudah berdarah
• Dapat terjadi osteitis pubis
• Tidak bisa untuk BPH dengan penyulit intravesikal
• Tidak dapat dipakai kalau diperlukan tindakan lain yang harus dikerjakan dari dalam vesika
Komplikasi : perdarahan, infeksi, osteitis pubis, trombosis
a.2. Suprapubic Transvesica/TVP (Freeyer)
Keuntungan :
• Baik untuk kelenjar besar
• Banyak dikerjakan untuk semua jenis pembesaran prostat
• Operasi banyak dipergunakan pada hiperplasia prostat dengan penyulit : batu buli, batu ureter distal, divertikel, uretrokel, adanya sistostomi, retropubik sulit karena kelainan os pubis, kerusakan sphingter eksterna minimal.
Kerugian :
- Memerlukan pemakain kateter lebih lama sampai luka pada dinding vesica sembuh
• Sulit pada orang gemuk
• Sulit untuk kontrol perdarahan
• Merusak mukosa kulit
• Mortality rate 1 -5 %
Komplikasi :
• Striktura post operasi (uretra anterior 2 – 5 %, bladder neck stenosis 4%)
• Inkontinensia (<1%)
• Perdarahan
• Epididimo orchitis
• Recurent (10 – 20%)
• Carcinoma
• Ejakulasi retrograde
• Impotensi
• Fimosis
• Deep venous trombosis
a.3. Transperineal
Keuntungan :
• Dapat langssung pada fossa prostat
• Pembuluh darah tampak lebih jelas
• Mudah untuk pinggul sempit
• Langsung biopsi untuk karsinoma
Kerugian :
• Impotensi
• Inkontinensia
• Bisa terkena rektum
• Perdarahan hebat
• Merusak diagframa urogenital 3,6,7,8,1011
b. Prostatektomi Endourologi
b.1.Trans Urethral Resection of the Prostate (TURP)
Yaitu reseksi endoskopik malalui uretra. Jaringan yang direseksi hampir seluruhnya terdiri dari jaringan kelenjar sentralis. Jaringan perifer ditinggalkan bersama kapsulnya. Metode ini cukup aman, efektif dan berhasil guna, bisa terjadi ejakulasi retrograd dan pada sebagaian kecil dapat mengalami impotensi. Hasil terbaik diperoleh pasien yang sungguh membutuhkan tindakan bedah. Untuk keperluan tersebut, evaluasi urodinamik sangat berguna untuk membedakan pasien dengan obstruksi dari pasien non-obstruksi. Evaluasi ini berperan selektif dalam penentuan perlu tidaknya dilakukan TUR.
Saat ini tindakan TUR P merupakan tindakan operasi paling banyak dikerjakan di seluruh dunia. Reseksi kelenjar prostat dilakukan trans-uretra dengan mempergunakan cairan irigan (pembilas) agar supaya daerah yang akan direseksi tetap terang dan tidak tertutup oleh darah. Cairan yang dipergunakan adalah berupa larutan non ionik, yang dimaksudkan agar tidak terjadi hantaran listrik pada saat operasi. Cairan yang sering dipakai dan harganya cukup murah adalah H2O steril (aquades).
Salah satu kerugian dari aquades adalah sifatnya yang hipotonik sehingga cairan ini dapat masuk ke sirkulasi sistemik melalui pembuluh darah vena yang terbuka pada saat reseksi. Kelebihan air dapat menyebabkan terjadinya hiponatremia relatif atau gejala intoksikasi air atau dikenal dengan sindroma TUR P. Sindroma ini ditandai dengan pasien yang mulai gelisah, kesadaran somnolen, tekanan darah meningkat, dan terdapat bradikardi.
Jika tidak segera diatasi, pasien akan mengalami edema otak yang akhirnya jatuh dalam keadaan koma dan meninggal. Angka mortalitas sindroma TURP ini adalah sebesar 0,99%. Karena itu untuk mengurangi timbulnya sindroma TUR P dipakai cairan non ionik yang lain tetapi harganya lebih mahal daripada aquades, antara lain adalah cairan glisin, membatasi jangka waktu operasi tidak melebihi 1 jam, dan memasang sistostomi suprapubik untuk mengurangi tekanan air pada buli-buli selama reseksi prostat.
Keuntungan :
• Luka incisi tidak ada
• Lama perawatan lebih pendek
• Morbiditas dan mortalitas rendah
• Prostat fibrous mudah diangkat
• Perdarahan mudah dilihat dan dikontrol
Kerugian :
• Teknik sulit
• Resiko merusak uretra
• Intoksikasi cairan
• Trauma sphingter eksterna dan trigonum
• Tidak dianjurkan untuk BPH yang besar
• Alat mahal
• Ketrampilan khusus
Komplikasi:
- Selama operasi: perdarahan, sindrom TURP, dan perforasi
- Pasca bedah dini: perdarahan, infeksi lokal atau sistemik
- Pasca bedah lanjut: inkontinensia, disfungsi ereksi, ejakulasi retrograd, dan striktura uretra.

b.2.Trans Urethral Incision of Prostate (TUIP)
Metode ini di indikasikan untuk pasien dengan gejala obstruktif, tetapi ukuran prostatnya mendekati normal. Pada hiperplasia prostat yang tidak begitu besar dan pada pasien yang umurnya masih muda umumnya dilakukan metode tersebut atau incisi leher buli-buli atau bladder neck incision (BNI) pada jam 5 dan 7. Terapi ini juga dilakukan secara endoskopik yaitu dengan menyayat memakai alat seperti yangg dipakai pada TUR P tetapi memakai alat pemotong yang menyerupai alat penggaruk, sayatan dimulai dari dekat muara ureter sampai dekat ke verumontanum dan harus cukup dalam sampai tampak kapsul prostat.
Kelebihan dari metode ini adalah lebih cepat daripada TUR dan menurunnya kejadian ejakulasi retrograde dibandingkan dengan cara TUR.
b.3.Trans Urethral Laser of the Prostate (Laser prostatectomy)
Oleh karena cara operatif (operasi terbuka atau TUR P) untuk mengangkat prostat yang membesar merupakan operasi yang berdarah, sedang pengobatan dengan TUMT dan TURF belum dapat memberikan hasil yang sebaik dengan operasi maka dicoba cara operasi yang dapat dilakukan hampir tanpa perdarahan.
Waktu yang diperlukan untuk melaser prostat biasanya sekitar 2-4 menit untuk masing-masing lobus prostat (lobus lateralis kanan, kiri dan medius). Pada waktu ablasi akan ditemukan pop corn effect sehingga tampak melalui sistoskop terjadi ablasi pada permukaan prostat, sehingga uretra pars prostatika akan segera menjadi lebih lebar, yang kemudian masih akan diikuti efek ablasi ikutan yang akan menyebabkan “laser nekrosis” lebih dalam setelah 4-24 minggu sehingga hasil akhir nanti akan terjadi rongga didalam prostat menyerupai rongga yang terjadi sehabis TUR.
Keuntungan bedah laser ialah :
1. Tidak menyebabkan perdarahan sehingga tidak mungkin terjadi retensi akibat bekuan darah dan tidak memerlukan transfusi
2. Teknik lebih sederhana
3. Waktu operasi lebih cepat
4. Lama tinggal di rumah sakit lebih singkat
5. Tidak memerlukan terapi antikoagulan
6. Resiko impotensi tidak ada
7. Resiko ejakulasi retrograd minimal
Kerugian :
Penggunaan laser ini masih memerlukan anestesi (regional).6,8,11

3. Invasif Minimal
1. Trans Urethral Microwave Thermotherapy (TUMT)
Cara memanaskan prostat sampai 44,5C – 47C ini mulai diperkenalkan dalam tiga tahun terakhir ini. Dikatakan dengan memanaskan kelenjar periuretral yang membesar ini dengan gelombang mikro (microwave) yaitu dengan gelombang ultarasonik atau gelombang radio kapasitif akan terjadi vakuolisasi dan nekrosis jaringan prostat, selain itu juga akan menurunkan tonus otot polos dan kapsul prostat sehingga tekanan uretra menurun sehingga obstruksi berkurang. lanjut mengenai cara kerja dasar klinikal, efektifitasnya serta side efek yang mungkin timbul.
Cara kerja TUMT ialah antene yang berada pada kateter dapat memancarkan microwave kedalam jaringan prostat. Oleh karena temperatur pada antene akan tinggi maka perlu dilengkapi dengan surface costing agar tidak merusak mucosa ureter. Dengan proses pendindingan ini memang mucosa tidak rusak tetapi penetrasi juga berkurang.
Cara TURF (trans Uretral Radio Capacitive Frequency) memancarkan gelombang “radio frequency” yang panjang gelombangnya lebih besar daripada tebalnya prostat juga arah dari gelombang radio frequency dapat diarahkan oleh elektrode yang ditempel diluar (pada pangkal paha) sehingga efek panasnya dapat menetrasi sampai lapisan yang dalam. Keuntungan lain oleh karena kateter yang ada alat pemanasnya mempunyai lumen sehingga pemanasan bisa lebih lama, dan selama pemanasan urine tetap dapat mengalir keluar.
2. Trans Urethral Ballon Dilatation (TUBD)
Dilatasi uretra pars prostatika dengan balon ini mula-mula dikerjakan dengan jalan melakukan commisurotomi prostat pada jam 12.00 dengan jalan melalui operasi terbuka (transvesikal).
Prostat di tekan menjadi dehidrasi sehingga lumen uretra melebar. Mekanismenya :
1. Kapsul prostat diregangkan
2. Tonus otot polos prostat dihilangkan dengan penekanan tersebut
3. Reseptor alpha adrenergic pada leher vesika dan uretra pars prostatika dirusak

3. Trans Urethral Needle Ablation (TUNA)
Yaitu dengan menggunakan gelombang radio frekuensi tinggi untuk menghasilkan ablasi termal pada prostat. Cara ini mempunyai prospek yang baik guna mencapai tujuan untuk menghasilkan prosedur dengan perdarahan minimal, tidak invasif dan mekanisme ejakulasi dapat dipertahankan.
4. Stent Urethra
Pada hakekatnya cara ini sama dengan memasang kateter uretra, hanya saja kateter tersebut dipasang pada uretra pars prostatika. Bentuk stent ada yang spiral dibuat dari logam bercampur emas yang dipasang diujung kateter (Prostacath). Stents ini digunakan sebagai protesis indwelling permanen yang ditempatkan dengan bantuan endoskopi atau bimbingan pencitraan. Untuk memasangnya, panjang uretra pars prostatika diukur dengan USG dan kemudian dipilih alat yang panjangnya sesuai, lalu alat tersebut dimasukkan dengan kateter pendorong dan bila letak sudah benar di uretra pars prostatika maka spiral tersebut dapat dilepas dari kateter pendorong. Pemasangan stent ini merupakan cara mengatasi obstruksi infravesikal yang juga kurang invasif, yang merupakan alternatif sementara apabila kondisi penderita belum memungkinkan untuk mendapatkan terapi yang lebih invasif. 2,7,8,11



DAFTAR PUSTAKA

1. Sabiston, David C. Hipertrofi Prostat Benigna, Buku Ajar Bedah bagian 2, Jakarta : EGC, 1994.
2. Rahardja K, Tan Hoan Tjay. Obat - Obat Penting; Khasiat, Penggunaan, dan Efek – Efek Sampingnya edisi V, Jakarta : Gramedia, 2002.
3. Sjamsuhidajat R, de Jong W. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi revisi, Jakarta : EGC, 1997.
4. Majalah Illmu Bedah Indonesia: ROPANASURI Vol XXV, No. 1, Januari-Maret 1997; 37
5. Anonim. Kumpilan Kuliah Ilmu Bedah Khusus, Jakarta : Aksara Medisina, 1997.
6. Priyanto J.E. Benigna Prostat Hiperplasi, Semarang : Sub Bagian Bedah Urologi FK UNDIP.
7. Purnomo B.P. Buku Kuliah Dasar – Dasar Urologi, Jakarta : CV.Sagung Seto, 2000.
8. Rahardjo D. Pembesaran Prostat Jinak; Beberapa Perkembangan Cara Pengobatan, Jakarta : Kuliah Staf Subbagian Urologi Bagian Bedah FK UI R.S. Dr. Cipto Mangunkusumo, 1993.
9. Cockett A.T.K, Koshiba K : Manual of Urologic Surgery, New York, Springer Verlag, 5, 1979, 125-4
10. Reksoprodjo S. Prostat Hipertrofi, Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah cetakan pertama, Jakarta : Binarupa Aksara, 1995.
11. Tenggara T. Gambaran Klinis dan Penatalaksanaan Hipertrofi Prostat, Majalah Kedokteran Indonesia volume: 48, Jakarta : IDI, 1998.
12. Mansjoer, A., dkk, Kapita Selekta Indonesia, Penerbit Media Asculapius, FK UI 2000; 320-3